Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 78


__ADS_3

Dengan mengerahkan sejuta jurus kesabaran melawan kemacetan, akhirnya Maula tiba di halaman bandara, meski bagian terbesar dari kesadarannya hampir hilang entah ke mana. Mengemudi seperti orang gila, menghantam sebuah mobil pun dia tetap mati rasa. Dia hanya fokus untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Memburu napas yang terus berkejaran. Mengembalikan kekuatan tubuh karena seluruh tulang-tulangnya seakan menjadi lunak bagai mendapat 100 pukulan yang bertubi-tubi.


Matanya terbelalak saat menyadari mobil yang baru saja ia hantam, ternyata mobil yang menjadi sasaran pengejaran. Dan ia bernapas lega sambil keluar dari mobilnya. Begitu pun dengan pemilik mobil di depannya yang berhenti mendadak sebelum memasuki area parkir, karena mobil miliknya baru saja mendapat benturan.


“Waduh ... waduh! Kena lagi nih mobil! Gak depan gak belakang, hantam teruuus. Bengkel lagi, bengkel lagi. Bakal jadi apa nanti mobilku, Ya ... Tuhaaaannn!”


Meskipun dia menyadari saat perlahan Maula keluar dari mobil yang dikendarainya, mulut Khayru tidak berhenti Nyap Nyap, demi mobilnya yang rusak untuk kedua kalinya. Dia terus mendenguskan napasnya dari hidung sambil menyentuh bagian-bagian mobil yang rusak.


Menyadari kehadirannya tak mendapat perhatian, Maula meraung seperti anak kecil sambil menggelosorkan tubuhnya di samping mobil Dandi. Ini juga sebagai bentuk kelegaan karena akhirnya bisa menghentikan kepergian Khayru.


Mendengar tangisan Maula, Khayru pun segera menghampiri lalu berjongkok di depannya.


“Kamu ngapain tiba-tiba ada di sini?” tanyanya pelan sambil menurunkan tangan Maula yang menutupi wajahnya. “Ngapain?”


Tangis Maula semakin keras, mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya.


“Eh eh! Pake nangis lagi. Stop! Orang-orang pada datang nonton kamu.”


“Sudah, sudah, jangan nangis lagi, malu,” bisiknya sambil menarik Maula dan memeluknya. Sementara itu, Khayru juga berusaha meyakinkan orang-orang bahwa Maula tidak apa-apa.


“Gak apa-apa, pak, bu. Istri saya sedang sakit gigi, gak tahan katanya.”


“Jangan khawatir, saya akan membawanya ke dokter.”


“Maaf, sudah mengganggu kenyamanannya.”


“Maaf ... maaf.” Sambil manggut dan tersenyum ramah pada mereka.


Lalu, ia kembali berbisik. “Kamu mau kemana, sih? Ampe nabrak-nabrak mobil orang?” Sambil melepas pelukan lalu menatap jam tangannya. “Abang gak bisa nganter kamu, ya, Abang buru-buru, nih.”


Maula kembali memeluk Khayru sambil terisak. “Abang mau ke mana? Aku belum jawab lamaran, tapi Abang langsung pergi-pergi aja.” Tangannya mengepal sambil memukul punggung Khayru.


“Tapi Abang harus masuk sekarang, Dek.” Matanya memandang ke area pintu kedatangan internasional di mana ayahnya akan tiba siang ini.


“Kemarin aku bilang, tunggu. Aku akan memikirkannya dulu. Sekarang aku terima lamaran Abang, jadi gak usah pergi ke mana-mana. Kita nikah lagi.” Wajah Maula masih tenggelam di dada pria itu dan tangisnya pun belum reda.


Khayru mengulum senyum sambil menahan napas. “Nikah? Beneran mau nikah?”


Maula mengangguk dengan cepat.


“Bersedia meyakinkan pak Kiai?”


Kali ini Maula mendongak. “Caranya?”


“Ya kamu bilang aja kalau kamu cuma mau menghabiskan sisa umurmu bersama abang. Cuma mau jadi ibu dari anak-anak abang karena cuma Abang yang ada di hati kamu. Bisa?”


“Tapi gak maksa,” lanjutnya ketika dia lihat Maula masih berpikir.

__ADS_1


“Bisa... ayo ke rumah pak Kiai sekarang juga,” ajaknya memelas.


Khayru tersenyum sambil menyentil lengkungan kerudung di kepala Maula hingga tegak sempurna. “Semalam Abang sudah janji pada pak Kiai untuk tidak nyentuh kamu. Jadi lepasin dulu.” Sambil menjauhkan tubuh Maula.


“Tapi jangan pergi.” Tangan Maula masih berusaha meraih tubuh Khayru.


“Ini gara-gara si Aldi yang bilang kalau kamar kita deketan, Abang di suruh pindah lagi ke rumah pak Kiai. Setelah nikah resmi, baru kita tinggal bersama,” terangnya.


“Jangan lama-lama di rumah pa Kiai.” Kini mereka tak bersentuhan lagi.


“Tergantung kamu. Bersedia nikah cepat atau masih mau ngulur waktu? Mau nolak juga gak apa-apa. Kamu bilang sendiri aja sama pak Kiai. Abang tinggal pulang ke Maroko kalau gak jadi nikah.” Sepertinya, ada modus di balik ucapannya.


Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui, itu kata pepatah. Atau ....


Sambil menyelam minum air, mungkin. Hha!


“Aku? Kenapa harus aku? Memangnya cuma aku aja yang mau banget nikah? Abang enggak?”


Maula pikir, ternyata perasaan Khayru terhadapnya biasa saja karena dia tidak turut memperjuangan dirinya di depan pak Kiai. Spontan pria itu tergelak mengingat dirinya yang bahkan sudah bertekad bulat di hadapan Kiai untuk tetap menikahinya sekalipun Maula tak kunjung menjawab lamaran. Meskipun hatinya sedikit ragu karena Maula semakin terlihat dekat dengan dosen muda itu, Khayru akan tetap memaksa untuk menikah karena dia tidak mau meninggalkannya.


Khayru tak menyangka akan mendapat respon secepat ini. Tentang pengakuan Maula yang benar-benar tidak ingin dirinya pergi. Dan, ternyata tidak perlu usaha yang keras untuk membujuk dan mengajak Maula menikah lagi, seperti bayangannya selama ini.


“Abang sudah mengerahkan segala cara yang Abang bisa. Giliran kamu yang harus meyakinkannya.”


“Sealin itu ....”


“Setelah nikah... kita harus buru-buru cetak anak. Paling enggak, kita maksimalkan usaha supaya bisa bikin kamu cepat hamil.” Lagi-lagi modus terselubung itu keluar dari mulutnya. Tanpa malu-malu.


“Ish... belum apa-apa udah ngomongin project bikin aku hamil?” Wajah merah Maula semakin mengkerut dan berasa mengecil.


Melihat reaksi Maula, Khayru tertawa. Dia berdalih seandainya pernikahannya nanti masih berjalan seperti dulu, mereka semua akan berpikir jika pernikahan ulangnya ini sangat tidak sehat, tidak normal seperti yang lainnya.


“Karena dari sebuah pernikahan kita harus mendapatkan sebuah kepuasan batin, dan mendapatkan keturunan yang baik itu merup—”


“Aku tau, aku tau... tapi gak usah bahas di sini juga kali.” Maula segera memotong ucapannya. Matanya berputar memandang sekeliling yang cukup sibuk dengan lalu lalang manusia yang keluar masuk bergantian. “Sampai kapan kita akan berdiri di sini? Udah sore banget ini.”


“Bentar,” ucapnya sambil mengeluarkan hand phone karena merasa perlu memanggil orang kantor untuk membawa pulang mobil Dandi dari bandara. Namun, saat ia lihat sebuah pesan singkat dari ayahnya, ia baru teringat tujuan awal datang ke bandara.


[Ru, ayah sudah tiba di bandara. Tolong jemput setelah kamu selesai kerja] pesan singkat dari ayahnya satu jam yang lalu.


“Astahfirullah! Maafkan aku ayah.” Dia bergumam sambil berusaha menghubungi ayahnya. Sebelum panggilan itu diterima, dia melirik Maula.


“Ikut Abang,” ucapnya sambil lari memasuki terminal 3.


“Ikut ke mana?!”


“Ikut saja! Jangan lupa, mukanya dirapikan dulu sebelum ketemu calon mertua.”

__ADS_1


Telepon Khayru tak kunjung mendapat jawaban karena sepertinya, hand phone sang ayah tengah kehabisan daya. Setelah berkeliling, mencarinya, ia ditemukan tengah duduk di salah satu charging point area dan segera berdiri saat melihat Khayru berlari ke arahnya diikuti Maula dari belakang.


“Ayah! Maaf, ayah aku telat.” Khayru memberi pelukan pada sang ayah yang menyempatkan datang hanya untuk melakukan lamaran untuknya.


“Maaf nunggu terlalu lama.” Sambil melepas pelukan. Namun, tangannya masih memegangi pundak yang tak lagi kokoh itu. “Gimana kabar Ayah? Sehat?” Dia memindai raga sang ayah dari kepala hingga kaki untuk memastikan keadaanya.


“Sehat dong.” Sambil menunjukkan otot tangan, layaknya gerakan sang binaragawan di layar televisi, disusul tawa menggelegar dari keduanya.


Tuan Omar baru menyadari keberadaan seorang gadis yang tersenyum ke arahnya sambil menunggu Khayru memperkenalkannya. Dia hanya membungkuk setiap kali matanya beradu pandang.


“Itu ...? Siapa Ru?” Dia menatap Khayru dan Maula bergantian.


“Oh iya. Ini Maula, Ayah.”


“Maula?” Dia ingin tahu siapa Maula.


“Abnuh qanuniana(menantu) Ayah,” terangnya.


“Abnuh qanuniana? Masyaallah. Jamilah. Ya Jamilah ...,”(Menantu? MasyaAllah. Cantik. Hay Cantik...) gumamnya sambil menyentuh pundak Maula. Berulang kali menganggukkan wajahnya karena kagum akan kecantikan sang menantu.


“Bukan Jamilah ayah, tapi Maula.” Sambil meringis karena sang mertua berulang kali menyebut nama Jamilah. Dia tidak tahu jika dalam bahasa Indonesia artinya 'cantik'.


Spontan Khayru tertawa dan malah menyarankan pada ayahnya untuk memanggil dia 'Jamilah' saja.


“Ayah benar. Panggil dia Jamilah.”


“Abang... aku bukan Jamilah, Bang. Gak keren namanya,” bisik Maula seraya menarik-narik jas Khayru bagian belakang.


“Itu panggilan dari mertua. Jangan menolak, gak sopan.”


“Aa ahh ... Abang,” gumamnya tak terima, tapi mendengar kata mertua, dia benar-benar harus menurut apa katanya.


“Iya, karena Jamilah cocok dengan wajahnya.” Tuan Omar ikut tertawa heran. Tidak tahu kenapa menantunya keberatan dengan panggilan itu?


Selamanya Meraka menjadi menantu dan mertua, sejak Khayru menikahinya hampir tiga belas tahun yang lalu, tapi dalam kurun waktu itu, ini adalah kali pertama mereka bertatap muka.


“Nak, kalian sudah yakin dengan keputusan ini?” tanya Tuan Omar dalam perjalanan pulang, sambil menatap Khayru yang tengah mengemudi lalu melirik ke belakang—tempat Maula duduk saat ini.


Mereka berdua menjawab kompak dengan anggukan.


“Jangan buat ayah menyesal karena sudah jauh-jauh datang dari Maroko.”


Khayru melirik sekilas ke arah Maula, dan lagi-lagi mereka mengangguk di waktu bersamaan.


Tuan Omar kembali menyandarkan punggungnya sambil menghela napas lega dengan pandangan lurus ke depan.


To Be Continued....

__ADS_1


__ADS_2