
Khayru masih berdiri memandangi foto dalam layar dengan tulisan yang terus bergerak. Dia mengembuskan napas sambil tersenyum lalu tersentak ketika suara sang legend di sebuah acara radio itu, coba mencairkan suasana.
“Silakan, Mas.” Billy mempersilakan Khayru untuk memulai aksinya.
“Saya harus ngomong apa, Bill?” tanyanya sambil menerima sebuah microphone dari tangan Billy.
“Terserah sih, Mas. Yang penting jangan bikin hadirin nunggu lama, kasian, Mas,” seloroh Billy sambil menggerak-gerakkan tangannya.
“Aaa ... itu, tuh.” Billy nunjuk layar bergambar yang sebenarnya adalah cover sebuah film pendek berisi kumpulan video, dan foto yang akan dijadikan sebuah sovenir pernikahan, esok lusa.
“Oh... jadi penasaran sama anak cowok yang lagi gendong cewe, ya, Bill? Heran, ya? Kenapa cowok ganteng mau gendong cewek ompong kaya gitu? Udah ompong, dia nyengir lagi.” Sambil berpangku tangan, memandangi foto sambil mengusap dagu.
“Hahaha ....”
Dia tidak sadar, di kursi paling depan, ada seorang gadis tengah menatapnya sengit karena tak rela telah dijadikannya bahan tertawaan. Namun, Khayru tak memedulikannya. Dia mendekat ke arah proyektor yang terhubung ke hand phone-nya.
“Coba kita lihat, sepertinya masih ada foto-foto lain tentang gadis ompong ini.” Sambil menampilkan beberapa foto bayi gembul yang baru saja lahir. Sejak remaja, memang Khayru sudah dikenalkan dengan benda bernama gadget. Dia terbiasa mendokumentasikan sesuatu baik itu sekadar iseng atau pun pada moment-moment yang dianggap penting. Meski pada masa itu, teknologi tak secanggil masa sekarang, tapi hasil jepretannya tidak terlalu buruk saat ditampilkan hari ini.
“Jadi, udah sejak dia lahir, gadis ompong itu udah aku timang-timang, Bill.”
Suara tawa terdengar bersahutan, membuat wajah Maula semakin mengerut. Tangannya meremas erat gaun indah yang dikenakan. Sementara matanya semakin menatap kesal.
Apa yang dia inginkan dengan mengejekku seperti ini? Sabar ... sabar.
“Biar ompong, dia udah bikin jatuh cinta sejak lahir, 'kan, Mas? Apalagi sekarang, beuuhh... perlu dijaga ketat pokoknya, Mas,” goda Billy sambil menggoyang-goyangkan wajahnya.
Khayru hanya senyum kikuk sambil sesekali melirik Maula yang tengah digoda habis-habisan oleh kedua temannya.
Rere menepuk pundaknya dari belakang. “Gadis ompong?”
“Hi hi hi ....” Nikita menertawakannya hingga cekikikan.
“Itu bukan aku, ish!” elaknya sambil melepas tangan Rere. Namun, Rere kembali menusuk-nusukkan ujung telunjuknya ke pinggang Maula hingga terlihat dia terus menghindari tangan Rere.
Katia dan Umi Khadijah turut menoleh ke arahnya sambil tersenyum simpul.
“Tunggu, tunggu!” sela Billy. “Itu bayi kayaknya seneng banget diuyel-uyel. Jangan-jangan dia tau kalau yang pegang-pegang, ternyata calon lakinya sendiri.” Dia masih sibuk mengamati gambar demi gambar yang muncul di layar.
“Bener, Bill. Itu tuh yang dinamakan True Love at First Sight,” sahut Aldi, ikut menyalak dari tempat ia duduk. “Pandangan pertama langsung liat calon lakinya, tuh bayi.”
Awalnya, masih banyak yang tidak tahu jika bayi dalam foto dan video itu ternyata Maula. Semakin banyak gambar yang ditampilkan semakin nampaklah kemiripan di wajah mereka.
Dari candaan-candaan yang dilontarkan akhirnya, terkuak makna tulisan yang menjadi tajuk dalam layar, tak lain tentang lamanya kebersamaan Khayru dan Maula karena dimulai sejak gadis itu dilahirkan hingga disatukan karena perjodohan, berpisah karena sesuatu hal dan kini berjanji untuk tidak saling meninggalkan.
Become the Longest Love Story in Memory and Reality
(Menjadi Kisah Cinta Terpanjang dalam ingatan dan kenyataan)
__ADS_1
“Ya... jadi itu hanya sebagian foto dan video yang saya rangkum. Tidak saya tampilkan semua karena secara lengkap, bisa kalian dapatkan dalam sovenir pernikahan kami besok lusa. Jadi, jangan bosan untuk datang memenuhi undangan kami. Besok masih ada undangan pengajian dan siraman. Setelah itu, kalian juga harus menghadiri akad nikah, menjadi saksi moment bersejarah, memberikan doa restu terbaik untuk kami berdua. Jangan lupa untuk menikmati resepsi kecil karena kami sudah menyiapkannya dengan susah payah. Mohon maaf, jika acara yang kami gelar terlalu menyita banyak waktu kalian. Tak ada yang lebih berharga selain kehadiran dan juga doa restu kalian. Terima kasih yang sebesar-besarnya saya ucapkan pada hadirin semuanya malam ini. Acara saya kembalikan pada Billy.” Sambil menyerahkan mocrophone. “Makasih, Bill.”
“Sebentar, Mas. Ini gimana ceritanya?” Billy pura-pura bingung dengan ucapan Khayru yang langsung berbicara, mengenai sovenir pernikahan, pengajian, siraman, akad nikah dan resepsi. Meskipun sebenarnya semua tahu acara lamaran ini hanya sekedar simbolis saja.
“Lamaran kan belum diterima, Mas. Gimana kalau ditolak?” candanya masih pura-pura bingung.
Khayru tertawa, tapi tak lama. “Saya cukup percaya diri. Lamaran saya pasti diterima.”
“Yakin?”
“Sangat yakin.”
“Coba kita buktikan dulu. Siapa tau Maula berubah pikiran.” Lagi-lagi Billy hanya bercanda.
“Dek, terima lamaran abang, ya. Hati abang gak bisa berpaling dari gadis ompong soalnya,” bujuknya sedikit memelas.
Maula menggeleng lalu memalingkan wajah. Ia tak suka dipanggil gadis ompong.
“Kamu mau punya 20 orang anak? Abang bantu.” Bujukannya kali ini tak hanya membuat hadirin tertawa, tapi juga membuat Maula tersipu malu.
“Dek Maula, tolong berdiri dulu,” pinta Billy. Sepertinya dia perlu beraksi lagi.
“Ji-ka be-nar... kamu menerima lamaran... berjalanlah lurus ke depan, lalu berdiri di samping Mas Iru, ta-pi... ji-ka lamaran ditolak... silakan belok kiri lalu masuk ke dalam rumah.” Kali ini suara Billy terdengar dramatis, seperti suara host membawakan sebuah kuis. (Yes or No) menegangkan.
“Sudah jelas, ya? Ayo silakan...” Dia memberi isyarat supaya Maula berdiri dan menentukan pilihan.
“Hhaa ...?!” Desahan para tamu bersamaan dan bersahutan.
“Kok, gitu?”
“Lamarannya ditolak, ya?”
“Pasti Prank ini!”
Dahi mereka berkerut, berlipat-lipat.
Billy menggaruk kepalanya sendiri. Ia tak percaya jika acara yang dibawakannya, bisa keluar dari rencana. Ini di luar dugaan
Khayru bergegas untuk menyusul Maula ke dalam rumah, akan tetapi sedetik kemudian langkahnya tertahan saat melihat kemunculan kembali gadis yang baru saja membuatnya berdebar-debar. Sambil membawa dua gelas minuman di tangannya, ia menggerutu kesal, entah pada siapa.
“Heran, deh! Mereka semua kerjanya apa? Sampe lupa ngasih minum pada tamu-tamu.” Tentunya hanya dia sendiri yang bisa dimendengar ocehannya.
Dia berjalan cepat ke arah tamu yang duduk di samping Rere dan Nikita. Seorang ibu yang tengah menenangkan rengekan anaknya karena kehausan. Sebenarnya, sudah sejak tadi ia mendengar rengekan anak kecil. Lampu yang sedikit temaram membuat ibunya yang hanya menatap sekeliling, tidak bisa menemukan stand minuman lalu meminta sang anak menunggu sebentar lagi, dan sebentar lagi sampai acaranya selesai.
Namun, suara rengekan itu kembali terdengar di telinga Maula ketika dia ingin maju untuk menerima lamaran. Maula yang pada dasarnya sangat menyukai anak kecil, lebih memilih pergi ke dalam rumah untuk mengambil minuman dan lupa akan lamaran.
Setelah kembali membawa dua gelas minuman, ia jongkok di hadapan anak kecil. Dia tak peduli dengan gaunnya yang terhampar di lantai beralaskan selembar karpet yang membentang.
__ADS_1
“Mau yang mana?” Sambil tersenyum, ia menyodorkan minuman berwarna hijau dan putih bening tak berwarna.“Rasa melon atau air putih saja?”
Anak kecil meraih minuman berwarna hijau karena tampilannya lebih menarik. Dia langsung meminumnya saat itu juga, lalu membalas senyuman Maula. Sang ibu turut senyum seraya mengucapkan terima kasih dengan perasaan malu dalam hatinya.
“Masyaallah ... Makasih, calon ponakan tante. Udah cantik, baik hati lagi.” Ibu dari anak kecil itu, merupakan adik bungsu dari almarhumah ibunya Khayru, dari Bekasi. “Sebenarnya, tante bisa ambil sendiri minumannya. Cuman, tadi lagi gak mau beranjak karena acara lamarannya seru.” Ia terkekeh, semakin malu karena telah mengacaukan acara malam ini. “Maaf, ya, sayang.” Sambil menyentuh pipi Maula.
“Gak masalah, tan,” ucapnya sambil berdiri lagi lalu mengangsurkan gelas air putih ke tangannya, mana tahu dia ingin minum juga. “Minumnya, Tante.”
Tiba-tiba, lampu temaram berganti kembali menjadi terang benderang. Stand makanan dan minuman mulai terlihat jelas di setiap sudut yang memang sedikit berjauhan. Bahkan, di sana ada stand eskrim pak Ngadimin juga sate Madura langganan Maula. Di luar dugaan.
“Mohon maaf, tadi sebelumnya lampu kami matikan guna mengoptimalkan pencahayaan dari gambar yang kami tampilkan di layar. Sekarang sudah bisa menyala lagi.” Billy juga memberi tahukan jika tamu bisa menikmati makanan dan minuman sepuasnya, akan tetapi acara masih akan berlanjut sampai penyematan cincin lamaran.
“Maaf, sampe mana tadi acaranya?” Maula bertanya sambil kembali menghadap podium.
“Menjawab lamaran,” sambar Khayru dengan cepat.
“Alhamdulillah.” Billy mengusap dadanya. Kalau acaranya gagal, bisa gagal juga honor gue, hhh ...
“Oh iya. Saya harus maju, ya.” Dia mengangkat gaunnya supaya leluasa melangkah.
Rere dan Nikita maju untuk membantu Maula sampai ia berdiri dengan benar di samping Khayru. Semua kerabat dan para sahabat keluarga bisa melihat wajah mereka yang siap untuk prosesi penyematan cincin lamaran.
“Dengan berdirinya mereka di sini, sudah bisa diartikan, ya, jika lamaran Mas Iru ternyata diterima.” Billy memandu hadirin untuk memberikan tepuk tangannya. “Udah bisa napas lega, kan, Mas? Ayo sekarang keluarkan cincinnya... monggo, nanti kita minta bantuan seseorang untuk memakaikannya.” Sambil menatap hadirin satu per satu dan pilihan Billy jatuh pada Nikita yang duduk tepat di hadapannya.
“Nona yang ini, sepertinya dari tadi terpesona melihat wajah saya. Bisa maju sebentar, cantik,” ucap Billy sambil melambaikan tangannya.
“S-saya?” Nikita menunjuk dirinya sendiri sambil melirik kanan dan kiri.
“Iya. Siapa namamu?”
“N-Nikita. eugh ...,” jawabnya sambil menghela napas.
“Ayo bantu menyeematkan cincin. Setelah itu, tukeran nomor hand phone,” godanya sambil mengerling.
Nikita pun naik dan menerima sebuah kotak beludru berukuran kecil, lalu membukanya.
“Loh, kok gak ada cincinnya?”Nikita menunjukkan kotak kecil yang kosong tanpa ada cincin di dalamnya. Padahal, kotak itu ia terima langsung dari tangan Khayru.
“Masa?!” Khayru kaget seraya mengambil kembali kotak cincin, membolak balikkannya lalu ia jongkok mencari di lantai.
“Loh, kenapa bisa hilang? Jangan-jangan Mas Iru lupa memambawanya tadi?” ucap Billy seraya turut mencari-cari.
“Lupa gimana? Orang dari tadi saya lihat berkali-kali, cincinnya ada, kok.”
To Be Continued....
Bantu cariin cincin Maula, ☺️🤭🙏
__ADS_1