Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 9. Maula's 13th Birthday


__ADS_3

Tiga tahun kemudian ....


Tanda pengingat di Handphone Khayru berbunyi di tengah kesibukannya. Dia hanya melirik sekilas karena ingin menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Setelah semua rampung dia meraih handphone yang sudah berhenti menyala lalu menyandarkan tubuhnya sambil menghela napas.


 


“Ya ampun! Ulang tahun Maula!?” Khayru segera bangun dari tempat duduknya. Menarik jas yang tersampir di sandaran sofa sambil menelepon Aldi. “Di, aku pergi bentar, ya.”


 


“Ke mana, Ru?”


 


“Baru inget, hari ini Maula ulang tahun.”


 


Khayru setengah berlari menuju parkiran. Dia melajukan mobilnya ke sebuah toko kue langganan dan juga toko mainan. Beberapa jam kemudian mobilnya sudah standby di halaman sekolah.


 


“Bentar lagi jam pulang sekolah. Gak sempet bikin kejutan di kelas. Pasti dia marah.”


 


Di ulang tahun sebelumnya, Khayru selalu minta izin pada guru untuk datang di jam istirahat. Namun, kali ini tidak. Dia menunggu di dalam mobil sambil meniup banyak balon dengan bibirnya sendiri.


 


Bel pulang sudah berbunyi. Satu per satu, kelas membubarkan muridnya. Di pintu gerbang yang berdesakkan terdengar suara anak laki-laki dan perempuan yang tengah adu mulut.


 


“Heh?! Kalau jalan lihat-lihat, dong. Punya mata tuh dipake!” maki anak perempuan sambil mengarahkan telunjuknya ke mata anak laki-laki.


 


Entah disengaja atau tidak, anak laki-laki yang jail itu selalu berlari dari kejauhan dan akhirnya menabrak. Bukannya minta maaf, dia malah tersenyum sinis.


 


“Minta maaf, gak?!” Anak perempuan itu berkacak pinggang sambil menatap tajam.


 


“Gitu aja marah. Orang gak sengaja, kok.”


 


“Kebiasaan banget, ya. Udah salah, ngeyel lagi.” Anak perempuan yang sudah mulai naik darah itu melayangkan pukulannya dan terjadilah perkelahian yang entah ke berapa kalinya sejak mereka bersama dalam satu kelas.


 


Semua orang yang ada di dekatnya menjerit karena kaget.


 


“Seperti suara Maula”. Khayru segera keluar dari mobilnya untuk melerai.


 


Di sana nampak anak laki-laki yang mulai terjatuh karena sengaja tak memberi perlawanan.


 


“Stop!”


 


Khayru menahan tangan Maula yang hendak kembali memukulkan kepalan tangannya.


 


“Ya, ampun. Kamu nih apa-apaan, sih, Dek? Siapa yang mengajari kamu jadi tukang pukul seperti ini?”


 


Khayru juga membantu anak laki-laki untuk bangun dan merapikan seragamnya.


 


“Maaf, ya, Riel. Kamu gak apa-apa ‘kan?”


 


Dia menggelengkan kepalanya. “Gak apa-apa, Om.”


 


“Tante kamu belum jemput, ya? ”


 


Tiba-tiba seorang wanita yang sangat cantik turun dari taksi.


 


“Ariel ...!”


 


“Oh, itu Tante sudah datang, Om.”


 


Wanita cantik itu datang menghampiri sambil tersenyum.


 


“Maaf telat, Riel. Mobil Tante mogok. Kita pulang naik taksi aja, ya.” Dia mengerutkan keningnya ketika melihat ada sedikit luka di wajah Ariel.


 

__ADS_1


“Biasa ... Mereka perang lagi.” Khayru segera menjelaskan sambil menggelengkan kepala. “Maaf, ya, Riel.”


 


“Tante heran, loh. Ada apa dengan kalian ini? Tiada hari tanpa gencatan senjata. Untung saja dah bubar sekolah. Kalau enggak, kita semua karnaval rame-rame lagi ke ruang kesiswaan.”


 


“Dia yang mulai, tuh!” Maula menunjuk Ariel.


 


“Aku sudah ngalah, kok. Lihat ini! Dipukul aja, aku gak balas kamu.” Ariel menunjuk tulang pipinya yang sedikit memerah kena pukulan.


 


“Sudah, sudah. Gimana kalau saya antar kalian pulang? Kebetulan kita searah.” Khayru menawarkan tumpangan.


 


“Mau ya, Tante, mau.” Ariel sedikit membujuk sambil menarik-narik rok yang membalut sepertiga--kaki tantenya.


 


“Ish ... dasar gak tau malu!” batin Maula sambil naik ke dalam mobilnya.


 


Khayru membuka pintu belakang lalu mengeluarkan balon-balon yang memenuhi sebagian ruang mobilnya.


 


“Silakan. Di belakang kosong, kok.”


 


“Maula sama Ariel, kalau kalian ada masalah, coba diselesaikan baik-baik, biar gak berantem mulu di sekolah. Udah SMP, langganan keluar masuk ruang kesiswaan. Gak malu apa?” ucap Khayru sambil memutar kemudi.


 


“Tau, nih. Berantem aja terus, tau-tau ntar berjodoh aja kalau dah gede.”


 


Jodoh? Khayru membulatkan matanya. Tiba-tiba dia menjadi salah tingkah.


 


“Aku?! Berjodoh sama ponakan Tante Risa yang tengil ini? Gak mungkinlah.”


 


“Siapa juga yang suka sama cewek jutek kek dia. Seharian ini aku lihat bibirnya manyun kayak mulut itik,” timpal Ariel.


 


“Hari ini Om lupa kalau dia ulang tahun, Riel, makanya dia manyun.”


 


 


“Apa ini, Bang?”


 


“Buka saja.”


 


Maula membuka satu per satu. Namun, tak ada satu pun yang menarik perhatiannya. Dia memasukkan kembali ke dalam kantong dan menaruhnya di bawah.


 


“Kenapa? Gak suka, ya?”


 


“Kenapa dari dulu hadiahnya masih begitu-begitu aja? Aku dah tiga belas tahun, loh, Bang. Abang gak kreatif, ah.”


 


“Kuenya gak suka juga? Toping-nya Abang bikin sendiri, loh itu tadi di toko kue. Masih anget. Coba dilihat dulu. Itu gabungan wajah Doraemon sama wajah kamu. Lucu, tau.”


 


Tiba-tiba Ariel tertawa terpingkal-pingkal. “Boleh lihat, gak, gabungan wajah Doraemon sama mulut itik jadinya kek gimana, sih?”


 


“Abang gak denger barusan dia ngejek aku?”


 


“Makanya, jangan ketus gitu mulutnya, biar gak dibilang kaya mulut itik. Abang aja gak ngerti kamu maunya apa?”


 


“Aku mau ...pergi ke wahana ice skating.”


 


“Sekarang?”


 


“Iyalah.”


 


“Tante, aku juga mau. Aku mau ke sana sekarang.” Ariel mulai merengek.


 

__ADS_1


“E eh, kamu kok ngikut Maula mulu. Sengaja, ya?” Risa mencolek lengan Ariel sambil tersenyum. Ucapannya yang pelan ini masih bisa didengar oleh Khayru dan Maula.


 


“Eng gak! Siapa yang ngikut? Emang dari kemaren pengen ke sana, kok,” elaknya. Wajah Ariel sedikit memerah.


 


“Ha ha ha ... Oke, oke. Kita sama-sama ke sana, tapi mampir Sebentar ke masjid, ya.” Khayru menghentikan mobilnya di depan masjid kecil di pinggir jalan. “Setelah main ice skating, janji ya, besok-besok gak berantem lagi, loh.”


 


“Aku gak mau bareng dia, Bang. Tar dia nyenggol-nyenggol aku Sampe jatoh lagi kayak di sekolahan.”


 


“Kan ada Abang,” jawabnya sambil membukakan pintu. “Salat dulu, yuk.”


 


Beberapa jam kemudian mereka sudah Bisa berselancar bebas di arena ice skating yang berada dalam sebuah Mall besar di kota Jakarta ini.


 


“Udah, ya. Kamu main sendiri dulu. Abang mau nemenin Tante Risa di sana.” Khayru melepaskan tangan Maula dan membiarkannya berjalan sendiri di tengah arena.


 


“Ris, kamu gak main?”


 


“Enggak, Mas. Gak bisa.”


 


“Ayo aku ajarin.” Khayru menarik tangannya. Berjalan pelan-pelan, berputar-putar di atas lantai es yang licin.


 


“Gimana kuliah kamu, Ris?”


 


“Gak gimana-gimana, Mas. Masih gitu-gitu aja.”


 


“Kapan wisuda?”


 


“Insyaallah, tahun ini.”


 


Khayru dan Risa sudah saling mengenal sejak kecil. Orang tua mereka adalah Mustamik³ di pengajian Kyai Abdurrahman. Mereka berteman baik seperti halnya orang tua mereka yang selalu berhubungan baik.


 


“Mas Iru masih datang ke pengajian rutin?”


 


“Iya. Papa minta aku selalu menjalin silaturahmi dengan sahabat-sahabatnya.”


 


Risa tersenyum mengenang kebaikan Tuan Zul semasa hidupnya. “Mas ingat gak? Om Zul panggil aku apa dulu?”


 


“Iya, dia selalu panggil kamu ‘Menantuku’ karena kita dulu sangat dekat, iya, kan?”


 


“Aku kira, Mas sudah lupa,” gumamnya.


 


Khayru menatap wajah Risa yang menunduk.


 


“Aku ingat. Semuanya aku ingat.”


 


Risa membalas tatapan Khayru. Namun, Khayru segera memalingkan wajahnya.


 


“Sudah terlalu sore. Ayo pulang.” Khayru menatap jam di tangannya.


 


Khayru melambaikan tangannya pada Maula dan Ariel supaya mereka berhenti main.


 


“Kita pulang dulu. Kapan-kapan main ke sini lagi.”


 


___________


Note :


 ³Mustamik artinya pendengar


To be continued ....


 

__ADS_1


__ADS_2