
Tidak lebih dari satu jam mereka sampai di pelataran hotel yang terletak di pesisir pantai Senggigi bagian barat Lombok. Tiba di sana sudah bisa tercium aroma pantai bahkan dihiasi senja yang yang mulai menguning di sepanjang perjalanan sore ini.
Seluruh jajaran staff hotel dari semua divisi menghentikan aktivitas untuk beberapa saat, demi menyambut kedatangan Khayru dan Maula. Sambutan hangat dengan senyuman mereka yang cenderung sangat ramah membuat Khayru tak segan membalasnnya tak kalah ramah. Ini membuat seluruh karyawati hampir tak bisa berkedip menatap 'Bos Idaman' mereka yang sebagian besar hanya bisa mengenal lewat foto saja. Selama sepuluh tahun terakhir, Khayru terbilang jarang datang ke hotel terkecuali untuk urusan yang teramat penting.
“Selamat datang kembali di hotel kita, Pak. Silakan beristirahat dahulu, sementara kami akan menyiapkan hidangan spesial untuk malam ini.” Manajer hotel membawa Khayru dan dan Maula ke sebuah ruangan. Mereka menyebutnya Presidential suite atau Presidential panthouse yang fasilitasnya setara dengan apartemen mewah di ibu kota. Di dalamnya terdapat pasilitas twin premier berupa dua tempat tidur yang menghadap ke arah pantai bagian barat di mana matahari akan segera tenggelam di sana.
“Panggil kami jika Anda membutuhkan sesuatu. Kami akan segera datang,” ucap sang manajer sebelum dia kembali bekerja.
“Terima kasih banyak untuk sambutannya yang hangat. Setelah istirahat yang cukup. Saya akan kembali untuk menyapa seluruh karyawan di sini.”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
Khayru menutup pintu kamar setelah mempersilakan Maula masuk terlebih dahulu.
“Bang, masa kita tidur sekamar?” tanya Maula seraya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. “Tempat tidurnya gandengan gini lagi?”
“Kamarnya terlalu besar untuk kutempati sendiri. Lagi pula, Abang gak yakin kamu mau tinggal sendiri dalam kamar terpisah.” Khayru turut merebahkan dirinya di samping Maula.
“Ranjangnya memang sengaja bergandengan gini, namanya juga twin premier.” Dia kembali membangunkan tubuhnya sambil menunjuk ke arah balkon dengan jendela terbuka.
“Lihat ke sana! Kamu pasti tidak ingin melewatkan moment ini.”
Sore yang indah dengan langit biru yang sudah bercampur oranye keemasan. Maula terpesona menyaksikan Matahari yang akan segera menenggelamkan dirinya ke dalam samudra. Dia berlari ke arah balkon lalu menaiki pagar minimalis sambil merentangkan kedua tangannya. Menikmati semilir angin pantai dan memanjakan sepasang mata dengan pemandangan yang terpampang di hadapannya.
Tanpa ia sadari Khayru sudah berada di belakangnya. Turut merentangkan kedua tangan layaknya adegan yang dimainkan Kate Winslet dan Leonardo DiCaprio dalam film Titanic yang melegenda. Maula hanya terkekeh membayangkan adegan mereka saat ini. Sama sekali tidak menolak keberadaan dan sentuhan tangan Khayru.
“Sudah mirip Jack and Rose belum, kita?” tanyanya sambil memejamkan mata dan masih terkekeh.
“Jack and Rose dari Betawi?” cibirnya. “Cukup!”Khayru menarik pinggang Maula lalu membawa tubuhnya masuk ke dalam kamar dengan paksa.
“Foto-fotonya belum, Bang.”
“Besok aja. Kita ada jamuan makan malam dulu nanti di bawah.” ucapnya sambil menutup jendela.
“Aku di nunggu di kamar ajalah. Lagian yang mau mereka lihat kan Abang bukan aku.” Maula kembali merebahkan diri.
Khayru menarik travel bag yang mereka bawa lalu membuka seluruh isinya.
“Saranku, Bang, kita jangan terlalu banyak karyawan wanita di sini.”
“Kenapa?”
“Gak suka aja lihatnya. Senyum-senyum genit kek wanita penggoda.”
“Kata siapa, woyy? Mereka memang dilatih menjadi ramah seperti itu sebagai bentuk pelayanan pada para tamu. Masih dalam batas wajar, Kok.”
__ADS_1
“Tapi gak usah menatap sampe sedalem itu juga kali. Ampe gak bisa ngedip gitu emangnya gak pedih tuh mata?”
“Memangnya siapa yang mereka lihat sampe gak bisa ngedip kek gitu?” tanya Khayru serius sambil fokus ke arah Maula.
Spontan Maula terbangun dan mendudukkan dirinya. “Ya Abanglah. Siapa lagi?”
“Pemilik hotel, muda, tampan, good lookinglah pokoknya ditambah ....”
Ucapannya terhenti saat menyadari Khayru tengah menatapnya sambil melengkungkan bibirnya.
“Kenapa berhenti?”
Maula segera mengambil bantal untuk menutup wajah Khayru dan menindihnya dengan gemas. “Awas, ya! Jangan besar kepala. Salah ngomong tadi.”
Khayru hanya tertawa puas membiarkan Maula melampiaskan rasa kesal dan malu yang bercampur menjadi satu. Dia bahkan menyerangnya sambil duduk di atas perut Khayru.
“Sini, hidungnya aku masukin ke sarung bantal dulu biar gak terbang. Kepalanya juga sekalian ... enak aja kesenengan dipuji-puji.”
“Eh! Abang gak pernah minta dipuji, Kok. Kamu aja yang terlalu jujur. Gak bisa bohong, kan?”
Ucapan Khayru semakin membuat Maula ingin memukulnya dengan bantal. Akhirnya, pecahlah seluruh isi bantal berserakan di udara. Tangan Khayru yang tengah memegangi tangan Maula beralih melingkar di pinggangnya demi bisa bangun dari posisi tidur.
Mereka belum berhenti tertawa hingga akhirnya menyadari posisi masing-masing. Khayru memeluk pinggang Maula yang duduk di atas pahanya, tiba-tiba terdiam saat melihat leher putih di hadapannya begitu dekat bahkan tanpa sengaja telah menciumnya. Sementara Maula masih tertawa sambil melingkarkan tangan di leher Khayru. Dia ikut terdiam saat menunduk, menatap wajah Khayru yang juga menatapnya hingga larut.
Akhirnya mereka tersenyum dengan napasnya yang tersengal. Maula melepaskan diri dari pelukan Khayru. Namun, masih duduk berhadapan.
“Ternyata ... kamu sudah besar sekarang.”
“Jadi ... udah dapat izin buat pacaran, dong, ya?”ucapnya sambil memainkan alisnya.
Spontan, tangan Khayru menjitak kepala Maula dengan mata yang semakin membulat. Dia bangun sambil melempar handuk ke wajah Maula.
“Cepat bersihkan diri dulu. Abis salat magrib kita makan malam.”
Malam ini menjadi moment terbaik di dalam hotel karena kedatangan Khayru menjadi hal yang sangat dinantikan oleh karyawan. Di sela-sela obrolan dengan beberapa staff, Khayru melontarkan beberapa pernyataan terkait setatusnya di hotel ini.
“Seperti yang kalian ketahui bahwa pemilik hotel ini adalah Pak Zulfikar Ariffin. Nona Maula inilah pemilik hotel yang baru karena dia putri kandung Pak Zul satu-satunya.” Dia memperkenalkan Maula di hadapan para staff. Bagi staff senior mungkin mereka sudah mengerti. Namun, berbeda dengan staff yang baru.
“Adakah yang ingin bertanya siapa saya?” Khayru tersenyum sambil menatap karyawan satu per satu.
“Saya bukan siapa-siapa ... hanya seorang anak adopsi.” Matanya beralih pada deretan karyawati cantik yang tengah menatap kagum padanya sekalipun dia bukan pewaris dari pemilik hotel lagi seperti yang mereka kira selama ini. Kekaguman itu sedikitpun tidak berkurang.
Ini menjadi kata-kata penutup malam ini sebelum Khayru dan Maula kembali ke kamarnya.
“Ngapain sih Abang pake ngomongin pewaris ... pemilik hotel ... anak adopsi kek tadi di depan mereka? Gak penting juga buat mereka.” gerutu Maula.
__ADS_1
“Supaya karyawati hotel sadar bahwa Abang tidaklah se-good looking yang mereka kira. Abang kan bukan siapa-siapa,” tuturnya seraya merebahkan diri
Maula turut merebahkan diri di samping Khayru menghadap ke arahnya.
“Gak ngaruh kali, Bang. Mereka semakin kagum aja dengan kejujuran Abang tadi.”
“Ya udah nanti Abang mau kasih tahu satu hal penting lagi pada mereka. Kamu jangan kaget.”
“Apa itu, Bang?”
“Rahasia. Kamu gak boleh tahu dulu. Cuma mereka yang mau Abang kasih tahu. ” ucapnya sambil menutup tubuh mereka berdua dengan selimut.
“Abang mau aku pukul pake bantal lagi, ya?”
“Coba aja kalau berani. Kamu harus tanggung jawab membereskan kamar yang berantakan ini.”
“Dih, ngapain pemilik hotel beresin kamarnya sendiri? Bukannya di luar banyak karyawan?”
“Kalau karyawan tahu kamar kita berantakan, mereka akan berpikir bahwa kita sudah melakukan sesuatu.”
“Bukannya kita memang melakukan sesuatu, Bang.” Maula terkekeh.
“Oh, iya. Sepertinya Abang memang harus melakukan sesuatu sama kamu. Ayo sini ....” Seringai wajahnya membuat Maula semakin membenamkan dirinya di bawah selimut.
“Denger, ya. Abang mau tanya sesuatu sama kamu.” Khayru menopang kepala dengan tangannya menghadap Maula.
“Tanya apa? Bilang aja?” Dia perlahan keluar dari balik selimut.
“Kamu pernah nonton film Titanic?”
“Pernah, dong.”
“Di mana? Apa di rumah Ariel?”
“Kok, tahu?”
“Nonton rame-rame apa berdua aja?”
“Berdualah, Bang. Nonton film romantis gak enak kalau rame-rame,” jawabnya polos tanpa memperhatikan wajah Khayru yang sudah memanas.
“Kamu nonton sampai habis?”
“Iyalah.”
“Katakan apa yang kalian lakukan setelah nonton film itu?!” bentaknya. Tiba-tiba dadanya seperti ingin meledak. Sementara Maula kembali bersembunyi di bawah selimut tanpa menjawab apa pun.
__ADS_1
To be continue ....