Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 33. Seperti Fatimah Azzahra


__ADS_3

Rere menempati bangku kosong di belakang Maula, sementara Nikita meminta Reza yang duduk di depan Maula untuk bertukar tempat duduknya--dengan paksa.


“Kalian ngapain, sih deket-deket gue? Alergi gue bisa kambuh, tau?!” ketus Maula sambil mengerutkan keningnya. “Sana jauh-jauh!”


“La, tar pulang main ke rumah gue, yuk. Belajar bareng.” Nikita memutar badannya ke arah Maula yang sedari tadi menatap heran.


“Ogaaah! Ngapain, sih, loh belagak baik sama gue? Mo ngerjain gue, ya? Gak bakal mempan, tauk!”


“Dihh, siapa juga yang mau ngerjain orang,” sela Rere dari belakang sambil nyolek pinggang Maula hingga dia menggeser tubuhnya karena geli sekaligus kaget.


“Eh, ganjen! Lo pikir gue cowok gebetan lo? Pake nyolek-nyolek sgala.”


“Wolay (santai), Sist.” Rere dan Nikita terkekeh. Namun, mereka segera duduk manis sambil menutup mulutnya rapat-rapat.


“Eh! Brisik, brisik!”


“Bu Tika, noh,” bisik Rere sambil nunjuk ke arah pintu lalu memutar kepala Maula.


Tidak sampai di situ, ke-Abnormal-an Rere dan Nikita. Hingga mereka ngerecokin Maula di kantin saat istirahat bahkan saat bel pulang sudah berbunyi. Ini membuat Maula sangat terganggu.


“Dosa apa gue selama ini, ya Allah? Kenapa ada hantu jeruk purut yang ngikut-ngikut kek gini di badan gue?” gumamnya sambil berusaha lepas dari tangan Nikita yang melingkar di pundaknya.


“Belajar bareng di rumah gue!” tegas Nikita.


“Gue bilang, Ogah!” balas Maula. “Lo mau ngeracunin gue, kan? Trus Lo berdua buang mayat gue ke TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) Bantargebang, iya?”


“Ish!! Mulut Lo tuh beneran kek mercon, ya. Sekali kebuka, bunyinya Jedar jeder kaya petir,” tukas Rere. Dia yang melangkah paling depan, sesaat menghentikan langkahnya sambil memutar badan. “Gak bisa ya, bertingkah imut kek gue?”


Maula terbahak-bahak sambil nunjuk wajah Rere. “Iya imut kek landak. Eh, enggak! Gue liat Lo mah kek Ubur-ubur.” Maula menggoyang-goyangkan tubuhnya, persis seperti ubur-ubur.


Tiba-tiba, mulut Maula dibekap Nikita menggunakan telapak tangannya.


“Lo pulang dijemput Abang Lo, kan? Oke, kita temenin sampe dia dateng.”


“Enggak. Gue mau ke tempat lain. Naik taksi.” Maula berpikir untuk menemui Umi Khadijah sebelum pulang ke rumah.


“Kalau Abang Lo nyariin, gimana?” sela Rere sambil kembali menoleh.


“Peduli amat Lo sama Abang gue?” Maula mengerutkan dahinya. “Ya udah, sini pinjemin handphone lo. Gue mau telepon dia dulu biar gak nyariin.”


Rere mengeluarkan handphone dari dalam tas lalu memberikannya pada Maula setelah membuka kunci layar.


Setelah mengetik angka di layar handphone, lalu menekan tombol 'DIAL' Maula kembali mengerutkan keningnya. “Loh, kok nomor Abang gue sudah ada namanya di handphone lo?”


“Nama? Emang apa namanya?” balas Rere datar.


“Ini?” Maula menunjukkan layar ponsel yang tertera tulisan 'Ahjussi rasa Oppa'


“Gue juga punya nomor Abang, Lo. Kenapa emang?” timpal Nikita sambil menaikkan alisnya.

__ADS_1


“Dari man....”Maula belum menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Rere mengambil handphone dari tangannya.


“Kelamaan. Gue aja deh yang telepon.” Rere menempelkan handphone ditelinganya.


“Hallo ... Hallo!! Siapa, nih?!” Suara Khayru dari balik telepon. Dia mengira ada orang iseng yang meneleponnya.


“Hallo, Mister ... Ini aku. Rere ....”


“Siapa? Rese?”


“RE-RE! kok, Rese, sih?”


“Ohh, Rere. Maaf, Re, ini lagi di jalan. Mau jemput Maula. Kenapa, Re?”


“Jangan lupa save dulu nomor aku, Om. Kasih nama 'RERE IMOED' gitu ya Om,” ucapnya sambil cengengesan. “Bukan 'RESE' ya. Awas, loh.”


Maula memutar bola matanya. Dia tak menyangka, Khayru bisa sedekat itu dengan ABG yang menjadi musuh bebuyutannya. Dia mengabaikan Rere yang tengah mengangsurkan handphone ke arahnya.


“Nih, La. Ngomong sendiri sama Abang, lo.”


“Gak! Gak jadi! Lagi males ngomong gue. Bilangin aja, gak usah jemput gue, gitu. Kalo dia nanya gue ke mana, bilangin mo ketemu Umi Khadijah.”


Maula langsung pergi lalu menaiki taksi yang kebetulan berhenti di depannya. Ucapan Maula terdengar hingga ke telinga suaminya melalui handphone Rere yang masih terhubung.


“Yah, Om. Dia kabur tuh...”


“Ya udah, gapapa. Makasih ya, Re. Saya susul Maula dulu,” pungkasnya lalu memutar arah kemudi.


“Tamu pria harap masuk ke ruangan yang itu. Lupa?” Maula menunjuk ruangan yang kedua dengan telapak tangannya.


Khayru mengangkat alis sambil mengendikkan bahunya. “Gak papa, kok. Kita kan suami istri.” Khayru membuka pintu sambil mempersilakan Maula untuk masuk. Dia tahu, istri kecilnya sedang kesal gara-gara menemukan dirinya bertelepon ria dengan duo ubur-ubur yang dia benci. Padahal, baru kemarin sore Khayru memberikan nomor handphonenya itu pada Rere dan Nikita.


Dua gadis itu, adalah orang yang Khayru pilih untuk menjadi teman Maula di sekolah, sebagai pengganti Ariel. Dia tau jika Maula sangat membutuhkan teman seperti anak-anak lainnya. Sengaja Khayru meminta dua gadis itu untuk menghubunginya jika Maula mendapat masalah di sekolah dan bukan untuk urusan lainnya.


Ketika Kyai dan istrinya datang, Maula dan Khayru tengah duduk berjauhan. Tanpa bicara sepatah kata pun seperti tengah bermusuhan. Keduanya saling menyalami tuan rumah, tapi setelah itu Maula bingung. Dia ingin bertanya, tapi suaminya ada di sana. Namun, dari gelagatnya, Umi Khadijah tahu bahwa sesuatu sedang terjadi di antara mereka.


“Baru pulang sekolah, langsung ke sini, ya?” tanya Umi Khadijah karena dia melihat seragam yang masih dikenakan Maula.


“Sudah salat duhur, sayang?”


“Sudah di sekolah,” jawab Maula sambil mengangguk.


“Kalau gitu, temenin Umi sebentar di dapur, ya.”


Mereka berdua meninggalkan Khayru dan Pak Kyai di ruangan itu. Sementara, Umi Khadijah mengajak Maula ngobrol di dapur sambil masak. Sebelum dia mengajak Maula ngobrol, terlebih dahulu dia meminta beberapa orang santri putri yang ada di sana untuk meninggalkannya.


“Nayla ... Almira ... Kalian boleh istirahat dulu sebentar.”


“Baik, Umi.” Mereka meletakkan pisau dapur di atas talenan. Begitu pun dengan sayuran-sayuran yang tengah mereka potong-potong, hingga bangkit dari duduknya.

__ADS_1


“Jangan lupa buka kembali Safinatun Najah⁴. Pelajari terus, ya, Nak!” pesannya.


Maula duduk menggantikan santriwati yang baru saja pergi, sambil menatap bahan makanan di atas meja.


“Umi selalu masak sendiri untuk para santri di sini?”


“Enggaklah.” Umi menggeleng dengan cepat sambil tersenyum. “Seperti yang kamu lihat tadi, selalu ada santri putri yang bantu. Mereka belajar semua hal yang umi kerjakan.”


Maula tersenyum sambil melanjutkan pekerjaan santri putri yang mereka tinggalkan. “Maula mau bantu Umi juga,” ucapnya sambil memotong beberapa sayuran. Namun, Umi segera mencegahnya.


“Gak usah. Sekarang kita ngobrol-ngobrol ajalah.” Umi Khadijah menyingkirkan keranjang sayuran itu jauh-jauh dari Maula.


“Umi.”


“Iya.”


“Maula tuh sebenarnya Mau banget belajar di pesantren. Jadi Satriwati, belajar ngaji kaya anak-anak tadi.”


“Terus ....”


“Tapi ... Abang bilang, aku bukannya mau ngaji tapi mau ngecengin santri laki-laki. Ish! ... dasar! ... nyebelin!” Maula mencemuh sambil mengerutkan dahi. Ucapannya spontan membuat Umi Khadijah tertawa renyah.


“Itu wajar, Nak.” Umi Khadijah masih terkekeh.


“Wajar gimana, Umi? Itu berlebihan namanya.”


“Kamu lupa, ya, kalau dia itu suamimu? Cemburu dong dia.” tuturnya sambil menatap wajah Maula.


“Emangnya suami harus seperti itu, ya, pada istrinya? Kemarin dia marah juga gara-gara aku nangisin Ariel, Umi.” Maula tertawa karena dia pikir sikap suaminya itu sangat lucu.


“Ariel itu siapa? Kenapa kamu menangisinya?”


“Ariel itu temen aku, Umi.”


“Umi tanya sekali lagi. Abang itu siapa kamu, Nak?”


“S-suami,” jawab Maula terbata.


Umi Khadijah menjelaskan beberapa hal tentang kedudukan, tugas, kewajiban dan tanggung jawab seorang suami terhadap istri, seperti yang diajarka Rosul pada putrinya--Siti Fatimah Az-Zahra.


Suatu hari, Siti Fatimah Az Zahra tak sengaja mengatakan sesuatu yang membuat hati suaminya terusik. Ia menyadari kesalahannya lalu segera meminta maaf berulang-ulang kepada Ali.


Melihat wajah suaminya tak juga berubah, maka Fatimah Az-Zahra berlalri-lari kecil di sekitar Ali, sebanyak 7 kali sambil merayu-rayu memohon supaya dimaafkan. Akhirnya, hati Ali luluh dan tersenyum kembali. Dia memaafkan kesalahan isterinya.


Mendengar kejadian itu, Rasulullah berkata pada putrinya. “Wahai Fatimah, kalaulah di kala itu engkau mati sedangkan suamimu tidak memaafkanmu, niscaya aku tidak akan menyolatkan jenazahmu.”


__________


⁴Safinatun Najah adalah sebuah kitab ringkas mengenai dasar-dasar ilmu fikih menurut mazhab Syafi’i. 

__ADS_1


To Be Continued ....


__ADS_2