Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 53


__ADS_3

Khayru mengangguk. “Maaf ... jika setelah ini, mungkin Abang gak bisa ajak kamu jalan-jalan lagi.” Khayru meraih kedua tangan mungil gadis itu sambil menatapnya lekat-lekat. Dia pun mencium tangan itu lalu memeluk tubuh Maula sangat erat.


“Abang tidak mau mengajakku jalan-jalan lagi, ya?”


“Kamu bisa ajak Katia atau teman-temanmu jika ingin pergi ke sana lagi. Lakukan sesering mungkin.”


“Abang mau ke mana? Abang sibuk?”


Khayru melepaskan pelukannya. Telapak tangannya kini menyentuh kedua pipi merah Maula yang tengah mendongak.


“Jujur pada hatimu sendiri! Apa kamu benar-benar menginginkan perceraian?”


Maula mengangguk pelan sambil menatap dan Khayru kembali memeluk tubuh kecil itu setelah sama-sama saling menatap.


“Abang bisa mengabulkan keinginanmu. Tapi untuk itu, kamu harus berjanji. Kamu harus buat Alm. Mama dan Papa, bangga sama kamu meskipun tak ada Abang di sisimu.”


“Tapi Abang masih bisa berada di sisiku seperti dulu, sebagai seorang Kakak terbaikku.”


“Abang harus pergi supaya otakmu ini tidak hang,” candanya sambil mengusap ujung kepala Maula. “Bukankah kamu mau mengosongkan memory di kepalamu? Artinya, Abang harus menghilang dari hadapanmu bahkan dari ingatanmu. Bener, gak?”


Kemudian, Maula memeluk erat tubuh suaminya itu sambil membenamkan wajahnya. “Abang harus tetap di sini. Jangan pergi ke mana-mana.”


“Kamu sudah berjanji tidak akan merindukan Abang lagi. Ayo janji!”


Maula menggelengkan kepalanya dengan cepat.


“Harus janji!” Nada bicaranya sedikit memaksa membuat Maula kemudian mengangguk pelan.


“Nice girl” Kahyru mengulas senyum sembari mencubit kedua pipi Maula.


“Besok, temani Abang ke rumah sakit. Kita harus minta maaf pada Risa dan keluarganya. Beruntung mereka tidak membawa masalah ini ke ranah hukum karena cedera Risa ternyata tidak terlalu berat.”


“Tante Risa akan segera sembuh, 'kan, Bang?”


“Risa hanya keserempet. Tidak ada luka yang serius.”


“Syukurlah.” Berkurang sedikit rasa bersalah Maula terhadap Risa.


“Istirahatlah. Jangan terlalu banyak pikiran


Nanti otakmu hang dan hang,” selorohnya sambil membukakan pintu kamar Maula.


“Malam ini aku boleh tidur sama Abang, gak?”


Khayru mengangguk. “Tapi ini untuk yang terakhir ya, Dek.”




“Terakhir ...,” gumam Maula saat mereka tengah terbaring saling berhadapan di tempat tidur yang sama.



“Karena setelah Abang mengucap *talaq*, jangankan tidur bersama, menatap matamu saja Abang akan berdosa.”



“Selama sembilan tahun, Abang telah menjadi suami terbaikku, tepatnya suami rahasia--terbaik. Sementara aku tidak pernah menjalankan kewajiban sebagi istri. Jika Abang mau ... aku bisa melakukannya sekarang.”



Maula bangun sambil menarik napasnya dalam-dalam. “Aku sudah berjanji akan memberikan hak Abang sebagai suami. Tidak apa-apa, ini untuk pertama juga terakhir kali,” ucapnya sambil menunduk. Tangannya yang bergetar, perlahan menyentuh kancing baju yang ingin dia buka satu per satu.

__ADS_1



Setelah kancing baju terbuka seluruhnya, Khayru segera merapikannya kembali. “Dasar bod\*h. Kalau kamu hamil gimana? Mereka akan tanya siapa ayahnya. Kamu mau jawab apa nanti?”



“Abang benar-benar gak menginginkannya?” Sedikit lega.



“Enggak!” Jawabnya cuek seakan tidak peduli dengan tawaran Maula yang sungguh-sungguh. “Abang tidak tertarik lagi dengan itu, sekarang. Abang hanya ingin menghabiskan malam ini dengan memandang wajahmu, mendengar suaramu, sampai kepala Abang ini ...” Khayru mengetuk kepalanya sendiri dengan ujung telunjuk. “Hanya terisi dengan semua hal tentang kamu,” lanjutnya.



Dia merapatkan punggungnya ke sandaran tempat tidur seraya memandangi memar yang masih nampak kebiruan di pelipis Maula.



“Kamu belum cerita, kenapa malam itu kamu datang ke rumah Risa?” Entah karena dia hanya ingin mendengar suara Maula saat bercerita atau memang ingin tahu kronologi kejadian malam itu, dia siap mendengar apa pun.



“Panjang ceritanya. Aku harus mulai dari mana?” Maula merasa jika masalah Risa, Rere dan Ariel kini tidak penting lagi untuk dibahas, akan tetapi tidak ada salahnya jika Khayru mendengar langsung dari mulutnya.



“Ceritakan semuanya. Semua hal yang ingin kamu ungkapkan, bisa kamu katakan sekarang selagi Abang masih ada di sini.”



Maula duduk bersila menghadap Khayru. “Jujur ... aku ngerasa jijik sama Tante Risa, Bang. Waktu dia cium Abang di rumah sakit. Maaf, aku sampe marah-marahin Abang juga waktu itu.”




“Gak penting juga sih, Bang, kalau diceritain. Jauh di lubuk hatiku. Aku tetap percaya Abang sepenuhnya.”



“Masalah kita harus *clear* sebelum Abang pergi. Jadi, ceritakan semua biar Abang bisa menyelesaikannya.”



Jam dinding menunjuk angka dua dini hari. Rasa kantuk nyaris hilang seiring rentetan cerita yang Maula paparkan sedetail mungkin.



“Semua yang aku ceritain ini, sama sekali gak akan merubah keputusanku, Bang. Rencana kita akan tetap berjalan.”



Khayru hanya tertegun sambil menghela napas. “Abang harus bagaimana sekarang? Abang akan terima apa pun keputusan kamu, tapi Abang harus bicara apa pada Aldi? Kasian jika dia harus mencintai wanita seperti Risa.”



“Kalau Abang yang bilang, mungkin Om Aldi akan salah paham. Dia akan mengira kalau Abang ada main sama Tante Risa. Nanti saja kita pelan-pelan kasih tau dia,” saran Maula.



“Soal Rere dan adiknya gimana? Abang akan minta Aldi untuk bantu keuangannya. Karena jika temanmu susah mungkin kamu akan ikut susah, Dek.”


__ADS_1


“Abang gak mau bantu cari Ayahnya Rere? Biar mereka berkumpul lagi?”



“Tante Desi tidak pernah muncul di rumah sakit untuk mendampingi adiknya (Risa) saat di rawat. Sepertinya dia sudah pergi jauh bersama Ayahnya Rere. Lagipula, percuma dia kembali. Tidak akan mengembalikan Mamanya Rere yang sudah meninggal.”



“Iya, Abang bener.” Mengangguk setuju.



“Dek ... ayo sini,” pintanya. Khayru ingin Maula mendekat ke sampingnya lalu memeluk dari samping tubuh istrinya itu.



“Besok lusa, hari Minggu, Abang akan menyelesaikan semuanya. Di antara kita tidak akan ada hubungan apa-apa lagi.” Khayru menciumi kepala gadis itu sepuasnya. “Bukan adik kakak atau pun suami istri lagi. Kamu mengerti?”



Tiba-tiba Maula terisak di pelukan suaminya. Tidak terbayang jika dia harus menghapus ingatan 19 tahun kebersamaannya selama ini. Laki-laki yang selalu ada untuknya dalam keadaan apa pun.



“Tolong jangan menangis, apalagi saat Abang tak ada di sini.”



“Aku tidak bisa. Air mata ini jatuh dengan sendirinya,” lirih Maula tersendat karena tenggorokannya benar-benar tercekat.



“Kosongkan dulu memorymu seperti yang kamu bilang. Jangan mengingat masa lalu kita, lupakan semuanya.”



“Maafkan aku, Bang. Aku sudah sangat merepotkan Abang sejak aku kecil.”



“Hahaha ... bukan sejak kecil tapi sejak kamu lahir, kamu sudah merepotkan Abang. Kamu tau, tangisanmu sejak masih bayi, kerasnya bisa memecahkan gendang telinga. Mengganggu sekali, ish ....” Khayru meringis sambil menyentuh telinganya. “Abang harus ganti popok kamu yang basah dulu lalu bikinin kamu susu, baru bisa lanjut belajar. Tak hanya itu, Abang juga harus meninggalkan meeting penting di kantor hanya gara-gara kamu ngamuk di kelas, karena gak mau disuntik vaksin. Gak jarang juga Abang harus keluar masuk ruang kesiswaan karena kebiasaan kamu itu yang sering memukul teman sekelasmu. Waduuhh, gak akan cukup 10 buku jika harus Abang tulis semua kisahmu,” decaknya sambil menggeleng.



Maula tertawa terbahak. Namun, tangisnya begitu mendominasi. Tertawa dan menangis dalam satu waktu yang bersamaan, tepatnya.



“Tapi Abang bersyukur sekali, Dek. Abang berterima kasih pada Mama sama Papa karena telah memberikan Adik sekaligus istri yang Absurd kaya kamu, meski akhirnya harus Abang lepas karena kamu harus kembali pada tempatmu.”



Tangis Maula semakin menjadi hingga mulutnya tak bisa berkata apa-apa.



“Kamu harus keluar dari sangkar emasmu, tapi ingat untuk tetap pandai menjaga diri. Menjadi wanita shalehah yang tegar menjaga *maruah* serta apa yang lahir dari dirimu. Nilai wanita bukan terletak pada pakaian dan hiasan yang memperlihatkan kecantikan yang dia miliki, tetapi terletak pada kesopanan, rasa malu dan keterbatasan dalam bergaul. Jangan lupakan itu, ya, Dek. Buatlah Mama sama Papa bangga karena telah memiliki putri sepertimu.” Khayru kembali mencium kepala Maula sambil mengusap rambutnya dengan lembut.



*Kamu boleh melupakan Abang, tapi Abang tidak akan pernah melupakanmu*.


__ADS_1


To Be Continued ....


__ADS_2