Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 67


__ADS_3

“Hahaha ... Tuan, ternyata susah sekali bikin gadis itu marah,” ucap Darya sambil menggeleng. “Saya sudah pasang muka paling menyebalkan tadi, ehh malah Kakaknya yang marah-marahin saya. Dia nantangin saya ketemu di kantor polisi.”


“Hahaha ....” Khayru balas tertawa menanggapi laporan sopirnya yang baru saja menemui Maula. Dia coba membayangkan seperti apa tingkah Darya yang menyebalkan itu. “Masa dia diem aja. Gak nyolot gitu?” tanyanya.


“Ekspresi-nya sama datar seperti waktu saya tabrak mobilnya tempo hari itu, loh, Tuan. Bahkan dia udah siap transfer uang ratusan juta yang saya minta karena gak mau debat kusir lagi.”


Khayru menautkan kedua alis sambil menaikkan bibirnya. Dia sudah benar-benar gak bisa marah lagi?


“Kakak perempuannya minta Tuan datang untuk nego, gimana?”


“Apa?! Saya harus datang? Nantilah, ini belum saatnya.”


Obrolan semakin terdengar riuh setelah datangnya Darya sang utusan yang dikirim Khayru untuk meminta biaya perbaikan mobilnya yang rusak. Dan juga Cahyo yang tidak lagi menjadi seorang tuna wisma karena saat ini tengah bertukar posisi dengan Khayru.


Mereka berdua tak henti membujuk Khayru dan menakutinya sambil tertawa.


“Ngapain, sih, Tuan mesti bohong? Kalau ketahuan, kan, bisa tamat riwayat kita.”


“Pak Darya lihat sendiri, kan, kalau Maulaku sekarang santai banget orangnya. Kita udah bikin dia marah, tapi responnya cuma gitu-gitu aja. Wajah tanpa ekspresi. Semua orang tidak bisa menebak isi hati Maula yang sebenarnya. Kalau nanti dia ingin marah, saya akan biarkan dia melakukannya.”


“Lah, terus nanti kalau Mbak Maula jatuh cinta beneran Karo aku, piye, Mas?” celetuk Cahyono.


“Ndak mungkin,” balas Khayru dengan logat Jawa sambil mengulas senyum. “Lha wong Maula mung tresno karo aku. Dheweke wes ngakoni.” (Orang, Maula cintanya cuma sama aku. Dia sudah mengakui) Sambil membusungkan dadanya.


Pengakuan Maula tempo hari membuat Khayru sedikit percaya diri.


“Tapi, tapi ... kepiye yen Mas Iru kena udan. Kulite dadi luntur lan mole gaweane tiba, ilang ing endi? Utawa mustache tiba ing ngarepe Mbak Maula. Bener, ora lucu?


(Tapi, tapi ... gimana coba kalau nanti Mas Iru kena air hujan. Kulitnya luntur terus tahi lalat buatannya copot, hilang entah di mana? Atau kumisnya lepas sebelah di depan Mbak Maula. Kan, gak lucu?)


Cahyo bilang gak lucu tapi dia tertawa saat membayangkannya.


“Paling nanti Maula ketawa kaya kita. Saya malah senang kalau dia bisa ketawa. Semoga hatinya pun ikut bahagia.”


“Oalah, Angel ngomong Karo sampeyan, Mas.” (Oalah, susah ngomong sama kamu, Mas) Cahyo menggelengkan kepalanya.


“Sebentar pengen dia marah, sebantar pengan dia ketawa, piye,”gumam Cahyo.




Esok hari, Maula datang ke kafe satu jam lebih pagi dari jadwal kuliahnya. Dia hanya ingin mengecek rekaman CCTV untuk barang bukti. Di sana bahkan belum ada seorang pun yang datang, tapi Maula bisa melakukannya sendiri. Sambil duduk di depan monitor, Dia terus mencari rekaman yang terjadi di hari, tanggal dan jam yang sesuai dengan peristiwa yang dialaminya.



Dari CCTV yang mengarah ke halaman, terlihat sebuah mobil mengikutinya sejak dia masuk ke halaman kafe yang masih sangat lapang karena suasana masih pagi, belum ada satu pengunjung pun yang datang. Namun, entah kenapa mobil di belakang Maula mepet seolah tak ada tempat lagi untuk bergerak. Dan akhirnya, mobil tersebut menghantam bagian belakang mobil Maula, hingga sopir maupun Maula segera turun untuk memastikannya. Vidio itu terus berjalan sampai Maula pergi terlebih dahulu setelah KTP miliknya direbut sopir dari tangannya.



Mobil itu berdiam cukup lama di sana. Bahkan. Sopir dan satu orang lainnya terlihat kembali turun dari mobil lalu memasuki kafe yang masih nampak sepi. Tak lama mereka keluar bersama lelaki yang mirip Dandi. Masih bisa dikenali dari Afron yang dikenakannya.



*Siapa laki-laki di antara sopir dan dan Dandi yang berjalan menuju depan kafe*?



Maula coba zoom gambar di layar komputer. Namun, tiba-tiba ... listrik mati, ruangan menjadi sedikit gelap. Tak ada yang bisa ia lakukan selain keluar dari ruangan itu.



Maula sedikit kaget, saat dia keluar dari ruang CCTV. Ada Dandi yang sudah datang entah sejak kapan.



“Loh, kapan Mas Dandi dateng? Aku sampe gak denger suaranya tadi?”



“Baru aja. Kamu ngapain dari ruang CCTV? Nyari sesuatu?” ucapnya sambil memperbaiki sekring listrik sampai nyala lagi.



“Oh, ternyata rusak dari sana, ya? Aku kira mati lampu dari pusatnya.” Saat dia lihat semua lampu kembali menyala setelah Dandi memperbaikinya



“Iya, kayaknya kelebihan beban.”



Dandi membuka semua tirai yang menutup jendela dan pintu kaca lalu memutar tulisan yang menggantung di pintu. **Closed** menjadi **Open**, pertanda kafe sudah siap beroperasi, meski hanya melayani secangkir kopi panas di waktu sepagi ini.


__ADS_1


“Apa kita perlu tambah daya listrik, Mas? Nanti aku bilang sama Om Aldi.” Maula membantu menurunkan kursi-kursi yang sengaja disusun di atas meja sejak kafe tutup semalam.



“Kayaknya gak usah,” jawab Dandi sambil mengenakan Afron yang biasa melingkar di pinggangnya. “Oh, ya. Tadi kamu habis ngapain dari sana?” Mulutnya mengarah ke ruang CCTV dengan pintu yang masih terbuka.



“Euh, anu ... tadi cuma mau lihat rekaman hari Rabu pagi, Mas.” Sambil mengelap meja lalu meletakan kotak tisue dan nomor meja kafe yang terbuat dari akrilik bening.



“Ketemu, gak?” tanya Dandi sambil berjalan menuju pantry yang masih terlihat dari sana.



“Keburu mati listriknya.”



“Nanti aku cariin.”



“Oh ya, Mas. Waktu hari Rabu itu siapa yang dateng ke sini?”



“Yang mana, ya? Lupa.” Dandi meringis karena tak bisa mengingat pengunjung yang datang satu per satu.



“Dia yang datang pake mobil mewah sekelas Lambhorgini Aventador ... Range Rover ... Ferrari California ... BMW i8 ... entah Chevrolet Camaro atau apa namanya pokoknya sekelas itulah. Yang pasti warnanya kuning. Belum ada mobil lain yang datang waktu itu karena masih pagi, Mas, coba ingat-ingat soalnya aku lihat di CCTV dia jalan ke depan sama Mas Dandi. Sepertinya, kalian sempat ngobrol sama Mas Cahyo di bangku depan.”



Dandi nampak mengerutkan kening sambil berkacak pinggang, sementara tangan kanannya terus mengurut bagian pelipis, seperti sedang memikirkan sesuatu.



“Oke. Nanti aku lihat lagi rekamannya, siapa tahu masih ingat.” Dia kembali beraktifitas, menyalakan *coffe maker* dan menyiapkan beberapa bahan makanan yang biasanya banyak dipesan untuk sarapan.



“Iya, Mas. Tolong aku ya, bikinin salinan vidionya juga.” Sambil menatap jam tangan lalu mengambil tas di atas sofa dan menenteng beberapa modul. “Mau ngampus dulu, Nih, nanti balik ke sini lagi sambil nunggu kelas berikutnya,” ucapnya sambil bergegas pergi.




Maula hanya melambaikan tangannya sambil berlalu.



Beberapa jam kemudian, Maula sudah kembali ke kafe, dia selalu memanfaatkan waktu pembelajaran mandirinya di sana, sambil sedikit membantu pekerjaan Dandi dan Rere. Terlihat Dandi sedang bisik-bisik sambil tertawa kecil di telinga Nikita, karena seperti itulah kerjaan mereka di sela-sela kesibukannya.



“Kalian berdua bisik-bisik mulu. Ngomongin apa, sih?” Maula tiba-tiba muncul di antara mereka berdua.



Nikita memanyunkan bibirnya ke arah meja yang paling sudut sebelah kiri. Di sana, tak lain ada Cahyo yang tengah menunggu sambil memainkan petikan gitar andalannya.



“Tunggu sebentar!” ucap Dandi sambil menghangatkan roti bakar yang dia buat beberapa jam yang lalu, kemudian menyodorkannya ke arah Maula.



“Ini buat Mas Cahyo? Kenapa gak dikasih langsung ke orangnya?”



“Orang dianya gak mau. Dia nungguin kamu, La.” Nikita sedikit menyeringai.



“Nunggu sejak kapan?”



“Ada kali dua jam,” jawab Nikita asal.


__ADS_1


Tanpa bertanya lagi, Maula pun segera membawa roti itu ke hadapan Cahyono yang belum menyadari kedatangan Maula.



“Mas! Kalau dikasih makanan tuh, langsung dimakan saja. Ngapain nunggu saya?” Maula langsung duduk di hadapannya sambil meletakkan tas gendong di kursi kosong.



“*Sopo sing ngenteni, sampeyan, toh*? *Ndak usah ge-er*.” (siapa yang nunggu kamu, sih? Jangan ge-er)



“Hahaha ... mereka berdua yang bilang tadi, gimana, sih?” ketus Maula sambil menunjuk Nikita dan Dandi yang pura-pura tidak melihat ke arah mereka.



“*Yo wes, mau ta nyanyiin, Ndak? Mumpung lagi gratis, tis, tis*.”



“Jangan, Mas, jangan! Nanti pelanggan bisa kabur semua, loh. Kasian Rere. Kafenya bisa sepi pengunjung, nanti.”



“*Mosok*?” ucapnya tak percaya. “*Dene, biyen ana bocah wadon sing mesthi njaluk aku nembang lagu kanggo dheweke*”



“Mas ... roaming, Mas.” Maula tidak begitu mengerti dengan bahasa Jawa.



“Dulu ... selalu ada gadis yang selalu minta saya nyanyiin lagu buat dia,” ucap Cahyo sambil tersenyum ke arah Maula.



“Siapa orangnya?” tanya Maula sambil mengangkat alisnya.



“*Poko'e*, dia gadis paling cantik di dunia ini. Ora cemburu loh, ya? Dia gadis nomor *siji* *soale*.”



“Idiihhh ... ngapain aku cemburu? Mas ... Mas ... .” Maula menggelengkan kepalanya sambil tertawa.



“Loh, ngapain ketawa? Aku serius, Mbak. Gadis pujaanku itu cantiknya bukan main, loh.”



“iya, iya percaya, tapi lucuuu ....” Maula tak bisa menghentikan tawanya.



“Saya bilang begini, *soale* khawatir kalau Mbak Maula terlanjur suka sama saya. Bisa patah hati nanti.”



Di tengah tawa mereka, tiba-tiba Aldi datang tanpa diduga.



“Dan!” serunya pada Dandi. “Jadi ini pengamennya?” Dia berkacak pinggang sambil melotot ke arah Cahyo lalu menarik tangannya dengan paksa. “Ayo ikut saya! Udah dibilang pengamen gak boleh masuk ke sini, masih ngeyel,” ucap Aldi tak ada ampun.



“*Sek ... sek ...sek*! ”



“*Duh, Gusti, ono opo, Iki*?”



“*Mbak! tulungi aku, Mbak*!”



“*Arep nggawa aku nang endi*?”



“*Mas ...! Aduh, Mas! piye Iki*?”

__ADS_1



To Be Continued ....


__ADS_2