Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 72


__ADS_3

“Satu-satunya alasan yang membawa Abang pulang ... yaitu kamu.” Tiba-tiba, ucapannya terdengar serius membuat Maula memasang telinganya sungguh-sungguh. “Dengarkan baik-baik. Abang akan mengatakan yang sebenar-benarnya.”


“Kapan kamu siap untuk menikah?” tanya Khayru sambil menatap Maula yang memandang ke bawah.


Pertanyaan itu membuat Maula membalas tatapan Khayru sambil mengerutkan kening. “Menikah lagi?”


“Abang tidak mau membuang banyak waktu lagi. Itu tujuan Abang pulang ke Jakarta.”


“Maksudnya?” Maula ingin penjelasan yang bisa lebih dimengerti.


“Abang mau menikahimu lagi. Karena Abang tau, tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan Abang di hati kamu.”


Wajah Maula menjadi sangat merah.


Dari mana dia tahu perasaanku yang sebenarnya. Abang selalu bicara seakan dia sedang mengasihaniku bukan karena mencintaiku. Ini memalukan.


“Aku mau pulang sekarang.” Maula bangkit dari tempat duduknya.


“Oke. Pikirkanlah baik-baik lamaran Abang ini, karena Abang tidak bisa menunggu lama untuk meminta Ayah datang ke Jakarta.”


Lamaran macam apa ini?



Selesai membersihkan diri, Maula keluar dari kamar mandi mengenakan bathrobe lengkap dengan handuk kecil yang menutup kepalanya. Ia berdiri di depan cermin lalu duduk di depan meja rias sambil mengusapkan cairan penyegar ke wajahnya. Sementara telapak tangan menepuk lembut pipinya, sudut mata tak sengaja menangkap wujud sebuah paper bag bertuliskan nama toko buku-- MARIBAYA--yang ia letakkan di atas meja belajar saat pulang tadi. Ia pun beranjak mendekat sambil perlahan membukanya.



“Buku-buku ini 'kan yang ingin kamu baca?” ucap Khayru sesaat setelah Maula turun dari mobilnya.



Bunyi remot mobil terdengar, pertanda pintu mobil Maula sudah bisa dibuka. Namun, sebelum menarik handle ia menoleh ke arah Khayru yang tengah mengulurkan sebuah paper bag. “Kamu boleh menjadi apa pun yang kamu mau.”



“Apa?!” Maula menatap bungkusan itu lalu menatap heran ke arah Khayru yang terus memberi kode supaya Maula menerima pemberiannya.



“Kamu pernah bilang ingin seperti Dian pelangi, Ghea Panggabean, Rinda Hartanto ... sama ....” Khayru coba mengingat-ingat ucapan Maula di waktu dulu.



“Aneu Avantie!” jawab Maula dengan cepat. Dia segera mengambil bungkusan itu dari tangan Khayru tanpa membukanya.



“Kamu bisa berkarier seperti mereka, mengambil kuliah di jurusan yang kamu minati.”



Percakapan terakhir mereka sebelum kembali ke tempat masing-masing.



*Mengambil program Double Degree? Yang benar saja*? *Dia pikir, IQ-ku berapa*?



Maula memasukkan kembali buku-buku itu ke tempat semula, lalu beranjak ke arah pintu karena tiba-tiba terdengar ketukan dan panggilan halus dari luar sana.



“Dek, boleh Kakak masuk?” Wajah Katia sepertinya tengah dilanda kebimbangan.



“Ya boleh, dong, Kak.” Sambil menarik tangan Katia dan memintanya duduk di tempat yang dia suka. Namun, sepertinya tak ada tempat duduk yang nyaman buat Katia saat ini. Dia terus berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Dari ujung tempat tidur, dia beralih ke sofa lalu beranjak ke meja rias sambil memandangi wajahnya sendiri di depan cermin.



“Kenapa, sih, Kak? Kamarku gak nyaman, ya?” tanya Maula sambil membuka handuk dari kepalanya dan mulai mengeringkan rambut dengan *hairdryer* yang sudah tersambung dengan colokan listrik.



“Dek, bagi pengalaman kamu tentang nikah, dong?” Akhirnya kalimat itu lolos dari bibirnya. Dia masih terdiam menatap cermin menunggu tanggapan dari Maula yang tidak merespon karena telinganya dipenuhi suara mesin pengering rambut.



“Dek! Kakak lagi tanya kamu.” Kali ini sambil menoleh sehingga gerakan bibirnya terlihat jelas bahwa dia sedang bicara ke arah Maula.



“Apa, Kak?!” Maula sedikit berteriak.



Terpaksa Katia mencabut kabel dari colokan listrik demi menghentikan suara yang mengganggu itu, hingga Maula menyadari jika Katia sedang ingin didengarkan.



“Ini pasti kebiasaan kamu yang dulu. Biasanya kamu gak se cuek ini sama kakak.” Sambil menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa.

__ADS_1



Maula segera mendekat sambil memeluk Katia. “Maaf, maaf ....” Merayu dan sedikit memelas lalu ia memukul kepalanya sendiri. *Menjadi aku yang dulu*?



“Salah dia, Kak! Ini gara-gara dia!” sambil menunjuk ke sembarang arah.



“Dia siapa?” Katia menautkan kedua alisnya.



“D-dia ....”



Katia tersenyum melihat wajah Maula yang belakangan ini nampak ceria. Bahagia yang terpancar dari dalam hatinya, bukan bahagia yang dia rekayasa seperti biasanya.



“Akh ... sudahlah. Coba ulangi ucapan Kaka tadi. Aku hitung sampe dua Kalau gak ngomong aku nyalain lagi *hairdyer*-nya.” Untuk menghindari tatapan penuh selidik dari Katia.



“Satu ....” Dia mulai menghitung.



“Kamu gak lihat apa wajah kakak bingung begini?”



“Bingung kenapa, sih?” Maula menarik bahu Katia dengan kedua tangannya yang melingkar.



“Kakak mau nikah sama pak Aldi.” Dia belum berani menatap wajah Maula. “Menurut kamu gimana?” ucap Katia sambil menunduk.



Siang tadi, Aldi mengutarakan maksudnya untuk melamar Katia secara pribadi. Meskipun pernikahan ini mungkin belum dilandasi rasa cinta di antara mereka, akan tetapi tujuan mereka sangat baik mengingat usia keduanya sudah lebih dari cukup dan pekerjaan yang menuntut mereka selalu bersama-sama selama ini.



Maula menghela napas. Dia tak begitu kaget mendengar Katia dan Aldi akan menikah sebab mereka telah memberikan tanda-tanda meski malam itu hanya sebatas candaan saja, akan tetapi perasaan Maula saat ini berubah setelah ia bertemu Risa siang tadi. Ia yang seharusnya turut berbahagia dan mengucapkan selamat tiba-tiba ingin memberikan sebuah *warning*.




“Kakak emang tidak tertarik dengan lamaran pak Aldi, awalnya. Selain mungkin tidak ada cinta di antara kita, kakak juga belum berpikir untuk cepat menikah.”



“Tapi ... keberadaan Nursyam, semakin hari semakin meresahkan. Kakak tidak punya cara lain selain menikah dengan pak Aldi.”



“Nursyam yang sering datang ke rumah kita itu?”



“Dia bukan cuma datang ke rumah dan ke tempat kerja, bahkan tadi saat kami makan siang, dia bisa muncul tiba-tiba. Belum lagi, ucapannya sungguh tak enak didengar.” Katia benar-benar kehilangan rasa sabarnya terhadap Nursyam.



“Anda yakin ingin menikahi gadis seperti Katia?” ucap Nursyam pada Aldi yang berkali-kali mengakui Katia sebagai calon istrinya. “Sebaiknya anda cari tau dulu siapa dia sebenarnya.”



Katia hanya bisa mengepalkan telapak tangan sambil menggigit bibirnya saat Nursyam berlalu setelah mengucapkan kata-kata itu. Setelah Aldi menepuk pundaknya, Katia duduk sambil membuang napas kasarnya.



“Sudah kubilang, kita menikah saja.”



Aldi cukup *to the poin* menyampaikan maksudnya karena memang itu yang ingin dia bicarakan hari ini. “Aku sudah membicarakan hal ini dengan Khayru, dia setuju. Dan jika kamu menerimanya, aku akan bilang sama Papaku secepat mungkin.”



“Pak Aldi tidak dengar ucapan Nursyam tadi?! Pak Aldi harus menyelidiki dulu siapa aku sebenarnya jika ingin menikahiku.”



“Aku cukup mengenalimu sebagai teman baik yang harus dilindungi. Anggap saja ini sebuah pertolongan dari seorang teman karena aku akan selalu ada menjagamu meski kita tidak bisa saling mencintai.”



“Saat kamu ingin berbagi cerita, ada telingaku yang siap mendengarkan. Ketika kamu lelah ingin bersandar, ada bahuku yang kokoh dan tegap ini,” ucapnya sambil memukul bahunya sendiri.

__ADS_1



“Kamu mau menangis? Ada bajuku untuk menyeka air matamu. Gimana? Ini tawaran yang menarik, bukan?”



Ucapannya cukup menghibur, hingga wajah Katia yang menunduk sempat memerah kala menepiskan senyum sambil menyembunyikan wajahnya.



“Lalu, dengan apa aku harus membayar kebaikan pak Aldi, nanti?”



Aldi menggeleng sambil mengulas senyum di bibirnya. “Siapa bilang aku minta bayaran?” sambil mendelik pura-pura kesal.



“Sedikit utang pada Nursyam sudah membuatku kehilangan hidup yang tenang. Bagaimana aku bisa membuat utang yang baru pada pak Aldi.”



“Jika kamu merasa ini seperti utang, maka tersenyumlah di hadapanku setiap hari, setelah itu utangmu lunas.”



“Semudah itu?”



“Ya ampun, Katia ....” Aldi memutar bola matanya sambil menghela napas. “Terserah kamu mau bayar pake apa, yang pasti aku tidak akan meminta bayaran apa pun.”



*Betapa bodohnya Risa yang telah menyia-nyiakan lelaki sebaik Aldi*. Katia menatap wajah Aldi dengan sedikit kekaguman yang mulai muncul di hatinya.



“Oke.” Katia mengangguk yakin.



“Oke untuk apa? Maksudnya setuju buat nikah?” tanya Aldi karena ucapan Katia *ambigu*.



Katia kembali mengangguk.



“Nah, gitu dong.” Akhirnya, Aldi bisa bernapas lega meski awalnya tak yakin akan semudah ini mengutarakan niat baiknya. “Setelah ini, beritahu aku kapan bisa datang ke rumah sama Papaku?”



“Aku bicarakan dulu sama Maula, ya, pak Aldi.”



Tiba-tiba Aldi mengibaskan daun telinganya sambil berdesis. “Sssh ... bisa gak cari panggilan yang lebih enak didengar? Selain 'pak' gitu ada, gak?” selorohnya.



“Udah enak banget kok, panggilan pak. Sudah akrab di bibirku,” canda Katia, membuat Aldi beranjak dari tempat duduknya dengan wajah kecut.



“Eh! Pak Aldi mau kemana, pak? Heyy Mas Aldi! Tunggu, Mas. Hahaha ... kok, marah? Aku panggil sayang mau, gak?” Sambil mengejar Aldi dari belakang.



Sesaat menjelang tidur, handphone Maula berbunyi. Panggilan masuk, tapi nomor tidak dikenali.


Siapa ini? Sambil menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


“Assalamualaikum, si--”


“Waalaikum salam. Calon istriku sayang, kamu ngomong apa tadi sama Aldi, hmm?” sahutnya cepat.


Pasalnya, sesaat setelah Katia keluar dari kamar Maula, ia segera menghubungi Aldi terkait rencana pernikahannya yang membuat Maula sedikit ragu. Ketakutan Maula yang selalu berlebihan jika itu berkaitan dengan sebuah pernikahan, membuatnya mengatakan hal-hal diluar nalar. Khayru khawatir Maula juga akan mempengaruhi pikiran Katia sehingga ia berubah pikiran terkait keputsannya untuk menikah dengan Aldi.


“Tolong, ya, sayang. Jangan racuni pikiran Kakakmu dengan sudut pandang kamu yang terlalu sempit itu. Biarkan mereka menikah. Mereka sudah sama-sama dewasa. Biarkan mereka mengambil keputusan sendiri. Abang yakin mereka pasti hidup bahagia. Ayo kita doakan mereka sama-sama--”


“Tunggu! Tunggu! Apa-apaan, nih?” sela Maula ketika Khayru bicara panjang lebar tanpa jeda sedikit pun.


“Pertama, aku tanya, siapa yang Abang panggil sayang barusan? Pastikan panggilan itu bukan buat aku.”


“Kedua, jangan panggil aku calon istri karena aku belum terima lamaran Abang. Dan sepertinya, aku gak bakal terima lamaran Abang itu sampai kapanpun.”


“Ketiga, sebelum menuduhku meracuni pikiran Kak Tia, pastikan dulu Om Aldi bicara yang sebenar-benarnya.”


“Keempat, sudut pandangku memang sempit. Karena itu, jangan berpikir untuk menikahiku lagi karena Abang akan menyesal seumur hidup.”


Tut!

__ADS_1


Tak sampai satu detik, telepon pun ditutup sepihak.


To Be Continued ....


__ADS_2