
“Tidak, tidaaak!!” Maula yang tengah melamun di kantin, tiba-tiba mengguncang kepalanya berkali-kali.
“Ibu Negaraaa?!” teriak Nikita yang datang membawa makanan pesanannya. “Apanya yang tidak, hahh?”
“Sorry, sorry ...” Maula gelagapan.
“Kenapa, sih, nih bini orang?” cibir Rere sambil duduk di sebelahnya.
“Hussttt!!” Maula melotot sambil mengangkat telunjuk di depan bibirnya.
“Mikirin apa, sih?” desak Rere lagi. “Jangan bilang Lo masih takut kalau suami Lo gue rebut. Enggak, kan?” Rere menatap wajah Maula.
“Gayss! ... boleh gak malem ini gue nginep di rumah Lo?” tanyanya hati-hati.
“Nginep? Dalam rangka apa?” Nikita mendongak.
“Ya gak apa-apa. Pengen aja nginep,” ucapnya sambil menarik posisi mangkuk baso yang dibawakan Nikita.
“Berantem sama suami tampan Lo, ya?” Rere mencolek-colek lengan Maula. Dia tak berhenti menatap wajah temannya itu karena penasaran.
“Sshhuuttt!! Lo ngomongnya suami, suami Mulu, sih, dari tadi. Kalau ada yang denger, habislah riwayat gue,” bisik Maula.
“Ya udah buruan cerita dulu, biar Rere gak nanya-nanya Mulu, La.” Sambil melahap Mie bakso, Nikita mendekatkan wajahnya, siap untuk mendengar cerita yang sepertinya sedikit rahasia.
Maula menatap kedua temannya yang sudah memasang telinganya lebar-lebar.
“Andai kata, nih, ya,” ucap Maula pelan tapi jelas, sambil menatap kedua temannya bergantian. “Kalau Lo berdua punya suami, terus ... diem-diem Lo cium tuh bibir suami Lo pas lagi tidur--”
“Lah, kenapa musti diem-diem sih kalau mau nyium suami? Kan sah mau diapa-apain juga?” sambar Nikita dengan suara yang tidak cukup pelan, membuatnya segera menatap sekeliling karena khawatir ada yang mendengar. “So-sorry ...,” ucapnya sambil mengerutkan wajah saat Maula melotot ke arahnya.
“Gak nyahut dulu, bisa, gak?!”
“Bisa, bisa! Lanjut, dah!” jawabnya cepat.
Maula menarik napasnya lalu melanjutkan cerita. “Gue kan iseng aja, nyium dia pas lagi tidur. Pengen tau aja kenapa orang selalu membicarakan ciuman di bibir. Lama-lama gue kebiasaan bangun tengah malem terus keisengan gue juga malah jadi kebiasaan. Akhirnya, gue gak bisa tidur lagi deh kalau gak nyium die--”
“Ah, pasti modus Lo mah! Bilang aja mesum, ngaku hayoo!” Tawa Rere pecah. Namun, segera terhenti karena mulutnya segera dibekap menggunakan telapak tangan Maula.
“Terus suami Lo gak nyadar kalau dia, Lo cium tiap malem?” bisik Nikita yang di susul tawa yang tak kalah keras, membuat Maula memutar manik hitamnya sambil berdesis sebal.
“Dasar bini gak ada akhlak! Gue kasih tau, ya, kalau mahluk yang namanya laki-laki itu, suka banget sama cewe yang nyosor duluan. Jadi, kalau mau nyosor ya nyosor aja. Ngapain nikah kalau mau nyium aja mesti kaya pencuri?” Rere kembali melahap satu suapan penuh--Mie bakso ke dalam mulutnya.
“Tapi kok bisa ya suami Lo kalah nyosor sama bininya?” ucap Nikita sambil memindai semua bagian tubuh Maula. “Muka udah cantik meskipun harus banyak dipoles dulu. Baju Lo kurang seksi kali kalau tidur, terus ukuran Bra Lo berapa, sih?”
“Udahlah, gak jadi ngomong gue. Ngomong sama mie bakso lebih enak dari pada ngomong sama ubur-ubur beracun.” Dia turut melahap Mie bakso miliknya dengan cepat.
__ADS_1
“Ahahahaa ... marah dia, euy ....” Rere menarik pundak Maula. “Eh! Katanya mau nginep di rumah gue. Jadi gak?” rayunya supaya Maula melanjutkan curahan hatinya.
Akhirnya, Maula melanjutkan cerita tadi pagi saat dia keluar dari kamar mandi. Berdirilah suaminya di depan pintu, tanpa aba-aba mengecup bibir Maula lalu masuk ke dalam kamar mandi mengabaikannya istrinya yang masih tertegun sebab kecupan tadi. Ternyata suaminya ingin membuat perhitungan karena mengetahui Maula sering mencuri ciuman tanpa sepengetahuannya.
“Siapa yang mengizinkan Abang melakukan itu barusan?!” Maula kembali ke kamar mandi sambil menatap sangar.
“Emang harus izin dulu, ya?” jawab Khayru santai sambil mengambil sikat gigi lalu menambahkan pasta gigi di atasnya.
“A-aku ... aku kan kaget!” Maula beralasan.
“Hari ini Abang gosok gigi apa jangan, ya?” gumamnya sambil mengusap-usap bibirnya. “Kalau gosok gigi, berarti jejak ciuman semalam jadi ilang, dong?”
“Se-semalam?” Maula membelalakkan matanya. “Jadi ... Abang sudah tau?” Tiba-tiba, wajahnya seakan menyusut karena malu.
“Abang gak marah kamu melakukannya diam-diam seperti pencuri. Kamu bisa melakukannya sesuka hatimu,” ucapnya santai. “Tapi ... masa sih kamu gak mau Abang balas ciumanmu?” Senyumnya mulai menyeringai membuat Maula menarik wajahnya.
“Nah, kan, ini yang aku takutkan. Abang menginginkan yang lebih dariku.”
“Memangnya kenapa kalau Abang menginginkan hal yang lain ?” tukasnya. “Nanti malam pokoknya! ingat, ya!” Sebelum akhirnya mulai menggosok gigi. Sementara Maula lari ke kamarnya sambil bergidik ngeri. Hal itu membuat Maula enggan tidur di rumahnya malam ini.
“Oohh ... begono ceritanya? Takut dibelah durennya, ya.” Nikita sampai membulatkan bibirnya sambil menghela napas.
“Kasian banget, ya, suami Lo?” Rere menunjukkan wajah iba lalu kembali berbisik di telinga Maula. “Posisi Lo mau gue gantiin gak malem ini?”
“Ish!! Kalian berdua menjijikkan!!” Maula bangkit dari duduknya setelah meminum sisa es jeruk di gelasnya. Dia pergi meninggalkan kedua temannya menuju ruang kelas karena jam istirahat akan segera berakhir.
“Bapak pulangnya agak sorean. Tolong bilang sama Ibuk, ya, Fin!” perintah Pak Kepsek dari ambang pintu lalu kembali masuk.
“Baik, Pak,” jawabnya sambil mengangguk. Namun, sejurus kemudian, terjadilah tabrakan yang tak diinginkan karena dia telat memutar badan.
Maula roboh di atas lantai. Jika dalam keadaan mode normal, Maula bisa marah habis-habisan meski pun dia yang salah. Namun, fokusnya terganggu saat tak sengaja menatap siswa laki-laki itu yang segera meraih tangannya sambil meminta maaf dengan sopan.
“Maaf, maaf ... saya gak sengaja.”
Bukannya dia Gaffin? Anak kepala sekolah yang menjadi buah cakap beberapa hari belakangan?
Rere dan Nikita berlari menyusul. Dari jarak beberapa meter saja, kedua temannya itu berhambur mendekatinya yang tengah berdiri di hadapan Gaffin.
“Kenapa, La. Jatoh, ya?”
“Buru-buru banget sih, pake lari-lari segala.”
Gaffin kembali meminta maaf, juga mengulurkan tangannya pada Maula. Dia memperkenalkan diri karena mungkin tidak banyak yang mengenalnya sebab dia bukan siswa di sekolah ini.
“Saya Gaffin.”
__ADS_1
“Saya sudah tau, anaknya Pak Kepala Sekolah, kan?” ucap Maula pura-pura tidak melihat uluran tangan Gaffin.
“Boleh tau nama kamu,” tanyanya, karena name tag di dada kirinya tertutup jilbab.
Maula menatap Rere da Nikita bergantian. Spontan Rere berbisik di telinga Maula dengan mata melotot. “Jangan main gila di sekolah. Inget ada laki Lo di rumah!”
Maula menjauhkan telinganya sambil mengerutkan kening menatap Rere. “Apaan, sih, Lo?”
Bukannya menjawab pertanyaan Gaffin, Maula malah pamit meninggalkan mereka sambil berlari. “Maaf, saya duluan. Ada urusan di kelas.”
Kening Gaffin mengkerut heran ketika dua teman Maula pun ikut lari meninggalkannya. Mereka mengejar Maula yang sudah duduk di ruang kelas.
“Masa yang ditanya Maula doang? Gak penasaran sama nama gue, apa?” sungut Rere sambil duduk di tempatnya, di belakang Maula.
Setelah bel pulang, Maula nampak enggan beranjak dari tempat duduknya. Dia terus mengulur waktu dengan obrolan-obrolan yang tidak begitu penting dengan kedua sahabatnya, hingga handphone Nikita bunyi setelah Maula mengabaikan telepon dari suaminya.
“Gak usah diangkat!” Maula mengambil handphone dari tangan Nikita lalu me-*reject* panggilan dari suaminya.
“Eh! Gak ada akhlak, ya!? Telepon dari suami malah di-*reject*.” Rere menghardik lalu mengambil handphone miliknya yang juga berbunyi tiba-tiba. Dia langsung merespon karena tahu Khayru sudah menunggu Maula terlalu lama.
“Lo kok gak bilang, sih, kalau gue mau nginep. Suruh dia pulang aja, gak usah nunggu gue.”
“Cabut, yuk! Dah siang, nih.” Rere mengabaikan ucapan Maula. Dia menatap jam tangannya lalu menarik tangan temannya itu.
“Lo mau jeblosin gue ke kandang singa, ya? Gak tau apa bulu kuduk gue berdiri sejak pagi?”
“Ahaha ... bukannya tiap malam Lo tidur bareng singa?” Nikita turut menyeret tangan Maula hingga ke gerbang sekolah. Di sana sudah berdiri menyender ke mobil sambil menyilangkan tangan di dadanya, seorang laki-laki yang tengah menunggu istrinya.
__ADS_1
To Be Continue