
Malam sudah sangat larut ketika mereka baru kembali ke hotel. Demi mengikuti kemauan Maula yang sudah seperti orang ngidam saja seharian ini.
Khayru melepas dan meletakkan di atas meja--kamera yang seharian ini ia kalungkan di lehernya. Lalu, ia rebahkan tubuhnya di atas tempat tidur karena sangat lelah.
“Akhirnya, bisa istirahat juga,” gumam Khayru.
Sementara Maula, setelah melemparkan topi bundarnya ke sembarang arah, ia menarik dengan kasar selimut dari atas tempat tidur yang spontan membuat Khayru melirik ke arahnya.
“Kenapa?” tanya Khayru dengan ekspresi yang tidak terlalu peduli.
“Masih nanya,” jawabnya ketus.
“Kamu lapar, Dek?” Khayru bangun sambil berusaha menghilangkan rasa kantuknya supaya bisa mencari makanan untuk Maula. “Ayo turun lagi ke dapur.”
“Aku maunya tadi makan di pasar malam Gili Trawangan. Yang dijajakan di pinggir jalan itu, loh.” Bibirnya mengerucut karena kesal.
“Ini kan dah malam juga. Kita sudah makan sate, kalau tadi kita makan lagi di sana, kita mau pulang jam berapa? Antriannya itu, aduh, udah kaya mau beli tiket konser aja tadi tuh. Belum lagi pemandangannya itu bikin nganu banget pokoknya. Hhhh.” Khayru menggelengkan kepalanya mengingat di sana begitu banyak turis dengan pakaian yang minim.
“Abang kan bisa tutup mata kalau gak mau lihat. Asal Abang tau aja, ya, sebenarnya aku juga mau banget pake baju kaya gitu.”
“Astagfirullah ....”
Ampun dah ini anak gak ngerti banget perasaan lelaki dewasa.
“Sebenarnya kan kamu cuma mau makan plecing kangkung. Kita buat di sini apa susahnya?”
“Kalau makan di sana sensasinya pasti bedalah, Bang.”
“Beneran ya kamu tuh udah kaya emak-emak lagi ngidam hari ini.” Khayru berdiri sambil berkacak pinggang. “Ayo bilang, siapa bapaknya?”
“Abaaaaaang ...?! Lama-lama aku tabok juga, ya, mulutnya.” Spontan Maula membentaknya dengan mata membulat.
“Astagfirullah. Amit-amit, ya Allah.” Khayru menutup mulutnya sambil bergidik lalu mengusap dadanya sendiri. Dia kaget dengan ucapan yang baru keluar dari mulutnya sendiri.
“Oke, oke ... maaf.”
“Abang janji besok-besok kita ke sana lagi, tapi ... sekarang tidur dulu. Kamu gak cape emangnya?” ucapnya sambil kembali merebahkan diri. Sudut matanya menangkap bayangan Maula yang tengah menggelar selimut dan bantal di lantai, membuat Khayru kembali bangun menyorongkan wajahnya ke arah Maula.
“Hooii?! Ngapain tidur di situ?” tanyanya membuat Maula sedikit kaget.
“Anu ... biar Abang gak nganu. Kita kan gak boleh mendekati Zina. Bukan mahram!”
Sontak Khayru tertawa sangat keras. “Gak papa, Abang yang tanggung dosanya. Ayo buruan sini naik,” titahnya sambil mengulurkan tangan.
“Gak mau, ah! Aku di sini aja.”
“Ya udah. Terserah.” Dengan leluasa Khayru menjatuhkan dirinya di tempat tidur sambil merentangkan tangan dan kakinya selebar mungkin.
“Heleehh ... malah bilang 'terserah' doang. Harusnya kan dia minta tukeran tempat. Aku tidur di atas, dia di bawah,” sungutnya sambil membaringkan diri.
Beberapa saat setelah Maula terlelap, Khayru memindahkannya ke atas tempat tidur. Mana tega dia membiarkan Maula tidur di lantai yang dingin seperti anak kucing. Ingin rasanya dia menyentil kening Maula. Namun, dia tidak sampai menyentuhkan sentilannya itu karena takut Maula terbangun.
Ketika bangun pagi hari, Maula mendapati Khayru yang tengah mengenakan setelan kerja karena hari ini dia benar-benar harus menyelesaikan tugasnya.
“Abang mau kerja? Ini masih pagi banget.” tanyanya yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Khayru.
“He-em ...,” jawabnya sambil melirik sekilas. “Biar kita cepat pulang.”
“Abang kangen Tante Risa, ya?”
“Iya, kangen sama Neneng juga,” kelakarnya.
__ADS_1
“Ugh, dasar Playboy cap koin,” ucapnya sambil beringsut dari tempat tidur. Di melangkah ke kamar mandi tanpa menghentikan celotehannya. “Semalam dikasih bule yang aduhai matanya pura-pura gak lihat ternyata karena seleranya sekelas Neneng. Ck ...,” gumamnya sambil menutup pintu kamar mandi dengan keras.
“Eh, bocah! Gak ada sopan-sopannya ya sama orang ganteng.”
“Sorry, Bang! Lupa kalau ada orang tua di kamar ini,” teriaknya sambil tertawa.
“Orang tua? Apa iya gue setua itu?” Ia mengamati wajahnya di depan cermin sambil mengusap dagu. “Gak tua-tua banget, sih, tapi ... ngomong-ngomong berapa umur gue sekarang?” Tiba-tiba dia menepuk jidatnya sendiri mengingat umurnya sudah menginjak 34 tahun. Aldi saja yang usianya lebih muda, akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini. Sementara dirinya masih begini-begini saja.
Ibaratnya, ketika Astronot bolak balik pergi ke bulan, dirinya masih mengurusi kuning telur di telapak tangan.
“Bang!! Cepet keluar sana! Aku dah selesai mandi, nih. Dosa kalau Abang lihat aku telanjang.”
“Gak apa-apa! Abang yang tanggung dosanya!” sahutnya santai.
“Oh, ya udah. Terserah.” Seperti biasa dengan wajah tanpa dosa dengan gaya cueknya, Maula keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang menutupi dada sampai paha atasnya.
“Aku tahu, aku tahu ... tubuhku gak seksi. Gak mungkin menggoyahkan imanmu, Bang.”
Khayru yang duduk di tepi ranjang sambil menatap ke arahnya, langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur sambil meremas ujung selimut lalu menggigitnya sangat kuat. Sementara Maula tengah asik memilih baju sambil berlenggak lenggok di depan cermin.
*Setiap ada kamu mengapa jantungku*
*Berdetak lebih kencang*
*Seperti genderang mau perang*
*Setiap ada kamu mengapa darahku*
*Mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala*
*Setiap ada kamu otakku berfikir*
*Bagaimana caranya untuk berdua bersama kamu*
*Aku sedang ingin bercinta karena*
*Mungkin ada kamu di sini aku ingin*
*Aku sedang ingin bercinta karena*
*Mungkin ada kamu di sini aku ingin*
*Setiap ada kamu mengapa jantung ini*
__ADS_1
*Berdetak lebih kencang*
*Seperti genderang mau perang*
*Setiap ada kamu mengapa darah ini*
*Mengalir lebih kencang dari ujung kaki ke ujung kepala*
*Di setiap ada kamu mengapa jantungku berdetak*
*Berdetaknya lebih kencang seperti genderang mau perang*
*Di setiap ada kamu mengapa darahku mengalir*
*Mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala*
*Aku sedang*…
“*Akh sial sekali harus mendengar lagu seperti ini*.”
“Matikan musiknya!” teriak Khayru sambil bangun dan menatap layar handphone yang menyala.
“Iya, Om.”
“Baik, baik. Saya usahakan pulang secepatnya.”
“Mungkin ... besok, Om. Mudah-mudahan hari ini urusan bisa selesai semua.”
Tak lama dia menutup teleponnya lalu bergegas melangkah ke luar.
“Siapa yang telepon, Bang?”
“Om Suryadi,” jawabnya sambil berhenti sebentar di ambang pintu. “Dia minta kita cepat pulang. Ada yang mau dia sampaikan. Katanya mumpung dokter Luthfie masih di Jakarta.”
“Dokter Luthfie? Apa hubungannya?”
“Gak usah banyak nanya. Abis sarapan, kamu bereskan barang-barang kita. Selesai kerjaan Abang, kita langsung pulang ke Jakarta.”
“Yahhh ... belum puas liburannya!” Maula membuang napas kecewanya.
Khayru tidak menghiraukan protes Maula. Dia langsung menutup pintu dan meninggalkannya.
To Be Continued ....
__ADS_1
Maaf cuma dikit up-nya. Mau anter anak dulu ke sekolah. Semoga siang nanti bisa up lagi 🙏