Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 11. Hemophobia


__ADS_3

Khayru berlari menuju kamar Maula membawa dua kantong belanjaan besar di tangannya.


 


“Dek, nih pembalutnya.” Dia mencari-cari Maula yang sudah tidak ada di tempat tidurnya, karena setelah sadar dari pingsan, Maula sengaja bangun dan duduk di closet supaya darah yang menetes dari daerah intimnya itu langsung mengalir ke dalam closet.


 


“Loh, kamu kok di sini? Tadi kan pingsan? Kenapa cepet bangun, sih?” tanyanya datar. Baginya, ketika Maula pingsan setelah melihat darah itu menjadi hal biasa. Pingsan lebih baik dari pada dia teriak-teriak ketakutan.


“Abang mau aku pingsan selamanya? Dari mana sih, Bang lama banget? Bikin aku Bete, tau gak?”


 


“Beli ini, di suruh Mbak Tini.” Khayru mengangkat tentengannya lalu meletakan begitu saja di lantai. “Gimana darahnya?”


 


“Udah, deh. Jangan ngomongin itu! Perutku langsung mual ngebayanginnya.”


 


Duh, gawat! Ini masalah besar. Gimana cara mengatasi hemophobia selama Maula menstruasi beberapa hari ke depan? Khayru menggaruk kepalanya lalu pergi dari kamar mandi.


“Tunggu sebentar.”


Sejak kecil Maula selalu merasakan ketakutan dan kecemasan yang berlebih ketika melihat ataupun hanya dengan membayangkan saja betapa darah itu merah warnanya. Wajahnya akan berubah pucat, kepalanya menjadi pusing, mual, badannya lemas dan bergetar. Ini terjadi sejak kucing kesayangannya mati terlindas mobil yang lewat di depan rumahnya. Sejak itu, dia tidak bisa lagi melihat darah meski hanya sedikit. Menurut dokter, ini dinamakan hemophobia. Phobia terhadap darah yang di sebabkan trauma di masa kecilnya.


Tak lama, Khayru kembali membawa satu set pakaian bersih lengkap dengan pakaian dalam milik Maula. Dia juga membawa selembar kain penutup mata.


“Abang lagi ngapain?”


“Bener gak, sih masangnya kek gini?” Khayru menunjukkan cel*na dalam yang sudah dipasangkan pembalut wanita. Sebelumnya, dia searching dulu cara memasang pembalut wanita yang benar di google.”


Berikutnya, Khayru menutup mata Maula supaya dia tidak bisa melihat darahnya sendiri saat mandi dan berganti pakaian.


“Gak usah liat darahnya, ya. Sekarang kamu bisa mandi.”


“Abang mau ke mana? Kalau mataku di tutup seperti ini, gimana bisa mandi sendiri?” Maula memegang pergelangan tangan Khayru supaya dia tidak pergi.


“Nanti dibantu Bik Sulis sama Mbak Tini. Tunggu, ya.”


“Gak mau! Mereka suka gibah. Abis mandiin aku nanti pasti mereka gosipin aku di dapur.”


Khayru mengurungkan niatnya untuk pergi dari kamar mandi. Dia kembali sambil membuka jubah tidurnya. Tak ada cara lain selain dia sendiri yang memandikan Maula.


 


“Eh, enak saja sembarangan nuduh orang suka gibah. Jatuhnya fitnah, loh itu,” gerutu Khayru sambil membuka sandal rumahnya. “Ayo buka bajunya. Cepetan! Mandinya di situ aja. Gak usah pindah.”


“Abang kesel, ya. Jengkel, ya?” tanyanya sambil membuka kancing piyama satu per satu.


“Bukannya jengkel, tapi kamu gimana? Masa gak malu di mandiin sama Abang? Abang kan laki-laki dewasa.


“Malu? Ngapain malu sama  Abang? Bukannya Sejak aku bayi Abang suka mandiin aku? Abang udah lihat semuanya ‘kan? Bahkan letak tanda lahirku aja Abang lebih tau dari pada aku,” ucapnya sambil melempar baju yang baru dilepas ke lantai.


Dasar anak ini. Dia tidak sadar, kalau tubuhnya sudah banyak berubah. Dia sudah remaja sekarang.


Sekarang aku mengerti kenapa papa bersikeras ingin kami menikah. Ternyata karena aku harus sedekat ini dengan Maula, batinnya.


“Bang, mana airnya? Ayo siram.”


“Oh, iya, iya. Sebentar.” Khayru mengambil kran kloset. Untungnya mata Maula dalam keadaan tertutup jadi tidak bisa melihat tingkah Khayru yang sedikit gelagapan.


“Dek ... Ingat, ya. Kamu gak boleh memperlihatkan tubuh kamu tanpa busana seperti ini pada siapa pun.”

__ADS_1


“Kenapa memangnya?”


“Karena kamu sudah baligh sekarang. Gak boleh memperlihatkan aurat di depan laki-laki bukan mahram.”


“Di depan Abang boleh, kenapa di depan laki-laki lain gak boleh?”


 


“Itu ... Itu lain lagi ceritanya. Abang kan ....”


 


Khayru mulai kesulitan menjawab pertanyaan Maula. Sementara dia belum ingin mengatakan bahwa dia suaminya.


“Sudah, sudah. Kita gak boleh lama-lama di kamar mandi apa lagi sambil ngobrol-ngobrol. Cepet mandinya, Abang mau telepon wali kelas. Belum minta izin gak masuk sekolah hari ini.” Khayru mengalihkan topik pembicaraan.


“Jangan buka dulu penutup mata sebelum selesai pake baju.” Khayru menunggu sampai Maula selesai berpakaian lalu mengajaknya sarapan.


“Gara-gara Abang aku gak masuk sekolah hari ini. Emangnya Abang beli pembalut di mana, sih tadi?”


“Di Paris. Tadi tuh pesawatnya delay, jadi lama,” Jawabnya enteng sambil mengunyah makanannya.


“Abang tuh kalau ditanya, jawabnya gak pernah bener.”


“Abisnya kamu nyalahin Abang Mulu, sih. Oh, ya. Jangan lupa ganti pembalut tiap empat jam sekali, ya biar gak iritasi. Abang baca di google tadi.”


“Udah dong Bang, Jangan ngomongin itu Mulu. Kita lagi makan, nih.”


“Habiskan makananmu. Abang udah selesai.” Dia berdiri lalu membawa piring dan gelas kotor ke dapur. Di pintu dapur, dia berhenti karena mendengar pembicaraan para ART yang tengah bekerja sambil bergosip. Ternyata benar kata Maula. Mereka sering bergosip di dapur.


“Ehm, ehm ....”


Khayru melanjutkan langkahnya sambil berdehem. Dia berpura-pura tidak mendengar apa pun dan tidak menegur sedikit pun.


 


“Abang mandi dulu, ya. Abis itu kita jalan,” ucap Khayru saat melewati Maula yang masih duduk di kursi meja makan.


“Ke mana, Bang?”


Khayru tidak menghiraukan pertanyaan Maula. Dia cepat pergi ke kamarnya untuk mandi. Tak lama dia sudah rapi dan wangi.


 


“Brangkat, yuk.”


 


“Iya, tapi ke mana, Bang? Ini kan masih jam sekolah, kalau ada yang lihat aku gimana?”


 


“Kita Cuma mau ke rumah Pak Kyai.” Khayru menarik tangan Maula.


 


“Bukannya, jadwal pengajian itu besok, hari minggu?”


 


“Hari ini kita cuma ngobrol-ngobrol aja di pesantren.”


 


“Wah asik, di sana kan banyak santri cowok yang bening-bening,” gumamnya sambil cekikikan. Matanya berbinar-binar seperti emak-emak yang nemu uang receh di saku celana suaminya.

__ADS_1


 


“Apa!? Kita ke sana bukan untuk tebar pesona, loh.” Seketika Khayru berhenti. “Ambil jilbab dulu di kamar Abang tunggu di sini.”


 


“Abang apaan, sih? Kalau pake jilbab, rambutku bisa lepek dan bau keringat.” Maula menyibak rambutnya seperti gaya iklan shampo di tv. Dia ingin memperlihatkan betapa indahnya rambut yang ia miliki.


 


Khayru menarik sebuah taplak meja yang ada di ruang tamu.


 


“Ini apa namanya?”


 


“Itu taplak meja. Kenapa emang?”


 


“Mau gak kalau Abang pakein ini di kepala kamu?”


“Ck ....” Maula berdecak sambil mengerutkan bibirnya. Dia memang tidak pernah bisa menolak perintah Khayru.


To be continue ....


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2