Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 47


__ADS_3

“Mana coba buku PR bahasa Inggris punya Lo, gue periksa dulu.” Rere memberi kode supaya Maula mengeluarkan bukunya dari dalam tas sebelum guru bahasa Inggris tiba di kelas.


“Dah kelar kali, kan tadi dibantu laki gue ngerjainnya.” Maula menunjukkan buku PR bahasa inggrisnya ke tangan Rere.


Rere manggut-manggut setelah melihat semua PR dengan jawabannya yang rapi di buku Maula.


“Udah sini balikin bukunya.” Maula menengadahkan telapak tangan sambil menaikan alisnya.


“Tunggu, tunggu!” sela Nikita. “Sekalian test dulu pronouncing kalimat yang dia tulis itu, Re. Biar gak malu-maluin kita bedua nanti di depan kelas,” sungutnya.


“Ah, iya, bener, bener.” Rere manggut-manggut. “Kalau salah lagi ngucapinnya, ta sleding nih, bibir seksi yang pinternya cuma nyosor-nyosor bibir suami doang.” Rere menekan bibir Maula dengan telunjuknya. “Giliran speaking English, belepotan gak karuan.”


“Ya Kareem ... dari pada punya temen julid kek gini, mending gak punya temen aja sekalian gue mah, sumpah,” sungut Maula.


“Kalimat asking/offering for help, coba ... satu kalimat aja, buruan!” titah Rere.


“Bentar-bentar ....” Maula menyela obrolan sambil berdiri mengarah jendela kelas saat mendengar suara gemuruh pesawat di atas langit.


“Ish ... Kaaan? Mangkir mulu kalau diajarin,” desis Rere.


“Ngapain coba tuh anak, dadah-dadah ke langit? Kena lapor lakinya, baru tau rasa,” timpal Nikita.


“Dadahin laki gue-lah, biar kalian bedua makin nambah kadar kejulidannya,” jawab Maula sambil tengadah ke arah pesawat yang lewat tepat di atas gedung sekolah.


Dia kembali duduk dan menatap jam tangan yang menunjuk angka sembilan, bertepatan dengan jadwal penerbangan suaminya.


Karena tak biasa berjauhan dengan sang suami, membuat Maula tak berhenti memikirkannya selama beberapa hari setelah ia ditinggal. Yang ada di pikirannya hanya suami dan suaminya.


“Wah, gak bener, nih. Fokus belajarnya makin kacau aja,” cibir Nikita saat melihat Maula yang hampir kehilangan konsentrasi dalam belajar.


“Siape?” tanya Maula cuek.


“Siape lagi kalau bukan benda purbakala yang dititipin suaminya dari museum ke museum? Ya Elo!” tegasnya.


Maula yang tengah menopang dagunya di atas meja kantin, menghela napas sambil mengerucutkan bibir. “Lagi kangen, nih, gue ...,” gumamnya.


“Suruh pulang apa susahnya? Tinggal telepon. Ini kan dah lewat seminggu.” Nikita melirik sekilas lalu menyeruput jus sirsak kesukaannya.


“U dah,” jawab Maula masih setengah melamun.


“Terus?”


“Mertua sendiri yang minta izin ke gue supaya Abang gak disuruh pulang dulu. Katanya lagi butuh tenaga buat kelola bisnis di sana.” Maula mengendikkan bahunya. “Kalau udah begitu, mana berani gue ngerengek minta dia pulang,” lanjutnya.


“Ya udah, sabar aja, sih, kan masih bisa teleponan,” hibur Rere. “Teleponan masih, kan?” Rere mempertegas.


“Ya masih, cuman dia jail.”


“Jail gimana?” Nikita dan Rere berbarengan karena penasaran.


“Kalau gue bilang kangen, langsung dah tuh dia kirim foto telanjang dada sama bibir seksinya. Kan, bukannya ngobatin rindu malah bikin otak gue traveling sampe ke Maroko. Dasar laki kurang asem!” umpatnya.


“Ya, Lo kirim balik foto seksi Lo, dong. Jan mau kalah gitu aja. Kalau perlu ....” Rere menatap sekeliling lalu mendekatkan bibir di telinga Maula dan Nikita turut mendekat gak mau ketinggalan. “Kirim vidio bugil, Lo, sekalian,” bisiknya lalu tertawa.


“Haaiiiss!!” desis Maula sambil menoyor kepala Rere. “Lo kira, gue bintang film porno apa? Gimana kalau Vidionya nyebar ke internet. Bisa laris manis, dong, gue!”


“Hahaha ... bagus, dong! Mungkin dengan cara itulah akhirnya gue bisa numpang pansos.”


“Si*lan, Lo pada,” gerutunya sambil menyunggingkan bibir.



__ADS_1


“Enon dah pulang, ta?” tanya Bik Sulis saat Maula langsung menuju ke dapur.



“Baru nyampe, Bik,” jawabnya sambil duduk. “Abang telepon, gak?”



“Bentar lagi kali, Non. Makan dulu, ya. Bibik siapin.”



“Ntar aja, nunggu Kakak Tia. Aku mau mandi dulu.”



Maula bergegas ke kamarnya. Dia bawa handphone-nya ke kamar mandi karena takut melewatkan telepon dari sang suami.



Dia merendamkan tubuhnya dia atas bathup yang mengepulkan asap hangat yang berasal dari air mandinya. Menghilangkan penat dan berusaha rileks setelah aktifitas seharian. Matanya yang terpejam, seketika terbuka demi meraih handphone yang tiba-tiba berbunyi di sampingnya.



Matanya berbinar mendapati panggilan yang ia tunggu-tunggu. “Assalamualaikum, Bang,” sapanya sembari sedikit menaikkan tubuhnya karena harus duduk tegak saat menerima panggilan. Entah disadarinya atau tidak, panggilan Vidio sudah memperlihatkan bagian tubuhnya di handphone Khayru.



Bukannya menjawab salam, Khayru malah membelalakkan mata, membuat Maula mengulangi ucapan salamnya berkali-kali.



“Iya, iya. Waalaikum salam. Maaf.” Sambil menelan ludah. “Kamu sedang balas dendam, ya?”




Khayru menarik napas sangat dalam lalu membuangnya perlahan sambil memejamkan mata. Menahan tegangan tinggi yang mencapai 150. 000 voltase, saat ini sangat menyiksanya. Hal-hal aneh pun mulai berseliweran di pikirannya yang mulai liar.



“Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3.371 meter di atas permukaan laut sedangkan Gunung Sindoro ketinggian mencapai 3.136 meter di atas permukaan laut Keduanya dikenal dengan sebutan doubel S atau Gunung Susi, pasangan gunung kembar Sindoro dan Sumbing memang terlihat mirip dari kejauhan. Nampak sama padahal beda. Jika puncak Gunung Sumbing bergerigi maka puncak Gunung Sindoro terlihat mulus.  Yang sama dari keduanya adalah keberadaan padang rumput atau sabana di sekitar kawasan menuju ke puncaknya.” Dia memaparkan apa yang terpampang di depan mata.



“Dari puncak gunung kembar ini para pendaki juga bisa menikmati sunrise dan sunset dengan lautan awan putih di sekitarnya bak negeri di atas awan.”



“Dek ... Dek. Kenapa gak sekalian aja kamu pamerin telaga Ajaib dan taman bunga edelweiss yang begitu memesona yang ada di sekitar sana,” tuturnya sambil berimajinasi lalu menepuk-nepuk jidatnya sendiri.



“Abang ngomong apa, sih?”



“Di sini menjelang siang cuaca lagi panas-panasnya, kamu malah enak-enakan ngadem di sana.”



“Cuaca di sana panas, kok, aku yang disalahin?”

__ADS_1



“Kamu bikin tambah gerah. Sshh ....” Khayru membuka jas dan ikatan dasinya yang terasa mencekik.



“Sini, Bang. Ngadem bareng aku.” Ucapan Maula mulai terdengar nakal di telinga. “Beneran kangen, Loh, Bang, aku nih.” Maula kembali menyandarkan kepalanya ke dinding bathup. Tetap saja dia tak peduli dengan ekspresi suaminya yang hampir meneteskan air liur.



*Tega bener*. Khayru mengacak rambutnya.



“Selesein dulu mandinya, abis itu, Abang telepon lagi!” Tanpa aba-aba, Khayru menutup teleponnya sepihak.



“Loh, kok ditutup?” Maula masih memandangi layar handphone. Tak lama ia terkekeh karena menyadari kenakalannya terhadap Khayru. “Maafin ya, Bang,” gumamnya sambil mengetuk-ngetuk layar handphone dengan buku jarinya.



Tak lama kemudian, Maula kembali menerima panggilan Vidio. Kali ini dia sudah selesai mandi akan tetapi masih menggunakan jubah mandi sambil rebahan di kasur.



“Abang ngapain sih, Bang, telepon mulu? Mending balik aja ke rumah. Enak, bisa deketan terus dari pada LDR.”



“Enak gimana? Deketan juga di-PHP-in mulu. Gak enak tau?”



“Abang mau minta hak Abang? Ya udah ....”



“Ya udah apa? PHP lagi?”



“M-malam pertama, *Coming soon* setelah Abang pulang ke rumah. No PHP,” ucapnya sangat gugup. Padahal baru diucapkan belum dilakukan.



“Serius? Abang pegang, ya, janji kamu.”



“O-oke.” Wajah kakunya dipaksa mengangguk demi meyakinkan suaminya.



“Kamu siap-siap, ya. Abisin dah tuh uang bulanan buat nyalon. Hair mask, spa, facial, masker, lulur, pijat, mandi kembang segala macem. Jangan lupa olah raga. Abis tu, tunggu kedatangan Abang di rumah,” ucap sang suami seraya memainkan alis tebalnya.



Tiba-tiba, Maula merinding. Dia segera merapatkan jubah mandi bagian dadanya. Apa mau dikata, dia sudah terlanjur berjanji dan harus ditepati.



To Be Continue ....

__ADS_1



Kira-kira Maula beneran ngasih hak suaminya apa enggak, ya? Tebak hayoo ...


__ADS_2