
Ciee ... liburan gak bilang-bilang, dasar Mulut Itik! 🤩🥳
...15 JANUARI 2021...
...Panggilan tak terjawab pukul 20.15...
...17 JANUARI 2021...
Kapan pulang, sih? Kangen, tau? 😘
...Panggilan tak terjawab pukul 17.25...
Pliis angkat teleponku. Balas chat-ku 🥺
Laa ... Maulaaa?! Are you Oke?
😬😬😬😫
...18 Januari 2021...
Pesan ini telah dihapus
Pesan ini telah dihapus
Pesan ini telah dihapus
Pesan ini telah dihapus
(Sehari setelah Khayru mengumumkan pernikahannya, Ariel menghapus pesan)
[Voice note : I'm sorry ... aku janji ... gak bakal ganggu lagi.
Sampaikan maaf juga buat Om Iru,
I will always wish you the best.]
Suara Ariel terdengar sangat berat. Persis seperti pertama kali Maula tahu bahwa Ariel tidak baik-baik saja.
...19 Januari 2021...
La ... aku lagi on the way Bandara, nih.
Aku ikut Mama-Papaku, mau lanjut sekolah dan kuliah di sana.
Gak mau ketemu aku, gitu. Tar nyesel, loh? Datang, ya, sekaliii aja. pliss.
Dua jam kemudian ....
Oke, pesawatku udah mau take of.
Kamu baik-baik, ya.
*Jangan kangen aku
Jangan khawatirin aku*
Selalu ada Mama sama Papa bersamaku.
Thank you for always being there for me.
See U, Maula
Last seen (terakhir dilihat) : 19 Januari 2021
...HARI INI...
__ADS_1
^^^Ariel ... 😭^^^
^^^Aku belum sempat cerita apa pun ke kamu^^^
^^^😭😭😭😭😭^^^
Berulang kali Maula menghubungi, kontak Ariel sudah tidak aktif. Status pesan yang dia kirim, centang satu. Tangisnya pecah disaksikan Khayru yang tidak bisa berbuat apa-apa.
^^^Please take care of your health.^^^
^^^Kamu harus bahagia, Riel.^^^
^^^😭😭😭😭😭^^^
Akhirnya, hanya itu pesan yang Maula ketik untuk Ariel.
“Ada apa? Kok nangis?” Khayru memegang pundak Maula sambil menatap wajahnya.
“Tinggalkan aku dulu,” ucapnya dalam isak tangis.
“Tapi bilang dulu, kenapa?”
“Kalau saja Abang tidak menyembunyikan handdphoneku, mungkin aku masih bisa bertemu dan bicara baik-baik dengannya.”
Ini pasti tentang Ariel
Khayru ingin tahu apa yang baru saja Maula baca hingga membuatnya nangis seperti ini. Namun, sebelum ia mengambil handphone Maula, pemiliknya sudah terlebih dahulu melempar benda itu ke dinding, hingga berserakan. Setelah memungut benda itu dan menaruhnya di atas meja, lelaki itu bergegas keluar. Membiarkan Maula meluapkan emosinya seorang diri.
Sejak awal, Khayru tidak pernah berharap jika rumah tangganya bersama Maula akan berjalan mulus seperti Bulevar/Adimarga yang bebas hambatan. No, itu mustahil. Dia hanya perlu menunggu jika hal-hal seperti ini terjadi.
Dia hanya duduk memandangi hidangan makan siang yang tiba-tiba tidak ingin dia jamah lagi.
“Tuan!” Suara Bik Sulis mengagetkannya.
“Gak usah, Bik. Makan siang Maula antar ke kamarnya saja. Saya ada urusan sebentar,” katanya sambil beringsar dan pergi dari hadapan Bik Sulis.
“Tuan mau pergi ke mana?! Kalau Non Maula tanya, Bibik jawab apa nanti?” seru Bik Sulis.
“Bilang aja, gak tau,” sahutnya tanpa menoleh sedikit pun.
Sepertinya ada yang gak beres. Bik Sulis melihat Khayru keluar dengan mobilnya.
Sambil menyiapkan makanan yang mau dia antar ke kamar Maula, dia berharap tidak terjadi apa-apa pada majikannya.
Tak lama dia datang mengetuk pintu kamar Maula. Namun, tak ada sahutan dari dalam.
Bik Sulis masih mondar mandir di depan kamar. Dia tidak berani masuk, karena itu dia menarik meja pajangan lalu menyingkirkan pas bunga supaya bisa meletakkan nampan di sana.
“Non! Makan siangnya Bibik simpan di samping pintu. Tolong di makan, ya, Non?!”
“Ya udahlah. Nanti juga baikan lagi mereka.” Dia coba membuang kekhawatirannya.
Waktu menunjukkan pukul 22.15. Khayru tiba di depan pintu kamarnya. Ada nampan berisi makanan yang sudah diganti dengan menu makan malam sama Bik Sulis. Namun, Maula tetap tak menyentuhnya. Dia membawanya masuk. Khawatir Maula sakit karena seharian melewatkan makan.
“Kamu sudah tidur?” Lagi-lagi, tak ada jawaban dari Maula.
Khayru yakin, Maula tak akan bisa tidur dengan perut kosong. Dia membawa kembali makanan yang sudah dingin itu. Meletakkannya di meja dapur lalu pergi lagi entah ke mana. mobilnya melesat dengan cepat dari carport membuat Maula beringsut menatap jendela saat dia dengar deru mesin mobil yang berlalu.
“Pergi ke mana lagi dia malam-malam begini?” Maula yang semula tak ingin peduli, tiba-tiba merasa khawatir. Dia turun dari kamarnya, menunggu di depan pintu demi memastikan suaminya kembali ke rumah malam ini.
Sungguh hatinya menjadi sangat gelisah hingga tak bisa duduk barang sedetik pun. Dia hanya berputar-putar di depan pintu utama. Waktu terus berputar, satu jam pun berlalu begitu saja.
“Pergi ke mana sih, Bang, malam-malam begini? Aku khawatir, tau?” Semenit sekali dia menatap jam dinding.
Neneng yang bangun untuk mengambil air minum, tak sengaja melihat ruang tamu masih menyala. Dia berniat mematikan lampu. Namun, urung karena melihat keberadaan Maula yang berdiri di balik jendela.
__ADS_1
“Non! Ngapain malem-malem berdiri di situ?” Tepukan tangannya cukup membuat Maula tergeragap.
“Haduuuhh ... Neneeeng! Kamu ngagetin aja. Shutt! Jangan berisik.”
“Tidur, Non, udah malem. Lampunya mau Neneng matiin sekarang.”
“Udah tidur aja sana! Lampunya aku yang matiin nanti.” Sambil kembali menatap jendela. Tiba-tiba dia melihat mobil suaminya mulai memasuki halaman. Tanpa berpikir panjang dia lari pontang panting sampai terantuk-antuk menabrak hiasan guci yang tersebar di seluruh ruangan.
“Sekarang sudah bisa dimatiin lampunya, Neng. Selamat malam,” ucapnya pelan sambil menatap ke belakang sesekali. Dia lega. Akhirnya, orang yang ditunggu pulang ke rumah.
“Eh! Non! Jalannya hati-hati! Gak usah lari, nanti jatoh!” Seru Neneng yang masih berdiri di sana sambil membukakan pintu untuk Tuannya.
“Kenapa, Neng? Kamu ngomong sama siapa?” Khayru tiba membawa kantong belanjaan.
“Eta si Enon. Meni tibabaranting kitu. Kumaha Mun tikosewad.”
(Itu si Non. Sampai terburu-buru begitu. Gimana kalau terpeleset)
tuturnya sambil menggelengkan kepala.
Khayru menatap ke lantai atas. “Emangnya kalian belum pada tidur?”
Neneng menerangkan bahwa dirinya terbangun dari tidurnya karena haus. Karena berniat mematikan lampu, malah bertemu Maula di ruang tamu.
“Mungkin Non Maula nunggu Tuan pulang.” Neneng manggut-manggut.
“Terus kenapa dia lari?”
“Neneng gak tahu, Tuan. Coba dilihat sendiri. Siapa tahu si Enon luka, soalnya nabrak guci itu tadi.” Dia menunjuk hiasan guci besar yang mengapit sisi kiri dan kanan--tangga menuju lantai dua.
Khayru berdiri sebentar sambil mengangkat alisnya.“Neng, kamu bangunin, gih, semua yang ada di rumah. Kita barbeque-an ajalah malam ini.” Dia lebih memilih masuk ke dapur membawa belanjaannya.
“Yang bener, Tuan?” Wajah Neneng semringah sambil mengekor di belakangnya.
“Udah buruan sana! Siapin semuanya.” Khayru menaruh belanjaannya di meja lalu menggulung lengan baju sampai ke sikunya.
Dengan semangat, Neneng menggedor pintu-pintu kamar lalu dia lari ke pos satpam memanggil Mang Sodik dan Ferdi yang tengah bermain catur di sana. Tak lama, semua datang berkumpul menyiapkan peralatan dan bahan-bahan.
Di dalam rumah ini, ada sebuah ruangan terbuka yang biasa mereka gunakan untuk acara-acara seperti ini. Udaranya tidak panas juga tidak dingin, karena hawa dari luar bisa masuk begitupun asap dari pembakaran tidak akan mengotori udara yang ada di rumah. Namun, kali ini Khayru akan dengan sengaja menggunakan aroma pembakaran untuk memancing Maula supaya mau makan.
Tini mulai mengeluarkan semua belanjaan dari kantongnya. Ada aneka daging dan seafood seperti daging ayam , sapi, udang, cumi-cumi dan ikan. Selain itu ada sayuran pelengkap seperti jagung, jamur-jamuran , dan bawang bombay.
“Tuan beli daging kambing juga?” tanya Tini sambil membersihkannya.
“Gak usah banyak tanya. Daging kambing kan emang cocok buat laki-laki yang baru menikah, Tin.” Mang Sodik menyenggol tangan istrinya.
“I-itu bukan buat saya, kok! Dah lama saya libur makan kambing.” sambar Khayru menjelaskan.
“Bukannya kemarin Tuan abis beli sate kambing?”
“Iya, itu Maula yang makan. Coba, panggilin orangnya ke sini. Pasti abis sama dia dimakan.”
Khayru menghampiri pembakaran sambil meletakkan daging-daging yang sudah dibersihkan, untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan aneh seputar daging kambing. Bik Sulis datang untuk mengambil alih pekerjaannya.
“Ini biar Bibik yang kerjain. Tuan panggil Non Maula aja, suruh dia turun.”
Khayru menolak pergi ke kamarnya, karena yakin Maula masih marah. Dia meminta tolong Bik Sulis, Mbak Tini dan Neneng untuk memaksa Maula untuk turun.
“Bila perlu, diseret aja, Bik. Dari pada dia gak makan.”
“Tuan sama Enon lagi marahan atau apa, sih? Tadi Neneng lihat Enon khawatir nunggu Tuan pulang. Setelah pulang, malah saling jauh-jauhan kek gini.”
“Panggil saja orangnya. Cepetan! Banyak nanya kamu, Neng.” Ferdi mendorong Neneng supaya menyusul Bik Sulis dan Mbak Tini ke kamar Maula.
To Be Continue
__ADS_1