Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 28. Korban perundungan


__ADS_3

Ini sungguh pagi yang berbeda dari biasanya. Ketika keluar dari kamar menuju ruang makan, Khayru menyaksikan pemandangan yang cukup mengharukan. Dia melihat Maula yang tengah tergelak bersama ketiga ART. Entah apa yang tengah mereka bicarakan sambil fokus ke arah jari kelingking Maula. Apa pun yang mereka bicarakan, Khayru merasa senang jika Maula bisa sedekat ini dengan mereka.


Pasalnya, selama ini terjadi kesenjangan yang disebabkan perangai Maula yang kurang baik. Ditambah kesalah pahaman yang terjadi akibat Khayru merahasiakan pernikahannya.


Di akhir percakapan, Khayru mendengar mereka meminta maaf dengan tulus pada Maula. Suasana berubah menjadi senyap, hingga akhirnya Khayru datang memecah keheningan.


“Pagi semua ....” Khayru mengusap pundak Maula sambil mencium ujung kepalanya.


“Pagi Tuan ...,” jawab Mereka kompak.


Bik Sulis menerima semangkuk besar nasi yang masih mengepulkan asap--dari tangan Mbak Tini lalu meletakkannya di meja. Tak lama Neneng pun kembali membawa teko kristal berisi air putih yang juga ia letakkan di atas meja. Mbak Tini meletakkan masing-masing satu piring di hadapan Tuannya.


“Satu aja, Mbak. Kita bisa makan sepiring berdua.” Khayru mendorong salah satu piring, sedikit menjauhkannya hingga tersisa hanya satu piring saja. Dia sedang ingin romantis-romantisan dengan istri kecilnya.


“Kok, jadi sepi? Padahal tadi rame banget. Pada bahas apa, sih?” tanya Khayru sambil menyendok nasi ke piringnya. Dia menatap banyak makanan. Namun, akhirnya hanya memilih tumis tauge kesukaan Maula. Setelah itu, dia membiarkannya terlebih dahulu sambil menatap wajah-wajah wanita di sekelilingnya. Menunggu jawaban atas pertanyaannya tadi.


“Itu loh, Tuan. Cincin kawinnya Non Maula, masa kecil banget?” Bik Sulis menunjuk dengan matanya ke arah jari Maula.


Khayru segera menjajal jari Maula satu per satu lalu menatap jari kelingkingnya lamat-lamat. “Kok, tahu kalau ini cincin kawin?” tanyanya sambil memastikan bahwa itu cincin yang dinyatakan hilang sejak enam tahun yang lalu.


Ia menarik kursi yang tengah diduduki. Bersiap untuk menyantap sarapannya dan suapan pertama ia arahkan pada mulut Maula.


“Bang, aku bisa makan sendiri,” bisiknya karena malu dengan tiga pasang mata yang tengah mengawasi.


“Gak papa. Ini nafkah suami buat istri. Abang mau menyuapkannya langsung ke mulut kamu.” Dengan malu-malu, terpaksa Maula menerima suapan itu.


“Haduuhh, senengnya yang lagi panen. Pahalanya mengalir setiap hari,” goda Bik Sulis


“Pahala?” Maula terkekeh mendengar ucapan Bik Sulis.


“Iya, dong . Bukannya kalau tatap-tatapan, suap-suapan, makan sepiring berdua saling melempar pujian, itu pahala semua, Non?” tutur Bik Sulis sambil senyam senyum.


“Tapi itu buat Suami-istri, loh, Neng. Kalau buat kamu lain cerita. Jatuhnya malah dosa.” Dia mengalihkan pandangannya pada Neneng yang saat itu juga, Neneng menghadap tembok sambil mengerutkan bibirnya.


Neneng merapatkan badan sambil memukul-mukul dinding. “Mentang-mentang aku jomlowati sejati. Mana lagi patah hati lagi. Aku gak bisa diginiin, sungguuuuhh!” Dia bergumam sendiri. Tingkahnya itu, cukup mengundang tawa selama beberapa saat.

__ADS_1


“Kalau mandi bersama, tidur satu selimut, mencium istri sendiri, dapat pahala juga gak, Bik?” tanya Khayru iseng sambil mencium pipi Maula.


“Kaaaan ...? Bibik gak tahan, ah, jadinya. Kangen suami kalau gini mah.” Bik Sulis segera memutar badannya karena ingin menelepon suaminya di rumah.


“Tini juga gak bisa diginiin, Tuan. Bisa lemes kalau lihat orang mesra-mesraan di depan mata.” Dia lari menemui suaminya--Mang Sodik--yang sedang mencuci mobil di halaman.


“Yang punya suami aja gak tahan, apalagi Neneng, yang jomlo.” Neneng bersungut-sungut sambil pergi ke dapur. Tak lama, terdengar kembali suaranya yang tengah bersenandung sambil mengeluarkan pakaian dari dalam mesin cuci.


“Abang ngapain cium pipi aku di depan mereka? Pada aneh kan tingkahnya tadi.” Maula membenturkan kakinya dengan kaki Khayru sambil menunjukkan wajah dongkol.


“Sengaja. Biar mereka salah tingkah.” Khayru terkekeh. “Abang senang tadi lihat kalian akrab banget,”


Maula membuang napas.“Gak tahu juga kenapa bisa seakrab itu tadi.”


“Mulai sekarang, kamu harus lebih menghargai mereka. Walau bagaimana pun, mereka lebih tua. Jangan marah-marah. Jangan bicara kasar. Kan mereka sudah minta maaf tadi.”


“Hhmm ... gak janji, ya.” Maula menggoyangkan wajahnya.


“Paling enggak, kurangi dikit marah-marahnya. Biar si Tibbir gak keenakan.”


“Tibbir siapa, nih?”


“Iya dah iyaaa. Nanti-nanti aku usahakan selalu pasang muka senyum versi iklan pepsoden, dah, ah.” ucapnya bangkit dari tempat duduk setelah menenggak segelas air putih. “Kalau perlu, nanti aku peluk mereka kaya gini, nih.”Maula tiba-tiba melingkarkan tangannya di dada Khayru, dari belakang.


“Sering-sering, ya, peluk Abang kek gini. Biar pahalanya banyak.”


“Beereees. Peluk doang mah cetek. Kan sudah terlatih.” Maula melepaskan tangannya karena harus bersiap-siap ke pengajian.


“Tunggu bentar ya Bang. Aku mau siap-siap dulu. Kita jadi ke pengajian kan hari ini?”


“Ya udah, jangan lama-lama. Abang nunggu di sini.”


Setelah Maula berlalu, Khayru beranjak ke dapur mencari keberadaan Bik Sulis, Mbak Tini sama Neneng, yang masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dia duduk di sebelah Bik Sulis yang tengah merajam sayuran untuk dia masak sore nanti.


“Ada apa, Tuan? Bentar banget makannya?”

__ADS_1


“Sengaja makan dikit karena Umi biasanya selalu maksa kita makan di rumahnya setelah pengajian.”


“Non Maula ke mana?” tanya Tini yang baru selesai menyapu halaman, lalu mengambil segelas air putih ke hadapan Khayru.


“Masih di kamarnya.” Khayru mengarahkan wajahnya ke lantai atas.


“Mau kopi, gak, Tuan. Tini buatin sekarang.”


“Boleh, tapi airnya dikit aja.”


Tak lama, Neneng yang baru selesai menjemur pakaian di belakang, datang membawa keranjang kosong sambil bersenandung menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh Lesti belakangan ini.


“Eh, ada Tuan.” Neneng menghentikan lagunya yang fals itu sambil menyimpan keranjang di tempatnya.


“Ayo duduk dulu semuanya. Kita ngobrol-ngobrol santai sambil nunggu Maula.”


“Kok, tumben, Tuan.” sambil meletakkan secangkir kopi. Tini dan Neneng pun mulai duduk, mengambil posisi yang sedikit berjauhan.


“Tadi, saya lihat kalian begitu akrab dengan Maula.” Khayru menatap satu per satu sambil menunggu kepulan uap kopi sedikit berkurang.


“Kita lancang ya, Tuan? Maafkan ya, Tuan.” Terdengar suara khas pisau menyentuh talenan saat Bik Sulis memotong kentang yang baru selesai ia kupas.


“Sama sekali gak lancang, malah kalau bisa, sering-seringlah ajak Maula bercanda seperti tadi. Buat dia sering tersenyum.” Sambil turut mreteli daun seledri. “Maaf, jika selama ini sikap Maula kurang baik. Tolong jangan benci dia.”


“Enggak, Tuan. Kita gak pernah benci Non Maula, kok. Sama sekali, enggak.”


“Apalagi sekarang dia nampak jauh lebih manis. Udah tambah dewasa sikapnya.”


“Suasana hatinya tadi saat keluar kamar, bahagia banget. Jangan-jangan sudah diapa-apain, ya semalam? Hayo ngaku, Tuan,” goda Neneng.


“ Ah iya bener. Tuan tidur di kamar Non Maula kan tadi malam? Apa yang terjadi di sana, Tuan?”


“Lha. Ini gimana ceritanya, kalian malah balik menyerangku seperti ini.”


Bik Sulis hanya tersenyum melihat wajah Khayru yang memerah. Dia terlihat gelisah sambil menggaruk-garuk kepalanya. Hingga terdengar suara deheman dari arah pintu yang sempat menghentikan gurauan yang terjadi di dapur.

__ADS_1


Maula yang tidak sempat bicara apa pun, langsung di sambut Tini dan Neneng yang menarik tubuhnya ke kursi di sebelah Khayru. Mereka berdua menjadi korban perundungan oleh pembantunya sendiri, hari ini. Wajah mereka dibuat lebih merah dan panas dibanding cabai yang ada di keranjang sayuran.


To Be Continued ....


__ADS_2