
Cahyono masuk ke dalam kafe bersama gitarnya. Dia menghampiri Maula yang tengah duduk bersama Pram di salah satu meja tempat ia dan teman-temannya berkumpul. Rere seperti biasa, dia duduk di meja kasir sedangkan Nikita, dia sibuk membantu Dandi sambil ngobrol, terkadang suaranya terdengar cukup keras kala tertawa. Entah apa yang mereka bahas, yang pasti kian hari mereka makin terlihat akrab.
Jrengggg ....
Suara gitar itu terdengar kembali mengiringi suara fals-nya. Melantunkan lirik campur sari milik almarhum yang dikenal dengan nama Didi kempot--seniman asal Surakarta.
Wis sakmestine ati iki nelongso
Wong seng tak tresnani mblenjani janji
Opo ora eling naliko semono
Kebak kembang wangi jroning --
Belum selesai ia menyanyikannya satu bait, tiba-tiba dilempari hujatan karena suaranya yang tak enak didengar.
“Adduuh ...,” gumam Rere sambil menatap Nikita dan Dandi yang menahan senyum sambil mengendikkan bahunya. Mereka segera menghampiri Cahyo sebelum pelanggan terganggu dengan suaranya.
“Mas! Mas! Baca itu, gak? Di sini ngamen gratis loh, Mas.” Rere datang menyambar sementara Dandi hanya memandang sambil mengangkat alis, sesekali dia menggelengkan kepala sambil menahan tawa. Begitu pun dengan Nikita.
Cahyo pun mengerutkan keningnya sambil menoleh. “Ya Ndak papa. La wong saya ndak minta dibayar, toh? Saya gratis, kok, kasih hiburan buat Mbak Maula.” jawabnya ngeyel.
“Iya, tapi yang lain terganggu, Mas. Tuh lihat mereka ... pada tutup kuping, kan?”
“Saya Ndak peduli, saya kan cuma mau hibur Mbak Maula. Itu aja.” Ngotot dengan gaya medoknya.
Sebenarnya, Maula tidak mendengar lagu apa yang dinyanyikan Cahyo karena telinganya selalu terhubung pada earphone yang baru ia lepas setelah terlihat orang-orang mengerumuninya. Dia menghela napas lalu meminta Dandi membuatkan sepiring makanan.
“Mas Cahyo tunggu saya di luar, ya. Nanti saya bawakan makanan,” ucap Maula coba menengahi.
Sementara Cahyo terlihat mengulurkan tangannya ke arah Pram--dosen tampan dan juga pintar. “Kenalin nama saya Basuki, Mas,” memperkenalkan diri dengan wajah tengil.
“Loh, bukannya nama Mas itu Cahyono, ya?” tanya Rere heran.
“Egh ....” Dia menggaruk lehernya. “Basuki Cahyono maksud saya. Di kampung, saya dipanggil Basuki. Suka-suka aja, Mbak.”
“Ya sudah sana! Tunggu di luar.” Rere nunjuk meja kosong yang ada diluar sambil berkacak pinggang.
Cahyo pun mengangguk sambil melirik ke arah Pram yang menatapnya sambil tersenyum. Dia kembali bernyanyi sambil memainkan gitarnya di meja paling depan. Tidak takut mengganggu telinga orang lain lagi karena di bagian sana tidak terlalu banyak pengunjung yang duduk sambil nongkrong.
Maula berhenti di belakang Cahyo sambil membawa piring di tangannya, saat dia mendengar suara fals lelaki itu menyanyikan penggalan lagu 'RAHASIAH HATI' yang dipopulerkan grup band Element pada tahun 2002. Maula tidak tahu apa judul lagu dan siapa pemiliknya, karena mungkin saat lagu itu populer, dia baru saja lahir ke dunia. Yang dia ingat, seseorang sering menyanyikan lagu itu di balkon.
“Abang! Lagunya romantis banget, sih?” sela Maula yang duduk berhadapan seraya menghayati lagu yang dibawakan Khayru.
“Ini lagu buat kamu,” ucapnya sambil mengerling lalu melanjutkan nyanyian yang belum selesai itu diiringi permainan gitar.
“Wah, so sweet.” Gadis yang tengah menatapnya sambil menopang dagu itu langsung bangkit dan berdiri di belakang sambil melingkarkan tangan di leher Khayru. “Lanjut, Bang! Aku suka lagunya. Romantis. Cocok dengan suara Abang.”
“Hanya tiga bait terakhir. Abang tidak suka dengan lirik dua bait pertama di lagu ini,” ucapnya. Benar-benar hanya tiga bait terakhir yang selalu Maula dengar dari lagu itu. Dan ini kali pertama ia tahu lirik lagu lengkap dengan dua bait pertama.
Waktu terus berlalu
Tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan
Masih teringat jelas
Senyum terakhir yang kau beri untukku
Tak pernah 'ku mencoba
Dan tak ingin 'ku mengisi hatiku dengan cinta yang lain
'Kan kubiarkan ruang hampa di dalam hidupku
Bila aku harus mencintai
Dan berbagi hati itu hanya denganmu
__ADS_1
Namun bila 'ku harus tanpamu
Akan tetap kuarungi hidup tanpa ber ....
Cahyo tidak melanjutkan lagunya karena dia tak sengaja melihat Maula dari kaca transparant yang memantulkan sedikit bayangannya.
“Mbak Maula, kok, malah berdiri di situ? Terpana dengan suara emas saya, toh?” tanya Cahyo ketika dia melirik ke belakang.
Jadi seperti itu, dua bait lirik lagu kesukaan Maula yang tidak pernah dinyanyikan Khayru selama ini. Ternyata tidak romantis, tapi menyedihkan, batinnya.
Maula segera duduk sambil meletakkan piring di atas meja. Cahaya menerpa mata yang basah, membuat manik hitam miliknya nampak menyilaukan.
“Nyanyikan lagi dua bait pertama, Mas,” pinta Maula.
Cahyono hanya menggeleng lalu meletakkan gitar di kursi yang kosong.
“Kenapa?”
“Ndak papa. Saya ndak suka aja dengan bait pertama.”
“Sependapat dengan su ... hhh Abang saya.” Maula hampir salah bicara. “Dia juga gak suka bait pertama. Sepertinya, semua orang tidak suka ya dengan dua bait pertama?” katanya sambil mengendikkan bahu.
“Abangnya Mbak Maula? Kok saya ndak pernah ketemu? Ndak pernah ke sini, toh?” tanyanya seperti orang penasaran.
Maula hanya mengulas senyum sambil mengangguk.
“Memangnya, di mana dia, Mbak?”
“Ada ... di hati saya, hehe ....” Sambil tersenyum. Terdengar seperti candaan. Membuat Cahyono sedikit mendengus.
“Saya serius, Mbak. Jawabnya kok bercanda.”
“Serius ... saya serius.” Maula berusaha meyakinkan. “Dia laki-laki kedua setelah Papa, yang memiliki tempat di hati saya.”
“Yang ketiga ... baru suaminya, gitu?”
“Hahaha ... sayangnya di hati saya cuma ada dua tempat aja, Mas. Gak ada slot ketiga,” tuturnya sambil menggeleng.
“Ahahaha ... ide Mas Cahyo cemerlang juga, nanti aku mau taruh suamiku di tong sampah aja kalau gitu.”
“Duh gusti, ngapura cah iki.” (Ya Tuhan, ampuni gadis ini). Sambil menengadah ke atas.
Cahyo mengambil sumpit yang dibawa Maula bersama spagheti yang terlupakan karena keasyikan ngobrol dari tadi. Melihat kelakuan gadis di depannya, Cahyo ingin menusukkan sumpit itu ke lesung pipinya Maula, akan tetapi Maula menghindar sambil tertawa.
“Ya Allah, Sampe lupa. Spagheti-nya keburu dingin.”
“Sebenarnya saya mau makan ini dari tadi, tapi takutnya bukan buat saya.” Cahyo mulai mengaduk Spagheti sebelum melahapnya.
“Allaahhh ... pura-pura gak tau, deh. Memangnya buat siapa lagi? Saya bawa itu, khusus buat Mas Cahyo, kok.” cibir Maula.
“Kan, saya tersanjung jadinya. Sayangnya ndak ada tempat lagi di hati Mbak Maula. Coba kalau ada, mbok aku wis ngundang tangga teparo ing desa kanggo nglamar sampeyan, Jeng.”(Sudah kuajak tetangga sekampung untuk melamarmu, Mbak).
“Mas, roaming akutuh kalau sampeyan ngomong bahasa Jawa.”
“Maksud saya, seandainya masih ada tempat, mau aku ajak tetangga sekampung buat ngelamarmu, gitu.”
“Oo ... gitu.” Sambil membulatkan bibirnya. “Iya, Mas. Aku juga baru nyadar, kalau ternyata quota di hatiku sudah habis. Sudah gak ada tempat lagi.”
“Memangnya, gak bisa ya, buang yang lama ganti yang baru?”
“Udah kucoba geser-geser, tetep gak bisa, Mas.”
“Dosen yang cakep itu, tetep gak bisa?”
Maula kembali menggeleng. “Lagu yang tadi itu, apa judulnya, Mas?”
“Rahasia hati,” jawabnya sambil melahap spagheti yang sudah dingin dan terasa sedikit keras. “Populer banget lagu itu, zaman aku masih sekolah. Pasti dirimu masih bayi waktu itu, Mbak.”
__ADS_1
Maula mengetik dua kata di mesin pencarian sambil memasang earphone di telinganya. Muncullah lirik lagu yang dia cari di layar handphone-nya lalu menyanyikannya dengan suara pelan.
Waktu terus berlalu
Tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan
Masih teringat jelas
Senyum terakhir yang kau beri untukku
Tak pernah 'ku mencoba
Dan tak ingin 'ku mengisi hatiku dengan cinta yang lain
'Kan kubiarkan ruang hampa di dalam hidupku
Bila aku harus mencintai
Dan berbagi hati itu hanya denganmu
Namun bila 'ku harus tanpamu ....
Cahyo tiba-tiba menghentikan tangannya. Dia meletakkan sumpit di piring yang tersisa makanan di atasnya. Dia lihat Maula menyanyikan lagu itu sambil terpejam. Dari sudut matanya mengalirkan bulir bening yang tidak disadarinya.
Cahyo pergi diam-diam tanpa mengatakan apa pun. Dia biarkan Maula dengan nyanyian sedihnya. Sementara dari sekat kaca yang membatasi bagian dalam dan luar, terlihat beberapa orang yang berdiri memperhatikan mereka sejak Cahyo berhasil membuat Maula tertawa terbahak-bahak, hingga Maula menangisi lagu yang dinyanyikannya. Mereka hanya saling bertukar pandang lalu menghela napas panjang. Semua orang kini bisa tahu isi hati Maula yang sebenarnya, tapi tidak tahu kenapa hanya pada Cahyono-lah dia mengatakan semua. Apa hanya lelaki itu yang bisa membuat hati Maula merasa nyaman?
Baru saja selesai makan malam, Maula pamit kembali ke kamar karena harus belajar. Duduk bersila di tempat tidurnya sambil menyalakan laptop dan tumpukkan buku-buku yang akan dipelajarinya.
Terdengar ketukan halus dari arah pintu. Dia lepas earphone, ternyata ketukan di pintu itu sangatlah keras di sertai teriakkan Neneng memanggilnya.
“Non! Buka pintu! Ada tamu, Non!” Sepertinya Neneng sedikit lelah memanggil berulang-ulang.
“Sorry, Neng. Gak kedengeran,” ucapnya sambil membuka pintu. Maula terkekeh sambil menunjuk earphone di lehernya.
“Ah, Enon. Abis sudah suara Neneng, nih.” Sambil mengusap tenggorokannya yang hampir kering.
“Iya, maaf, maaf. Ada apa, sih?”
“Ada tamu, di bawah. Turun, gih!”
“Tamu? Malam-malam begini? Cewek apa cowok?”
“Hmm ... lelaki dewasa,” jawab Neneng sambil nyengir.
“Ya udah suruh tunggu bentar, deh. Minta Kakak Tia yang temenin dulu, ya.”
__ADS_1
To Be Continued ....