
Katia dan Aldi baru saja kembali setelah menghabiskan waktu istirahatnya di 'Lunar caffe' milik Rere. Yang mereka bahas tak lain hanya seputar pekerjaan yang kian hari kian bertumpang tindih. Sampai hari ini, Katia belum juga menerbitkan laporan audit keuangan perusahaan sejak ia menduduki jabatan Risa.
“Maafkan saya, Pak Aldi. Laporan audit tidak selesai tepat waktu.”
“Ya, mau gimana lagi?”
“Kalau bisa saya gambarkan, kepala saya ini hampir pecah sebenarnya. Banyak email masuk dari hotel di Lombok, belum saya periksa. Itu semuanya pasti sangat penting.”
“Jangan! Jangan! Jangan pecahkan kepala kamu, Kat,” seloroh Aldi yang masih menanggapinya dengan candaan.
“Ish ... Pak Aldi, nih. Saya serius, lagi, Pak. Maksud saya, kepala saya pusing tujuh keliling, ini.”
“Yang harus dipecahkan, tuh, kayaknya kepala bos kita, deh, Kat. Kalau saja ada sedikit waktu, mau aku seret tuh orang dari persembunyiannya, Shh ...,” desis Aldi saking geramnya.
Ucapan Aldi cukup menghibur, membuat Katia tertawa sangat lepas, akan tetapi tawa dan langkahnya tiba-tiba terhenti. Mimik wajahnya berganti menjadi ekspresi kaget, seakan tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
“Kenapa, Kat?” tanya Aldi sembari menatap Katia dan lelaki tegap yang berdiri di hadapannya itu bergantian.
“P-Pak Aldi, silakan duluan saja. Nanti saya menyusul.” Katia sedikit tergagap.
“Baik,” jawab Aldi seraya mengangkat pundaknya.
Setelah yakin bahwa Aldi melangkah cukup jauh, barulah Katia menghela napas lega.
Araq Kak Nursyam kete baroq? (Ada apa Kak Nursyam datang ke sini?) ketusnya pada lelaki itu.
Dek Katia, aku kangen lek dik (Dek Katia aku kangen sama kamu) Lelaki itu tersenyum menyeringai.
Katia tidak terima jika lelaki itu terus-menerus mengejarnya hingga ke Jakarta. Percakapan mereka hingga menyinggung sejumlah utang piutang yang sebenarnya sudah dia bayar dengan rumah peninggalan orangtuanya. Karena sudah tak memiliki apa pun di tanah kelahirannyalah yang menyebabkan Katia datang ke Jakarta ini. Namun, lelaki itu merasa urusannya belum selesai karena Katia belum melunasi bunga yang terus berbunga melebihi utang pokoknya.
Tentu saja utang Katia tidak akan pernah lunas sampai kapanpun, karena tujuan sebenarnya lelaki bernama Nursyam itu adalah menikahi Katia. Ia gunakan kondisi Ibunya Katia yang sakit keras supaya Katia berutang banyak terhadapnya dan jalan satu-satunya untuk melunasi utang itu dengan cara menikahinya. Katia memang pernah menerima tawaran untuk menikah dengannya karena mengira Ibunya akan sembuh, akan tetapi takdir berkata lain. Ibunya meninggal di meja operasi.
Usai pemakaman, Katia menerima kartu nama yang dititipkan Khayru. Sambil memandangi selembar kertas kecil itu, dia berpikir cukup lama dan akhirnya membuat sebuah keputusan. Demi bisa lepas dari jeratan utang dan menghindari cengkraman Nursyam, Katia putuskan untuk menyerahkan satu-satunya peninggalan orangtua yaitu, rumah. Demi bisa pergi jauh dari tempat itu.
“Jangan lupa ... bunganya terus bertambah setiap hari. Bahkan sampai hari ini.” Senyum sinisnya membuat Katia benar-benar muak.
“Cih ...,” decihnya nyaris tak terdengar. “Minggir dari hadapan saya!”
Nursyam segera mencengkram tangan Katia yang berniat pergi dari hadapannya.
“Lepas!” bisik Katia dengan nada sengit. “Jika tidak, saya panggil satpam!”
“Oke.” Nursyam melepaskan genggamannya. Namun, senyum liciknya menyatakan bahwa dia tidak akan menyerah.
Setengah berlari, sambil mengembuskan napas leganya, Katia menuju ruang kerja. Namun, kekhawatiran dengan teror yang masih mungkin akan terjadi, membuat Katia semakin tidak nyaman.
Aldi dengan secangkir kopi di tangannya, masuk lalu duduk di hadapan Katia yang berwajah stres. “Mau kopi?”
“Tidak. Terima kasih,” jawab Katia sambil memalingkan wajahnya.
“Siapa dia?”
“Bukan siapa-siapa,” jawabnya sambil meraih beberapa map di atas meja lalu membukanya.
__ADS_1
“Calon suami?”
Katia menggeleng cuek.
“Atau ... pacar?” Aldi semakin penasaran dengan lelaki itu.
“Bukan Pak Aldi! Mana ada pacar apalagi calon suami.”
“Semakin ditutupi, saya malah semakin penasaran jadinya,” gumam Aldi sambil mengusap dagunya sendiri.
“Lebih baik Pak Aldi bantu pekerjaan saya supaya cepat selesai.” Sambil menggeser map ke hadapan Aldi. “Ini tolong diperiksa.” Untuk membuang kecurigaan yang tersirat dalam pertanyaan-pertanyaan Aldi.
Aldi meraih map itu. Namun, rasa penasaran membuatnya tak ingin berhenti bertanya. “Menurut saya, dia lumayan tampan dan sedikit gagah.”
“Saya tidak tanya itu, Pak Aldi!” Katia mulai geram. Dia coba memperingatkan Aldi dengan sorot matanya.
“Kenapa tidak mau sama dia?” Sedikit memajukan wajahnya demi mendapat sebuah jawaban.
“Dia sudah beristri, Pak Aldi! Gak Sudi saya jadi orang ketiga! Masih banyak pria lajang di luar sana!”
Bentakan Katia membuat Aldi membulatkan bibirnya sambil melotot. “Oohhh ... jadi sudah beristri?! Hhh ....” Dia pun menghela napasnya sambil mundur ke sandaran kursi.
“Benar, Kat. Masih banyak pria lajang di luar sana. Jangan mau jadi orang ketiga.” Lalu Aldi pun menyesap kopi yang dibawanya sambil manggut-manggut.
Katia nampak cuek. Tak peduli dengan ucapan Aldi, dia hanya fokus dengan pekerjaannya saja.
“Walaupun dia tidak salah, tapi stemple pelakor itu akan tetap menempel di kening siapa pun yang telah merusak rumah tangga orang lain, Kat.”
“Saya tau, Pak Aldi. Dan saya tidak pernah punya cita-cita jadi seorang pelakor. Dari pada menasehati saya, mending Pak Aldi bantu pekerjaan saya.” Sambil melirik map-map lainnya yang sudah menumpuk. “Kalau tak mau bantu saya, silakan kembali ke ruangan Anda, biar saya bisa fokus bekerja.”
Katia menatapnya dengan mata yang cekung sambil menggelengkan kepala sampai Aldi hilang dari hadapannya.
**Lunar kafe**
Dandi adalah pria berusia 26 tahun yang tak lain adalah sepupu Aldi yang ditunjuk Khayru untuk bekerja di kafe ini. Seperti yang dikatakan Aldi bahwa dia memiliki banyak talenta sehingga dia merangkap berbagai jabatan di tempat ini. GM(General Manajer), chef, barista, terkadang menjadi waitress juga jika di sana sangat sibuk. Berkat kehadirannya, kafe ini memiliki banyak menu yang bervariasi layaknya resto ternama. Selain itu, dia memiliki pekerjaan lain yang tidak berkaitan dengan kepentingan kafe yaitu memberikan laporan tentang Maula pada seseorang yang kerap mengganggu pekerjaannya. Teleponnya bisa berdering sepuluh kali dalam sehari. Dan itu tidak boleh telat dia angkat.
Sebenarnya, Dandi calon pemilik salah satu hotel di Jakarta ini. Namun, dia memilih terjun ke lapangan, hanya untuk menguji kemampuan dan memulai pekerjaan dari tingkatan paling bawah. Ternyata, dia menyukai pekerjaan yang menyenangkan ini karena menurutnya lebih menantang. Meski pun ya ... dia dituntut harus memiliki tangan yang sangat lincah dan cekatan seperti saat ini misalnya, handphonenya terus berbunyi, jika telat mengangkatnya, bos dari Marokolah yang akan memecatnya.
“Hallo ....” Dia mengangkat telepon terlebih dahulu, lalu memanggil Nikita untuk menggantikan pekerjaannya--membawa hidangan pada pelanggannya.
“Nik! Tolong ke meja nomor 9, ya,” pintanya sambil menunjuk ke salah satu meja pelanggan sesaat setelah Nikita datang menghampiri.
__ADS_1
“Oke.” Nikita mengerling sambil membulatkan jempol dan telunjuknya.
“Gimana, gimana, Mas?” Dandi kembali melanjutkan percakapan di telepon.
“Dan? Maula di sana, gak?”
“Ada, tuh.” Dandi mengarahkan wajahnya ke meja tempat Maula duduk bersama Pram.
“Coba, coba ... kamu fotoin dia, Dan. Tolong, ya.”
“Oke, oke, bentar. Tutup dulu teleponnya, ya, Mas.”
Dandi mulai membidikkan kamera ke arah Maula. Tanpa disangka, aksinya itu tertangkap basah oleh Nikita yang datang membawa gelas dan piring kotor ke arahnya.
“Mas Dandi?!” tegurnya dengan suara sedikit mengagetkan. “Mencuri gambar tanpa izin, namanya pelanggaran, loh, Mas.”
“Shuutt ....” Dandi meminta Nikita untuk tenang. Sementara Rere masih sibuk di meja kasir.
“Awas ya kalau Mas Dandi ada niat jahat sama mereka!” ancam Nikita sambil mengangkat telunjuknya.
Dandi memandangi hasil bidikannya yang blur akibat guncangan tangan Nikita saat dia mengambil gambar. “Gambarnya jelek, *Vidiocall* aja deh,” gumamnya semakin membuat Nikita menatap heran.
Tak lama, Vidiocall tersambung. Muncullah wajah buronan yang begitu penasaran ingin melihat wajah Maula.
To Be Continued ....
__ADS_1
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Kira-kira, kata pertama apa yang akan diucapkan Khayru saat Dandi mengarahkan Vidiocall ke arah Maula?