
Ariel berada di ruangan yang sama dengan ayahnya yaitu VIP room. Ayahnya yang berniat datang ke tempat ini untuk bersenang-senang bersama wanita yang dibawanya, dihalau oleh Ariel. Tak henti Ariel membujuknya pelan-pelan. Ariel mengerti jika Ayahnya kini tengah kecewa untuk kesekian kalinya pada sang istri yang ternyata masih tetap berhubungan dengan selingkuhannya, meski pun sudah berjanji untuk mengakhirinya.
Sementara di luar sana, Khayru tak kalah kebingungan mendapati jejak Maula yang berhenti di sekitaran club malam yang sebelumnya ia harus melewati tempat bisnis prostitusi. Dua tempat yang rasa-rasanya, tak mungkin jika Maula berani mendatanginya. Dia keluar dari mobilnya seraya mengedarkan pandangan menatap sekeliling. Dia menggigit bibirnya sesekali meremas rambutnya karena Maula semakin membuatnya khawatir.
Tak lama, ia melihat Ariel bersama ayahnya yang muncul dari pintu club malam dan segera berlari mendekatinya.
“Riel! Di mana Maula? Dia pergi denganmu, kan?”
“Saya minta dia menunggu di mobil, Om,” jawab Ariel sambil menunjuk ke arah mobilnya yang ia parkir sembarangan. Khayru berlari ke arah itu, coba melihat keberadaan Maula dalam mobil melalui jendela mobil yang nampak gelap.
“Gak Ada!!” Wajah Khayru nampak sangat murka. Ia menarik kerah baju Ariel yang hanya menemukan jilbab Maula di jok mobilnya. Dengan mata melotot Khayru berbisik dengan nada mengancam. “Katakan!! Di mana Maula?! Jika tidak, saya laporkan kamu ke polisi.” Satu pukulan mendarat di wajah Ariel hingga ia tersungkur.
Ayahnya Ariel berusaha melerai. Dia meminta hal ini dibicarakan baik-baik. Namun, Khayru tak menghiraukan ucapannya. Ia segera bergegas mencari keberadaan Maula di setiap sudut. Berkeliling berusaha menemukan jarum dalam tumpukkan jerami sambil berulang menghubunginya.
Di dalam sebuah privat room, Maula berusaha bertahan dari rasa pusing yang sebenarnya membuat dia hampir pingsan. Dia terus memegangi kepala dan wajahnya yang sudah basah karena sengaja disiram minuman keras oleh lelaki laknat yang membawanya.
“Tolong ... tolong lepaskan saya,” lirihnya sambil menangis. Tangan jahil itu semakin membuatnya merasa dalam bahaya. Dia berusaha mengambil handphone dalam tas miliknya. Namun, tangan kecil itu semakin tak berdaya menahan cengkraman lelaki mabuk yang semakin mendekat padanya.
“Jangan ... jangan lakukan itu.” Suara Maula semakin tak bertenaga. “Saya mohon.” Dia terus mengguncang wajahnya ketika bibir lelaki yang menjijikan itu mulai menyentuh leher putihnya.
Seseorang, datanglah ... bantu aku. Bawa aku dari sini. Aku mau pulang. Ya Allah tolong aku. Riel, Lo di mana?
Di tengah keputus asaannya, Allah mendengar doa Maula. Entah sebuncah apa yang Maula rasakan hingga ia tak mendengar suara pintu ruangan ditendang dengan keras. Tiba-tiba ia melihat laki-laki di depannya tersungkur setelah menerima pukulan dan tendangan hebat. Terjadi perkelahian antar dua orang lelaki yang menerobos masuk untuk membantunya. Saat itu juga kesadaran Maula benar-benar hilang. Tak tahu lagi apa yang sudah terjadi di ruangan itu.
Saat terbangun, Maula sudah berada dalam mobil suaminya. Ia coba mengumpulkan kesadarannya sambil menatap Khayru yang tengah mengemudi. Ia pun beralih menatap kepalan tangan suaminya yang terbalut kain kerudung yang digunakan Khayru untuk menutupi lukanya.
“Tangan Abang, luka?” tanyanya sambil menunduk lalu menyentuh rambutnya yang berantakan. “Aku buka penutup kepalaku karena ... kerudung itu terlalu berharga untuk kupakai di dalam club malam,” ucapnya lagi pelan saat menyadari bahwa Khayru akan marah melihat dia melepaskan penutup kepala.
“Kamu merasa akan menghinakan benda ini saat kamu pakai di tempat itu?” tanya Khayru sambil mengangkat balutan kerudung di tangannya. Dijawab Maula dengan anggukan pelan.
“Tapi kamu tidak malu telah menghinakan dirimu sendiri di depan lelaki tadi. Kamu menikmati sentuhannya, kan?” Nada bicaranya begitu sengit.
“Clubbing pertamamu pasti sangat berkesan. Abang yakin, besok malam kamu akan kembali ke sana untuk menemuinya,” cibirnya sambil berkali-kali menarik napas panjang.
“Stop, Bang! Jangan menuduhku seperti itu. Aku cuma ingin membantu Ariel saja. Aku bukan datang untuk bersenang-senang!” jelasnya sedikit tak terima dengan tuduhan yang bertubi-tubi.
“Hhh ... Ariel lagi,” desisnya. “Bocah ingusan itu sudah Abang hajar sebelum Abang menemukanmu.” Padahal Khayru hanya memberikan serangan kecil itu pun dikarenakan terlalu panik.
“Jangan, Bang! Kasian Ariel.” Maula mulai menangis membuat Khayru semakin kesal setiap kali melihat istrinya menunjukkan perhatian lebih pada laki-laki lain. “Dia gak salah, Bang....” Suaranya terdengar lirih membayangkan Ariel terluka karena hantaman suaminya. Ariel adalah korban keegoisan orangtuanya. Dia tidak patut disalahkan pikir Maula yang sangat mengasihaninya. Dia tidak menyangka jika kecerobohannya malah mencelakai Ariel.
Mobil tiba di halaman rumah. Khayru menarik tangan Maula dengan kasar. Dia menyeretnya ke kamar mandi lalu menyalakan shower. Mengguyur Maula dengan kucuran air, dengan maksud menyadarkan pikiran dan membersihkan tubuhnya. Menghilangkan bau minuman keras yang menempel dan juga menghilangkan jejak pria yang menyentuhnya.
Dia meninggalkan Maula yang tengah menangis. Sembari berdiri bersandar di pintu kamar mandi, dia hanya membayangkan apa yang akan terjadi jika saat itu ia datang terlambat, lalu ia coba menenangkan diri supaya tidak memarahi Maula lagi. Tak lama dia kembali membawakan handuk bersih, membawa Maula kembali ke kamar, mengganti pakaian lalu memintanya segera tidur. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 03.05 dini hari.
“Bang ....” Maula menatap Khayru yang mulai berbaring di sebelahnya, seraya menatap langit-langit. Maula ingin menjelaskan sesuatu. Namun, Khayru sudah sangat mengerti.
“Abang mengerti. Kamu hanya bersimpati pada Ariel. Tidak ada yang salah dengan itu. Akan tetapi, Abang tak ingin kamu bertindak bodoh. Abang marah karena kamu pergi begitu saja. Tanpa Pamit bahkan mengabaikan panggilan Abang yang panik mencari keberadaanmu.”
“Maaf ...,” lirihnya pelan.
“Tidurlah.”
\[Dek, pulang jam berapa hari ini? Abang pasti telat jemput, Ada *briefing* sore dengan staff produksi\] Pesan singkat yang diterima Maula dari suaminya.
\[Gak papa, Bang. Masih ada pemantapan di sekolah. Aku juga pulang sore\] balasnya.
\[Telepon Abang kalau sudah selesai\] Khayru berpesan.
__ADS_1
Satu jam setelah masuk waktu ashar, semua siswa diperbolehkan pulang. Sebelum menelefon suaminya, tak sengaja ia melihat WA story milik Aldi yang menampilkan Vidio Khayru yang masih sibuk dengan *breafing* sore. Karena takut mengganggu pekerjaannya, Maula putuskan numpang mobil Rere sampai ke kantor suaminya. Dia akan menunggu di sana sampai pekerjaan Khayru selesai.
“Thanks ya, Re, Nik, tumpangannya.” Maula masih berdiri, menunggu mobil Rere berlalu dari hadapannya.
“Salam buat Om ganteng, ya, Ibu Negara!” teriak Nikita ketika mobil melaju kembali.
Maula menaikkan bibirnya sambil mendelik. Tak lama dia berlari memasuki sebuah gedung bertingkat setinggi lima belas lantai. Melewati satpam dan juga recepsionis yang selalu tampil cantik dan rapi. Dia menyapa dengan senyumnya yang ramah dan menarik.
“Mbak, Abang ada di atas?”
“Ada, Dek. Bapak baru kembali dari pabrik”
“Tolong kasih tau dia kalau saya nunggu di lobby.”
Maula duduk di sofa yang membentuk setengah lingkaran, menghadap ke meja recepsionis. Duduk menyandar dengan posisi nyaman sambil memainkan handphonenya.
Khayru baru tiba di ruangannya ditemani Aldi yang membawakan beberapa map lalu meletakan di atas meja. Tangannya kemudian mengangkat interkom yang ia terima dari bagian recepsionis.
“Maula nunggu Lo di lobby, bro.” Aldi menyampaikan pesan yang baru ia terima.
“Biar bocah, dia kan istri Lo.” Aldi terkekeh.
“Lo cinta gak, sih sama Maula? Istri yang selalu Lo bilang nakal, pemarah, dan manja itu.”
“Cinta?” Khayru yang menata file di tempat penyimpanan, berhenti sesaat sambil menatap Aldi dengan pertanyaannya yang iseng.
“Jujur sama gue. Lo cinta gak sama dia?” desak Aldi penasaran.
“Sejujurnya, Enggak. Gue gak bisa mencintai gadis seperti dia,” jawab Khayru tegas sambil melanjutkan ucapannya. “Tapi gue harus tetap bersamanya. Gue gak bisa--”
“Cukup! Jangan dilanjutkan,” sergah Maula sambil membuka pintu ruangannya.
Khayru dan dan Aldi sedikit kaget karena ucapannya yang belum selesai mungkin membuat Maula salah paham.
__ADS_1
“Dek! Kamu bukannya nunggu di bawah?” Khayru segera menghampiri sambil meraih kepala Maula untuk kemudian menciumnya. Namun, Maula menghindar dengan cepat.
“Aku tau Abang gak pernah mencintaiku karena Abang masih mencintai wanita lain. Atau mungkin karena kekuranganku terlalu banyak. Tapi ... karena Abang telah mengatakannya dengan jujur, aku pun ingin mengutarakan perasaanku yang sebenarnya.”
Maula menarik napas sangat dalam sebelum melanjutkan ucapannya.
“Aku pun ... tidak pernah mencintai Abang. Aku hanya ingin membantu Abang supaya bisa menjalankan amanat Papa dengan baik. Aku baru sadar jika yang kita lakukan hanyalah melukai perasaan kita masing-masing. Maafkan aku, Bang.”
“Dek, jangan bilang kamu salah paham karena ucapan Abang tadi.”
“Tidak perlu merasa bersalah karena telah berkata jujur. Aku benar-benar bersyukur bisa mengetahui perasaan Abang. Meski pun seharusnya hal ini kita bicarakan secara pribadi saja. Tidak di hadapan orang lain,” tutur Maula sambil menatap Aldi.
“Abang belum selesai bicara, Dek.” Khayru berusaha membela dirinya. Namun, sikap tenang Maula tidak menggambarkan isi hati yang sesungguhnya.
“Lanjutkan di rumah saja,” jawabnya tenang sambil membungkuk lalu pergi dari hadapan mereka berdua.
Khayru segera meraih jas dan kunci mobil lalu mengejar Maula.
To Be Continue ...
Bonus visual, boleh lihat wajah Maula tapi jangan lihat wajah Khayru. Merem aja, merem.
1. MAULA QIANA ARIFIN


2. KHAYRU ZAMAN ARIFIN


__ADS_1
Udah segitu dulu. Cukup sekian dan terima kasih. 🤭