
Rangkaian besi tempa yang menjulang dihiasi ornamen klasik yang mewah, terbuka dengan sendirinya ketika mobil Khayru melaju semakin mendekat menuju keluar. Namun, dia berhenti tepat didepan pos satpam karena teringat sebuah benda kecil yang terpasang di sana. Ya, kamera CCTV yang selalu On mengintai kejadian di sekitar sana. Dia baru teringat jika benda itu terhubung ke Handphone miliknya melalui sebuah aplikasi--IMSeye.
"Selamat pagi, Tuan ...." Ferdy--satpam jaga siang ini, menyapa. "Ada yang bisa dibantu, Tuan?" Dia keluar dari pos-nya menawarkan bantuan.
Khayru terdiam sesaat. "Mm ... gak ada, Fer. Gak apa-apa." Khayru kembali menatap jam di pergelangan tangannya lalu memilih untuk segera melajukan mobil, karena ada meeting di kantor pagi ini.
Di sela kesibukan, dia kembali asik dengan Handphone miliknya, hingga tak sadar Aldi dan Risa sudah memasuki ruangannya.
"Ini sample kain terbaru yang akan kita produksi setelah last stock keluar semua. Akan tetapi karena keterbatasan bahan baku, model ini mungkin kita Mark up karena memang akan sangat limited edition nantinya," terang Risa pada Aldi. Di sela-sela mereka menghampiri Khayru.
"O ya. Pastikan juga supaya tidak ditemukan lagi rework goods setelah melewati QC seperti kejadian-kejadian yang sudah lalu, Ris."
"Tentu. Kita akan selalu memantau SOP di setiap perpindahan barang. Kita tekankan juga pada team QC untuk lebih meningkatkan kecepatan dan ketepatannya, Pak."
"Pak?" tanya Aldi heran sambil mendelik ke arah Risa.
"Iya ... Pak. Kenapa?" Risa membenarkan ucapannya.
"Pak?" Aldi seperti tidak suka dengan panggilan 'Pak' yang ditujukan Risa padanya.
"I-iya ... Pak."
Risa merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya. Percakapan mereka membuat Khayru yang semula hanya fokus pada layar Handphone, segera mengangkat wajahnya.
"Kalian kenapa? Ada masalah apa?"
"E-enggak, gak apa-apa," jawab Aldi sambil menarik potongan kain sutra dari tangan Risa. "Ini, Ru, sample produk baru kita. Very very limite edition."
Khayru berdiri dari singgasana kerjanya seraya meraih benda itu dan mengamatinya.
"Cantik ... Elegan." Dia mengelus teksturnya yang lembut. "Kapan mulai produksi?"
"Segera." timpal Risa.
"Mas Iru mau makan siang di mana?" lanjutnya.
Aldi mendelik, menatap lekat mata Risa.
"Maksud saya ... 'Pak Iru'. Maaf." Risa meralat ucapannya.
Khayru terdiam sesaat sambil mengusap dahinya. Lalu pamit karena harus menjemput Maula di sekolah.
"Kalian makan siang saja, duluan. Saya jemput Maula dulu." Khayru merapikan jasnya sambil bergegas pergi.
"Oh ya, Di, besok gue jadi ke Lombok. Manager Hotel & Resort meminta hadir untuk acara penerimaan karyawan baru di sana," terangnya sebelum membuka pintu.
"Oke, Ru. Sukses selalu buat Hotel di sana."
“Kamu tunggu Abangmu yang jemput, ya, La. Ada orang tuaku baru datang ke rumah, aku pulang duluan.”Ariel hanya membuka penutup helmnya sambil menghentikan kuda besi yang ditungganginya di hadapan Maula.“Jangan lupa minta maaf yang sopan sama Om Iru,”pesan Ariel sebelum kembali mengarahkan motor ke jalan raya.
Maula menganggukkan kepala sambil sesekali menatap ke arah yang berbeda. Siapa tahu Khayru sudah datang menjemputnya.
“Hati-hati ya, Riel. Salam buat Mama Papamu.”Maula menatap Ariel yang mulai berlalu dari hadapannya.
Ariel kembali menghentikan motornya hanya untuk mengangkat kedua tangan. Membentuk sebuah '*Love*' yang membuat Maula tersenyum lebar dan melambaikan tangan.
"Dah, Ariel ...." Hingga motor itu menjauh dari gerbang sekolah.
Tak lama, terdengar suara klakson memekakkan telinga. Maula yang tengah menunduk segera mengangkat kepalanya sambil berdiri tegak, tak lagi bersandar pada pintu gerbang sekolah.
"*Akhirnya datang juga*. *Ampun dah lama banget*."
Maula segera lari menuju mobil karena tak ingin membuang waktu lagi.
"Lama nunggu, ya?"
__ADS_1
"Banget"
"Tumben gak pulang sama Ariel?"
"Ariel yang minta aku nunggu Abang."
"Oh, jadi karena Ariel," gumam Khayru sambil mengerutkan dahi.
"Ariel juga nyuruh aku buat minta maaf sama Abang," tuturnya sambil memasangkan sabuk pengaman.
"Bisa tidak kalau minta maafnya bukan karena Ariel?" Sebenarnya dia hanya ingin menggoda Maula saja.
"Memangnya, aku salah apa sama Abang? Kenapa aku harus minta maaf?"
"Kenapa kamu tidak tanya sama Ariel? Apa alasan dia nyuruh kamu minta maaf sama Abang?"
"Akh, lupain aja. Nyesel aku ngomongin Ariel."
"Lagian kamu tuh, di depan Abang yang diomongin Ariel lagi, Ariel lagi."
"Abang kenapa, sih?" ketusnya sambil menatap heran. "Lama-lama kok mirip Bapak-bapak lagi ngawasin anak gadisnya. Kayak suami nyurigain istrinya yang selingkuh. Atau kayak pacar lagi curiga sama ceweknya ada main di belakang gitu." Maula menatap dengan dahi berkerut. "Heran!"
"Apa?" Maula kembali membidik wajah Khayru dengan telik. Berharap dia akan mengulang ucapannya.
"Akh, enggak." Khayru menggelengkan kepalanya. "Abang mau mampir ke kuburan sebentar, Dek. Kamu mau turun juga apa nunggu di mobil?"
"Ikut, Bang." Maula turut membuka sabuk pengaman ketika Khayru berhenti tepat di depan TPU.
Dari kejauhan, dia menatap lurus ke arah dua kuburan yang berdampingan dengan batu nisan yang terbuat dari batu pualam berwarna hitam. Angannya seakan terdampar di masa sembilan tahun yang silam. Wajah penuh kepayahan yang datang hanya untuk memohon. Masih begitu terasa genggam tangan yang hangat serta dua bola mata yang selalu basah dengan linangan air matanya.
"*Mulai detik ini, Papa serahkan tanggung jawab atas Maula padamu*."
"*Setelah Maula cukup usia, kalian bisa meresmikan pernikahan kalian secara hukum*."
"*Papa hanya ingin kamu yang menjadi jodoh Maula. Jangan ada perpisahan*."
"*Maaf jika ketika kalian menjalani rumah tangga ini, Papa sudah tidak ada lagi*."
"Pa ...." Tanpa sadar bibirnya merapalkan sebuah nama. Seakan tidak yakin dengan dirinya sendiri.
"Abang ...." Maula mengguncang lengan Khayru ketika Handphone di saku jasnya terus berbunyi.
__ADS_1
"Iya ...."
"*Handphone*-nya bunyi, tuh, Bang."
Khayru mengambil dan menatap layar Handphone. Namun, tak kunjung menjawab panggilannya.
"*Pengacara*."
Khayru tak ingin menjawab telepon itu di hadapan Maula. Karena itu, dia meminta Maula berdoa di depan makam orang tuanya.
"Dek, kamu duluan ke sana. Nanti
Abang nyusul."
Maula mengangguk lalu turun dari mobilnya.
"Baik, Om. Kita akan berkumpul setelah saya kembali dari Lombok. Semoga semuanya bisa hadir pada waktunya."
"Nanti saya kabari lagi."
'Om' yang dimaksud adalah pengacara Suryadi yang tak lain adalah ayah dari Aldi. Mereka akan berkumpul untuk menyampaikan satu wasiat yang belum diketahui oleh Maula dan yang lainnya. Akan di sampaikan bertepatan dengan ulang tahun Maula yang ke sembilan belas tahun.
Sepulang dari kuburan, mereka langsung menuju ke rumah karena Khayru harus mempersiapkan keberangkatannya ke Lombok.
"Abang mau ke Lombok?" tanya Maula sebelum mereka sama-sama masuk ke kamar masing-masing.
"Kenapa memangnya?"
"Gak ada niatan buat ngajak aku, gitu?"
"Sekolah kamu gimana? Di sana seminggu, loh."
"Besok udah libur semester, kali, Bang."
Khayru terdiam sesaat sebelum akhirnya meluluskan permintaan Maula.
"Yeeaay, liburan ke Lombok!" teriaknya seraya mengangkat tangan. "Pantai pink, pantai Senggigi ... i am coming!"
Khayru menatap sambil menggelengkan kepalanya. Ada seulas senyum yang nampak dipaksakan dari bibirnya.
"*Baiklah. Bersenang-senanglah karena sepulang dari sana, ada kejutan yang tengah menantimu*."
To be continue ....
__ADS_1
Mohon maaf karena ada sedikit revisi di bab 15. 🙏