Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 35. Saudari sepupu


__ADS_3

“Abang mau lihat siapa yang datang. Kamu tidur duluan saja.” Sambil mengerjapkan mata yang mulai mengantuk, Khayru bangun dan menyibak selimutnya.


“Aku mau lihat juga siapa yang datang bertamu malem-malem begini, kaya gak ada waktu lain saja.” gumam Maula sambil naik ke punggung Khayru.


“Kamu bisa jalan sendiri, 'kan?” sindir Khayru sambil mendelik ke wajah Maula yang sudah menempel di pundaknya.


“Bisa, kalau gak lagi ngantuk. Aku dah gak ada tenaga buat jalan, tapi gak mau ditinggal sendiri di kamar.”


“Ini salah satu cara suami untuk memuliakan istri, Bang. Abang mau protes?” ucap Maula lagi saat suaminya tak kunjung bangkit dari tempat duduk.


“Kalau ustazah Maula sudah ngasih tausiah, Umi Khadijah lewaaaatt,” gumam Khayru sambil berdiri dengan tubuh Maula yang menempel di punggungnya. Dia mulai melangkahkan kakinya ke ruang tamu. Sang tamu berdiri sambil tersenyum ketika tuan rumah sudah berada di hadapannya.


“Selamat malam ....” Khayru menyapa tamu. Namun tiba-tiba dahinya mengkerut, matanya menatap, coba mengingat. Dan ... yah, akhirnya dia ingat bahwa perempuan yang tengah bertamu ini tak lain adalah Katia--asisten manajer hotelnya di Lombok.


Khayru menurunkan Maula terlebih dahulu lalu mempersilakan tamunya untuk duduk. Yang dia tanyakan pertama kali tak lain adalah kondisi hotel saat ini. Dia berpikir bahwa di sana mungkin tengah ada masalah besar hingga Katia sendiri yang datang menemuinya ke Jakarta, akan tetapi masalah besar apa kiranya yang terjadi hingga tidak bisa dibicarakan melalui telepon.


“Tidak! tidak! Kedatangan saya ini bukanlah untuk membicarakan masalah hotel. Bahkan saya sudah resign dari pekerjaan saya, Pak.” kilahnya menepis dugaan yang dilontarkan Khayru saat itu. Ini membuat Khayru semakin mengerutkan keningnya.


“Lalu ...?” Khayru menunggu penjelasan.


Katia paham dengan situasi yang membingungkan ini. Dia segera menunjukkan sebuah kartu nama dari kantong kecil yang ada di dalam tasnya. Karena kartu nama itulah ia jauh-jauh datang ke kota Jakarta.


“Seminggu yang lalu, inak(ibu) meninggal dunia. Saya menguburkannya di dekat kuburan papuk(nenek). Di sana ada seseorang yang menunggu kedatangan inak hanya untuk memberikan kartu nama ini. Saya yang menerimanya karena inak sudah tiada.”


“Kamu ... cucu dari papuk Asmarani?” tanya Khayru dengan dahi yang semakin berkerut.


Katia mengangguk. “Saya hanya mengikuti perintah Tuak(paman). Dia bilang, saya harus segera menghubungi nama yang ada di kartu ini.”

__ADS_1


Dengan mata berbinar, Khayru menatap sambil meremas tangan Maula. Ini akhir dari pencariannya selama ini. Ibu dan adik perempuan Tuan Zul sudah meninggal, tapi paling tidak Maula masih memiliki saudara sepupu yaitu Katia.


Maula tidak begitu menangkap maksud dari obrolan mereka. Dia hanya membalas tatapan Khayru sambil mengangkat alisnya, tanda bahwa ia belum paham.


“Katia ini saudari sepupu kita, Dek. Kamu gak mau peluk dia?” tawar Khayru sambil tersenyum. Maula meyakinkan apa yang baru saja dia dengar dengan telinganya lalu mengangguk sambil beranjak mendekat dan memeluk Katia tanpa berkata apa pun. Dia hanya tersenyum kecil menatap Katia yang tidak yakin dengan kata 'Saudari' yang diucapkan Khayru.


“Ki-kita bersaudara? Bagaimana bisa?” Katia memandang Maula dan Khayru begantian sambil menggelengkan kepalanya.


“Ini sudah terlalu malam. Besok saja kita lanjutkan. Kita butuh istirahat.”


“Maafkan saya karena sudah mengganggu. Sebenarnya saya tiba di Jakarta sejak siang tadi. Cuma, tadi agak kesulitan mencari alamat dan baru ketemu malam-malam begini.”


“Tidak masalah. Kebetulan kami juga belum tidur.”


Khayru melihat Maula yang semakin tidak fokus karena dikuasai rasa kantuknya. Dia memanggil Bik Sulis supaya mengawal Katia menuju kamar tamu lalu mengulurkan tangan pada Maula supaya dia bangun dari duduknya.


“Orang lain itu semakin gede makin dewasa kelakuannya. Bukannya tambah manja.” Khayru mengangkat tubuh Maula yang langsung melingkarkan tangan di leher suaminya.


“Umi bilang, bermanja-manja pada suami itu dapat pahala.” Matanya sudah setengah terpejam, tapi kesadarannya masih mampu untuk merespon.


“Umi bilang sama kamu, gak, kalau suami juga harus dikasih jatah? Bukan cuma memanjakan istrinya.”


“Jatah apa, Bang? Yang harus ngasih jatah, kan, suami. Uang belanja, uang saku, uang perawatan ....”


“Ah, sudahlah. Gak akan pernah connect juga kalau ngomongin itu,” gumamnya sambil terus berjalan hingga tiba di depan kamar. Lagi pula semakin dibahas akan semakin sulit Khayru menjelaskannya.


“Emang Abang mau aku ngelakuin apa?”

__ADS_1


“Bukain pintunya!”


“Cuma buka pintu?” Dia mulai memutar knop lalu mereka masuk.


Membaringkan Maula dan juga dirinya di atas tempat tidur. Ingin rasanya membahas sesuatu yang lain di sana. Namun, tiba-tiba hal itu menjadi sangat tabu baginya. Dia memilih topik lain supaya suasana tidak menjadi kaku.


“Gimana perasaanmu setelah bertemu saudari sepupu? Abang lihat ekspresimu biasa saja tadi.” Mereka hanya berbaring saling menghadap sesekali berebut guling dan selimut yang akhirnya mereka gunakan bersama-sama.


“Abang mau lihat aku teriak sambil loncat-loncat karena senang? Duh sayangnya ini sudah malem, mata juga udah ngantuk banget. Jadi ... yah ekspresiku cuma gitu-gitu aja,” jawab Maula, ngasal.


“Gak gitu juga kali, ah,” cibirnya.


“Abang kan tau kalau aku ini selalu butuh waktu untuk bisa akrab dengan orang baru. Akan terlihat aneh kalau aku tiba-tiba sok kenal sok dekat. Apa lagi kalau sama mahluk yang namanya cowok, bisa kena jitak jidat aku, nih.”


“Itu, sih, genit namanya. Gak usah tebar pesona, cuma sedikit senyuman saja, biar orang yang melihat, ikut bahagia. Kan ada tuh hadist keutamaan senyum.”


تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ (رواه الترمذى)


“Senyum manismu di hadapan saudaramu adalah shadaqah” (HR. Tirmidzi)


“Anak-anak TK udah pada hafal hadist ini, loh.”


“Abang mau bilang, aku kalah sama anak TK, ya? Kenapa, sih, aku gak ada bagus-bagusnya sedikit pun di mata suami.” Dia mulai mencubiti perut suaminya sambil mengerucutkan bibirnya.


Sambil terkekeh, Khayru segera menarik Maula dalam dekapannya, sebelum dia benar-benar merajuk.


Di waktu yang bersamaan, Katia yang baru saja memasuki kamar tamu, hanya duduk sambil memandangi seisi kamar mewah yang selama ini hanya bisa ia lihat di hotel tempat ia bekerja. Entah harus percaya atau tidak jika saat ini dia telah menjadi bagian dari keluarga Alm. Zulfikar Arifin--kakak dari Harnum Hepita yang tak lain dan tak bukan adalah ibu kandungnya sendiri. Begitu takut ia bangun dari mimpi indahnya, hingga tak ingin memejamkan mata sedikit pun. Biarlah ia tetap terjaga sampai pagi demi memastikan bahwa ini benar-benar sebuah keberuntungan dalam hidupnya. Dan bukan hanya sekadar bunga tidur malam ini.

__ADS_1


To Be Continued ....


__ADS_2