Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 71


__ADS_3

“Ngomongin aku lagi, ya?!” Rere datang bersama Nikita, juga Khayru yang bertemu di parkiran.


Saat terdengar gebrakan meja itu, Pram segera menarik semua kertas kecil dan juga dompetnya dari penglihatan mereka


“Apa itu tadi?” Rere segera merebut sasuatu dari tangan Pram yang bersembunyi di bawah meja, akan tetapi Pram berhasil menyimpannya kembali ke saku celana. Membuat Rere berdecak sebal lalu menarik tangan Khayru untuk duduk di dekatnya. Sementara Nikita sudah duduk di sebelah Maula sejak ia datang. Ia tak heran dengan tingkah Kakak dan temannya yang setiap kali bertemu selalu membuat ricuh.


“Om sini, Om, duduk. Berdiri mulu kaya ajudan.” Sambil menggeser dua buah kursi.


“Kalian dari mana aja? Janjian pagi, datang siang,” gerutu Maula sambil menatap jam tangan.


Rere tidak menghiraukan pertanyaan Maula, malah sibuk menanyai Khayru. “Om! Kapan datang ke Jakarta? Kaget tau, liat Om tiba-tiba ada di sini.” Sambil bersidakep, fokus ke wajah lelaki yang ditanyainya.


“Hmm ... kapan ya? Lupa.” Sambil nyengir Khayru mengusap tengkuknya sendiri. Dia tak pernah ada niat untuk mengatakan kapan tepatnya ia pulang, jadi lebih memilih pura-pura lupa terlebih di depan Maula.


“Lupa? Berarti dah lama, dong?!”


“Iya ... begitulah. Eh, enggak juga maksudnya.” Khayru segera meralat ucapannya. Dia terlihat salah tingkah apalagi, Maula yang tengah mengerutkan wajah, terus menatap ke arahnya. Ia tak mengerti apa arti tatapan mantan istrinya itu. Ia memilih fokus pada pertanyaan Rere setelah Maula mengalihkan wajahnya pada Pram. Dan mereka memiliki bahasan masing-masing, sembari menunggu pesanan makanan datang.


Nikita yang sedari tadi duduk hanya mengendikkan bahu sambil memperhatikan dua pasang mahluk di hadapannya dengan sejuta tingkah yang tak jelas apa judulnya. Sebagai orang yang paling tahu kapan Khayru datang ke Jakarta dan juga apa alasannya dia pulang tiba-tiba, Nikita lebih memilih bungkam sambil menyeruput minuman milik Kakaknya.


Nikita juga tahu, maksud sebenarnya sang Kakak mendekati Maula sejak dulu.


Bakal seru, nih! Senyum jailnya menyeringai sembari menggigiti sedotan yang masih menempel di bibirnya.


Dalam keadaan bagaimanapun, Makan siang harus tetap dihabiskan. Mereka bisa pulang dengan perut sudah terisi meski di antaranya tidak berada dalam suasana hati sebaik Nikita.


“Aku mau balik ke kafe, bantuin Mas Dandi. Makasih buat makan siangnya, ya.” Nikita bergegas mengambil tasnya sambil menghabiskan minuman.


“Nik! Tunggu, Nik! Aku mau ke kafe juga. Mobilku kan di sana!” Maula tak kalah cepat ingin menyusul Nikita yang sudah terburu-buru melangkah.


“Enggak, ah! Aku mau sendirian aja. Daahhh ....” Terkekeh sambil berlari meninggalkan empat orang rekannya.


“Ck ....” Maula berdecak sambil kembali duduk di tempat semula. “Bawa mobil, gak, Re?” Pandangannya tertuju pada Rere. Namun, Rere menggeleng cepat.


“Aku nebeng mobilnya Nikita tadi, hhh ... malah pulang sendiri, tuh anak,” keluh Rere sambil menyunggingkan bibirnya.


Khayru meletakkan kunci mobilnya di atas meja sambil berdiri karena harus bergegas pulang juga. “Kalau gak mau bareng, pulang sama Rere aja bawa mobilnya. Abang naik taksi.” Dia tak menunggu jawaban Maula, langsung pergi begitu saja.


Dalam keadaan bingung, Maula mengambil kunci mobil itu lalu melirik ke arah Rere dan Pram. “Re, pulang sama Kak Pram aja, ya. See you besok, sayang.” Dia mengecup pipi Rere sambil tersenyum lalu pergi mengejar sang pemilik kunci mobil.


Dia berlari menembus kerumunan mereka yang tengah berjalan bergandengan layaknya orang-orang yang berpacaran di tengah keramaian.


“Bang! Abang!” panggilnya tanpa malu ketika orang-orang menoleh ke arahnya. Begitu pun Khayru, dia menoleh sambil menautkan alis.


“Ya?”


“Aku kan cuma bisa nyetir mobil sendiri.” Sambil mengangsurkan kunci mobil di telapak tangannya.


“Jadi, mau pulang bareng Pram ya? Ya udah, Abang duluan.” Dia meraih anak kunci dengan gantungan bertulisan embos brand sebuah mobil ekslusif--dari tangan Maula. Tanpa menawarkan tumpangan, dia pergi begitu saja menuju parkiran.


Ish ... masa dia gak ngajak aku pulang bareng, sih? Sambil menghentakkan satu kaki ke lantai. Maula terpaksa melangkah menuju tepi jalan untuk mencari taksi yang akan mengantarnya ke kafe.

__ADS_1


“Stop, Pak! Stop Pak!” Dia mengacungkan telunjuknya, akan tetapi setelah ia membuka pintu taksi, seorang wanita menyerobot masuk ke dalam taksi.


“Maaf, ya, Dek, saya buru-buru banget,” ucapnya sambil duduk di jok penumpang. “Kalau tujuannya searah kita bisa barengan, kok. Yuk, masuk.”


Maula tidak fokus dengan apapun yang dikatakan wanita cantik itu. Ia hanya memandanginya dengan dahi berkerut sampai wanita itu menyadari bahwa di hadapannya adalah seorang Maula setelah ia menatap wajahnya.


“M-Maula?!” tanyanya sambil menahan napas sesaat.


Maula hanya mengangguk lalu membantunya menutup pintu mobil. Setelah itu, dia mencari tempat lain untuk menunggu taksi berikutnya. Matanya yang tengah menunduk, menangkap bayangan mobil berwarna kuning, berhenti di depannya. Klakson mobil pun terdengar sedikit mengagetkan, membuatnya segera menegakkan wajah.


“Sshhh ... Abang mengagetkanku,” ketusnya.


“Naik dulu!”


“Cepat sedikit!” Ia menoleh ke belakang karena jalanan perlahan mulai padat.


Dengan wajah kecut, Maula menuruti ucapan Khayru untuk naik. Dia kenakan sabuk pengaman sebelum lelaki itu mulai rewel dengan intruksinya.


“Katanya sudah banyak berubah.” gumamnya sangat pelan. “Berubah apanya?” Khayru mendelik menatap wajah Maula yang masam.


“Apa?!”


“Enggak ... anu ... kenapa gak pulang bareng Pram, Hm?”


“Yang bawa aku ke sini kan, Abang?! Harusnya Abang yang bawa aku pulang lagi!!” bentaknya.


Sepertinya anak ini sudah kembali seperti dulu. Khayru menyembunyikan senyumnya sambil memalingkan wajah.


“Kalau tadi aku berangkat sama dia, pasti aku pulang sama dia juga! Nah ini kan tadi Abang yang maksa nganter aku!”


“Iya, iya ... maaf.” Sambil menghentikan mobil di taman tempat biasa mereka kunjungi. “Abang traktir es krim stroberi, ya.” Tanpa menunggu jawaban, ia turun dari mobil, berlari kecil menuju kios es krim langganannya.


Maula tak ingin bergerak sedikit pun dari posisinya saat ini. Dia masih duduk bertumpu pada tangan yang menekuk di jendela mobil. Di balik kerinduan yang sudah terobati, ada kebimbangan yang tengah menggelayutinya. Kembalinya Khayru ke Jakarta, mungkin hanya kebahagiaan sementara. Dia tidak pernah tahu, berapa lama dan untuk apa dia datang. Tak ingin terlalu percaya diri, tapi hatinya berharap lebih.


Dan ... Tante Risa, kenapa dia tiba-tiba muncul lagi? Apa ini hanya satu kebetulan saja?


Lamunannya terpecah ketika Khayru datang membawa dua buah es krim. Maula turun dari mobil tanpa menghiraukan Khayru yang tengah menawarkan makanan kesukaannya itu. Ia duduk di bangku taman seperti biasa. Dia juga menggeleng saat Khayru kembali mengulurkan es krim di tangan kanannya.


“Kenapa gak mau?” Turut mendudukkan tubuhnya sambil menjilati es krim di tangan kiri.


“Aku kan sudah berubah. Aku gak suka es krim lagi,” gumamnya tanpa menatap wajah.


“Sejak kapan? Pasti bohong,” gumam Khayru sambil fokus sama erkrim di tangannya yang mulai meleleh karena paparan sinar matahari.


“Aku sudah lama gak datang ke sini. Begitu pun dengan tempat-tempat lain yang biasa kita kunjungi.”


“Kenapa?” Khayru mulai menatap ke arahnya yang berwajah sendu.


“Aku sudah merubah semua kebiasaan-kebiasaanku yang lama.” Dia mulai menarik napas. “Jangan tanya kenapa.”


Khayru kembali menatap ke depan sambil tersenyum kecil. Memandangi seorang anak lelaki yang tengah membantu gadis kecil untuk menerbangkan layangannya.

__ADS_1


“Tidak. Abang lihat, kamu masih persis seperti yang dulu. Tak ada yang berubah sedikit pun.” Sambil menggeleng kecil.


“Untuk apa Abang pulang ke Jakarta?” tanyanya tiba-tiba.


“Kamu tidak suka Abang kembali ke Jakarta?”


“Aku hanya tanya, untuk apa? Bukannya kita sudah sama-sama terbiasa untuk tidak bersama?”


“Jika kamu tidak suka ... Abang bisa kembali ke Maroko,” ucapnya sambil membuang dua buah es krim ke tong sampah yang berada di samping tempat duduknya.


Maula merogoh ke dalam tasnya, ia mengeluarkan selembar tissue dari pack-nya yang sudah tidak tersegel lagi, lalu memberikan tissue itu untuk membersihkan tangan Khayru yang kotor terkena lelehan es krim.


“Kenapa dibuang es krimnya?”


“Gak enak.” Khayru mengabaikan selembar tissue jatuh ke tanah sampai Maula kembali mengeluarkan tissue kedua yang langsung ia usapkan ke tangan lelaki yang mulai berubah mimik wajahnya.


“Gak usah dibersihkan.” Khayru menjauhkan tangannya lalu mengusapkannya pada celana panjang yang ia kenakan.


“Abang sendiri yang bilang, kalau kita gak boleh jorok.”


“Abang gak pernah bilang begitu.”


“Lupa, ya?” tanyanya sambil mengenang masa lalu.


Dek, gosok gigi dulu sebelum tidur!


Dek, jangan pake baju itu lagi! Jelek!


Dek, buka sandal kalau naik ke kasur!


Dek, kalau makan pelan-pelan!


Jangan jahil sama orang!


Biasakan minta maaf ... bilang makasih!


Maula menirukan ucapan Khayru yang sudah sangat dia hafal di luar kepala lengkap dengan ekspresi wajahnya yang dia buat semirip mungkin.


Khayru tertawa saat dia lihat begitu lucunya tingkah Maula. Sedetik kemudian tawa itu berubah menjadi senyum kecil dengan tatapan sejuta makna.


“Kamu mau tau alasan kenapa Abang kembali?”


“Kenapa?”


“Karena ingin melihat tingkah Absurd seorang Maula,” kelakarnya sambil tertawa.


“Ish ....”Maula mendelik sambil memalingkan wajahnya.


“Satu-satunya alasan yang membawa Abang pulang ... yaitu kamu.” Tiba-tiba, ucapannya terdengar serius membuat Maula memasang telinganya sungguh-sungguh. “Dengarkan baik-baik. Abang akan mengatakan yang sebenar-benarnya.”


To Be Continued ....

__ADS_1


__ADS_2