
“Abang ...!” panggil Maula dari balkon kamarnya.
Belakangan ini, Khayru lebih suka bekerja di tempat terbuka dibanding tempat tertutup seperti ruangan kerjanya. Dia nampak menggaruk-garuk kepala. Sesekali menarik napas dengan kening mengkerut kala menemukan sesuatu yang janggal dengan sistem keluar masuk barang di pabriknya. Terlebih, banyak sekali nama-nama suplier dan costumer baru yang merupakan bukan rekomendasi darinya. Namun, perubahan SOP mungkin saja terjadi selama satu tahun terakhir ini. Dia nyaris tak menyentuh pekerjaan ini selama itu.
“Abang ...!” Maula kembali memanggil lebih keras hingga Khayru tak sengaja menjatuhkan bolpoin yang tengah ia mainkan sambil melamun.
“Iya.” Dia melirik sekilas lalu turun dari kursi untuk mengambil bolpoin yang jatuh ke lantai. Dia tak kembali duduk, melainkan berjalan mendekat ke balkon kamar Maula.
Mereka berdiri di masing-masing pagar tembok setinggi satu meter yang menjadikan pembatas.
“Ada apa ya Jamilah? Mau nyuruh Abang lompat ke sana, ya? Jangan mancing-mancing dulu, ya. Kalau Abang beneran lompat, bisa dapet kartu merah dari pak Kiai. Bisa batal nikah, dong!”
“Yeeee ... siapa mau nyuruh lompat? Cuma mau tanya, itu mobil Mas Dandi udah dibawa ke bengkel apa belum? Aku bisa kena damprat, dong, gara-gara bikin mobilnya rusak.”
“Ooh... santai aja, orang kantor udah bawa tu mobil ke bengkel.” Sambil menjentikkan jarinya lalu kembali menuju kursi, menghadap tumpukkan berkas yang menantinya.
“Kamu masuk aja, temenin Ayah ngobrol dulu.”
“Ayah lagi istirahat. Belum keluar kamar.”
“Ya udah kamu ngapain, kek, di dalem. Jangan diem di situ.”
“Enggak, ah. Aku mau nemenin Abang di sini.” Masih berdiri di sana sambil memandanginya. “Kenapa gak di ruang kerja aja, sih, Bang? Aku temenin juga nanti di sana.”
“Mau nemenin apa mau cari penyakit? Lagian di ruang kerja sekarang berantakan banget. Ada mesin jahit, kertas bergambar yang berserakan di mana-mana, hanger baju, potongan-potongan kain, malah Abang pernah nginjak jarum pentul di sana.”
“Abang gak mau masuk ke sana lagi, ngeri.” Sambil bergidik.
“Hehe ... Abang udah lihat, ya? Itu jadi tempaku berkreasi sekarang, karena gak baik kalau ruangan itu dikosongkan terlalu lama.”
“Gak masalah kalau tempat itu mau kamu jadikan ruang kerjamu juga. Tapi setidaknya, bersihkan dan rapikan juga biar nyaman kerjanya.”
“Ada beberapa baju di sana. Aku design sendiri, jahit sendiri juga, bagus, gak?” Maula sedang mengharap sedikit pujian dari Khayru padahal, terlihat jelas dari wajahnya, pria itu tengah berpikir keras tentang hal lain.
“Nanti saja abang lihat, kalau ruangannya sudah dibersihkan.” Sambil fokus dengan kerjaannya.
“Ish ... kirain udah dilihat. Kasih pujian, kek, biar aku seneng,” sungutnya pelan.
“Ya udah, kamu masuk dulu, minta Mbak Tina yang bersihkan ruangan itu. Setelah gak ada jarum-jarum berserakan di lantai, baru Abang lihat ke sana.” Khayru melirik sambil mengibaskan telapak tangan supaya Maula segera meninggalkan balkon.
“Tapi kapan kita ke rumah pak Kiai!”
“Ya ampun. Udah gak tahan, ya?” Khayru bangkit lagi dari tempat duduknya dan mendekat lagi sambil tersenyum.
“Bukan giiituuuu, ih....” Maula memetik beberapa daun dari pot bunga lalu melemparkannya ke wajah Khayru yang tengah menatap, hingga ia tergelak. “Aku kan sudah menyusun kata-kata buat aku sampaikan pada pak Kyai nanti. Tapi kalau kelamaan, bisa ambyar lagi semuanya. Nanti aku malah gak bisa bicara apa-apa di sana.” Sambil mengangkat sudut bibirnya.
“Tulis aja di kertas, kayak naskah pidato. lebih panjang akan lebih bagus lagi. Terus kamu hafalin sampe ingat semua di luar kepala,” tuturnya panjang lebar sambil terkekeh.
“Ish ... Abang!”
“Iya, iya... Kita cuma perlu nunggu Ayah saja. Kamu sendiri yang bilang kalau Ayah masih istirahat. Tunggu aja sampe dia siap. Kalau perlu, ketuk pintunya.”
“Aku bisa ngobrol apa sama Ayah? Takut salah kalau sama orang tua,” ungkapnya sambil menatap langit biru telang yang perlahan menampilkan sandikala.
“Bilang aja sama Ayah, kalau Abang minta tanya kabar Chaima, Seeda, Habiba sama Latifa. Siapa tahu mereka bunuh diri karena mau ditinggal nikah.”
Sontak, Maula memutar wajahnya yang berkerut. “Itu nama cewek semua?”
“Bukan! Itu nama ayam betina.” Khayru terkekeh sambil kembali ke kursinya untuk membereskan berkas-berkas. “Ya, cewek lah. Masa Abang mainnya sama cowok?”
“Abang suka main sama cewek?!” Bola mata sudah bulat seperti ingin loncat dari tempatnya.
“Abang kan normal. Kalau main sama cowok, malah gatel-gatel nanti.” Dia sudah siap masuk sambil memeluk tumpukan berkas karena hari sudah menjelang Maghrib.
“Ish ...!!” Refleks, Maula mengambil sebuah pot bunga yang siap ia lempar ke arah Khayru, untungnya pria itu sudah lebih cepat bergerak menuju pintu masuk.
“Ya Jamilah! cepat masuk! Jangan lupa kunci pintu dan jendela rapat-rapat,” teriaknya sambil terkekeh dengan melongokkan kepala lalu mengunci rapat pintu yang membatasi kamar yang mengarah ke balkon.
__ADS_1
“Udah diterima, baru deh keliatan belangnya. Apa harus aku batal nikah lagi sama cowok model begitu. Udah tua, banyak gaya, lagi,” gerutunya sambil turut mengunci pintu dan jendela.
Makan malam kali ini tetap bertiga, karena Katia tengah berkunjung ke rumah Aldi, makan malam bersama keluarganya di sana. Hanya Khayru, Maula dan juga Tuan Omar yang segera diboyong Maula ke ruang keluarga setelah selesai dengan makan malamnya. Seperti yang dikatakan Khayru, Maula akan menanyakan sesuatu supaya dia memiliki bahan obrolan malam ini. Dia hanya mendelik karena sedang tak ingin bicara dengan anak dari mertuanya itu. Setelah ditinggalkan sendiri di ruang makan, Khayru bergegas menyelesaikan pekerjaannya di kamar.
“Nak... ayah tidak punya banyak waktu di Jakarta, karena di sana ada banyak pekerjaan yang menunggu. Jadi, sebaiknya acara kalian bisa secepatnya dilaksanakan jika memang kalian sudah sama-sama yakin,” pinta Tuan Omar setelah duduk di ruang keluarga.
“Iya Ayah, tapi ....” Maula mengecilkan volume televisi terlebih dahulu, sebelum melanjutkan obrolan. Dengan sedikit kikuk, tiba-tiba dia menanyakan tentang Chaima, Saeeda, Habiba sama Latifa yang disebut Khayru tadi sore.
“Siapa mereka? Pacar Abang di sana? Pasti nama Jamilah salah satu dari mereka juga, 'kan?” Rasa penasaran terlihat di wajahnya yang mulai sedikit kecewa. Terlebih, reaksi dan jawaban sang mertua tidak menunjukkan tanda-tanda angin segar yang akan enak didengar.
“Kamu sudah menebaknya? Bagaimana kalau benar?”
Saat itu juga Maula memutar tubuhnya menghadap televisi sambil mengganti-ganti Chanel satu ke Chanel lainnya tanpa tahu, tayangan apa yang sedang ia cari. Mendengar ucapan Tuan Omar membuat dia mencari cara untuk menyembunyikan rasa kecewa dari tatapan sang mertua.
“Kelak ... jika dalam sebuah rumah tangga, muncul orang ketiga, keempat, kelima dan seterusnya, kamu hanya perlu untuk percaya pada suamimu. Karena ayah sudah cukup mengenal putra ayah selama ini. Dia tidak pernah tergoda dengan wanita mana pun, meski mereka selalu datang bergantian.”
Seketika, Maula mematikan layar televisi dan kembali memutar badannya perlahan.
Tuan Omar mengangguk yakin karena mulai dari putri kerabatnya sendiri, putri dari rekan bisnis, salah satu partner kerja yang terbilang masih muda, atau kenalan biasa, bahkan Risa, mereka semua selalu datang dengan sejuta pesona untuk memikat hatinya.
“Gak mungkin jika Abang tidak terpikat oleh salah seorang dari mereka.” Maula menggeleng tak percaya.
“Ayah bahkan beberapa kali membujuknya supaya dia memilih salah satu dari mereka untuk dijadikan pendamping hidup, mengingat ....” Tuan Omar sedikit memelankan suaranya. “Shhh, kamu tahu sendiri 'kan usianya berapa saat ini,” desisnya pelan-pelan.
“Tampan saja tidak cukup.” Tuan Omar berkata sinis sambil mengibaskan tangannya. “Kalau ketuaan, bagaimana dia mengurus keturunannya nanti? Itu yang ayah khawatirkan.”
“Tapi ... Anak ayah itu selalu menggeleng yakin jika ayah terus merengek meminta dia segera menikah.”
Maula terus menatap karena terpesona dengan ucapan-ucapan sang mertua. “Mungkinkah dia terlalu sibuk, ayah? Hingga tidak sempat memikirkan untuk menikah.”
“Bukan, bukan! Bukan karena itu penyebabnya.” Dia segera menggeleng cepat. “Yru bilang, seandainya pun dia memilih salah satu dari mereka, dia tetap tidak akan bahagia.”
__ADS_1
“Kenapa memangnya?” Maula menatap serius.
“Karena dia bilang... sudah meninggalkan hati dan kebahagiaannya di Jakarta. Di rumah ini tepatnya.”
Tiba-tiba mata sipit itu nampak berkaca, mendengar ucapan yang bermakna sama dengan pengakuan Khayru tempo hari. Udara berdesir hangat di sekitarnya, hingga ia merasakan ada sesuatu yang telah menyentuh di relung hati Maula.
“Awalnya, ayah berusaha keras menarik hati Khayru supaya tak lagi terpaut di kota Jakarta ini, tapi dengan santainya hari itu dia berkata ingin kembali ke sini untuk menikahimu. Sambil memainkan cincin mini yang ia keluar-masukkan dari kotaknya.”
“Ayah pasti gak setuju?” Maula menebaknya.
“Tentu saja ayah gak setuju. Ayah bilang, *kenapa harus menjilat ludah sendiri*? *Carilah wanita yang lebih dewasa supaya cara berpikirnya pun* *lebih dewasa*.” Tuan Omar mengusap lengan Maula sembari meminta maaf karena telah mengatakan hal yang tidak enak didengar tentangnya.
“Lanjutkan, Ayah.”Dia mengangguk paham sambil tersenyum.
“Kamu tahu apa yang dikatakannya?” tanyanya, lalu melanjutkan ucapan setelah Maula menjawab dengan gelengan kepala.
“*Maula bukan ludah yang aku buang, Ayah. Tapi ... dia permata yang selalu tersimpan di dalam hatiku*,” tutur Tuan Omar menirukan ucapan Khayru lalu tersenyum.
Hati Maula meleleh, karena dia tidak pernah menyangka jika lelaki itu memiliki cinta yang sangat dalam untuk dirinya.
“Karena itu, ayah minta, milikilah hati yang sangat kuat sekuat hati Yru menyimpan namamu selama ini. Jangan goyah karena apa pun, seperti perasaannya yang tidak pernah goyah meski berada jauh darimu.”
Maula mengangguk seraya tersenyum, meski matanya mulai meneteskan bulir-bulir bening, jatuh menyusuri tulang pipinya yang memerah.
“Kamu jangan khawatir, Chaima, Saeeda, Habiba sama Latifa itu, semua nama anak kucing kesayangan Yru. Dia menyayanginya karena dia bilang, ibu dari anak-anak kucing itu mirip dengan kucing liar kesayangannya di Jakarta.” Seketika Tuan Omar menatap semua sudut ruangan, karena sejak ia tiba di rumah ini tidak pernah melihat keberadaan kucing yang dimaksud. “Di mana kucing liar itu? Boleh ayah lihat?”
Maula hanya meringis sambil menarik wajahnya karena dia sadar kucing liar yang dimaksud Khayru, tak lain adalah dirinya sendiri.
“Hhhaa ... kucing? Di mana ya kucing itu?” Maula mendengus kebingungan seraya menggaruk kepalanya karena di rumah ini memang tak ada kucing seekor pun. Gak mungkin juga dia mengaku kalau dirinya lah kucing liar yang dimaksud.
*Dasar Abang*! *Masih saja sebut aku kucing liar*. *Untung ayah tidak tahu*.
“Oh ya, kamu tahu siapa nama ibu dari Chaima, Saeeda, Habiba sama Latifa?” tanya Tuan Omar tiba-tiba. Maula yang masih menggaruk kepalanya langsung menggeleng. Sayangnya, Tuan Omar malah tertawa dan meminta Maula bertanya langsung pada Khayru.
__ADS_1
To Be Continued....