Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 37. Beliin mobil


__ADS_3

“Wadduuhh ... ini PR susah banget kayaknya, nih,” desah Maula sambil mengamati soal-soal lalu menutup dan membereskan buku-bukunya kedalam tas. Semua siswa siswi satu per satu meninggalkan kelas, hanya tertinggal mereka bertiga di sana.


“Lo bisa, gak ngerjainnya?” Nikita menoleh ke belakang, ke meja tempat Maula duduk.


“Ada Abang gue ini yang bantu ngerjain.” jawabnya cuek.


“Apa-apa dikerjain Abang Lo. Terus nanti ujian di depan mata juga mau bawa Abang Lo buat ngerjain soal-soal?” cibir Rere. “Udahlah, Lo ikut gue aja, kita kerjain bareng-bareng di rumah gue.” Rere yang sudah berdiri di samping meja langsung menarik tas Maula. Memaksa Maula ikut pulang ke rumahnya.


“Gak bisa. Gue dah terlanjur kirim pesan buat Abang gue biar dia jemput.”


“Ya udah mana handphone Lo. Biar gue telepon dia.” Rere mengulurkan tangannya.


“Gue bisa sendiri, kok. Ngapain minta Lo yang telepon? Cari kesempatan aja Lo.” Sambil mengeluarkan handphone barunya.


“Ya udah cepetan! Keburu dia otewe, kasian.” sambar Nikita yang bangkit dari duduknya.


“Ujung-ujungnya juga dia pasti nanyain gue buat mastiin kalau Lo beneran ke rumah gue atau enggak.” Rere terkekeh.


“Ya udah nih, Lo yang ngomong biar Abang gak pake curiga dulu sama gue.” Maula mengangsurkan handphonenya. “Tapi ngomongnya to the poin aja. Gak usah genit-genit!”


Rere pun meraih handphone sambil senyum-senyum. Dia merapatkan benda itu di daun telinganya. Setelah saluran terhubung dengan cepat, tiba-tiba Rere membulatkan mata sambil menatap tajam ke arah Maula.


“Iya, iya. Sabaran dikit napa sih, Dek. Kalau suami telat balas chat, itu artinya Abang belum selesai meeting di kantor. Ini baru mau turun. Kamu duduk aja dulu di depan gerbang, lagian di sana pasti masih macet, kan?”


“I-ini Rere, Om.” Rere masih kaget tapi dia masih sempat melontarkan candaan. “Rere sih sabar menanti kalau suaminya ganteng kaya Om, He he.”


Maula segera merebut paksa gawai miliknya itu dari tangan Rere untuk mengutarakan tujuan sesungguhnya yaitu meminta izin pergi ke rumah Rere siang ini. Namun, dia sedikit kesal karena mungkin beberapa detik yang lalu suaminya melakukan kesalahan dengan mengucap kata 'Suami' atau apalah yang membuat Rere menatapnya sangat tajam. Setelah menutup telepon, Maula segera menjelaskan pada teman-temannya itu sebisa mungkin.


“Haha ... dasar Abang gue. Kebiasaannya emang gitu, kalau angkat telepon gak pernah lihat layar. Langsung jawab aja sekenanya.” Pura-pura terkekeh sambil menarik tas dari tangan Rere lalu menggendongnya di punggung. Dia melengos dari hadapan temannya untuk menghindari tatapan Rere. Namun, Rere menarik tas di punggung Maula hingga ia terhenti.


“Bilang dulu sama gue, siapa istri Abang Lo?” Tatapannya masih menyiratkan kecurigaan.


“Re, Lo masih percaya kalau Abangnya Maula dan merit? Gue sih enggak,” sahut Nikita masa bodo.


“Jadi ke rumah Lo, gak? Kalau enggak, gue pulang, nih.” Maula mengalihkan pembicaraan.


Untuk pertama kalinya, Maula bergaul sedekat ini dengan teman perempuan sebayanya. Itu pun harus beberapa kali menerima telepon dari suaminya yang over protectif di sela-sela waktu belajar.


“Abang gangguin mulu, deh. Aku lagi belajar loh, Bang, bukan lagi main,” ucapnya saat menerima telepon untuk kesekian kalinya dari Khayru.


“Iya, maaf. Ini Abang kan baru mau pulang dari kantor, siapa tau kamu sudah selesai, biar Abang jemput sekalian.”


“Ntar aku yang telepon pokoknya kalau dah selesai belajar.”


“Laa ...!? Jawaban nomor sembilan kok, salah lagi salah lagi? Udah diajarin juga!”


Terdengar teriakan Rere membuat Maula menoleh sambil mendesis.

__ADS_1


“Astagfirullah! Itu mulut udah kaya Toa masjid! Kayaknya mesti disumpal pake spatu deh biar mingkem.”


“Biasa, La. Denger suara Abang Lo nelepon, langsung dah capernya kumat,” timpal Nikita sambil terkekeh. Mereka sama-sama tergelak.


“Udah, Bang, tutup dulu teleponnya. Aku gak mau angkat telepon Abang lagi pokoknya.”


“Ya udah, tapi kalau dah selesai, kamu yang telepon Abang, ya.”


Maula menutup telepon. Setelah beberapa menit kemudian, dia membereskan buku-bukunya ke dalam tas.


“Akhirnya selesai semua. Bisa juga kan gue ngerjainnya.” Sambil meregangkan persendian di tubuhnya.


“Karena gue yang ajarin tuh ....” Rere membanggakan diri


“Cieee diajarin calon Kakak ipar!” sorak Nikita sambil tepuk tangan.


“Harusnya tadi tuh, Abang Lo suruh nunggu di rumah gue. Dari pada nyampe rumah terus Lo suruh jemput lagi ke sini. Kasian tau, dia capek.”


“Hmm so perhatian sama Abang gue. Gak bakalan gue suruh ke sini. Bisa keplitek hati Abang gue nanti. Kasian bininye.”


“Lah terus, mau dijemput di mana, Elu, tong?!”


“Pulang sendirilah, naik taksi,”jawabnya sambil mengangkat bahu lalu berdiri mencari keberadaan sepatunya.


“Wahh, ini sih cari masalah namanya. Kalau Lo gak nyampe rumah, Abang Lo bisa nyariin gue sama Rere nanti.”


“Ya bisa aja Lo nyasar. Secara gak pernah pergi-pergian sendiri, kan, Lo?”


“Lebaayy!!”


Rere berinisiatif mengantarkan Maula sampai ke rumah dengan mobilnya, dari pada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, terus kena marah. Semua orang sudah tahu jika Khayru adalah seorang Kakak yang sangat protektif terhadap Maula.


“Nik, kita anter Tuan putri dulu, abis itu gue anter Lo.”


“Siap!”


Mobil milik Rere pun segera meluncur dari pelataran. Dirinya yang notabene anak sulung, cenderung lebih mandiri dan diberi kebebasan oleh orangtuanya. Pergi ka mana pun tidak pernah dibatasi. Sekilas, Maula mengutarakan perasaan iri terhadapnya karena berbanding terbalik dengan kehidupan yang ia jalani.


“Gue mah dah biasa mandiri kali, La. Nganter Emak gue ke sana ke mari. Makanya dikasih mobil. Bukannya gak mau dimanja tapi emang gak ada yang mau manjain gue, gimana dong?” Rere yang tengah mengemudi, tergelak sambil melirik sekilas.


“Enak kali punya mobil, bisa nyetir sendiri. Gak kaya gue, cuma anak pingit.”


“Positif thinking aja, La. Abang Lo kaya gitu, karena sayang sama Lo.”


“Iya, La. Meskipun Lo gak ada Mama sama Papa lagi, Lo beruntung tetep dapet kasih sayang penuh dari Abang Lo. Kalau gue kan orangtua, Adek, kakak, lengkap semua tapi gak ada yang perhatian sama gue. Gue gak pulang seharian aja mungkin mereka gak ada yang nyariin gue.”


“Masa, sih?”Maula berpikir bahwa ucapan temannya memang ada benarnya. “Abang gue emang yang terbaik,” gumamnya sambil tersenyum. Meski terkadang dia ingin keluar dari zona nyamannya selama ini.

__ADS_1


“Jadi gimana? Boleh gak gue jadi Kakak ipar Lo?” goda Rere yang disusul suara tawa dari mulut Nikita.


“Kaagggaaakk!! Coba aja ngarep, kalau mau gue teriakin pelakor!”


“Wadduhh ... Sampe nyolot begitu, Ade ipar Lo, Re,” sambung Nikita kembali tertawa.


“Mending Lo deketin si Daffin aja sono. Anak kepala sekolah yang smart plus ganteng menurut Lo itu.”


“Eh! Bentar, bentar. Rumah Lo bukannya yang ini?” Nikita menatap ke luar, ke arah pagar besi yang tinggi menjulang.


“Oh iya,” ucap Rere sambil menekan klakson supaya satpam membukakan gerbang rumah Maula.


“Gue bisa turun di sini. Ngapain mobil ikut masuk?”


“Halaman rumah Lo kan luas banget. Kasian Tuan putri jalan kaki sore-sore begini.” Rere memutar dahulu mobilnya sebelum berhenti tepat di depan rumah.


“Ya udah. Thanks banget, ya udah nemenin belajar terus nganterin pulang juga.”


“See you besok, La!” Rere dan Nikita melambaikan tangannya. Maula pun mulai masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam.


“Asaalamualaikum ....”


“Abang! inces pulaangg!” ucapnya sambil melepaskan tas lalu duduk di ruang tamu karena harus melepas sepatu.


Khayru datang dari arah dapur membawa segelas air di tangannya. “Loh, istri Abang pulang sendiri? Kenapa gak telepon dulu? Abang kan bisa jemput kamu.” Khayru duduk di sebelahnya sambil mencium kepala Maula yang menunduk karena sibuk membuka ikatan tali sepatu.


“Makanya, Bang, izinin istri Abang bawa mobil sendiri biar gak ngerepotin suaminya mulu.”


“Apa bagusnya anak sekolah bawa mobil sendiri? Yang ada malah bahaya.”


Maula membuka kerudung lalu merebahkan diri di paha Khayru. Dia merayu sambil menepuk-nepuk pipi suaminya.


“Katanya sayang istri. Bawa mobil sendiri aja istrinya gak boleh.”


“Minta yang lain aja, ya. Kalau mobil jangan sekarang.”


“Rere aja bawa mobil sendiri. Tadi dia nganter aku pulang, Bang.”


“Kalau maksa terus, Abang cium, nih.” Khayru mendekatkan wajahnya untuk menakuti Maula.


“Kalau gak dikasih mobil, gak mau dicium, ah.” Maula menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya.


Tiba-tiba, Katia keluar dari kamar tamu lalu menunjuk dua orang yang berdiri di dekat pintu yang sedari tadi memang terbuka.


“Itu ... tamunya kok, gak di suruh masuk?”


Sontak, Khayru dan Maula menoleh ke arah pintu. Rere dan Nikita tengah berdiri mematung di sana. Tertegun setelah mendengar percakapan Maula dan Khayru beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


To Be Continued ....


__ADS_2