Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 77


__ADS_3

Karena semalam terlalu sibuk dengan si kembar, Maula melewatkan obrolan serius para lelaki. Ia tidak tahu, pengakuan apa yang diungkapkan Khayru pada Kiai di hadapan tamu-tamu. Yang jelas, di waktu sepagi ini, batang hidung lelaki itu sudah tak terlihat di meja makan. Dia menatap heran kursinya yang kosong. Padahal, baru satu hari kemarin kursi itu terisi lagi.


“Mas Iru sudah berangkat ke kantor. Kamu berangkat bareng kakak aja hari ini.”


Katia seakan tahu apa yang tengah Maula cari saat ia lihat kursi kosong itu, dan tebakannya tepat mengenai sasaran.


“Berangkat sepagi ini? Dia gak sarapan dulu emangnya?” Sambil duduk berhadapan dengan Katia yang sudah lebih dulu duduk di sana.


“Dia harus bisa menyelesaikan pekerjaannya sampai waktu siang nanti, katanya. Emangnya ... kamu gak nyimak obrolan dia semalam?” Katia melirik sambil mengisi piringnya.


Maula hanya mengerutkan kening lalu bertanya, obrolan apa yang dia lewatkan itu. Karena memang semalam dia tidak ingin mengalpakan moment bersama anak kembar yang belum tentu datang dalam kurun waktu satu tahun sekali, sehingga ia tidak fokus dengan yang lainnya.


“Nanti sajalah. Kamu pasti akan tau sendiri.” Katia tidak antusias untuk menerangkan ulang, apalagi saat ini sedang berada di meja makan. Dia hanya mengatakan bahwa akhir-akhir ini mungkin dirinya akan semakin sibuk mengurus pernikahan dan hal yang lainnya. Maula pun tidak terlalu dipusingkan jika dia tidak diberi tahu apa-apa. Dia hanya menawarkan waktu dan tenaga untuk turut berpartisipasi dalam mempersiapkan pernikahan nanti.


“Makasih, Dek. Nanti kakak bilang kalau butuh bantuan kamu.”


Mereka benar-benar hening sebelum menyelesaikan sarapannya. Hingga bunyi sendok yang beradu dengan piring, tak terdengar lagi, berganti dengan suara tegukan segelas air putih yang sudah dituangkan bi Sulis sebelum ia kembali ke dapur.


“Kaak ....” Maula kembali membuka percakapan sambil menyusut wilayah mulut dengan serbet.


“Iya.”


“Suatu hari nanti... jika orang ketiga muncul dalam rumah tangga kakak, tolong kasih tau aku, ya.”


“Maksud kamu, Nursyam?”


Maula menggeleng yakin. “Bukan cuma Nursyam, tapi tante Risa, dan wanita-wanita idaman lainnya, maksudku. Aku yang akan menghadangnya sebelum mereka mengobrak abrik rumah tangga kakakku.”


Katia tersenyum sambil mengulurkan tangan, mengusap punggung tangan Maula sambil mengangguk. “Makasih.”


Mereka kembali pada rutinitas masing-masing. Pergi ke kampus bagi penyandang gelar mahasiswa seperti Maula, Rere dan Nikita. Sementara Aldi, Katia dan Khayru, bergelut ditengah kerumitan dunia kerja demi stabilitas bisnis yang harus terus berjalan dan tetap terjaga laju putarannya.


Di jam makan siang, mereka akan berkumpul kembali di sebuah kafe yang digawangi oleh Dandi—si tampan yang multitalenta. Tidak terlalu tampan, sih. Hanya saja cukup membuat hati Nikita cenat-cenut. Jadi, tak heran jika Nikita terlihat paling rajin membantunya.


“Mas! Mas Dandi gak bosan apa, sih? Kerja tiap hari. Hari Minggu aja, nih kafe gak pernah libur. Heran!” Lagi-lagi sambil membawa nampan piring kotor ke hadapannya.


“Ngapain libur, Nik? Bagiku kerja di sini juga termasuk liburan.”


Dia mengalihkan pandangan ke arah Khayru yang bangkit dari tempat duduk setelah menghabiskan makan siangnya.


“Dan! Makasih makan siangnya, aku harus pergi sekarang!” seru lelaki itu sambil berdiri dari kejauhan tanpa mendekat.


“Oke, Mas!” Jeda, lalu kembali bertanya “Mau kemana sih, Mas? Gak duduk-duduk dulu?”

__ADS_1


“Ke bandara!”


“Bandara?!” tanya Dandi untuk memastikan dia tidak salah dengar.


“Iya! Maaf, ya, buru-buru!” jawabnya sambil melambai dan berlari kecil menuju mobilnya.


“Gak mau kencan gitu, Mas? Kaya pasangan single lainnya,” tanya Nikita, melanjutkan obrolan setelah Khayru benar-benar pergi.


“Kerja di sini, ngedate pun aku di sini sajalah.”


“Iya ... Ngedate sama wajan. Jangan-jangan nih pantat wajan ampe licin begini gara-gara diciumin Mas Dandi mulu tiap hari.” Sambil nunjuk wajan panas di atas kompor. Ia bolak balik kanan kiri, menunggu pesanan orang yang masih on proses untuk dia antar ke mejanya.


“Masih ada kamu yang masih single. Ngapain nyiumin pantat wajan?”


“Di luar sana, banyak banget cewek single. Makanya, Mas, mainnya agak jauhan dikit biar matanya bisa lihat yang bening-bening kaya es balok.”


“Jangankan yang bening. Yang bohay, montok, tinggi semampai, rambut blondy, white skin, blue eyes, bahkan yang lenggak- lenggok tanpa busana pun sudah sering aku lihat, Nik.”


“Ish! Di mana tuh liat begituan?” Nikita melayangkan tatapan jijik.


“Ada deeehh ...,” jawab Dandi sambil terkekeh. “Baru tau, ya? Jam terbangku kan udah tinggi banget. Masalah cewek, sekali telepon langsung dateng orangnya.”


“Bohooongg,” timpal Nikita tak percaya.


“Ish ...,” desisnya semakin tak percaya tapi hatinya sedikit kecewa. Sebenarnya, untuk seorang pria lulusan luar negeri seperti Dandi, hal itu sangat mungkin bisa terjadi. Pergaulan bebas menjadi hal yang lumrah di sana. Khayalannya menerawang pada satu kejadian ketika Nikita tak sengaja melihat seorang lelaki yang mirip dengan Dandi bersama seorang wanita. Namun, lamunan itu terhenti saat Maula datang mengagetkannya.


“Hey! Kalian ngapain diem-dieman? Lagi marahan?”


“Enggak!” elak Nikita. “Ngapain marahan? Kaya orang pacaran aja.”


“Emangnya kalian gak pacaran?” Maula mendelik sambil mencibir. “Pacaran kali, ah. Udah lengket begitu, masa gak pacaran?”


Tak satupun di antara Nikita dan Dandi yang menanggapi ucapan Maula. Mereka hanya saling tukar pandang meski hanya sekilas saja.


“Masih mending, ya, kalian pacarannya di tempat umum, jadi aku bisa mengawasi jika kalian melewati batas.” Maula menunjuk matanya sendiri dengan dua jari saat mengucap kata 'mengawasi' dengan penuh penekanan.


“Meskipun kata pak Kiai, sebenarnya pacaran itu gak ada dalam Islam. Ya mudah-mudahan untuk ke depannya, kalian bisa memutuskan untuk segera menikah daripada berlama-lama pacaran. Iya, gak?”


Dandi dan Nikita masih no coment dengan ucapan Maula. Hingga akhirnya, Nikita melepas apron lalu berpamitan untuk pergi.


“Ya udah... Biar kalian gak mikir kalau kita pacaran. Mulai sekarang, aku bakalan jaga jarak.” Sambil menatap jam tangan, ia mengatakan alasan untuk pergi.


“Aku pergi bentar ke butik langganan Mama. Mau ambil baju pesenan adikku. See you, Mamaw ....” Sambil mencium pipi Mamaw—panggilan baru untuk Maula.

__ADS_1


“Eh, dia langsung pergi. Aku tadi salah bicara, ya, Mas?” tanya Maula masih dengan dahi yang mengkerut sambil memandangi Nikita. “Maafin, deh, kalau aku salah. Gak ada maksud—”


“Enggak! Dia bukan pergi karena ucapanmu tapi karena ucapanku,” kilah Dandi yang menyadari ucapannya beberapa menit yang lalu.


“Ucapan mas Dandi yang mana? Kalian beneran lagi marahan, ya.”


Wangi khas kentang yang baru saja matang dari penggorengan sudah mulai tercium. Dandi menyajikannya di atas piring lalu menyusun di atas nampan.


“Dari pada tanya-tanya mulu, mending cepet bantu aku, La. Repot, nih, gak ada yang bantuin satu orang pun.” Sambil mendorong nampan tersebut ke hadapan Maula dan bersiap untuk membuatkan pesanan berikutnya.


“Lha, emannya karyawan baru—mas Dandi—gak bantuin lagi?” Sambil menarik nampan lalu melangkah mencari meja sesuai pesanan.


“Kayaknya enggak! soalnya dia baru aja pergi ke bandara.”


Refleks, Maula menghentikan langkahnya lalu menoleh. “Bandara? Ngapain?”


Dandi hanya mengendikkan bahu. “Dia buru-buru, jadi gak bilang apa-apa lagi. Cuma bilang makasih lalu pergi.”


Bandara?


“Sudah berapa lama dia pergi, Mas?” Sambil meletakkan kembali pesanan yang belum sempat dia antar ke meja pelanggan.


“Kira-kira, lima belas menit yang lalu. Tepat sebelum kamu datang.”


“Aku pinjam mobilmu, mas, cepetan!” Maula mengetuk meja berkali-kali lalu mengulurkan telapak tangannya.


“Mau ke mana?”


“Cepetan!”


“Tunggu, lagi nanggung!”


“Gak bisa! Cepetan!” Maula semakin tak bisa menunggu, ia matikan kompor supaya Dandi bisa merogoh kunci mobil di dalam saku celananya.


“Gak boleh nyetir sambil grasak grusuk!” teriak Dandi memperingatkan. Namun, suara Dandi seakan pecah membentuk senyawa terkecil yang hilang terbawa embusan angin.


Kali ini, kalau Abang pergi ke Maroko, Abang gak akan kembali lagi Jakarta...


Hanya kalimat itu yang terngiang di telinga Maula. Berputar dan berulang-ulang. Betapa pun dia berusaha untuk tenang. Namun, lain halnya dengan hati. Tempik sang hati yang tak bisa ia suarakan, hanya mendorongnya untuk melajukan mobil secepat mungkin. Siang yang terik di mana jam bubar sekolah menambah rumit kemacetan lalu lintas, di sekitar ruas jalan perkotaan.


Frustasi tatkala laju mobil semakin tersendat, membuatnya ingin keluar dan berlari jika tidak mengingat jarak Airport masih cukup jauh, tak bisa ia tempuh dengan hanya berjalan kaki.


To Be Continued....

__ADS_1


__ADS_2