
“Maksudnya?” Katia mengerutkan keningnya. Dia mulai penasaran dengan ucapan Maula.
“Gak papa, sih, Kak. Aku cuma berpikir jika aku sama Abang tuh, hanya cocok menjadi adik dan kakak saja. Kami gak cocok jadi suami istri,” jawab Maula sambil menunduk.
Tiba-tiba seseorang mendekap tubuhnya hingga membuatnya sedikit kaget. “Kata siapa gak cocok? Siapa bilang kamu gak sempurna di hati Abang?”
“Abang! lepasin aku, Bang.”
“Gak bisa. Besok Abang berangkat. Abang bakalan kangen banget.”
“Besok?”
“Iya besok. Sekarang bantu Abang dulu, berkemas.” Khayru mendorong tubuh Maula ke dalam kamar dan sebelum menutup pintu, dia mengucapkan terima kasih pada Katia yang masih berdiri sambil menggeleng.
Akhirnya setelah sekian purnama, mereka bisa tidur sekamar lagi.
Maula masih berusaha keluar dari kamar suaminya, akan tetapi ruangan tersebut sudah terlanjur dikunci.
“Bang, aku belum selesai Ngobrol sama Kak Tia. Dia mau bicara sesuatu sama aku.”
“Masih bisa besok-besok. Katia kan orangnya pengertian banget.”
“Kalau gitu, aku mau kerjain tugas-tugasku dulu. Ujian dah makin Deket, Bang. Sambil berdiri menghadap ke pintu, sesekali memukulkan tangannya ke pintu itu. Maula tak tahu ke mana suaminya melempar kunci kamarnya beberapa saat yang lalu.
“Nanti subuh Abang bantu kerjain,” kilahnya sambil berdiri di belakang tubuhnya. “Kalau Abang berangkat besok, emangnya kamu gak kangen apa?”
Maula memutar tubuhnya sambil menatap wajah suaminya yang berdiri cukup dekat. “Kangen?” gumamnya. “Kan cuma beberapa hari doang?”
“Kalau Abang pasti kangen banget. Sudah kangen berat dari kemarin-kemarin, malah.” Sambil melangkah semakin dekat.
“Ngawur. Kita ketemu tiap hari di rumah. Ngapain kangen?” ucapnya, menghindari kegugupan karena tatapan Khayru dan posisinya yang semakin rapat.“Abang jangan terlalu dekat.” Dia coba mendorong tubuh suaminya dengan pelan. Namun, sedikitpun tak merubah posisi Khayru.
“Kalau Abang mau lebih dekat dari ini, gimana? Abang gak mau ada batas yang menghalangi, meski hanya selembar kain atau pun sehelai benang, misalnya,” ucapnya sambil memainkan piyama Maula.
“Bang ... Abang ... katanya mau dibantu berkemas?” Maula yang tengah gugup tiba-tiba merasa melayang di udara. Dengan satu gerakan tangan saja, Khayru mengangkat tubuh Maula dan membawanya ke tempat tidur. “Aku bantu berkemas, ya.” Maula kembali bangun. Namun, Khayru menarik dan memeluknya.
“Abang mau langsung tidur? Ya udah ayo tidur, Bang.” Maula menarik selimut sambil berbaring membelakangi suaminya.
“Malam ini bakalan gak bisa tidur. Abang mau Mandang wajah kamu sepuasnya.”
“Ya udah terserah Abang. Aku tidur duluan.”
“Besok-besok, kamu tidur sendiri pasti kangen Abang.” Khayru menghimpun semua rambut Maula yang terurai hingga memperlihatkan lehernya yang putih.
“Kemarin-kemarin kan aku sudah tidur sendiri. Biasa aja, kok.”
“Biasa aja karena kita masih satu rumah. Tapi kalau Abang jauh di sana, yakin gak mau nyusulin abang nanti?” godanya.
“Abang mau pergi berapa lama, sih? Kaya mau lama aja.”
“Abang bilang kan cuma beberapa hari di sana. Tapi masalahnya, Abang dah lama gak bisa sedekat ini sama kamu. Kamu sebel, ya liat wajah Abang?”
“Enggak, Bang. Kata siapa aku sebel.” Maula memutar badannya, menatap wajah Khayru lalu kembali memejamkan matanya. “Aku cuma ngantuk.”
“Lihat wajah Abang sebentar saja. Setelah itu kita tidur sama-sama.”
Maula kembali membuka matanya. Kembali menatap wajah suaminya, menatap wajah lelaki berparas menawan yang kata Bik Sulis wajah seperti ini sering menjadi rebutan. Maula menyadari bahwa memiliki suami seperti itu cukup meresahkan dirinya. Semakin ia tatap, semakin tak bisa ia tahan untuk mengecup bibir tipis semanis madu milik suaminya.
Khayru tersenyum sambil membalas kecupan hangat dari bibir Maula. Dia berhasil membawa kembali Maula ke dalam pelukannya, seperti yang dia rindukan.
__ADS_1
“Abang berangkat ke bandara jam berapa?” tanya Maula saat mereka keluar dari kamarnya.
“Bentar lagi. Masih bisa anter kamu ke sekolah, kok, penerbangan masih jam sembilan pagi,” jawabnya sambil menatap jam tangan.
Mereka tidak sadar, jika di meja makan sudah ada dua orang tamu yang sedang menunggu ditemani Katia.
“Nah, ini dia. Tuan dan Nyonya kecil kita baru turun kamar.” Katia menyambut Maula dan Khayru yang datang bergandengan.
“Selamat pagi, Mas Iru. Selamat pagi Maula ...,” sapa Risa sambil berdiri dan membungkuk.
Maula menatap mata Risa dengan pandangan yang tidak sama lagi seperti dulu. Selalu ada keraguan saat melihat wajah ramah dan senyumannya. Tapi, Maula tidak mau menunjukkan perasaan itu pada siapa pun. “Pagi, Tante,” jawabnya sambil duduk di kursi yang sudah digeser suaminya.
“Loh, ada apa sepagi ini kalian sudah di sini?” tanya Khayru pada Aldi dan Risa yang sengaja datang karena ada beberapa pekerjaan yang harus di selesaikan sebelum Khayru berangkat.
“Lo lupa tanda tangan beberapa dokumen, makanya kita susul ke rumah, dari pada dana gak cair gara-gara gak ada persetujuan, Lo.” Aldi menunjukkan beberapa berkas di atas meja.
“Terserah. Lo kan bos-nya.”
Khayru mempersilakan semuanya untuk sarapan dulu, sebelum kembali membahas pekerjaan.
Katia tersenyum melihat perlakuan manis Maula terhadap suaminya pagi ini. Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, hari ini Maula mulai menebar senyum, mengambilkan makanan, hingga menyuapi suaminya.
Begitu pun dengan Aldi yang berpikir bahwa ternyata masalah Khayru dan Maula tidak serumit yang dia bayangkan selama beberapa hari ini. Padahal, ini semua sengaja Maula lakukan di hadapan Risa supaya wanita itu tidak akan pernah berpikir lagi untuk mengganggu rumah tangganya yang selalu baik-baik saja seperti yang ia lihat dengan mata kepalanya.
“Kalau Abang masih ada kerjaan, gapapa gak usah anter aku sekolah. Rere dan Nikita udah nunggu aku di luar, kok.”
“Ya udah, suruh mereka masuk dulu. Abang mau bicara sebentar.”
__ADS_1
Seperti perintahnya, Maula meminta kedua temannya masuk sebentar hanya untuk mendengarkan beberapa pesan dari suaminya.
“Ada apa, sih, Om. Mau bagi tambahan uang jajan, ya?” celetuk Rere seraya duduk di ruang tamu yang juga hadir Aldi, Risa dan Katia di sana.
“Gini ya, Re, Nik ... Saya kan biasanya selalu bawa Maula saat pergi ke mana pun. Nah, karena sekarang lagi sibuk persiapan Ujian, jadi terpaksa barang langka ini saya tinggal dulu. Tolong dijagain, ya,” ucapnya sambil menunjuk Maula dengan ekor matanya.
“Om mau ke mana, sih?” tanya Nikita. “Resmi banget nitipin Maula ya.”
“Ke Maroko. Cuma beberapa hari, Kok. Jangan khawatir, nanti ada oleh-oleh buat kalian.”
Tiba-tiba Aldi tertawa menanggapi pertanyaan Nikita. “Ha ha ha ... Bukan cuma kalian berdua, kok, yang kena titip. Semua orang di sini udah diwanti-wanti.”
“Iya. Rasanya, kok, seperti mendadak jadi tempat penitipan barang aja, nih, kita,” timpal Rere.
Maula berdiri sambil menarik tas gendongnya. “Apaan, sih, Abang, nih. Malu-maluin aku aja. Bisa kesiangan, dong, kalau diajakin ngobrol beginian.” Dia terburu-buru menarik tangan kedua teman-temannya karena harus segera berangkat.
“Salim dulu!” teriak Khayru sambil berdiri.
“Oh iya, lupa sun tangan laki gue, hi hi ....” gumamnya sambil kembali. Setelah mencium punggung tangannya, Maula juga menarik tengkuk suaminya kemudian mencium bibir Khayru di depan semua orang.
“Whuuhuuu ...!! ” Refleks semua orang menyoraki keagresifan Maula. Tingkahnya berhasil membuat kepala Risa seperti mendidih. Tak ada seorang pun yang menyadarinya.
“Mupeng, boleh. Tapi gak ada seorang pun di sini yang boleh meniru adegan tadi. Awas, ya, kalian berdosa banget, loh.” Maula menyombongkan diri, mentang-mentang hanya dirinya yang memiliki pasangan halal saat ini.
“Udah, ya, aku berangkat dulu. Assalamualaikum.”
“Hati-hati, Dek!”
“Abang juga!”
__ADS_1
To Be Continue ....