Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 22. Aturan yang dilanggar


__ADS_3

“Apa ini?! Kenapa ada minuman seperti ini di hotel kita?”


Semua karyawan yang hadir di ruang meeting menunduk tak bisa menjawab.


“Kenapa semuanya diam? Kalian semua punya mulut 'kan? Kenapa tidak ada yang menjawab seorang pun?”


Suasana menjadi sangat hening dan mencekam sampai pintu dibuka oleh seseorang. Dia datang terburu-buru, setelah berjalan setengah berlari dan tiba di ruang meeting. Namun, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di sana.


“Maaf ... saya terlambat,” ucapnya sambil menatap semua yang hadir. Di atas meja dia melihat beberapa botol minuman dengan kandungan alkohol di dalamnya. Dia coba mengatur napas sambil menyusun kata-kata karena tatapan dari atasannya itu menyiratkan bahwa dia harus menjelaskan sesuatu.


“Sebelumnya, saya minta maaf karena datang terlambat. Perlu saya jelaskan bahwa ibu saya sedang sakit, jadi terpaksa harus merawatnya sebelum saya berangkat kerja. Saya janji kejadian ini tidak akan saya ulangi lagi. Saya akan lebih profesional lagi saat bekerja--”


“Jelaskan pada saya, kenapa minuman-minuman ini ada di hotel kita? Apa kurang jelas peraturan yang saya buat selama ini?” Khayru memotong ucapan Katia--sang asisten manajer yang tengah menjelaskan alasan kenapa dia datang terlambat.


“Euu ... itu ....” Katia kembali menyusun kalimatnya setelah menarik napas dalam-dalam.


“Begini, Pak ... Jadi, liquor itu kami hanya mengeluarkannya sesekali saja. Itu pun terbatas hanya kami berikan bagi tamu asing yang memang membutuhkannya. Saya berani jamin bahwa kami tidak menjualnya pada penduduk lokal.”


“Apa pun alasannya, saya tidak mau melihat barang itu di hotel ini!”


“Tapi, Pak ... imbasnya mempengaruhi income di hotel kita secara turis asing kerap membatalkan check in hanya karena ketidak sediaan minuman itu. Bapak bisa cek di bagian accounting departement, bisa dilihat kita mengalami penurunan yang sangat signifikan beberapa bulan lalu, dan hanya bisa naik kembali setelah menyiasatinya dengan cara ini, Pak.”


Mendengar ada sedikit keributan dari arah ruang meeting, Maula yang memang sedang mencari keberadaan Khayru, langsung memasuki ruangan itu tanpa bicara atau pun bertanya. Dia hanya duduk di kursi kosong tepat di samping Khayru yang memang disediakan untuknya.


“Perlu saya tegaskan sekali lagi bahwa hotel kita ini harus berpegang teguh pada norma-norma agama serta nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi ciri khas etika dan nilai budaya dalam masyarakat lokal. Ini yang Papa saya tanamkan sejak dia mendirikan hotel ini.” Khayru menatap satu per satu karyawan yang hadir di sana sambil bangkit dari tempat duduknya.


“Tolong dipahami. Kita jangan mematok nilai income hanya dari benda ini,” ucapnya sambil menunjuk botol minuman di hadapannya. “Satu hal lagi! Pastikan pasangan tamu yang menginap di hotel ini, mereka adalah pasangan yang sah kecuali jika mereka memesan kamar yang terpisah. Periksa kelengkapan identitas mereka sebelum check in. Mengerti!?”

__ADS_1


“Ba-baik. Saya mengerti.”


“Mengerti, Pak.” Serempak mereka menjawab sebelum akhirnya Khayru pergi meninggalkan ruangan meeting.


Khayru melirik ke arah Maula. Memberi kode bahwa dia akan segera keluar dari ruangan itu. Maula mengikutinya dari belakang setengah berlari.


“Bang ....” Maula mencoba meraih tangan Khayru lalu menggandengnya.


“Hmm.”


“Kita ke mana sekarang?” Maula berharap Khayru akan mengajaknya jalan-jalan lagi sebelum mereka pulang.


“Kembali ke kamar saja, kepala Abang pusing.”


Maula hanya menghela napas. Tak mungkin dia protes dalam keadaan seperti ini.


“Kamu sudah membereskan barang-barang kita?” tanya Khayru sambil mendudukkan dirinya di atas sofa di susul Maula yang duduk di sebelahnya sambil mengangguk.


“Kita istirahat dulu bentar sebelum pulang,” ucapnya sambil mengurut dahinya sendiri.


“Abang pusing? Maaf ya, Bang, aku gak bisa mijit.”


Khayru melirik dengan ekor matanya. “Abang tahu. Kamu kan bisanya cuma marah-marah, ngamuk-ngamuk, lempar barang ke muka orang--” Sebelum melihat wajah Maula yang benar-benar marah dengan ucapannya, Khayru segera meletakkan kepalanya di pangkuan Maula sambil menutup wajahnya.


“Ish ....” Maula menurunkan kembali tangannya yang sudah siap memukul. “Abang lupa? Baru beberapa menit yang lalu, Abang juga marah-marah. Bentak-bentak orang ampe mereka gak berkutik. Di rumah juga Abang sering marahin aku,” kilahnya sambil bersungut-sungut.


“Abang marah karena memang harus marah. Kalau mereka gak mengabaikan aturan, gak mungkin Abang marahin mereka.”

__ADS_1


“Menurutku, mereka gak salah-salah banget karena mereka hanya menjual minuman itu pada turis asing yang mungkin di mata mereka alkohol itu tidak haram. Yang kedua, kenapa Abang melarang tamu tanpa hubungan yang sah tidur di kamar yang sama, sementara kita aja tidur satu kamar tidak terjadi apa-apa.”


Khayru menutup mulut Maula dengan telapak tangannya. “Cukup! Jangan samakan kita dengan mereka.”


Maula menyingkirkan telapak tangan Khayru dari mulutnya. “Loh, gak bisa gitu, dong. Jangan mentang-mentang kita pemilik hotel lantas kita bebas. Sementara untuk mereka diberlakukan peraturan yang sangat ketat. Abang nih gimana, sih?”


“Bukan gitu. Abang gak bisa mentolerir minuman keras karena selain haram, kita akan mendapat banyak kesulitan menghadapi orang-orang yang mabuk setelah meminum minuman keras itu. Kamu tahu, apa yang bisa mereka lakukan dalam keadaan mabuk?”


Maula berpikir sebentar sambil mengingat-ingat adegan orang mabuk dalam film-film Korea. “Mungkin mereka akan muntah-muntah karena pusing saat mabuk,” jawabnya.


“Bukan itu maksud Abang. Mereka yang mabuk akan kehilangan akal sehatnya sehingga tidak sadar melakukan banyak hal buruk di luar kendalinya.”


“Contohnya?”


“Memukul orang, membunuh orang, membuat keributan, melakukan perkosaan, berzina dan masih banyak lagi yang bisa mereka lakukan. Karena itulah yang namanya 'mabuk' disebut 'biang' dari dosa-dosa besar lainnya.”


Khayru kembali duduk menyandarkan dirinya di sofa. “Dosa Abang ini kan sudah cukup banyak, Dek. Masa harus ikut andil dalam dosa orang lain juga dengan cara memfasilitasi mereka untuk mabuk?”


“Abang gak mau menanggung dosa mereka tapi Abang selalu bilang, Abang akan menanggung dosaku. Aneh!”


“Haiiiss ....” Khayru menggaruk kepala sambil memalingkan wajahnya. Dia terlalu pintar atau aku yang bodoh?


“Yang itu ... nanti kamu akan tau jawabannya. Tentang kenapa Abang harus menanggung dosa-dosamu? tentang kenapa kita bisa tidur satu kamar? Tentang kenapa Abang bisa melihat auratmu? Tentang kenapa Abang bertanggung jawab penuh atas kamu. Kamu akan segera tahu jawabannya, yang pasti alasannya bukan karena kita pemilik hotel. Bukan!”


“Katakan saja sekarang. Apa susahnya?” Rasa penasaran sudah nampak di wajahnya. Sementara Khayru tetap cuek sambil menatap jam tangannya.


“Masih ada waktu beberapa jam lagi sebelum berangkat ke Bandara. Boleh Abang tidur lagi di pangkuanmu?” ucapnya sambil meletakkan kembali kepalanya di paha Maula yang sedari tadi menatap heran.

__ADS_1


“Apa yang sebenarnya ingin dikatakan Abang padaku? Kenapa harus nanti? Sekarang apa bedanya? Ish ....”


To Be Continued ....


__ADS_2