
Pagi-pagi sekali, Katia sudah mengetuk pintu kamar Maula. Niatnya ingin membantu gadis itu untuk bersiap-siap, sebelum dia berangkat ke kantor.
“Dek, kamu sudah mandi 'kan?” tanya Katia setelah Maula membuka pintu untuknya.
“Kenapa, Kak?”
“Ayo, Kakak bantu merias wajahmu.”
Awalnya Maula menolak karena lebih nyaman tampil tanpa riasan, akan tetapi Katia meyakinkannya supaya hari ini tampil sedikit beda. Hingga akhirnya dia mengizinkan Katia masuk dan membuatnya benar-benar seperti putri raja.
Maula tersenyum memandang wajahnya sendiri di depan cermin. “Makasih, Kak, aku sudah dibuat secantik ini,” ucapnya sambil memutar kepala menghadap Katia.
“Kamu emang cantik dari sananya, Kok. Ini cuma make-up ringan saja. Ya udah ayo ganti bajunya dulu.” Katia sedikit terburu-buru karena sebelum datang ke acara wisuda, dia harus bekerja terlebih dahulu. Matanya beralih pada kotak serba merah muda di atas tempat tidur yang masih berantakan.
“Itu kotak apa? Baju, ya?” sambil berjalan untuk mengambilnya.
“Enggak, Kak. Aku gak pake itu. Di lemari masih banyak dress yang baru sekali pake dan bisa aku pake lagi hari ini,” ucapnya sambil melangkah menuju lemari penyimpanan. Sementara dia mencari baju yang pas, Katia membuka kotak berisi baju cantik dan sepasang sepatu merah jambu yang sangat cantik itu.
“Aku pake ini aja,” sambil menunjukkan baju yang dia ambil dari lemari.
“Mana coba, kakak lihat.” Katia merentangkan baju tersebut lalu mengernyit. “Menurut Kakak ....” Katia meletakan baju itu dan menggantinya dengan kebaya merah muda yang langsung ia tempelkan di badan Maula. “Ini jauh lebih bagus. Pakai ini, ya?” Katia meletakkan baju itu ke tangan Maula untuk segera dia pakai.
“Enggak, Kak. Mau yang itu saja,” tolak Maula sambil kembali meraih baju lamanya.
“Enggak, enggak. Kakak gak setuju. Itu model lama. Yang ini aja udah pokoknya pake sekarang.” Dia mendorong tubuh Maula ke ruang ganti.
Dengan sedikit terpaksa, Maula pergi ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.
Setelah memastikan Maula bisa mengenakannya sendiri, Katia lebih memilih untuk menunggunya di ruang makan. Beberapa menit berlalu, kedatangan Maula ke ruang makan, mendapatkan decak kagum tak berkesudahan dari Katia dan Bik Sulis. Bahkan Neneng dan Mbak Tina pun turut memuji.
“Aduh, Enon. Kalau Neneng cowok, sudah pasti Neneng mimpiin wajah Enon tiap malem ini, Sumpah!”
“Selamat, ya, Non? Untuk kelulusan dan juga prestasinya. Semangat terus untuk kedepannya, Oke.” Tina tersenyum sambil mengepalkan telapak tangannya untuk menyemangati Maula yang masih harus menempuh jenjang berikutnya.
Lain halnya dengan Bik Sulis, dia terharu hingga menitikkan air mata. Sambil mendekat ia terus menatap. Tiba-tiba dia teringat orangtua Maula yang sudah tiada.
“Loh, Bibik kok, nangis?” tanya Maula sambil mengernyit. Dia segera memeluk Bik Sulis sebelum tangisnya menjadi pecah.
“Bibik teringat Tuan dan Nyonya, Non. Enon mirip sekali dengan mereka.”
“Bibik jangan bikin aku nangis sekarang, Bik. Nanti make-upku pudar, loh.”
__ADS_1
Bik Sulis menghapus air matanya dan kembali tersenyum. “Iya, Non. Bibik gak nangis lagi. Jangan sedih karena ini hari bahagia.”
Andai semua tahu, kesedihan terbesar yang sesungguhnya ada dalam hati Maula yang tidak bisa ia ceritakan pada siapa pun. Wajahnya harus tetap tegar dan tersenyum. Karena ini adalah proses untuk menjadikannya pribadi yang kuat dan mampu berdiri sendiri.
“Ya udah, yuk. Makan dulu.” Katia membawanya duduk untuk sarapan.
“Yah, Kakak. Nanti gincuku bisa luntur dong. Makannya nanti ajalah, belum lapar, kok.”
“Gak bisa gitu. makeup masih bisa touch up tapi perut kosong gak boleh ditunda, sayang.” Sampai usahanya berhasil, Katia membujuk Maula. Namun, tangannya terhenti karena handphone miliknya terus berdering. Dia sudah mengabaikan panggilan itu dari semalam tapi pagi ini masih saja terus mengganggu. Dia nampak kesal berbicara menggunakan bahasa Sasak saat menerima panggilan itu. Setelah ini mungkin, dia putuskan untuk mengganti nomor handphone saja demi ketenangan hidupnya.
“Siapa, Kak?”
“Bukan siapa-siapa. Hanya teman lama.” Ada kegelisahan yang nampak di wajahnya, akan tetapi segera ia hapus dengan senyuman. “Pagi ini, Kakak anter kamu aja dulu kali, ya. Abis selesai kerjaan baru ke sana lagi bareng Pak Aldi, agak siangan.”
“Gak apa-apa, Kak,” jawab Maula setelah menyelesaikan sarapannya.
“Maafin, ya. Ada meeting penting soalnya.”
“Aku gak papa. Tenang aja,” tegas Maula untuk menghilangkan sedikit penyesalan di wajah Katia.
Namun, dia harus pamit sebentar ketika melihat Rere yang tengah kedatangan tamu terburuk dalam hidupnya. Maula menghampiri mereka yang sedang bersitegang di dekat pintu masuk.
“Re, ada apa ini?” Dia menepuk pundak Rere di tengah kerumunan orang-orang yang berlalu lalang. Wajah Rere hanya mendelik ke arah lelaki paruh baya yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Maula mengerti perasaan Rere saat ini. Betapa ia benci dengan ayahnya yang dulu pernah ia harapkan datang bersama ibunya di moment seperti ini. Semua berubah. Dia menjadi satu-satunya orang yang tidak ingin Rere lihat di muka bumi ini.
“Re, ini moment bahagia buat kita, buat kamu terutama. Tenangkan hati kamu. Jangan berdebat di sini,” bisik Maula seraya memandang sekelilingnya yang begitu bising. “Ajak Papamu ke sana. Sebelum meja itu ada yang ngisi.” Maula menunjuk meja yang baru saja ditinggalkan beberapa orang tamu hingga belum ada seorang pun yang menempatinya lagi.
Maula belum beranjak, dia masih memperhatikan langkah Rere, hingga ia duduk di meja kosong itu.
__ADS_1
Berkali-kali ayahnya mengucapkan selamat dengan tatapan yang tulus. Namun, untuk meminta maaf, dia cukup tahu diri karena Rere tak mungkin memaafkannya.
“Walau bagaimana pun, kamu tetap putri Papa. Papa hanya ingin mengucapkan selamat untuk kelulusanmu. Kamu tidak perlu memaafkan Papa karena ini pasti sulit untukmu. Cukup Papa yang berbicara, karena Papa tahu, kamu tak ingin lagi bicara dengan Papa.”
Rere dan ayahnya hanya duduk saling berhadapan. Tak sepatah kata pun terucap dari bibir Rere. Tak ada keinginan untuk bicara maupun melihat wajahnya. Namun, dia tak ingin merusak moment bahagia ini dengan mengekspresikan rasa marah di saat yang tidak tepat. Itu hanya akan membuat semua orang mengetahui betapa keluarganya sudah tak utuh lagi.
Maula masih berdiri di dekat pintu masuk. Dia menatap sekeliling, bibirnya tersenyum turut merasakan kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah teman-temannya. Matanya sesekali menatap ke arah luar. Berharap seseorang datang mengucapkan selamat padanya. Pikirannya entah berlabuh di mana, hingga tidak menyadari beberapa orang tak sengaja menggoyangkan pundaknya saat mereka berlalu lalang di sekitar itu.
“Aww ....” Ringisan Maula menandai bahwa dia sudah bangun dari lamunannya.
“M-maaf, Dek. Saya tak sengaja,” seorang lelaki menyenggol pundak Maula cukup keras karena posisi Maula sedikit menghalangi jalan saat itu.
“Adek tidak apa-apa, kan? Saya terburu-buru. Sekali lagi maaf, ya.” Dia menangkupkan telapak tangannya sambil bersiap melanjutkan langkahnya.
Maula mengangguk sambil mengusap pundaknya. “Iya, iya ... silakan,” sambil mempersilakan dia masuk.
Dia masih memandangi lelaki itu sambil menghela napas, bibirnya tiba-tiba mengkerut lalu menunduk. Hingga terdengar MC tengah membacakan susunan acara yang hampir menuju puncaknya.
*Sepertinya, cuma aku yang berdiri seorang diri di acara wisuda ini*.
To Be Continued ....
__ADS_1