
“Ini, Tuan. Orangnya ada di sini.” Maula di tarik seperti seorang pesakitan yang sedang diintimidasi. Wajahnya merengut, tapi hidungnya tidak bisa bohong sejak dia mencium sesuatu dari arah sana.
Khayru menoleh ke belakang. Membawa sepiring daging yang sudah dibakar. “Ya udah, suruh makan!” Dia meletakkan piring tersebut di atas meja sambil mendorongnya ke hadapan Maula lalu duduk.
Meja bundar yang didesign untuk makan ala lesehan itu sudah penuh dengan makanan yang mengeluarkan aroma grill yang menjadi makanan favorite Maula. Dia menelan air liurnya sambil membuka mata lebar-lebar. Karena tidak tahan, perlahan dia duduk sambil menatap orang-orang yang ada di sana. Tangannya mengambil sepasang sumpit yang diletakkan di samping piring. Tanpa malu-malu, dia menggepit makanan dengan sumpit lalu melahapnya.
“Baca doa ... ish!” cibir Khayru sambil mendesis pelan. Maula mendelik lalu mengangguk. Dia menengadahkan kedua tangan kemudian mengusapkannya ke wajah.
Para ART yang awalnya berada di meja yang sama, satu per satu berpindah ke tempat lain. Mereka lebih memilih untuk mengamatinya dari jarak jauh sembari pura-pura sibuk, sementara Khayru tetap berada di hadapan Maula sambil mengerutkan keningnya. Terkadang dia menggelengkan kepalanya saat Maula berkali-kali mengisi piringnya.
Maula tidak mengeluarkan suara sedikit pun, begitu pun dengan Khayru, dia hanya membiarkan Maula makan daging sepuasnya sambil memandangi dengan tatapan sinis. Maula yang merasa sedikit risi dengan tatapan suaminya, berkali-kali menjatuhkan makanan yang hampir masuk ke dalam mulut.
“Iihh ...,” keluhnya ketika daging yang ia capit, jatuh untuk kesekian kalinya.
“Kalau makanan yang hampir kita makan, tiba-tiba terjatuh, itu tandanya seseorang ingin memakannya juga,” seru Neneng tiba-tiba. “Iya ... biasanya gitu, Non, kabitaeun,” tegasnya lagi sambil membuang muka.
Maula mendongak ke arah Neneng dan yang lainnya. “Emangnya, siapa yang mau makananku?”
Spontan, semuanya menunjuk ke arah Khayru yang sedari tadi hanya menelan air liur. Ekspresinya berubah saat menyadari saat ini sedang menjadi tertuduh.
“Loh, kok, saya?!” Dia mengarahkan telunjuk pada wajahnya sendiri dengan dahi mengkerut.
“Memangnya siapa lagi?” Maula mengarahkan satu potong daging ke mulut Khayru supaya dia memakannya. “Udahlah gak usah malu-malu.”
“Makan aja, Tuan. Masa kalah sama bujangan.” Tini menimpali sambil menunjuk Ferdi dengan mulutnya.
Khayru nampak terus berpikir sambil memandangi daging itu. Namun, akhirnya bukan hanya melahap daging tersebut dia bahkan merebut sumpit dan menambahkan beberapa potong daging lagi ke mulutnya hingga penuh. Satu piring sudah kosong karena dia menghabiskannya. Sambil mengunyah, dia bangkit dari tempat duduk.
“Saya tidur duluan. Di sini panas,” ucapnya sambil mengusap dahi yang berkeringat. Lalu, pergi ke kamarnya.
“Aku juga kenyang. Mau tidur dulu.” Sambil mengikuti Khayru di belakangnya.
Suara-suara sumbang terdengar sedang menggoda pasangan yang tengah menuju ke kamarnya, membuat Maula kembali menoleh sebentar. “Ngomong apa, sih?! Awas, ya kalau gibahin aku,”ancamnya.
“Udah, Non, tidur sana! Gak usah didengerin.” Bik Sulis mengibaskan tangannya supaya Maula cepat pergi. Di susul tawa yang lainnya.
Suara percakapan Neneng, Ferdi dan yang lainnya masih terdengar seiring Maula melangkah di belakang Khayru.
__ADS_1
“Neng, jawab tebakan aku, ya,” katanya Ferdi sambil menusuk tangan Neneng dengan ujung sumpit yang tumpul.
“Kamu tahu, gak, HAL apa yang ingin aku lakukan di masa mendatang?”
“Apa, sih? HALan-HALan ke luar negeri, ya?”
“Bukan!!” jawab Ferdi dengan cepat. “HALalin kamu, biar kaya Tuan dan Non Maula,” sambungnya malu-malu. Tiba-tiba seperti ada musik dan suara tepuk tangan diiringi suitan penonton yang mengelilingi tribun.
Semuanya tahu kalau Ferdi paling suka gombalin Neneng. Hanya saja Neneng masih pura-pura suka Tuannya meskipun cuma bercanda.
“Satu lagi, Neng. Jawab yang bener, yak.” Dia mengacungkan telunjuknya.
“MOBIL, mobil apa yang paling nyaman kalau dijadiin sandaran?”
“MOBILang kamu tapi gak jadi, ah,” jawab Neneng sambil membuang muka.
“Jiiaahh ... Neneeengg!! Bulan depan Aa lamar kamu, ya ....” Ferdi bangkit dari duduknya sambil tertawa.
Gelak tawa mereka masih terdengar membahana meskipun Maula sudah berada di depan kamarnya. Namun, dia tak menghiraukannya. Maula berhenti sejenak karena ternyata suaminya hendak masuk ke kamar pribadinya.
“Abang mau tidur di situ?”
Tak ingin ketinggalan, Maula segera merapatkan diri di belakang Khayru hingga membuatnya memutar badan.
“Ngapain?”tanyanya ketus sambil mengerutkan kening.
“Ya tidur juga.”
“Kamarmu di sana!” tunjuk Khayru ke arah kamar yang berhadapan.
“Gak ada kamar aku begitu pun kamar kamu. Kamar suami sama dengan kamar istri. Begitu pun sebaliknya,” ucapnya sambil mendorong Khayru hingga masuk ke dalam kamar.
Kaya ngerti aja, apa artinya suami istri? batin Khayru sambil mencemuh lalu mencari piyama di dalam lemari. Dia mengabaikan Maula yang sudah berbaring tanpa berganti baju dan tanpa menggosok gigi dahulu. Dia turut berbaring membelakanginya. Tanpa menarik selimut karena tahu akan dipake oleh Maula.
“Kok, tidurnya jauhan?”
“Udah makan sebanyak itu, gak gosok gigi. Bajunya juga bau,” gumamnya dengan suara khas orang yang mulai tertidur.
__ADS_1
“Di sini kan gak ada bajuku. Mau gosok gigi juga udah malem banget. Besok aja.” Maula mendekat ke punggung suaminya sambil berbagi selimut. Maula tahu ada hal yang membuat suaminya marah saat ini. Bukan karena dia bau.
“Abang marah, ya?” Maula menarik-narik kerah piyama yang dikenakan lelaki di hadapannya.
“Kamu pikir, suami mana yang tidak marah jika istrinya menangisi laki-laki lain? Sampai melempar handphone dengan kasar di hadapan suaminya.”
“Abang cemburu, ya?” selorohnya.
“Kalau Abang diam saja melihat kelakuanmu, artinya Abang menjadi suami yang dayuts. Menjadi salah satu dari golongan orang yang Allah haramkan masuk syurga.”
“Maaf, Bang ....” Maula terdengar menyesal meskipun dia tidak mengerti apa yang dimaksud dayuts. Dia ingin bertanya pada Umi Khadijah tapi handphonenya rusak.
“Aku ... mau cerita sesuatu tentang Ariel. Biar kita tidak salah paham.”
“Sudah malam. Besok saja ceritanya.” Dia masih memunggungi Maula. Menunggu sampai istri kecilnya itu tertidur lelap baru memutar badannya. Sebenarnya, dia penasaran dengan apa yang ingin diceritakan Maula beberapa menit yang lalu, tapi memang malam sudah terlalu larut, khawatir kalau malam ini mereka tidak bisa istirahat.
Hingga pagi datang, wajah Khayru belum kembali sepenuhnya. Dia belum mengajak Maula bicara apa lagi menunjukkan senyuman.
“Aku sekolah dulu, ya, Bang,” ucapnya sambil meraih punggung tangan Khayru. “Assalamualaikum.”
Dia menjawab salam dengan pelan sampai akhirnya berlalu menuju kantor.
Maula yang masih memandangi mobil Khayru, tiba-tiba pundaknya ditepuk dengan keras oleh Rere dan Nikita. Dua teman sekelas yang dikeal musuh bebuyutan sejak Maula duduk di SMP.
“Heh!? Apaan, loh? Ngajak ribut, ya pagi-pagi!?”
“Tenang dikit, Napa, sih, La? Bawaannya nyolot Mulu, Lo mah,” cibir Rere sambil merapikan kerudung Maula.
“Ini apaan, sih? Mau kalian apa sebenarnya?” Maula semakin curiga dengan sikap mereka berdua yang tiba-tiba berubah 180 derajat.
“Kita temenan.” Nikita mengulurkan tangannya untuk bersalaman sambil tersenyum. Rere ikut tersenyum hangat sambil mengangguk-angguk. Namun, Maula yang tidak mengerti, memilih pergi dari hadapan mereka berdua dengan dahi mengkerut.
To Be Continued ....
__________
Dayuts adalah lelaki yang tidak memiliki rasa cemburu terhadap istrinya. (al-Mishbah al-Munir, madah: da ya tsa). Pelakunya disebut dayuts, sementara perbuatannya disebut diyatsah.
__ADS_1
Dalam Ensiklopedi Fikih dinyatakan,
Dalam istilah para ulama, diyatsah didefinisikan dengan berbagai macam pengertian yang mirip, dan satu kesamaan yang tidak berbeda dengan makna bahasa, bahwa makna diyatsah adalah tidak adanya rasa cemburu dari suami terhadap istri dan keluarganya. (al-Mausuah al-Fiqhiyah, 21/96).