Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 29. 1 Syahwat lelaki 9 syahwat wanita


__ADS_3

“Tok! Tok! Tok! Boleh aku masyuk?” Maula membuka pintu ruang kerja perlahan lalu melongokkan kepalanya.


“Gak boleh ...,” canda Khayru sambil melirik sekilas lalu tersenyum. Dia yang tengah duduk dengan tumpukkan berkas, segera menyisihkan pekerjaannya.


“Aahhh ... tapi aku mau masyuk.” Dengan gaya anak kecil dia tetap masuk karena tahu Kakaknya (eh) suaminya hanya bercanda.


“Sini, sini ....” Khayru merentangkan kedua tangan. Seolah sudah tahu maksud suaminya, Maula langsung duduk di pangkuannya. Dia seperti kembali ke masa kecil sebelum dia tahu bahwa Khayru adalah suaminya. Hanya itu. Tak ada pikiran lain yang terlintas di benaknya.


“Sudah maem belum, Dek?”


“Belum, kan nunggu, Abang.”


“Ya udah, yuk. Makan dulu.”


“Eh tapi ... males, ding. Aku bosan dengan makanan di rumah.” Dia sampai menaikkan bibirnya.


“Mo makan apa, sih? Kan tinggal minta dimasakin sama Bik Sulis.”


“Bisa Delivery order, gak, Bang?” Maula nunjuk handphone di atas meja.


“Ya tinggal order aja. Mau makan apa?” Khayru membuka aplikasi layanan antar jemput makanan serupa GoFood yang menjadi langganannya.


“Sate kambing!” seru Maula, membuat Khayru membulatkan matanya.


“JANGAN!!” Cepat sekali respon Khayru saat mendengar nama makanan itu disebut.


“Kok, jangan? Biasanya boleh.”


“J-jangan sekarang. Dah malem.” Dia menyimpan kembali handphone-nya ke dalam saku piyama.


“Ya udah aku tidur,” ketusnya sambil beranjak meninggalkan Khayru.


“Eh! Gak makan dulu? Kasihan Bik Sulis masakin buat kita.”


“Enggak! Kan udah malem. Besok sekolah.” Tanpa menoleh kebelakang.


Khayru tahu saat ini Maula sedang marah. Terpaksa dia mengeluarkan kembali handphone-nya.


SATE MADURA H. MAMAT, Ini menjadi langganan mereka sejak masih kecil. Hanya saja, belakangan ini Khayru mencoba menghindari makanan tersebut.


Pesan dan tunggu! Slogan yang muncul di layar. Beberapa saat lagi kurir akan datang mengantarkannya. Tak lama, Mang Sodik mengetuk pintu. Mengantar pesanan yang dititip di pos satpam. Sambil mengangkat dan memandangi kantong yang mengeluarkan wangi menggoda itu, Khayru mengambil sebuah piring, sendok dan garpu. Lalu membawanya ke kamar Maula.


Maula tahu jika Khayru pasti akan membelikannya. Saat pintu kamar terbuka, dia bisa mencium wangi dari sate yang masih panas. Dengan hanya meletakkannya di atas nakas, Khayru yakin Maula yang tengah berpura-pura tidur, akan menyambar secepat kilat.


Ternyata benar, dia keluar dari balik selimut sambil mesam mesem. Tanpa malu-malu dia segera membuka bungkusan dengan penuh antusias. Sementara Khayru hanya bisa menelan ludah lalu membaringkan tubuhnya.


“Abang gak makan?”


“Udah di bawah.”


Maula mendekatkan satu tusuk sate ke mulut Khayru. “Aaaaa ....” Dia menyuruh Khayru membuka mulutnya. Namun, dia malah menggeleng sambil mengusap perut. “Kenyang,” katanya, akan tetapi ujung matanya terus mengikuti gerakan Maula yang tengah melahap tusukan demi tusukan sampai habis.


Selesai makan, Maula lari ke kamar mandi. Tak lama dia kembali seperti sedang menahan sakit.


“Bang! gimana, nih? Ada yang nyangkut di gigiku. Sakit banget.” Maula meringis sambil memaksa Khayru untuk bangun.


“Kebiasaan kamu, tuh.” Sambil terpaksa bangun. “Dah sikat gigi, belum?”


“Aku langsung sikat gigi, tadi, tapi ini masih ada yang nyangkut.”


“Makanya, jangan makan begituan lagi.” Sambil mengangkat rahang Maula, menghadapkannya pada cermin. Mencari si daging kambing yang nyangkut di gigi. Rasanya sudah hilang semua rasa enek, muak, illfeel, karena semua hal yang menjijikan dari Maula, sudah pernah ia sentuh.


“Abang lupa, belum nanya soal pengajian tadi,” tuturnya sambil menurunkan kembali wajah Maula.“Abisnya sepanjang perjalanan pulang, kamu tidur.”


“Iya, kan kalau ikut pengajian aku tuh bawaannya ngantuk. Ternyata masih berlanjut tidur di mobil.” Nyengir kaya kuda. Lalu berbaring di tempat tidur.


“Loh, jadi gak nyimak? Pengajiannya dapet apa kalau tidur Mulu kek kebo?” dengkingnya.

__ADS_1


“Dapet sih dikit tadi pas Umi bilang, jika syahwat wanita 9 banding 1 dengan laki-laki.” Dia berusaha mengingat-ingat. “Sedangkan akal wanita hanya 1 banding 9 dengan laki-laki.”


“Terus ....”


“Terus aku tidur di pojokan.”


“Haishh!!! Gimana mau pinter kamu tuh?” gumamnya sambil menggaruk kepala hingga rambutnya berantakan.


“Eh, tapi, Bang. Kalau syahwat lelaki itu cuma 1, kenapa mereka diperkenankan menikahi 4 orang istri, sedangkan wanita hanya boleh menikahi 1 lelaki dalam satu waktu. Padahal syahwat wanita lebih banyak.” tiba-tiba dia penasaran.


“Ya karena meski cuma 1, Syahwat lelaki itu sangat besar, besar, beeeessssaaar. Tau gak sih?!” Dia mengulang-ulang kata 'Besar' sambil menggerakkan kedua tangannya membentuk lingkaran terbuka.


Maula mengerutkan keningnya karena tidak menyangka, respon Khayru akan seperti orang marah, jengkel, kesal hanya karena pertanyaan sepeti itu.


“Coba aja kamu pancing syahwat lelaki. Maka kamu harus siap diseruduk.”


“Massa?”


“Gimana cara memancing syahwat lelaki, Bang?”


Berani nantangin.


“Semua yang ada pada diri wanita, bisa memancing syahwat lelaki.”


“Suaranya ....”


“Wajah cantiknya ....”


“Rambut hitamnya ....”


“Leher jenjangnya ....”


“Kulit putihnya ....”


Maula menyentuh setiap bagian tubuh miliknya yang di sebutkan Khayru--dengan wajah mengerut.


“Setiap lekuk tubuhnya ....”


“Kaki panjangnya ....”


Begitupun dengan Khayru, dia meliarkan tatapan matanya ke bagian tubuh Maula seperti yang dia sebut satu persatu.


“Daaan ... tempat-tempat keramatnya,” pungkas lelaki itu. Dia tak sadar jika saliva-nya ingin menetes keluar.


“Cukuup!!” Maula memukulkan bantal ke wajah Khayru karena ucapan dan tatapannya benar-benar membuat merinding.


“Loh, loh, loh ... Kenapa dipukul? Abang salah apa?”


“Abang mau menyerudukku, kan? Hayo ngaku? Awas, aja kalau sampai itu terjadi.”


Khayru menjatuhkan dirinya ke tempat tidur.


“Ya, wajar! Karena sudah disebutkan tadi, Syhawat lelaki itu sangat besar.”


Maula beranjak mencari sebuah cermin. Menatap pantulan wajahnya di sana.


“Memangnya aku ini cantik?”


“Aku baru sadar kalau aku cantik, Si Ariel pernah bilang, kalau si Rere dan Nikita musuhin aku gara-gara mereka kalah cantik dari aku, Bang. Mereka iri, meski aku galak dan jutek, banyak cowok-cowok yang godain aku.”


“Terkadang, kecantikan wanita itu kerap menjadi fitnah bagi dirinya sendiri. Karena itulah, wanita wajib menutup auratnya.”


Maula turut membaringkan tubuhnya di samping Khayru. “Selama ini, apa yang Abang rasakan ketika menatapku?”


“Blingsatan. Ingin menyeruduk kamu.” Dia tertawa terbahak-bahak untuk menyembunyikan rasa malunya.


Maula menggeser tubuhnya, sedikit menjauh.

__ADS_1


“Jangan khawatir ... laki-laki memiliki 9 akal, jauh lebih banyak dari wanita, untuk mengawal nafsunya.”


“Itu bagi mereka yang kuat imannya, kalau gak kuat, ya ... gimana, ya.” lanjutnya sambil melirik ke arah Maula.


“Makasih, Bang. Abang luar biasa kuat imannya.”


“Memangnya, menurut kamu, tujuan dari nikah itu apa, sih?”


“Hmm ....” Maula berpikir sambil menggaruk kepalanya. “Saling memberi kenyamanan, mungkin. Aku jadi bisa minta tolong apa pun sama Abang karena Abang suamiku.”


“Terus ...?”


“Gak tahu. Besok aku tanya Umi dulu.”


“Pertama, Nikah itu untuk ibadah kepada Allah SWT.”


“Kedua?” tanya Maula.


“ ...Mendapat keturunan.”


Maula kembali menggeser tubuhnya.


“Kenapa?” Khayru menghadapkan wajahnya ke arah Maula. “Bukannya kamu mau punya anak 20?”


Maula terlihat lebih ketakutan.


“Jangan bilang kamu bisa hamil dan melahirkan tanpa ada sebabnya. Karena kamu bukan Siti Mariam Ibunya Nabi Isa Alaihissalam.”


“Anu ... aku gak suka mata pelajaran Biologi, Bang.”


Bukan masalah hamil dan melahirkan yang membuat Maula jijik, tetapi dia tak sanggup membayang apa yang harus dilalui hingga kehamilan itu bisa terjadi. Seperti dalam pelajaran Biologi yang dia benci karena kerap mempelajari bagaimana mahluk hidup berkembang biak.


“Tidaaaakkk!!” pekiknya sambil mengguncang kepala yang ia tutup dengan telapak tangannya.


Astagfirullah .... Perjuangan akan sangat panjang kalau kaya gini ceritanya.


Khayru hanya bisa menelan ludah sambil menggelengkan kepala.


“Terserah kamulah, Dek. Sakit kepala Abang jadinya.” sambil mengurut dahi.


Tiba-tiba Maula terdiam sambil tersenyum. Dia menghadap Khayru, mendekatkan dirinya sambil menarik wajah lelaki itu. Kecupan hangat mendarat di pipinya.


“Tenang aja, Bang. Aku masih akan cium dan peluk Abang seperti ini. Kapan pun, di mana pun,” bisiknya membuat Khayru merinding. Seketika seperti ada coklat panas meleleh di kepalanya. Tubuhnya berubah warna memerah seperti wortel rebus. Sedikit tegang. Ah, tidak! Ini sangat tegang hingga dia harus merubah posisi. Tidak karuan.


Dia mau membunuhku atau menyiksaku pelan-pelan, ya Allah. Khayru menengadah ke atas.


Belum berubah dari Maula. Bibirnya masih senyum-senyum tanpa dosa.


To Be Continued ....


...__________❤️❤️❤️__________...


Assalamualaikum...🙏 Gimana kabar readers tersayang? Cukup lelah ya menunggu. (Eh, emangnya ada yang nunggu, gitu?)


Saya tahu kalian pasti lagi sibuk, buka-buka bacaan doa Romadhon, doa tarawih, doa Zakat, lagi siap-siap buat tadarusan juga, kaan, yekaaaan?


Marhaban ya Romadhon 🤲


Beberapa hari lagi kita akan memasuki bulan penuh berkah, penuh magfirah dan ampunan. Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika saya ada salah selama ini.


اَللَّهُمَّ سَلِّمْنـِيْ إِلَى رَمَضَانَ وَسَلِّمْ لِـيْ رَمَضَانَ وَتَسَلَّمْهُ مِنِيْ مُتَقَبَّلاً


Allahumma Sallimnii ilaa romadhoona wa sallim lii romadhoona wa tasallamhu minni mutaqobbalan


“Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan.”


Aamiin.

__ADS_1


Maafkan jika selama bulan Romadhon nanti, saya mungkin akan lebih kurang fokus lagi dalam menulis. Semoga Romadhon kalian semua lebih indah dari tahun-tahun sebelumnya.


Terima kasih banyak atas perhatiannya. See you 🙏😘🤗


__ADS_2