
Untunglah suasana rumah selalu ramai, terlebih sejak Henna night, tadi malam, semua orang mengelilingi Maula sambil menggodanya. Tak ada alasan untuknya bersedih saat ini. Sejak semalam pun, Khayru selalu menghubunginya hanya sekadar untuk menanyakan kabar.
“Gimana?”
“Gimana apanya?” jawab Maula dengan suara pelan. Khawatir akan membangunkan kedua temannya.
“Perasaan kamu.”
“Baik-baik aja. Kenapa Abang belum tidur?” Maula balik bertanya.
“Mana bisa tidur, mikirin kamu terus. Pengen tidur di sana.”
“Di sana tidur bareng siapa, Bang?”
“Sendirianlah.”
“Tapi... keknya aku denger seseorang di belakang Abang. Suara telapak kakinya makin lama makin deket.”
“Husstt... ngawur kamu. Semua orang di sini sudah tidur.” Sambil menyentuh bulu kuduknya yang tiba-tiba berdiri semua.
“Coba tengok dulu ke belakang.”
Tiba-tiba, Khayru terdiam. Bola matanya terus bergerak. Benarkah ada sesuatu yang datang? apa itu? Tanpa berani menoleh ke belakang. Dia hanya memasang telinganya seawas mungkin, dan tiba-tiba sebuah tepukan mendarat di pundaknya, membuat dia hampir melompat sambil berteriak.
“Belum tidur, Ru?” Suara dan sentuhan tangan tuan Omar, hampir saja membuat Khayru melemparkan satu-satunya benda yang ada di tangannya.
“Astagfurullahalbadzim!”
“Audzubillahiminasyaitoonirrojim!”
Pekiknya terdengar di balik telepon membuat Maula segera mengakhiri obrolan seraya menahan mulut dengan telapak tangannya. Ternyata niat isengnya didukung dengan kedatangan tiba-tiba sang mertua.
Masih saja penakut. Dia terkekeh.
Ya... seorang manusia memang harus memiliki paling tidak satu saja kelemahan. Jika tidak, hidup ini akan sangat membosankan. Hihihi...
Rasanya baru beberapa menit yang lalu, dia memejamkan mata, tapi sayup-sayup terdengar suara yang tengah memanggil namanya seraya menggoyangkan tubuh yang baru saja melepaskan semua lelah. Namun, gagal. Ia sadar, belum saatnya untuk tidur nyenyak, karena tubuhnya sudah ditarik dan dipaksa untuk bangun dari atas tempat tidur.
“Bentar lagi, ya. lima menit aja.” Sambil mengangkat lima jarinya setengah sadar lalu menjatuhkan diri lagi di tempat tidur.
“Ya sudah, kita tunggu lima nenit lagi, kasihan anak itu,” ucap Katia pada dua gadis andalan yang juga harus menyiapkan diri selain membantu keperluan Maula. “Kalian siap-siap saja. Dan itu di bawah sudah datang sepuluh orang teman kalian. Sekalian diajak ke ruang ganti.” Sepuluh orang yang dimaksud Katia adalah teman kuliah Maula yang sudah bersedia dijadikan bridemaids hari ini. Mereka datang pagi sekali dan saat ini tengah menunggu di ruang tamu.
Tiga puluh menit kemudian, Maula sudah duduk di depan meja rias sambil sesekali menutup mulut karena menguap. Matanya belum bisa terbuka sempurna meski sudah disiram air mandi, keramas dan berwudhu.
“Buka matanya, sayang.”
“Dikit lagi, dong, yang lebar,” pintanya sekali lagi.
“Mataku emang sipit, Mami. Gak bisa lebih lebar dari ini.”
__ADS_1
“Oh. Hihi... maaf.” Penata rias itu terkikik. “Kirain adeknya masih mau tidur. Ternyata enggak, ya. Mau nikah masa tidur, ya kan?”
“Tenaaangg... mata sipit masih bisa disiasati. Apa, sih, yang gak bisa.”
Wanita yang akrab di sapa 'Mami Angela' itu, terus saja mengoceh demi menghilangkan kantuk yang masih menggelayuti wajah Maula.
“Tadi kamu mandi ya, sayang? Gak takut ujan, emangnya?” Hanya seputar pertanyaan-pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban
Dahi Maula mengkerut. Apa hubungannya? Dia hanya balik bertanya dalam hati karena tidak diperkenankan untuk banyak bergerak.
“Kebanyakan calon pengantin, mereka jarang mandi. Tau gak, kenapa?”
Maula menggeleng pelan. Namun, wajahnya segera ditahan supaya tidak bergerak.
“Kalau gerak-gerak, nanti alisnya keriting, loh,” ucap sang penata rias profesional itu seraya menatap.
Ish, kalau gak mau dijawab, kenapa nanya? Dahi Maula semakin berkerut.
“Iya, jadi dulu, sebelum menjadi seorang MUA, mami sempat melanglang buana sebagai penata rias di berbagai daerah.”
“Rata-rata calon pengantin gak mandi di hari pernikahannya. Waktu mami tanya kenapa, dia bilang biar gak hujan.” Dia tertawa. Namun, tetap meminta Maula untuk tidak banyak bergerak. Sementara kedua assisten di samping kiri dan kanannya begitu cekatan. Mereka tahu persis kapan dan benda apa yang harus mereka sodorkan.
Gak mandi bisa menangkal hujan? Hatinya ingin tertawa, tapi dia tahan.
“Berbagai macam cara mereka lakukan untuk menangkal hujan, supaya acara hajatan, berjalan lancar. Termasuk dengan cara melempar sem*pak calon pengantin ke atap rumahnya. Sering mereka lakukan.”
Ucapan sang penata rias, sukses membuat Maula terpingkal-pingkal, meski akhirnya, wanita berusia 40 tahunan itu pura-pura memarahinya. Gara-gara dia terus bergerak, dia mendapatkan riasan yang sedikit berantakan.
“Gak boleh!”
“Tolong, ya! Jangan ada yang kasih dia cermin. Pamali.”
Ish... pamali dia bilang?
“Kalau gitu, benerin dulu make-upnya.” Maula tak mau keluar ruangan dengan make-up yang berantakan di hari pernikahan.
“Kita udah ngabisin waktu tiga jam. Sudah gak ada waktu lagi.” Dia menatap jam tangannya sambil mendorong Maula ke ruang ganti. “Akad jam berapa, Mbak Katia?” tanyanya pada Katia yang baru masuk ke kamar Maula.
“Satu jam lagi, Mam. Bisa cepet dikit, gak? Kita bisa kejebak macet di jalan.”
Katia dan semua pihak keluarga sudah siap dengan riasan dan dress code-nya masing-masing. Dengan gaun dan tatanan rambut yang anggun, dia melangkah dan bergerak gesit ke arah Maula. “Yuk siap-siap, yuk,” intruksinya sambil menepukkan kedua tangan. Namun, seketika dia bengong.
“Ini...? Ya ampun!”
“Kenapa, Kak? Berantakan, ya?” Maula begitu penasaran ingin melihat wajahnya yang... sepertinya, memang benar jika riasannya berantakan.
“Shuutt ... udah, ya. Kita ganti baju dulu. Jangan ada komentar apa pun, kita harus buru-buru.” Mami Angela bergerak sedikit cepat, mengambil dan memakaikan sebuah gaun dengan penutup kepala, khas pengantin Maroko yang tak lepas dari nuansa arabian wedding theme. Untuk sesi foto, mereka juga memiliki kostum adat Sasak dan Betawi modern. Namun, untuk akad nikah, mereka usung adat timur tengah dengan sentuhan modern juga.
Sembari dia pakaikan gaun, dia minta semua untuk menunggu di bawah saja, dengan dalih, pekerjaannya akan semakin berantakan jika diawasi banyak orang.
__ADS_1
Setelah total tiga jam lebih, akhirnya Maula bisa keluar dari kamarnya, lengkap dengan kaftan mewah, penutup kepala serta mahkota kecil bertengger di kepalanya. Saat dia turun ke lantai bawah, kondisi rumah sudah sangat sepi. Sejak setengah jam yang lalu, semua sudah meluncur dan menunggu di lokasi acara. Hanya tersisa dirinya bersama Mami Angela dan kedua asistennya yang masih sibuk membereskan peralatan make-up di dalam kamar.
Ferdi yang bertugas menjaga rumah, datang memberitahu bahwa semuanya sudah harus hadir di sana. Akad nikah akan segera di gelar tepat pukul 9 pagi. Sesuai dengan rencana.
“Masa pengantin wanita ditinggal sendiri?” gerutunya sambil memandang sekeliling. “Tak ada yang menungguku seorang pun?”
“Mang Sodik sudah menunggu di luar, Non. Silakan naik ke mobil.”
Mang Sodik, terlihat sibuk menerima telepon sambil tergopoh ia membukakan pintu mobil untuk Maula.
“Ayo, Non! Semua sudah menunggu di sana. Kita cuma ada waktu lima belas menit saja untuk sampai di lokasi,” serunya sambil membuka pintu mobil jok belakang.
Dengan kesal, Maula melepaskan selop setinggi 7 cm karena ujung heels yang runcing kerap menggait ujung gaunnya yang panjang. Ia masuk ke dalam mobil tanpa alas kaki. Belum hilang rasa kesal karena tidak diperbolehkan untuk melihat seberapa berantakan riasan di wajahnya, ditambah lagi harus datang sendiri ke banquet hall.
Ketika mobil yang dilajukan mang Sodik--dengan kecepatan tinggi itu--tiba-tiba berhenti tepat di depan sebuah hotel, Rere dan Nikita sudah berdiri menunggu di sana. Tanpa banyak bicara, mereka membukakan pintu, lalu membantu Maula keluar dari mobilnya dengan cepat. Menarik dan membawanya menuju pintu yang mereka sebut banquet hall. Pintu itu baru akan dibuka untuk umum, setelah akad nikah yang hikhmat selesai diucapkan.
Mereka harus melewati jalan dengan lantai mengkilap yang dibuat berbelok-belok. Di sisi kanan dan kiri, sepanjang jalan yang mereka telusuri, dipenuhi lampu dan dekorasi pohon hiasan berdaun rindang dengan paduan warna white and burgundy membentuk sebuah lorong menuju sebuah ruangan besar yang mampu menampung lebih dari ribuan tamu yang mungkin akan datang bergantian. Di setiap titik, terdapat layar LED berukuran 32 inch yang menampilkan foto dan video prewed.
Maula tiba di tempat yang didesign seperti sebuah taman dipenuhi ribuan bunga dalam ruangan besar, berlantaikan kaca yang mengalirkan air jernih di bawahnya, air yang mengalir berasal dari air terjun buatan yang mengeluarkan gemericik yang menenangkan karena sejauh ini belum ada suara musik yang mengganggu. Meja dan kursi dengan warna senada membentuk beberapa lingkaran besar yang tidak terhitung jumlahnya. Masih begitu sepi hingga akhirnya terdengar suara dari sekumpulan kaum wanita yang tengah menyaksikan detik-detik prosesi akad nikah di ruangan lain--melalui layar LED.
Seraya sibuk menerima telepon dari seseorang, Katia menyambut kedatangan calon pengantin wanita yang tertinggal ini, lalu mendudukkannya di tengah-tengah sepuluh orang bridemaids untuk diambil beberapa sesi foto oleh foto & videografer.
“Iya, Mas. Maaf, sedikit mengulur waktu, sekarang sudah bisa dimulai. Maula sudah hadir di sini,” ucapnya pada Aldi melalui sambungan telepon.
“Di sana gak ada masalah, kan? Maula baik-baik saja? Kenapa telat?”
“Enggak, enggak, Mas. Semua baik-baik aja. Jangan khawatir.”
Bergantilah tampilan layar LED. Di sana berdiri seorang laki-laki layaknya pangeran Arab dengan gamis--pakaian tradisional--khas timur tengah (kontura/ kantara), dengan iqal melingkar di atas sorban yang menutupi kepalanya. Dia tengah bersiap untuk mengucap ijab qobul. Namun, sebelum itu, ingin memastikan Maula menyaksikan dan menyimaknya.
Sebelumnya, sudah disampaikan sebuah pembukaan oleh Billy, pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh salah satu santri dari pondok pesantren, sambutan oleh tuan Omar dan khutbah nikah oleh Kiai Abdurrahman. Dan kini ia sudah siap mengucap kalimat yang sama seperti sebelas tahun yang lalu. Dia sudah menjabat tangan pak Kiai sebagai wali hakim yang ditunjuk.
Ya Akhi, Khayru Zaman Arifin bin Omar Abdullah Rasyeed...
Ankahtuka wa Zawwajtuka Makhtubataka Maula Qiana Arifin binti Alm. Zulfikar Arifin, alal Mahri 2.000.000 Dirham Maroko.
(Saudara Khayru Zaman Arifin bin Omar Abdullah Rasyeed, saya nikahkan engkau, dan saya kawinkan engkau dengan pinanganmu Maula Qiana Arifin binti Alm. Zulfikar Arifin, dengan mahar 2.000.000 Dirham Maroko)
Segera dijawab oleh Khayru dengan suaranya yang lantang dan dalam satu tarikan napas :
Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq.
(Aku terima nikahnya dan kawinnya dengan mahar yang telah disebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberikan anugerah)
“Barakallahu laka wabaraka ‘alaika wajama’a bainakuma fi khair”
“Semoga Allah memberi barakah kepadamu dan atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dlm kebaikan.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi)
Setelah melontarkan kata 'sah' semua orang menengadahkan kedua tangannyanya, mengucap doa untuk kedua mempelai pengantin dan suara itu menggema di seluruh ruangan karena semua layar LED menayangkan dan memperdengarkan adegan yang sama, adegan yang tengah berlangsung di sebuah ruangan tertutup di dalam gedung tersebut.
__ADS_1
To Be Continued...