
Penghulu sudah memperbolehkan Khayru untuk bertemu dengan mempelai wanita dan membawanya guna menandatangi beberapa dokumen, terkait akta nikah. Bisa saja dia meminta seseorang untuk membawanya ke ruangan ini, tetapi dia memilih untuk menjemputnya sendiri daripada harus duduk menunggu.
“Saya akan membawanya ke sini,” ucapnya bersemangat. Ia pun bergegas menuju sebuah ruangan. Layaknya Maula yang memiliki pengiring pengantin wanita, Khayru pun digiring para groomsmen yang berjalan di belakangnya. Nampak sangat dramatis, ketika pengantin pria menjemput pengantin wanita.
Dari kejauhan, dia tersenyum melihat istri yang baru ia nikahi, yang juga tengah berdiri menatapnya. Semua orang sudah bisa menerka jika dia akan langsung menggenggam tangannya, atau mencium keningnya, lebih mengharukan lagi jika dia memeluknya.
Namun, setelah saling berhadapan, Khayru hanya mengerutkan kening sambil menatap kiri dan kanan. Bahkan dia menatap jauh ke depan, mencari sesuatu dan mengabaikan keberadaan Maula yang belum berhenti tersenyum padanya.
“Katia! Di mana kamu menyembunyikan istri kecilku?”
“Re! Nik! Kalian juga tidak melihat istriku?” Sambil memandangnya bergantian.
“Sebesar dan sedekat ini, masih tidak terlihat?” Maula menunjuk dirinya sendiri sambil memainkan mata genit.
“Kamu siapa? Maaf, saya sudah beristri, jadi jangan coba-coba menggoda.”
Seketika Maula mengerutkan kening. Tiba-tiba teringat dengan make up di wajahnya yang mungkin sangat buruk.
“Aku sangat jelek, ya? Bentar aku hapus dulu makeupnya.” Sambil memutar badan.
Semua orang tahu, Khayru tengah menggoda Maula yang tampil sangat berbeda dari kesehariannya. Make up ala timur tengah, yang fokus mempertajam area matanya yang sipit menjadi begitu bulat memesona. Dengan Eyeliner dramatis serta bulu mata yang lentik, biasanya sangat akrab terlihat di wajah para wanita Arab, kini nampak di wajah Maula. Garis hidung yang mancung serta overdraw di bagian bibir membuat benda merah dengan sentuhan nude dan glossy, terkesan penuh, dengan gradasi warna yang menakjubkan.
Reaksi Khayru yang berpura-pura tidak mengenalinya hanya sebuah ungkapan yang jika diartikan, betapa Maula hari ini tampil sangat berbeda, benar-benar pengantin tercantik yang ada di dunia. Tentu saja jika dilihat oleh suaminya.
Dia tertawa seraya meraih tangan Maula. “Ngapain dihapus? Abang belum puas.” Sambil menatap dan menyentuh kedua pipinya. “Ayolah kita selesaikan sekarang, biar bisa cepat duduk di pelaminan.” Matanya menunjuk sikut supaya Maula melingkarkan tangannya di sana.
Setelah selesai menandatangani form yang diminta petugas, Khayru memakaikan cincin baru di jari manis Maula, begitu pun sebaliknya. Adegan seperti ini, paling sering mereka lihat, karena itu Maula sudah tahu apa yang harus dia lakukan yaitu mencium tangan suaminya dan disambut Khayru dengan ciuman di keningnya. Lalu, meraih ubun-ubun Maula sambil membisikkan sebaris doa untuknya.
“Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”
(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya)
Ucapan 'Aamiin' dari bibir Maula bersamaan dengan tatapan mata yang sudah memerah. Dan tiba-tiba dia memeluk suaminya ketika air mata mulai merabas tak tertahan.
“Kok, nangis, sih? Gak senang, ya?” Sambil mengusap kepalanya.
“Kalau make up-nya luntur, gimana?”
Maula tak juga berhenti menangis, padahal banyak orang yang ingin menyalami dan memberi selamat atas pernikahan mereka. Kali ini, ia tak dapat menahan perasaannya lagi. Hanya ingin menangis di pelukan suaminya. Tak peduli jika air mata itu habis membasuh riasan di wajahnya.
“Ya sudahlah, nangis aja, tapi abis itu kita ganti baju. Kita sudah ditunggu di ruang ganti,” bisiknya. “Kita juga belum unjuk cincin sama buku nikah di depan kamera,” kelakarnya sambil tertawa.
Para tamu sudah dipersilakan menuju gedung resepsi, sementara pengantin tengah berganti pakaian dan mengambil beberapa sesi foto dan video.
Sekali lagi othor beritahukan bahwa acara ini terbuka untuk umum, siapa pun bisa datang meski tak ada undangan. Mari, Othor kasih tahu jalan masuk.
Lewat sini ⬇️
__ADS_1
Note : All pictures are taken from pinterest.
Tamu wanita dan pria harap duduk terpisah. Sebelah kanan untuk wanita, kiri untuk kaum pria. Berhubung pengantin wanita sangat menyukai air, kalian hanya akan mendengar suara gemericik air di ruangan ini. Jadi mohon maaf tak ada musik atau pun hiburan lainnya. Sekian dan terima gaji, UPS!Terima kasih ✌️😋. Acara saya kembalikan pada Billy.
Setelah satu jam, akhirnya mereka selesai berganti kostum. Turun melalui tangga yang dihiasi ribuan bunga, lalu berdiri menyalami tamu, lagi-lagi tak lepas dari sesi foto. Sudah dipastikan semua hadir di acara ini, diabadikan dalam sebuah foto. Rangkaian acara yang berlangsung hingga pukul 01.00 siang ini, seluruhnya terekam dalam sebuah video panjang.
“Cuma tiga jam doang kan, berdiri di sini?” tanya Maula sembari menyalami deretan tamu-tamu yang kian lama, kian memanjang.
“Iya, tiga jam doang. Ngapain lama-lama di sini. Mending di rumah dong, bisa bobo bareng di kamar.” Jawaban yang ia bisikkan di telinga Maula membuat gadis itu mengernyit.
“Bobo... bareng?” gumamnya. “Ngebayanginnya aja aku langsung gerah.”
“Emang gerah. Sekarang aja udah keringetan, gimana nanti, huuuh....” Sambil menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kasar. Dia lakukan berkali-kali.
“Abang kenapa?” Maula mendongak sambil menatapnya dalam-dalam.
Pikiran Maula sampai berkelana ke alam bawah sadar, demi mengartikan kata-kata itu. Jika hanya tidur bersama, itu bukanlah hal yang aneh buat mereka. Namun, ketika tidur sepasang suami istri akan sangat menguras tenaga, konotasinya pasti berbeda.
“Kan udah boleh kata pak Kiai,” bisiknya lagi, membuat Maula kembali fokus pada para tamu. Dia pura-pura mengacuhkan ucapan Khayru dan tetap menebar senyuman se ramah mungkin.
“Bener, gak?”
Maula tak kunjung menjawabnya. Ia malah semakin ramah menyapa para tamu.
“Abang tanya, bener, gak?” Kali ini sambil menggerakkan sikutnya yang bersentuhan.
“Apa, sih, Bang dari tadi?”
“Abang tanya, bener, gak?” tegasnya sekali lagi.
“Aku harus jawab apa?” Sambil melirik sekilas.
“Jawab apa aja, asal jangan bilang terserah.”
“Oke. Abang lihat aku. Abis itu jangan tanya lagi.”
Setelah antrean sedikit renggang, Maula kembali mendongak, setelah Khayru membalas tatapannya, dia mengangguk sambil mengedipkan mata. Bukan sekadar anggukan dan kedipan mata. Namun, menyimpan sejuta makna.
“Yess!”
__ADS_1
Tamu yang datang satu per satu memberi ucapan selamat, ada yang menggoda sampai pipi keduanya merah merona ada yang begitu bijak memberikan wejangan terbaik dan doa-doa indah untuk memulai sebuah rumah tangga. Ada yang berteriak dengan keras hanya sekadar memberi semangat menghadapi malam yang sudah pasti akan terasa sangat panjang untuk pasangan pengantin baru.
“Gak sia-sia ya, temen kuliah kita ini. Nunggu ampe bulukan, ternyata dapetnya yang seger,” ucap seorang lelaki yang tengah menggendong anak lelakinya, datang bersama istrinya yang juga menuntun seorang anak perempuan.
“Kalau gak salah kan dulu pacarnya Iru, jauh banget di Kolombia,” timpal sang istri yang juga teman kuliahnya sekaligus psikiater yang sudah dikenal Maula selama satu tahun terakhir. Mungkin ini sebuah kebetulan.
“Nah, nah, nah... mulai. Gak usah sebut yang dulu-dulu di depan istri gue! Kalian berdua paling kompak kalau bikin usaha gue sia-sia,” ketusnya.
“Enggak!” kilah Arini. “Maksudku, gak nyangka aja kalau jodohnya ternyata orang serumah. Lebih deket dari telinga kamu sendiri, Ru. Hahaha....” Wanita itu meralat ucapannya.
“Abang, tenang aja. Aku gak penasaran sama pacar Abang yang dulu-dulu.” Sambil mengendikkan bahu. “Aku malah pengen nanya, sejak kapan Abang kenal sama dokter Arini?” Maula tidak pernah mengira jika psikiater yang menemaninya therapy, bisa begitu akrab dengan suaminya.
Sebelum mereka menjawab pertanyaan Maula, tiba-tiba Aldi datang bersama Katia, siap menambah huru hara dengan celotehan mereka yang tidak mengenal sensor.
“Sayang, kamu yang jelasin sama istrinya Khayru, siapa kita sebenarnya.” Tristan menunjuk sofa supaya dr. Arini bersama Maula dan Katia duduk di sana.
“Aku perlu mengajari mereka strategi malam pertama yang jitu, biar duo pemalu ini....” Sambil menunjuk Khayru dan Aldi. “Gak malu-maluin di depan istrinya nanti,” selorohnya seraya menyerahkan anak lelaki ke pangkuan Arini.
“Wooyy! Siapa yang pemalu? Asem, lo!” Aldi meninju lengan Tristan.
“Pemalu, yang penting bukan tukang nyosor kaya lo. Hahaha ....” Khayru turut menekuk pundak Tristan hingga ia membungkuk dan terhuyung. Namun, akhirnya mereka tertawa.
Tamu silih berganti, tak terkecuali dr. Luthfie, meski saat lamaran, berhalangan datang, kali ini dia boyong istri beserta dua anak kembar dan juga bayi mungil yang dulu masih dalam kandungan Shasha.
“Kita udah makan, minum segala macem. Udah ngasih selamat juga, sekarang mau pamit pulang aja, dah. Udah siang,” ucap Luthfie setelah memberi ucapan selamat.
“Loh, mau ke mana? Aku belum gendong bayi kecil ini, masa mau pulang?” Maula mengulurkan tangannya ingin menyentuh bayi dalam gendongan Shasha.
“Kalian cepet bikin bayi juga. Yang lucu kayak kamu.” Shasha mencubit pipi Maula yang tiba-tiba mengerutkan wajahnya yang memerah.
“Siap!” jawab Khayru dengan cepat. “Aku siap, bikin anak.” Mengangguk dengan yakin.
“20 anak, 'kan, dek?” Khayru sedikit membungkuk karena ingin melihat wajah istrinya yang malu-malu. “Bikinnya siang apa malem? Siang malem aja kali ya.”
“Ish ihh... Abang. Malu, tau! Dari tadi yang diomongin cuma begituan.” Sambil menunduk, Maula menyikut tangan suaminya.
“Hahaha... Kamu lucu kalau lagi malu-malu.” Khayru malah melingkarkan tangannya di bahu Maula sambil menciumi kepalanya. “Pulang sekarang aja, yuk, Dek, bobo di rumah.” Stok malunya semakin lama semakin menipis. Dia tidak menghiraukan banyak orang yang menertawakannya.
Banyak sekali kejutan di hari bersejarah ini. Karena yang datang di luar undangan, benar-benar di luar dugaan. Siapa yang menyangka jika Cahyono akan datang bersama pa Darya, membuat Maula tertegun cukup lama.
“Ada apa dengan Cahyono? Sampe kamu terpesona begitu?” tanya Khayru pura-pura cemburu. “Kalian dah kenal lama?”
“Bang, emangnya dia beneran mas Cahyono? Aku rasa bukan, deh.”
“Kok, bilang gitu?”
“Setahu aku, mas Cahyono tinggi badannya setara sama Abang, lah ini kok sepantaran aku. Aneh.”
“Oh. Abang gak tau,” jawabnya singkat sambil memalingkan wajahnya.
Namun, belum terjawab kebingungan Maula tentang Cahyono, dia dikejutkan kembali dengan kedatangan seseorang yang juga tidak pernah terlintas dalam list undangan. Ketika tamu itu mulai mendekat, Khayru sengaja memeluk Maula sambil berbisik.
“Slow down, Beib...”
To Be Continued....
__ADS_1
__________
Alhamdulillah, masih dalam suasana Iedul Adha. Untuk semuanya yang masih setia membaca karya recehan ini, yang masih setia menunggu up meskipun novel ini tidak layak untuk ditunggu. Othor ucapkan terima kasih. Mohon maaf lahir dan batin untuk semua kesalahan, baik dalam tulisan yang kurang memuaskan maupun interaksi antara kita yang kurang berkenan. Sekali lagi, mohon dimaafkan 🙏