Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 57


__ADS_3

Five month later ....


Apel di lapangan rumput kampus Cendekia 1, pagi itu tidak seperti biasanya, karena setelah siswa yang bertugas sebagai pembina apel dan menyanyikan lagu nasional secara bersama-sama terdapat acara tambahan, yakni kehadiran Bapak Kepala Sekolah, di tengah-tengah apel untuk menerima berbagai macam piala dari prestasi-prestasi yang sudah diraih siswa SMA Cendekia 1 Jakarta (Leadership Academy). Sebelumnya Bapak Kepala Sekolah menyampaikan sambutannya kepada seluruh siswa untuk selalu mempertahankan prestasi demi menjunjung tinggi nama baik sekolah.


Ucapan terima kasih disampaikan kepada para siswa yang sudah berprestasi dan penyerahan piala untuk memacu semangatnya mengikuti berbagai macam lomba dan kejuaraan baik yang sedang diikuti siswa maupun di ajang lomba-lomba berikutnya.


Adapun piala prestasi yang diserahkan pagi itu diantaranya adalah piala-piala di ajang lomba Teens School Competition Jakarta yang sudah berlangsung sejak lima tahun terakhir, piala Putri Kartini, piala News Presenter dan News Acnhor, piala School Competition. Presentation dengan hadiah sejumlah uang, piagam dan juga piala penghargaan.


Rere dan Nikita tersenyum menatap Maula yang tengah duduk memandangi piala putri Kartini yang baru saja ia dapatkan. Piala pertama yang pernah Maula raih, dan hanya ia dapatkan di penghujung masa SMA-nya ini. Mereka hanya duduk tanpa ada yang bersuara hingga Rere coba memecah suasana canggung itu dengan membuka percakapan.


“Gak nyangka, ya, bisa dapat piala?” Rere tersenyum sambil mengangkat alisnya.


Maula menganggkat kepalanya yang menunduk lalu mengangguk sembari membalas senyuman kedua temannya. Cara bersikap, berbicara dan berpikir Maula, memang sudah sangat berubah. Membuat Rere dan Nikita sedikit berhati-hati saat berinteraksi. Sudah tak ada sapaan Lo, Gue dan kata-kata kasar lagi dari mulutnya. Maula kini gadis anggun, elegan, santun, dan cerdas tentunya. Karena itulah dia mendapatkan piala putri Kartini versi SMA Cendekia 1.


Rere menghela napas, berpura-pura pasang wajah sedih. “Kamu bener-bener ngalahin aku sekarang. Bentar lagi bakal diumumin, sang juara kelas baru, lulusan terbaik di SMA kita. Hhh ... sedih aku.”


“Aku juga, Re. Gak dapet penghargaan apa-apa tahun ini.” Nikita tak kalah sedih.


“Kalian jangan gitu, dong. Yang aku dapetin ini belum seberapa. Kalian tetep yang terbaik. Kalian yang udah bantu aku dapetin ini semua.”


“Tapi kita ikut seneng, kok, La. Iya, gak, Nik?” tanya Rere sembari memainkan alisnya.


“Iya banget. Kita gak perlu marah-marahin kamu lagi, karena kamu udah pinter sekarang.” Nikita menggut-manggut sambil memicingkan matanya.


“Kalau aku dah pinter, boleh dong aku balas dendam. Gantian aku yang marah-marahin kalian nanti.”


“Ampun ... ampun ... jangan marahin aku, guru. Kasihani akuu,” selorohnya sambil menangkupkan kedua telapak tangan.


Mereka tertawa bersama meski tak seheboh dulu.


Pengorbananmu gak sia-sia ternyata. Kamu bisa meraih prestasi gemilang seperti janji kamu dulu saat memutuskan untuk melepas cinta berhargamu, batin Rere sambil terus menatap sembari tersenyum.


Sayangnya, aku tidak bisa melihat kebahagiaan lagi di matamu, La. Apa segudang prestasi ini lebih berharga dari sebuah kebahagiaan? Rere menggeleng pelan.


Semoga kamu bisa temukan jawabannya.


“Ngelamun, ya, Re?” tanya Maula.


“Re, masih gak terima Maula jadi saingan kita, iya?” canda Nikita sambil mencibir.

__ADS_1


“Ehh! ... enggak, dong. Siapa yang ngelamun. Orang sadar begini.”


“Ya udah, ya, aku ke mushala bentar deh kalau gitu. Udah Zuhur kayaknya,” ucap Maula sambil menatap jam tangan. “Pada mau salat sekarang, gak?” Dia mengeluarkan mukena dari dalam tasnya.


Rere mengaku sedang halangan, jadi dia pilih untuk menunggu di kelas. Sementara Nikita menemani Maula salat Zuhur di mushala.


Tempat paling ujung, paling belakang dan paling kanan, menjadi tempat favorite Maula saat salat. Dan dia selalu mengambil waktu lebih banyak saat berdoa. Selain untuk berdoa, juga untuk meng-Aamiinkan doa seseorang yang jauh di sana.


“Dek, kalau Abang salat di tempat lain, kamu tetap Aamiinkan doa Abang dari tempatmu, ya,” pesan Khayru dulu setiap kali berangkat ke masjid. “Abang selalu doain kamu meski pun tak meng-imami kamu salat di rumah.”


Terima kasih untuk doa-doanya. Semua ini tidak lepas dari doa-doa Abang. Doa terbaik juga untukmu. Semoga Abang bahagia.


“Aamiin ... Aamiin ... Aamiin ya mujibassailin.”


“Nah, kan? Abis doa pasti nangis,” gumam Nikita pelan.


“Gak nangis, kok. Orang lagi terharu dapet piala,” kilahnya sambil melipat kain mukena lalu beranjak dari tempat duduknya.


Ia duduk kembali di teras mushala setelah mengambil sepatu dari rak penyimpanannya.


“Ngadem dulu bentar, ya, Nik,” ucapnya sambil menikmati semilir angin yang terasa sedikit dingin karena di area mushala ini banyak ditumbuhi pepohonan yang cukup rindang. Bola matanya tak sengaja singgah di ujung rok yang ia kenakan. Tanpa ia sadari, bibirnya menepiskan sebuah senyuman yang menggelitik.


“Mulai besok, jangan pake rok itu lagi!” Seseorang berkacak pinggang pada Maula yang tengah mengenakan sepatu di ruang tamu.


“Kependekkan!”


“Oohh ....” Maula berdiri seraya mematut roknya. “Ini bukan kependekkan, tapi sengaja aku potong di tukang jahit. Trend anak sekolah zaman sekarang, nih, Bang.” Sambil kembali duduk, fokus dengan kaus kaki dan sepatunya.


“Ini, nih ....” Khayru mengangkat kaki Maula tinggi-tinggi sambil nunjuk kaki bagian bawah yang tidak tertutup rok. “Jadi terbuka ke mana-mana. Ngapain ikut-ikutan trend kalau kalau cuma menyalahi aturan?”


“Astagfirullah, Bang. Kalau diangkat kek gini jelas keliatan dong, Bang. Jangankan kaki, pahaku aja bisa keliatan. Sengaja, ya, pengen lihat?” Maula tertawa sambil menatap wajah Khayru yang dibuat malu.


“Pokoknya, besok harus beli seragam baru. Jangan pake yang itu.”


“Sayang banget, Bang, kalau beli lagi. Sekolah kan udah mau lulus. Lihat ini!” Maula menunjukkan kaus kakinya yang panjang. “Kaus kakiku panjang banget, jadi bisa menutupi kaki bagian bawahku.” Maula mengerling sambil membulatkan ibu jari dan telunjuknya.


Akhirnya, rok ini gak bakalan aku pake lagi. Rok cingkrang yang selalu bikin Abang sewot tiap pagi. Bikin Abang ngomel-ngomel sampe telingaku sakit, batin Maula seraya menggoyang-goyangkan roknya. Seragam SMA yang akan segera menjadi kenangan setelah satu Minggu kedepan.


__ADS_1



Tiba di rumah, Maula segera menuju tempat penyimpanan piala. Dia buka lemari kaca itu karena ingin meletakkan piala yang ia bawa dari sekolah, di antara piala-piala lain yang sudah ia klaim menjadi miliknya sejak belasan tahun yang lalu.



“*Ma ... Pa ... akhirnya, aku punya piala sendiri. Meskipun cuma satu, butuh perjuangan dan pengorbanan buat dapetinnya. Papa, Mama, sama Abang mesti bangga sama aku*.” Maula masih berdiri menatap isi lemari dengan sejuta kenangan masa kecilnya. “*Kalian tau, kan, IQ-ku rendah sekali. Abang sering marahin aku karena sulit diajari, tapi ... setelah itu, Abang rayu aku dengan segala cara*.”



“Selamat, Dek!” Tiba-tiba Katia memeluk Maula dari belakang. “Hebatnya Adeku ini.” Dia juga menciumi pipi merah Maula dengan tangan yang masih melingkar di bahunya. Dia selalu memberikan pelukan hangat meskipun itu tidak bisa menggantikan pelukan dari seseorang yang dirindukan Maula.



Maula tersenyum lalu membuka lemari sambil terus menggeser dan mencari posisi yang pas untuk meletakkan pialanya. “Enaknya, aku taruh di sebelah mana piala ini, Kak?”



“Di tengah, biar dia gak kesepian. Biar dia gak rindu juga.” Katia mengambil alih piala itu lalu coba menatanya. “Jangan sampai seperti pemiliknya,” gumam Katia. Ucapannya seperti ditujukan pada Maula yang tidak pernah mau mengakui bahwa dia merindukan seseorang.



Melihat Maula tengah mengernyit ke arahnya, Katia segera menarik tangan gadis itu ke dapur.



“Makan dulu, ya. Kali ini Kakak mau suapin kamu. Jangan protes!” peringatnya sambil mengangkat telunjuk. Dia meminta Maula duduk di sebelahnya lalu menyiapkan sepiring nasi dengan tumis tauge. “Ayo buka mulutnya.”



Maula semakin mengernyit menatap Katia.



“*Ini adalah nafkah suami buat istrinya. Abang mau menyuapkannya langsung ke mulut kamu*.”



Teringat ucapan itu, Maula segera minta izin ke toilet. “Tunggu sebentar, ya, Kak,” ujarnya sambil lari dari ruang makan.

__ADS_1



To Be Continued ....


__ADS_2