Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 20. Baiq Maharani


__ADS_3

Khayru tiba di sebuah pelataran tanah kosong yang penuh dengan rumput liar di sekelilingnya. Matanya terus mencari sambil mengingat-ingat posisi tempat itu. Akhirnya dia bernapas lega setelah melihat sebuah gundukan tanah di kelilingi keramik putih yang sudah ditumbuhi lumut hijau dan tertutup rumput. Benar-benar tidak terawat.


Dia menyibak dan menyingkirkan rerumputan itu supaya tidak menghalanginya lalu berjongkok. Meraba dan membersihkan batu nisan yang bertuliskan nama seorang wanita lalu tersenyum sambil menatap Maula yang masih berdiri di sampingnya.


“Ini makam siapa, Bang?” tanya Maula sambil menatap sekeliling lalu ikut jangkok mengamati makam di dekatnya.


“Baiq Asmarani,” jawab Khayru membuat Maula semakin penasaran.


Dulu nama Baiq tersemat di depan nama Asmarani karena dia merupakan wanita keturunan bangsawan. Namun, dia telah melawan adat karena mencintai lelaki dari kalangan rakyat biasa hingga memutuskan tetap menikah dengan lelaki yang dicintainya itu dan memiliki seorang anak lelaki.


Ternyata pernikahan itu tidak berlangsung lama. Hanya bertahan sampai anak mereka menginjak usia sepuluh tahun saja. Baiq Asmarani tidak terbiasa dengan kehidupan rakyat biasa hingga mereka memutuskan untuk berpisah. Sayangnya, dia tidak bisa kembali ke tengah keluarga besarnya karena hukum adat yang dia langgar. Bahkan dilarang datang ke dusunnya sejak dia memutuskan menikah dengan rakyat jelata.


Dia kembali bertemu dengan seorang lelaki dan memutuskan untuk menikah lagi hingga memiliki seorang anak perempuan. Namun, sejak itu tak ada lagi kabar tentangnya. Sementara mantan suami yang hanya orang biasa itu mengadu nasib ke ibu kota membawa anak lelaki satu-satunya dengan hanya berbekal kemampuan menenun kain sasak yang setelah itu usahanya berkembang menjadi sebuah pabrik. Di tangan anak lelakinya, usaha itu semakin tumbuh pesat menjadi sebuah pabrik tekstil & garment terbesar di Indonesia hingga saat ini.


Maula berpikir cukup lama untuk memecahkan teka-teki itu.


“Apa sudah bisa menebak siapa Baiq Asmarani?” tanya Khayru sambil menatapnya.


“Apa ... dia nenekku?” dahinya masih berkerut karena tak yakin dengan jawabannya sendiri.


Khayru tersenyum sambil mengusap kepala gadis di sampingnya. “Kamu pintar.”


“Dan anak lelaki yang melanjutkan usaha ayahnya itu ... dia Papaku?”


Khayru mengangguk dan kembali tersenyum. “Papa dan Kakek kita orang yang sangat hebat, bukan?”


“Selama ini Abang berusaha menemukan Nenek dan adik perempuan Papa, karena ini harapan Papa sebelum dia meninggal. Sayangnya, Abang hanya menemukan makam ini sejak beberapa tahun yang lalu.”


Maula menunduk sambil meneteskan air mata. “Papa tidak pernah bercerita apa pun tentang keluarganya padaku.”


“Karena kamu masih kecil waktu itu.” Khayru merangkul bahu Maula yang tengah terisak dan mengusapnya dengan lembut.


Setelah beberapa saat berada di sana, Khayru mendatangi sebuah rumah yang berada tak jauh dari tempat sebelumnya. Dia mengetuk pintu sambil mengucap salam berkali-kali.


Keluarlah seorang lelaki paruh baya dengan dahinya yang berkerut masih mencoba mengingat-ingat wajah tamu yang ada di hadapannya.


"Sai ...?"


(Siapa ...?)


"Bapak, masih ingat leq Tiang? Mauq tiang kete wah pire kali wah"


(Bapak masih ingat saya? Saya pernah datang ke tempat ini beberapa kali)


Lelaki itu manggut-manggut.

__ADS_1


"Epe anak Pak Zulfikar?"


(Putranya Pak Zulfikar?)


"Nggih, Pak."


(Betul, Pak)


Khayru senang karena tidak butuh waktu lama, lelaki itu bisa mengingatnya. Dia tidak menolak ajakan pemilik rumah untuk masuk sebentar ke dalam bangunan sederhana yang berukuran tak lebih dari 100 meter persegi itu.


“Di rumah ini, Papa menghabiskan masa kecilnya bersama Kakek dan Nenek,” ucapnya sambil menatap ke seluruh ruangan. Dia tidak bisa membayangkan kondisi rumah zaman dulu. Namun, dia hanya sedikit berimajinasi membayangkan Zulfikar kecil tengah bermain dan berlari-lari, lalu duduk sambil tertawa di pangkuan orang tuanya. Namun, tiba-tiba muncul adegan Zulfikar menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar hingga keluar dari rumah ini bersama sang ayah dalam keadaan menangis.


Khayru mengusap wajah dengan kasar, menepis semua bayangan yang hadir mengisi kepalanya. Dia tidak bisa berlama-lama di sana. Hanya meninggalkan sebuah kartu nama, berharap bisa sampai ke tangan saudara perempuan Zulfikar jika sewaktu-waktu dia datang ke tempat ini.


"Nggih, laun tiang sampeang kartu niki lamun iye pade kete malik,"


(Baik, akan saya sampaikan kartu nama ini jika mereka datang ke sini lagi) jawab laki-laki itu.


Khayru dan Maula kembali menuju jalan yang saat ini berubah menjadi sangat ramai karena ada sebuah iring-iringan pengantin yang tengah menjalankan adat nyongkolan


“Ini ada apa sih, Bang? Rame banget.”


Khayru coba bertanya pada penduduk di sana dengan bermodalkan bahasa Sasak yang pas-pasan yang dia pelajari dari ayahnya dulu.


“Apa tuh?”


“Iring-iringan pengantin dari rumah mempelai laki-laki menuju mempelai wanita.”


“Pengantinnya yang mana, Bang?”


“Yang itulah.” Khayru menunjuk pasangan yang masih di bawah umur dengan dandanan khas pengantin Sasak.


“Apa gak salah? Itu pengantin bohongan kali, ya?” Maula gak percaya ada pengantin sekecil itu di dunia ini.


“Beneranlah. Masa bohongan? Kamu tanya aja sendiri pada mereka.” Khayru menunjuk penduduk asli yang tengah menonton di sepanjang jalan.


“Emangnya boleh nikah di usia sedini itu, Bang?” Maula seperti tak bisa menerima bahwa ada kejadian seperti ini. Menurutnya ini tak adil buat mereka.


“Setahu Abang, gak ada batasan usia untuk menikah dalam pandangan Islam.”


“Menurutku ini kejahatan, Bang.” Maula tidak berhenti menggelengkan kepalanya.


“Namanya juga hukum adat. Mereka menjalankannya secara turun temurun. Mungkin tujuan dan alasan mereka baik, kita tidak pernah tahu jadi kita jangan menyalahkan mereka.”


“Jelaskan padaku, tujuan dan alasan yang baik itu seperti apa, Bang?” Rasa penasaran itu terus membuatnya ingin bertanya.

__ADS_1


“Menghindari perzinaan, mungkin salah satunya.”


“Gak mungkinlah anak sekecil itu melakukan per-zina-an.” Maula bersungut-sungut.


“Jangan salah, Dek. Pergaulan bebas seringkali membuat mereka dewasa sebelum waktunya. Jadi, jangan salahkan Abang jika mulai saat ini Abang melarang kamu bergaul dengan Ariel atau teman laki-laki mana pun.”


Maula semakin mengerucutkan bibirnya. Tiba-tiba tangannya di tarik dan tubuhnnya dipaksa masuk ke dalam mobil.


“Kita bicara di mobil.”


“Udahlah. Kita jangan bahas ini lagi.” Maula memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil.


“Kamu masih ingat Al-Qur'an surat Al isra ayat 32?”


Maula menggelengkan kepalanya dengan malas.


“Kalau gak salah bunyinya kayak gini :


'Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.'


“Kamu mengerti kan? Bukan hanya Zina tapi hal-hal yang mendekati Zina pun tidak diperbolehkan. Sepulang dari sini kita bertanya langsung pada Pak Kyai dan Umi Khadijah. Kita sama-sama belajar lagi tentang batasan-batasan mana yang tidak boleh kita tabrak.”


Khayru menatap wajah Maula yang murung lalu membawanya kembali keluar dari mobil ketika dia lihat sebuah toko penyewaan baju adat Sasak yang berada tak jauh dari sana. Dia menyewa sepasang baju pengantin adat hanya untuk berfoto dan membawanya untuk kenang-kenangan.


Mereka berdiri di depan cermin. Mengamati pakaian yang mereka kenakan sambil tersenyum-senyum.


“Kamu bukan anak di bawah umur lagi, Loh. Sudah cocok jadi pengantin sekarang.”


Maula tertawa sambil memukul lengan Khayru.


“Abang cocok jadi pengantin lelakimu 'kan?” tanyanya sambil tersenyum dan menatap.


“Jadi, kapan kita ke KUA?” candanya. “Atau kita pake adat nyongkolan aja seperti pengantin yang tadi, gimana? Sebenarnya kita sudah bisa bulan madu, loh, sekarang,” gumamnya sambil merapikan beberapa bagian baju Maula.


“Abang ketuaan buat aku. Cariin aku suami yang lebih mudalah, Bang.”


“Kalau takdirmu ternyata mendapat suami setua Abang, gimana? Terima sajalah, dari pada Abang jatuh ke pelukan Neneng.”


Maula tertawa mengingat Neneng--ART di rumahnya yang selalu cari perhatian di depan Khayru.


__________


**Nyongkolan adalah puncak dari tahapan ritual pernikahan adat Sasak. Acara ini dilakukan dengan arak-arakan (pawai) pasangan pengantin layaknya seorang raja dan ratu menuju kediaman mempelai wanita.


To be continue ....

__ADS_1


__ADS_2