Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 61


__ADS_3

“Tibalah kita di penghujung acara, yaitu penyerahan penghargaan untuk siswa siswi paling berprestasi tahun ini, yang akan diserahkan oleh Bapak kepala sekolah kita tercinta. Waktu dan tempat kami persilakan.” Suara MC dari pengeras suara.


Kepala sekolah pun naik ke atas panggung dengan mengucap sedikit prakata sebelum memanggil dua orang siswa yang namanya sudah tertera dalam naskah yang ia bawa.


Siswa-siswi lulusan terbaik dari SMA CENDEKIA 1 tahun ini diraih oleh :




Ahsan Zuhairi




Maula Qiana Arifin




Dengan bangga, Bapak mempersilakan ananda Ahsan dan ananda Maula untuk naik ke atas panggung.


Seraya menatap sekeliling, Maula merasa sulit untuk percaya namanya dipanggil dengan hormat oleh kepala sekolah. Semua orang bertepuk tangan seraya tersenyum ke arahnya. Rere dan Nikita mendorongnya untuk maju dan naik ke atas panggung, bersanding dengan Ahsan untuk menerima sebuah penghargaan. Namun, matanya tetap tertuju ke arah pintu masuk.


Setelah selesai penyerahan piagam dan medali, MC meminta dua orang siswa pilihan itu untuk mengucap sepatah dua patah kata sebelum kembali ke tempat duduknya.


Riuhnya suara tepuk tangan membuat Maula semakin hilang ditelan kesunyian. Mencari dirinya sendiri di antara ribuan manusia yang menatap dengan sorotnya yang selit belit. Dia terhenyak saat MC menyerahkan microphone ke arahnya.


Wajahnya nampak bingung. Matanya mengulang pandangan ke arah pintu masuk yang tak juga memberi pemandangan yang berbeda. Setelah ia tarik napas, bibirnya yang nampak bergetar itu mulai mengeluarkan suaranya.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ....


Saya ucapkan terima kasih untuk pengatur waktu yang telah memberi saya kesempatan berdiri di tempat ini.


Bapak kepala sekolah, Ibu wali kelas kami tercinta dan seluruh jajaran staf pengajar juga semua pihak yang telah berperan sangat penting untuk kemajuan kami, khususnya untuk saya pribadi.


Alhamdulillah, berkat Rahmat Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang telah memberiku hidup serta nikmat yang melimpah. Mengirim malaikat-malaikat pilihannya yang sangat menyayangi dan mengasihi saya.


Jika saja Mama dan Papa saya masih berada di sini, akan saya persembahkan penghargaan terbaik ini untuk mereka ....


Maula mengangkat piagam yang baru ia terima dari kepala sekolah. Menatapnya sambil tersenyum miris.


Napas Maula mulai terasa sesak, akan tetapi masih ada sesuatu yang ingin dia keluarkan dari dalam hatinya.


Semoga Allah memberi penghargaan yang lebih indah dengan menempatkan mereka di dalam surga-Nya.


Terdengar ucapan 'Aamiin' yang bersahutan membuat Maula mengulas senyum bahagia.


Kalau boleh ... saya ingin titip rindu untuk seseorang yang pernah begitu dekat, lebih dekat dari sebuah bayangan yang tidak pernah meninggalkan saya. Selalu menyertai saya dalam doa-doanya. Terima kasih untuk ....

__ADS_1


Maula tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Dia segera memutar badan untuk menyembunyikan wajahnya yang mulai terisak.


Katia yang baru saja datang bersama Aldi segera menjemput Maula dari atas panggung. Memeluk dan mengusap punggungnya dengan lembut.


“Maafin, ya, Kakak datang terlambat. Tadi tuh ....” Ia memilih untuk tidak melanjutkan ucapannya karena alasan pekerjaan sepertinya sudah sangat bosan ia katakan.


Maula mengangguk tanda mengerti. “Gak papa. Aku gak apapa, hanya terbawa suasana saja.” Sambil tersenyum. “Makasih karena Kakak sudah berusaha datang.”


Katia mengusap pipi Maula yang basah, sambil berjalan menuju tempat Aldi yang tengah menelepon seseorang di tempat yang disediakan khusus untuk para tamu.


“Bro! Beneran tega Lo, ya.”


“Kenapa, Di?”


“Gue pikir, Lo bakalan datang. Setidaknya untuk hari ini aja, buat nyenengin hati Maula. Ucapin selamat, kek!”


“Bukan apa-apa, Di, gue gak mau merusak kebahagiaan Maula di hari kelulusannya ini.”


“Akh ... gak ngerti gue sama jalan pikiran Lo.” Aldi saja merasakan sakit hati karena tak tega melihat Maula menangis di atas panggung, kenapa Khayru terlihat biasa saja selama ini. “Maula nangis di atas panggung, Ru. Mungkin saja dia berharap Lo datang menggantikan orang tuanya.”


“Apa dia masih nangis, Di? Tolong suruh dia berhenti.” Saat itu juga, Khayru menutup teleponnya.


Maafin Abang, Dek. Kamu harus kuat, harus tegar. Karena saat kita bertemu lagi nanti, kita adalah dua orang asing yang tak memiliki ikatan yang berarti. Menjadi dua orang yang tak bisa lagi saling bergantung.


Kamu pasti bertanya, apa Abang bisa melakukannya? Jawabannya tentu saja 'Tidak' tapi, harus. Berdamailah dengan orang-orang di sekelilingmu. Mereka akan memberimu banyak pengalaman hidup. Pelajaran hidup yang tidak bisa kamu lihat hanya dari sudut pandangmu saja. Duniamu sangat luas. Di matamu bukan hanya ada Abang dengan problematika yang itu-itu saja.


Apapun tujuan kita untuk menjauh, Abang ucapkan selamat. Kamu telah berhasil melewati satu fase dalam hidupmu.





Dari dalam bangunan bernuansa rumah kaca ala Eropa ini, selalu terdengar suara musik yang lembut, memberi kenyamanan bagi siapa pun yang duduk di sana. Cukup ramai karena posisi yang sangat strategis, membuat kafe itu selalu terlihat sibuk melayani pengunjung.



“Dek, makasih buat chicken finger-nya hari ini, ya. Kakak harus buru-buru balik ke kantor, Nih.” Katia bangkit dari tempat duduk sambil menatap jam tangan yang menandakan bahwa waktu istirahatnya sudah habis. Begitu pun dengan Aldi, dia melakukan hal yang sama.



“La, kamu di sini cuma bantuin Rere doang, loh. Jangan terlalu sibuk juga. Fokus sama kuliah kamu dulu,” pesan Aldi karena dia lihat, Maula terlalu menikmati pekerjaan sebagai pelayan kafe.



“Siap, Om. Bentar lagi Rere dan Nikita dateng, kok. Di dalam juga ada Mas Dandi--teman Om yang multi talented itu,” ucapnya sambil menunjuk dengan jempolnya. “Lagian di pojokan sana, laptop aku kan always stand by. Aku sambil belajar pastinya.”



Aldi mengacungkan dua jempol tangannya sambil mengerling. Dan Maula mengulas senyum saat perlahan mereka berlalu dari hadapannya.

__ADS_1



Tiba-tiba, ia menepuk keningnya sendiri saat matanya tak sengaja melihat sosok lelaki tuna wisma yang sering berkeliaran di depan sana.



“Ya Allah. Aku lupa ngasih dia makan hari ini.” Maula segera pergi ke pantry untuk membawa sedikit makanan lalu memberikannya secara langsung. Lepas itu, ia duduk di kursi bagian depan dengan laptop yang masih on di atas meja. Dari kejauhan dia lihat lelaki itu tengah menyantap makanan dengan suka cita sambil melirik ke arahnya lalu mengangguk dan tersenyum.



Setelah membalas senyumannya, Maula kenakan earphone yang sudah melingkar di lehernya sedari tadi, lalu memejamkan mata sambil menyender ke sandaran kursi yang menempel ke dinding. Hampir tertidur. Hingga seorang lelaki tampan memanggil namanya.



“Eh ... Pak Pram.” Maula menjadi salah tingkah karena dosen pembimbing sekaligus Kakaknya Nikita yang sempat ia temui di acara wisuda, tiba-tiba ada di hadapannya. Ia lepaskan kembali earphone dari telinganya sambil memaksa bibirnya untuk senyum.



“Saya di sini sebagai Kakaknya Nikita, bukan sebagai dosen pembimbing. Jangan panggil, Pak. Saya belum belum terlalu tua,” seloroh lelaki itu sambil menggaruk pelipisnya, lalu duduk di hadapan Maula.



“Saya boleh duduk di sini, kan?”



“Silakan, Pak, eh ... Kak,” ralatnya. “Rere dan Nikita, bentar lagi datang, kok.”



“Jam kuliah mereka barengan, ya?”



“Ya, karena mereka ada di fakultas yang sama, Kak.”



“Emang, sih, mereka itu dari kecil susah banget dipisahin.” Pram nama panggilan dari Pram Iswary Ananta. Dia mengenal Rere karena dia sudah berteman dengan Nikita sejak dia kecil.



Mata Maula nampak berbinar karena tertarik dengan cerita persahabatan Nikita dan Rere yang sudah berlangsung begitu lama.



Rere yang baru saja datang bersama Nikita, langsung membekap mulut Kakak dari temannya itu tanpa malu-malu. “Ngomongin aku, ya? Awas aja kalau bongkar-bongkar aibku. Ta jewer kupingmu, Kak,” cibir Rere.



Mereka tertawa saat Pram bilang akan sering datang dan bercerita saat mereka berdua tidak ada di sana. Sementara Maula hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1



To Be Continued ....


__ADS_2