Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 51


__ADS_3

“La! Mamanya Rere dilarikan ke rumah sakit lagi!” Suara Nikita yang panik memberitahu Maula melalui sambungan telepon.


“Apa?!”


“Iya, La. Kritis karena over dosis obat tidur.” Terdengar pula suara tangis Rere yang tengah terisak di pelukan Nikita. Membuat Maula yang baru saja akan merebahkan tubuhnya, bangun dengan cepat, mencari baju hangat lalu keluar terburu-buru. Beberapa langkah dari pintu kamar, dia kembali masuk untuk mencari kunci mobil pemberian suaminya. Karena tak ingin mengganggu waktu istirahat Mang Sodik, Maula putuskan pergi sendiri dengan mobilnya.


Dengan kemampuan mengemudi yang sedikit dipaksakan, akhirnya dia tiba di rumah sakit meski sesungguhnya dia tak percaya dengan kemampuannya itu. Dia tarik napas sesaat, mengingat keberhasilannya menghindari beberapa bahaya di perjalanan, meski harus mendapat teriakan dari pengemudi lain di sekitarnya.


Gawainya kembali berbunyi. Maula segera keluar dari mobil sambil berlari menuju tempat yang diarahkan Nikita melalui telepon.


“Iya, Nik, gue dah nyampe.” Seraya menutup telepon, ia segera mendekat memeluk Rere. Memberi tepukan hangat dan menenangkannya. “Gimana keadaan Mama?” bisik Maula lirih.


“Dia masih kritis.”


“Papa Lo, gimana? Dia sudah tau?”


“Gue bingung nyari dia di mana? Lo tau sendiri dia dah gak mau pulang ke rumah lagi.”


Maula pikir jika Papanya Rere harus tahu keadaan istrinya. Tidak mungkin jika dia tidak merasa iba, tersadar, menyesal lalu putuskan untuk kembali ke tengah keluarganya. Maula harus bantu Rere mencari Papanya tapi di mana? Malam-malam begini, keselamatannya saja hampir dia pertaruhkan saat menyetir mobil di jalan menuju rumah sakit.


Maula berpikir sebentar. Dia ingat betul, Mamanya Ariel sering bolak-balik membawa seorang lelaki yang ternyata Papanya Rere itu, ke rumah mereka. Maula kerap melihatnya saat belajar dan bermain di rumah Ariel dulu. Saat ini mungkin mereka akan lebih leluasa di sana karena Ariel dan ayahnya sudah kembali ke luar negeri.


“Ya. Pasti di rumah Ariel. Gak salah lagi,” gumam Maula sangat yakin.


“Rumah Ariel apa, La? Kamu ngomong apa?” tanya Nikita yang masih bisa mendengar gumaman Maula meski pelan.


“Aku pergi sebentar, ya. Kalian tunggu di sini.” Maula tidak menghiraukan panggilan dan pertanyaan Nikita juga Rere yang khawatir karena temannya pergi terburu-buru.


Maula sudah kembali memegang kemudi. “Rileks,” ucapnya sambil sambil menarik dan membuang napas untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. “Jika aku bisa tenang, pasti bisa mengemudi dengan baik.”


Dia pun melajukan kembali mobilnya menuju rumah Ariel dengan pelan dan hati-hati. Beruntung, dia bisa tiba dengan selamat tanpa ada hambatan, tidak seperti perjalanannya menuju rumah sakit yang sedikit merepotkan.


Setelah meminggirkan mobil ke bahu jalan, Maula turun dengan hati-hati. Ia tak menyangka akan berpapasan dengan Risa yang baru saja turun dari taksi dengan membawa traveling bag di tangannya.


“Loh, kok malem-malem ada di sini, La?” Dari arah belakang, Risa menyapa dengan seulas senyum di bibirnya meski dia lihat wajah Maula sedang tidak bersahabat.


Maula menoleh sambil menatap sinis ke arah Risa. Memindai ujung kepala sampai kaki dan juga tas yang dibawanya.

__ADS_1


“Ada urusan sama Tante Desy. Dia ada di rumah, 'kan?” jawab Maula ketus.


“Langsung masuk aja, La. Aku mau telepon seseorang dulu.” ucapnya sembari memainkan layar handphone yang sedari tadi ia genggam. Ia masih berdiri tepat di belakang mobil Maula sambil menyandarkan tubuhnya.


Sementara Maula memilih menunggu ketimbang masuk sendiri, tanpa tuan rumah. Namun, percakapan yang dia dengar dari mulut Risa, membuat Maula berubah pikiran.


“Sudah di rumah, ya, Mas. Aku juga baru nyampe.”


“Masuk rumah aja, belum. Masih di depan karena mau ngasih kabar dulu sama Mas Iru biar gak khawatir.”


Apa!? Mereka pulang bersama?


Maula yang tengah berdiri saling membelakangi, spontan membulatkan bola mata, seraya memutar badan. Dia sudah seperti ngengat lilin raksasa yang bisa mendengar hingga frekuensi 300 ribu Hertz, saat nama suaminya berkali-kali disebut.


Sebenarnya, mereka tidak pulang bersama. Hanya saja, sejak Risa berpamitan, dia sempatkan mengunjungi beberapa tempat wisata di sana untuk memanfaatkan waktu liburannya beberapa hari. Dan pada saat Risa take off, kebetulan Khayru pun berangkat menuju Indonesia, sehingga waktu kedatangan mereka sedikit berbarengan.


“Maaf!” Maula menepuk pundak Risa hanya ingin memastikan jika lawan bicara Risa saat itu benar-benar suaminya, akan tetapi Risa semakin asik dengan obrolannya diselingi tawa dan sedikit drama yang membuat Maula seakan menjadi bahan ejekan saat menyimak obrolan mereka.


Akhirnya, Maula tak tahan jika harus tetap berdiri di sana. Ia kembali ke dalam mobil hendak menemui suaminya yang saat ini sudah berada di rumah. Dan dalam kondisi tidak begitu sadar ia menggeser tuas dari posisi P ke R (mundur) Padahal, saat menghentikan mobil beberapa waktu yang lalu, dia memposisikan tuas di N karena berpikir akan berhenti cukup lama.


Tanpa mengecek terlebih dahulu dia langsung menarik tuas satu tingkat ke belakang. Ketika dia menginjak pedal gas, dia tidak menyadari mobil berjalan mundur dengan cepat. Menghantam apa pun yang berada tepat di belakangnya termasuk Risa yang tengah berdiri di sana. Sungguh ia tak ada niat untuk mencelakai siapa pun meski wajah Risa sudah lama menjadi target kemarahannya.


Khayru yang baru saja tiba di rumah, harus mendapat kabar yang cukup mengagetkan seperti ini. Dia langsung pergi ke kantor polisi saat malam berada di puncaknya. Rasa cemas, panik dan juga ingin memarahi istrinya. Karena nekad mendatangi rumah Risa di malam hari, terdengar seperti sengaja berniat mencelakainya, mengingat beberapa hari ini Maula selalu melontarkan kalimat-kalimat ancaman terhadap Risa.


“Ada apa ini?!” tanya Khayru. Dia kecewa, akan tetapi dia tetap tak bisa marah pada istrinya, sebelum dia tahu persis kronologi kejadian yang membuatnya seperti ini. Dia hanya berkali-kali menghela napasnya sambil menyentuh beberapa luka yang ada di wajah Maula. Namun, dari wajah dinginnya, Maula sudah mengira jika Khayru marah dan kecewa.


Setelah mengurus semuanya, Khayru bisa membawa Maula pulang. Namun, Dia harus ke rumah sakit untuk melihat keadaan Risa.


“Abang mau ke rumah sakit, tapi sebelumnya kamu harus pulang. Renungkan apa yang sudah terjadi malam ini. pikirkan baik-baik apa kesalahanmu. Setelah itu kita bicara lagi.”


Maula benar-benar berpikir semalaman hingga tak sedetik pun ia memejamkan matanya.


Dini hari menjelang subuh, ia kembali mendapatkan telepon dari Nikita. Kabar duka menyatakan bahwa Mamanya Rere akhirnya meninggal. Ia keluar dari masa-masa kritis, melepas semua penderitaan dan beban perasaan. Maula tidak menyangka bahwa kehidupan seorang istri yang kecewa karena cinta akan setragis ini.



__ADS_1


Rumah duka masih di penuhi suara tangis Attar--adiknya Rere yang belum bisa menerima kematian sang ibu, karena dia tidaklah sedewasa kakaknya.



“Kalian jangan takut. Jangan pernah takut. Apa pun yang menjadi masalah kalian, mulai sekarang akan menjadi masalahku juga. Jangan pernah menganggapku seperti orang asing. Anggaplah aku lebih dari sekedar teman, karena mulai sekarang kalian adalah saudaraku.” Ucapan tulus Maula keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam.



Setelah selesai pemakaman, Khayru membiarkan Maula untuk tetap bersama Rere. Dia mengerti jika Rere butuh teman yang selalu ada setiap saat, terutama di saat-saat seperti ini.



“Dek, Abang pulang duluan. Kamu boleh di sini selama Rere butuh kamu,” ucapnya sebelum meninggalkan teras rumah Rere yang perlahan mulai sepi.



Maula mengangguk. Matanya yang sembab hanya memandangi Khayru yang mulai melangkahkan kakinya.



“Abang ....”



“Iya.” Khayru menoleh.



“Saat bertemu di rumah, kita akan bicara sesuatu yang cukup penting.”



“Penting?” Kening lelaki itu mengkerut heran.



Maula mengangguk lalu masuk kembali ke rumah Rere.

__ADS_1



To Be Continued ....


__ADS_2