Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 13. Buah cakap


__ADS_3

“Kebayang, gak kalau Tuan nikah? Malam pertamanya pasti dibayang-bayangi sama Non Maula. Orang dia tuh nempel terus ke mana-mana. Kalau masih kecil, sih gapapa. Tapi kan dia sudah gede.”


“Ha ha ha ....”


“Deg!”


Rasanya seperti pedang yang menghujam di jantungnya.


Bagai ribuan jarum yang menusuk di kulit tipisnya.


Atau mungkin seperti pisau dapur yang mencincang daging dan tulang-tulangnya.


Maula tidak menyangka jika percakapan ringan mereka yang diselingi canda, bisa menembus hingga ke relung yang paling dalam. Begitu melukai hati dan perasaannya. Dia berlari ke kamar mandi. Berdiri di depan cermin wastafel. Napasnya tiba-tiba menjadi sesak.


“Ya aku memang kejam.”


“Aku adik yang egois.”


“Pengganggu.”


“Mambuat Kakaknya tersiksa.”


“Tapi ... Selain pada Abang, pada siapa lagi aku menyandarkan diri? Aku tak punya siapa-siapa.” Tiba-tiba dia menunduk merapikan barisan air mata yang tengah mengalir dan menetes ke lantai.


Di kamar mandi yang dingin, Maula menyembunyikan perasaan bersalahnya. Dari bola matanya yang mulai basah dia tetap menatap wajahnya sendiri penuh selidik.


“Aku bukan anak-anak Lagi. Aku harus mandiri.” Berusaha meyakinkan dan menguatkan diri sebelum akhirnya keluar dari tempat bersembunyi.


Tak lama ia berjalan melewati Ariel yang masih duduk di ruang tamu. Langkahnya yang lamban dengan tatapan yang lurus ke arah teras rumah, ia tetap melangkah tak menghiraukan panggilan Ariel sejak ia lewat di depannya.


Dua sejoli bercengkrama di selingi tawa. Entah apa yang mereka perbincangkan hingga terlihat Risa sesekali menepuk pundak Khayru yang dibalas dengan senyuman sambil mengusap bekas tepukan.


Maula menyaksikan itu dari balik Tirai jendela yang sedikit terbuka. Dia tak menyadari bahwa Ariel mengikutinya.


“Ngintip, ya?” bisikan Ariel sedikit mengejutkan dan membuatnya kembali ke tempat belajar.


“Jangan khawatir, jika mereka nikah, aku akan selalu ada untukmu,” gombalan Ariel terdengar menyebalkan, tapi sepertinya dia tulus menawarkan pertemanan.


“Menurutmu ... mereka bakalan nikah?” tanya Maula. Dia pura-pura sibuk mengerjakan soal latihan.


“Kayaknya iya.”


Tiba-tiba, Maula menunjukkan jari kelingkingnya. “Masih mau temenan denganku?” Tentu saja Ariel menyambutnya dengan senang hati. Sejak itu, mereka semakin akrab. Nyaris tak ada lagi perselisihan seperti dulu. Yang Maula butuhkan saat ini adalah teman yang bisa menggantikan posisi Khayru supaya dia tidak terlalu bergantung di kemudian hari.



Pagi ini, mobil Khayru berhenti tepat di depan gerbang sekolah yang terletak di tepi jalan raya. Suasana tak beda seperti hari-hari biasa di jam masuk dan pulang sekolah. Selalu riuh dengan siswa yang berlalu lalang dan terjadi kemacetan yang memusingkan. Di gerbang terpampang jelas sebuah tulisan.



Antar aku sampai di sini Saja.



 



Jemput aku jika sudah waktunya.



 


Ini jelas, tujuannya supaya tidak terjadi penumpukkan wali murid yang tengah mengantar dan menjemput, tapi tetap saja, mereka ikut masuk sampai melewati gerbang bahkan sampai depan kelas.



“Ayo cepet turun. Bisa kena tegur kalau kelamaan di sini.”



Maula mencium tangan Khayru lalu keluar dari mobilnya.



“Abang gak usah jemput aku, ya. Pulangnya mau main ke rumah Ariel dulu,” serunya sambil berlari melewati gerbang.



“Heyy ...! siapa yang ngizinin buat main?!”



Suara Khayru hilang di udara sama sekali tidak sampai di telinga Maula.


__ADS_1


“Ada apa dengan anak itu. Belakangan ini banyak main,” gumam Khayru sambil melajukan kembali mobilnya.



Anehnya sekarang dia selalu menolak diantar dan dijemput ke mana-mana. Dia seperti memiliki dunianya sendiri. Bahkan di dalam rumah pun sangat jarang terlihat keluar dari kamarnya. Sebagian waktu dia habiskan untuk chating dengan teman seusianya.



Pukul sembilan malam, Khayru masih sibuk di ruang kerja hingga seseorang mengetuk pintu untuk mengingatkan makan malam. 



“Tuan, makan malamnya sudah terlalu dingin. Mau Bibik angetin, gak?”



Khayru segera menatap jam di dinding. “Oh iya. Belum makan malam.” Dia letakan balpoin di tempatnya lalu bangkit dari tempat duduk.



Bergerak menuju meja makan meskipun sudah mulai menguap. Dia menatap semua hidangan. Namun, tiba-tiba teringat Maula. Sekonyong-konyong rasa lapar itu hilang.



Khayru sengaja mengetuk pintu kamar Maula. Dia khawatir dan tiba-tiba merasa rindu dengan gadis itu.



Maula segera menutup seluruh tubuhnya dengan selimut ketika Khayru mulai masuk ke kamarnya.



“Abang kira kamu sibuk belajar. Ternyata tidur.”



“Eh ... Pura-pura tidur,” ralatnya saat dia lihat Maula bergerak di bawah selimut.



Khayru naik ke tempat tidur berbaring menghadap Maula yang belum mau unjuk wajah.



“Kamu kenapa, sih?” Perlahan dia tarik selimut. Namun, Maula kembali menariknya.




“Loh, kenapa? Abang makin penasaran jadinya.” Khayru bangun lalu menarik dengan paksa selimut yang menutupi Maula. “Keluar, gak?!”



“Iya, iya! Aku keluar!”



Maula duduk tegak di hadapan Khayru dengan mimik yang sedikit jengkel karena terpaksa harus menunjukkan wajahnya yang ditumbuhi beberapa jerawat.  



“Wah, Abang kira cuma langit aja yang ada bintangnya ternyata wajah kamu juga banyak bintangnya,” celetuk Khayru sambil mengamati wajah Maula dan menyentuh dagunya.



“Udah, Bang. Aku mau tidur sekarang.” Maula kembali membaringkan tubuhnya.



“Jangan tidur dulu. Abang ambilkan obat jerawat.”



Khayru pergi ke kamarnya sebentar, saat dia kembali Maula sudah memejamkan matanya. Dia tetap memakaikan obat itu sambil mendekatkan wajahnya.



Perlahan Maula membuka kembali matanya. “Obatnya taruh di atas nakas saja, biar aku pake sendiri nanti,” katannya pelan sambil kembali memejamkan mata.



Khayru tidak menghiraukan ucapan Maula. Hanya saja, hatinya sedikit bertanya-bertanya.



“Heran, kenapa anak ABG zaman sekarang banyak jerawatnya?”Ini hanya pertanyaan iseng.

__ADS_1



“Bang ... aku mau pergi therapy untuk mengobati Hemophobia,” ucap Maula tiba-tiba. “Aku mau sembuh.”



Khayru mengerutkan kening. Ada jeda sebelum akhirnya dia menjawab ucapan Maula.



“Kenapa tiba-tiba? Bukannya dulu selalu menolak?”



“Baru kepikiran aja. Aku gak mau teriak-teriak kaya orang gila lalu pingsan ketika melihat darah haid-ku sendiri. Lagi pula, Abang juga pasti bosan menjadi perawat buatku.”



“Abang gak pernah komplen meskipun seumur hidup harus mengurusmu.”



“Yang benar saja? Aku gak siap jika harus dibully sama istri Abang, nantinya.”



“Istri?”



Khayru membulatkan matanya lalu tersenyum. Ia menatap lamat-lamat sambil merangkum wajah Maula.



“Tidur.” Khayru memberi instruksi.



“Ariel bilang, Tante Risa kerja di perusahaan kita.”



“Iya ....”Khayru membaringkan tubuhnya, menatap lurus ke arah langit-langit.



“Jangan tanya lagi. Abang mau tidur.”



“Satu lagi.”



“Apa?”



“Abang akan menikahi gadis yang Abang sukai?”



“Tentu,” jawabnya dengan mata terpejam. Pura-pura tertidur supaya Maula berhenti bertanya lalu bangun kembali setelah Maula terlelap. Mereka sama-sama tidak menyadari jika pertanyaan dan jawaban itu menyebabkan ambigu.



“Menikahi orang yang disukai.” Khayru mengingat pertanyaan Maula sebelum ia tidur lalu memutar badannya menghadap Maula. Ia merogoh sebuah benda kecil yang dia bawa dalam saku piyama.



Ia angkat benda kecil itu di atas wajahnya, tepat di bawah cahaya lampu kamar sehingga terpendar cahaya di setiap sisi benda itu.



Sebelum pergi dari kamar itu, Khayru membisikkan ucapan selamat malam dengan lembut di telinga Maula, serta mencium pipinya.



 


Matahari mulai celik dari peraduan, Pendarnya menghapus titik-titik embun dari dedaunan. Terasa hangat di tubuh Maula saat dia bangun mengerjapkan mata. Seperti biasa, beringsut menuju kamar mandi, menyiapkan dirinya pergi sekolah.


Tangannya meraba deretan sikat gigi yang berjejer. Namun, matanya terfokus pada benda kecil yang tiba-tiba muncul di jari manisnya.


“Apa bagusnya? Ini cincin yang biasa dipakai ibu-ibu arisan.” Tanpa berpikir panjang Maula pergi ke tepi jendela lalu melempar cincin ke sembarang arah.


 

__ADS_1


To be continue ....


__ADS_2