Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 83


__ADS_3

“Lupa gimana? Orang dari tadi saya lihat berkali-kali, cincinnya ada, kok.”


“Coba cek di saku, siapa tahu lepas dari kotaknya waktu dikeluarin.”


“Mana ada? Udah aku cek.” Sambil menunjukkan saku jas dan saku celananya hingga kain dalam saku menjulur keluar seluruhnya.


Nikita mendelik sambil mengangkat bahunya. “Aku duduk saja, ya. Kalau sudah ketemu cincinnya, aku naik lagi.” Sambil berjalan ke tempat duduknya di sebelah Rere.


“Oke, Nikita. Silakan duduk dulu. Jangan jauh-jauh, tetap di situ,


kita belum tukeran nomor handphone soalnya,” seloroh Billy sebelum kembali fokus dengan cincin yang hilang. Dia bantu mencari di sekitar tempat mereka berdiri saat ini.


“Sepertinya....” Maula mengarahkan telunjukknya ke arah kiri sambil menggerak-gerakkannya. “Tadi aku denger suara benda yang jatuh sebelah sana.”


Khayru segera membungkuk ke sudut paling kiri, menggeser pas bunga sedap malam bahkan berjongkok mencarinya di bagian bawah karpet.


“Di sini bukan? Sepertinya gak ada.”


“Sebelah sini, sebelah sini!” Maula turut membungkuk seraya mendekatkan telunjuknya supaya Khayru mengikutinya kemana pun telunjuknya bergerak.


“Gak ada juga,” ucapnya sambil kembali berdiri tegak.


“Hmm, tapi ... tadi aku juga lihat ada sesuatu menggelinding ke arah sana.” Maula kembali menunjuk dengan jarinya ke arah kanan. “Di sana, Bang. Lihat, Bang!”


Tanpa berpikir panjang, Khayru segera pindah ke sebelah kanan yang juga terdapat pas bunga sedap malam yang menebarkan wangi khas pengantin. Dia melakukan hal yang sama hingga mengikuti gerakan tangan Maula yang menunjuk ke berbagai sudut di sekitar itu. Namun, hasilnya tetap Nihil.


“Udahlah. Nanti abang beli lagi cincinnya, besok abang bawa ke sini.” Sambil memegangi pinggangnya yang mulai panas karena terlalu lama berjongkok dan membungkuk.


“Model cincinnya kaya gimana, sih, Bang?” tanyanya sambil menatap telunjuk yang dia angkat sambil digerak-gerakannya.


Saat itu juga, Khayru menyadari cincin yang dia cari ternyata sudah berada di jari telunjuk Maula. Bahkan dari tadi Maula sengaja menunjuk ke semua arah dengan telunjuknya itu.


“Haaiisshh!!” Dia sudah bersiap untuk menarik kedua pipi Maula, tapi gadis itu segera bersembunyi di balik punggung Billy sambil terkekeh.


Beberapa hadirin hanya menggelengkan kepala sambil berdecak. Ada yang terkekeh, ada juga yang tergelak seperti Aldi.


“Kena, lo, ye dikerjain calon bini!” teriak Aldi yang duduk bersebelahan dengan Dandi dan Pram, di deretan kedua.


“Hahaha ... lucu, lucu ... kalian lebih gokil dari saya ternyata.” Billy turut menertawakannya. “Pasangan kaya gini, nih, yang saya suka. Rumah tangganya nanti pasti seru. Siap-siap, nanti saya intip ya, Mas.” Masih melanjutkan tawanya sambil tepuk tangan.


“Ini kurang seru, Mas, Billy. Belum apa-apa, pinggang Abang udah kepanasan. Aku mau ngerjain Abang lebih lama tadinya, tapi kok, jadi gak tega kalau dia kesakitan, Hahaha ....”


“Astaghfitullah! Calon istri macam apa ini? Lihat nanti, ya, abang pasti balas.” Sambil mengangkat telunjuknya. “Nanti! Ingat!” ancamnya.


“Kapan?” Sambil keluar dari balik punggung Billy.


“Besok lusa, setelah nikah.”


“Oke... Aku tunggu,” tantangnya sambil memindahkan cincin dari telunjuk ke jari manis sebelah kiri. “Nih, cincinnya udah kupake. Aku pake sendiri deh, biar gak nyusahin orang, heheh...”


“Haha ... Cincinnya dia pake sendiri. Ini namanya lamaran paling tidak romantis di dunia.” Khayru tertawa sambil menutup mulutnya.


“Mau romantis gimana? Cincin aja cuma satu. Gak ada pasangannya gitu?”


“Biar gak kebanyakan. Besok kan masih ada cincin kawin, yang itu baru sepasang.”


“Ya gak apa-apa, dong, banyak cincinnya, biar bisa aku jual lagi nanti buat beli skin care.” Sambil memandangi cincin di tangannya.

__ADS_1


Sebelum Maula mengatakan hal yang lebih aneh, Khayru segera merapikan pakaian dan meminta Maula merapikan pakaiannya juga, karena terlihat berantakan setalah banyak bergerak. Dia ingin melakukan sesi foto sebelum acara ditutup dengan doa dari pak Kiai.


“Semuanya, mohon dimaafkan. Calon istri saya ini kalau lagi bahagia emang begitu, sedikit memalukan, tapi ... jujur, itu bikin saya gak bisa berjauhan dengannya.”


Ucapan Khayru membuat Maula menyikut lengannya sambil menunduk malu.


“Doakan supaya saya bisa selalu membuatnya bahagia, supaya dia selalu ceria,” ucapnya sambil melirik sekilas ke arah Maula lalu tersenyum.


“Abang, ngomongnya biasa aja,” bisik Maula sambil menunduk.


Khayru memutar badannya menghadap Maula. “Terima kasih karena mau menerima abang lagi, juga lamaran ini.”


Maula masih menunduk sambil menarik ujung jas yang dikenakan Khayru. “Jangan bikin aku nangis sekarang. Aku gak mau nangis, Bang,” bisiknya.


“Bicaralah sedikit sebelum kita tutup acaranya.”


Maula menggeleng, masih menundukkan kepalanya karena ucapan Khayru membuatnya terharu.


“Sedikit aja,” bujuk Khayru, lalu mereka berdua sama-sama menghadap ke depan.


Maula mulai mengangkat wajahnya. “Terima kasih karena Abang sudah kembali ke sisiku dan memilih untuk menghabiskan sisa hidup bersamaku. Aku tak memiliki siapa pun di dunia ini, tapi aku memiliki segalanya karena Abang selalu ada untukku.”


“Cukup,” bisik Khayru ketika ia lihat Maula mulai kesulitan menahan sesuatu yang ingin tumpah lewat mata indahnya.


“Terima kasih untuk semuanya yang sudah mendoakan kebahagian kami,” pungkas Maula sambil tersenyum lalu menatap Khayru sambil mengangguk pelan.


Acara pun ditutup. Setelah sesi ramah tamah, pihak keluarga disiapkan kamar tamu untuk beristirahat, Sementara Khayru akan segera kembali ke rumah pak Kiai, sampai dengan hari pernikahan tiba.


“Titip saudara-saudara Abang di rumah ini, ya. Besok mereka akan ikut pengajian juga,” pesan Khayru saat Maula mengantarnya di depan teras.


“Saudara Abang kan saudaraku juga. Aku senang mereka ada di sini, meskipun aku tak tau harus ngomong apa sama mereka. Aku cuma bisa bilang... Ahlan wa Sahlan!” Sambil nyengir seperti kuda.


“Udah malem, Abang pulang aja sana. Aku mau istirahat.”


“Capek, ya?”


Maula mengangguk.


“Maaf, karena acara berturut-turut tanpa jeda, sampe bikin kamu lelah.”


“Makanya di resepsi nanti, gak usah bikin acara yang aneh-aneh. Setelah akad nikah, menyalami tamu, Abis itu aku mau banyakin istirahat.”


“Pernikahan impiannya gimana?” Khayru mengangkat alisnya.


“Gak ada. Aku gak punya impian sama sekali.” Sambil menggeleng.


“Seandainya... waktu bisa kembali ke masa sebelas tahun yang lalu, aku hanya ingin hadir di Maroko. Menyaksikan dan mendengar suara Papa saat dia menjadi wali dalam pernikahanku. Itu saja.”


Impian yang sulit untuk diwujudkan. Batin Khayru sambil menghela napas. Maaf.


Selepas Khayru kembali bersama Kiai dan Umi Khadijah, Maula kembali ke kamar. Membersihkan diri lalu berbaring di tempat tidur. Berada di tengah dua sahabatnya yang belum terlihat tanda-tanda mengantuk di wajahnya. Rere memutar badannya menghadap Maula hanya untuk membahas keisengan dua temannya yang menghilangkan cincin dari dalam kotak, lalu mereka tertawa.


“Tadi tuh spontan. Sebenarnya gak ada niat buat ngerjain Abang. Hahaha....”


“Halahh... emang dasarnya kamu suka jahil aja orangnya. Gak bisa lihat kesempatan dikit, keluar deh aslinya.”


Obrolan berlanjut hingga nama Dandi disebut Maula karena ekspresi lelaki itu yang tiba-tiba berubah saat Billy mulai melontarkan kata-kata rayuan pada Nikita. Maula hanya penasaran, apa yang sudah terjadi di antara mereka sebenarnya. Namun, Nikita sama sekali tak ingin membahasnya. Dia lebih memilih untuk tidur karena besok masih harus menyiapkan banyak acara.

__ADS_1




Untuk acara siraman dan pengajian, dekorasi sudah berganti dengan nuansa putih yang netral. Bunga-bunga dengan warna senada, melambangkan kesederhanaan dan ketenangan. Acara berjalan sebagaimana mestinya. Hanya satu sesi yang nampak tidak biasa, yaitu adegan di mana calon pengantin harus melakukan sungkem pada kedua orang tua. Meminta izin, doa juga restu sebagaimana yang dilakukan calon pengantin lainnya. sementara dia tetap bersimpuh sambil mengucapkan sepatah dua patah kalimat sebagai ungkapan isi hatinya.



Maula tidak memiliki paman, bibi, kakek, nenek atau pun kakak yang bisa menggantikan orang tuanya, sehingga dia biarkan kursi itu kosong.



Dia membacakan surah Al-fatihah dan sebait doa untuk kedua orangtuanya. Tanpa menunjukkan wajah sedih karena dia sudah berjanji untuk tidak menangis.



(Alfatihah)



*Robbanaghfirlii waliwalidayya walilmu'miniina yauma yaquumul hi.saab*.



"*Ya Rabb kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)." (QS. Surat Ibrahim: 41*)



*Aamiin*....



*Ma... Pa*...


*Adek gak tau, kalian bisa dengar atau tidak. Karena kalian mungkin sudah bahagia di syurga. Adek juga tidak tau, kalian bisa lihat atau tidak, saat adek duduk bersimpuh, untuk mencium tangan kalian lalu mengucapkan beberapa patah kata*.



*Izinkan Adek memohon doa restu untuk memulai sebuah rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warohmah*. *Bersama Abang, laki-laki terbaik nomor 2*.



*Doakan Adek, kelak bisa menjadi seorang istri dan ibu, seperti Mama. Bisa melahirkan keturunan-keturunan yang saleh dan salehah seperti nenek dan kakeknya*.



*Semoga setiap doa yang Adek rapalkan untuk kalian, bisa menembus langit ke tujuh sebagaimana doa Khaulah binti Tsalabah yang langsung didengar Allah*. *Doa-doa dari tiga golongan yang mempu menggetarkan langit dan bumi*.



*Terima kasih... karena telah menjadi malaikat tak bersayap untukku. Meski kebersamaan kita begitu singkat, Mama dan Papa telah melakukan tugas dengan sangat baik*. *Berbahagialah di sana, tenanglah di sisi-Nya*.



Kalimat itu, benar-benar Maula ucapkan tanpa tangisan. Hanya ada senyuman dengan mata yang sedikit berkaca.


__ADS_1


To Be Continued...


__ADS_2