Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 87


__ADS_3

WARNING!! ☠️


Please, ya, jika merasa adegan di bawah ini terlalu vulgar, skip aja. Terutama bagi adik-adikku yang masih di bawah umur, part ini boleh dilewat. 🤭🙈😍✌️


...~o0o~...


“Ayo sayang, cepetan! Mereka nunggu kita di bawah.” Khayru berdiri di belakang Maula yang tengah berkutat dengan hijabnya. Seraya memandangi wajah Maula di depan cermin, bibirnya nampak mengerucut.


“Abang kenapa?”


“Kenapa gimana? Abang baik-baik aja,” kilahnya sambil memalingkan wajah.


“Itu bibirnya sejak bangun tidur kenapa seperti itu?” Maula melihatnya dari pantulan cermin di hadapan muka.


“Entar malem, gak usah main kucing-kucingan dulu,” rengeknya.


“Akh... ya ampun.” Maula berdiri sambil tersenyum menatap suaminya. “Abang sendiri yang panggil aku kucing liar, mana ada kucing liar main buaya-buayaan?” selorohnya sambil mengerutkan dahi.


Karena disunahkan, seorang suami menganjak istrinya bersenda gurau dan bermain-main supaya sahwat keduanya benar-benar bangkit saat berhubungan intim. Namun, tanpa sengaja mereka melakukannya sampai tertidur, sebelum misi malam pertama dijalankan.


“Mau kucing-kucingan kek, buaya-buayaan kek, yang penting jangan bikin Abang tertidur karena kalamaan nunggu.”


Maula tertawa mengingat semalam dia tidak bisa menetralisir ketegangan tubuhnya hingga tiap kali ditanya, 'sudah siuman belum?' (Syahwat Maula). Maula hanya menggeleng karena memang yang dia rasakan, tubuhnya terasa kaku.


“Maafin, Bang.” Maula melingkarkan tangan di leher suaminya. “Entar malam sepertinya waktu paling cocok buat kita.”


“Janji, ya, kita mulai abis salat isya.”


Maula mengangguk sambil melepaskan tangannya. Namun, Khayru kembali meraih pinggang istrinya. Dia sedikit menunduk, mendekatkan wajah hingga mempertemukan kedua bibir mereka yang hangat, rileks, hening, luwes dan sedikit menentramkan jiwa.


Setelah puas, Khayru melepaskan pagutan sambil melayangkan tatapannya. “Tiap hari harus lakukan itu.”


Tanpa menghiraukan ucapan Khayru, Maula menggigit bibirnya sendiri sambil menghadap cermin. Ia kembali duduk untuk menyapukan sedikit lipstik yang memudar akibat ulah suaminya, lalu segera berdiri seraya melingkarkan ujung kerudung ke leher.


“Ayo Bang, kita kelamaan,” sambil bergegas menuju pintu.


Khayru coba memindai penampilan sang istri dari ujung kepala hingga ke kaki.


“Maaf, abang mau benerin jilbabmu.” Sambil menahan tubuhnya lalu ia lepaskan ujung jilbab yang melingkar di leher Maula sampai menjuntai menutupi dada. Dia juga mengambil pin berbentuk bunga kecil di dalam laci dan memakaikannya di dada sebelah kanan sebagai pemanis.


“Ini baru rapi.” Khayru menunjukkan jarinya yang melingkar sambil mengerling.


“Terserah Abang, deh.”


Detik berikutnya, mereka sudah bisa turun dari kamar sambil bergandengan tangan.


Pagi ini, setelah sarapan mereka berdua akan pergi ke bandara, mengantar kepulangan Tuan Omar beserta saudara-saudaranya.


Sebelum pesawat take off, Tuan Omar sempat berpesan pada anaknya untuk membawa Maula berkunjung ke Maroko karena Maula tidak pernah menginjakkan kaki di sana.


“Bisa sambil honeymoon di sana,” ucapnya sedikit membujuk.


Namun, Khayru berkata jika mereka akan menunda jadwal honeymoon, berhubung mereka ingin mengurus pernikahan Aldi dan Katia dulu dalam waktu dekat ini.

__ADS_1


“Ya sudah, terserah kalian. Yang penting tetap pergi honeymoon. Ini penting, benar-benar penting supaya ayah cepat menimang cucu.”


“Soal cucu, kita usahakan secepat mungkin. Ayah doakan kami dan tunggu saja kabar baiknya.”


Maula segera meraih tangan sang Mertua, karena panggilan dari operator yang meminta calon penumpang untuk segera bersiap-siap, sudah terdengar dari pelantang suara.


“Ayah hati-hati. Jaga diri baik-baik, selalu jaga kesehatan.” Maula mengusap lengan pria tua itu, seperti sedang mengkhawatirkan ayahnya sendiri.


Ia juga menyalami semua saudara-saudara meski hanya dengan senyuman. Ia baru mengerti apa yang mereka ucapkan setelah Khayru menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, tapi dia tetap menyukai mereka dengan keramahannya.


“Mereka bilang, terima kasih karena telah menjamu mereka dengan sangat baik,” bisik Khayru.


“Oh, begitu, ya.” Maula mengangguk. “Tolong bilangin juga, Bang, aku sangat berterima kasih karena mereka bersedia datang menghadiri pernikahan kita.”


“Oke.”


Rencana mereka setelah pulang dari bandara, ingin menfaatkan waktu cuti beberapa hari hanya berdua saja. Namun, dia mendapat sebuah pesan singkat dari Tristan. Refleks dia menghentikan mobilnya karena harus menghubungi temannya itu.


“Serius, Tris?” tanyanya melalui sambungan telepon. Dia sempat terdiam sesaat sebelum menutup obrolan. Saat itu juga Khayru mengantar Maula pulang, sementara dia harus menemui Tristan di suatu tempat.


“Gak pulang malem-malem kan, Bang?” tanya Maula sebelum turun dari mobil.


“Enggak.” Dia menggeleng yakin. “Tunggu Abang pulang, ya, Dek.”


“Akan kutunggu di tempat tidur, Abang sayang,” selorohnya.


“Haiissh.” Mendengar kata 'tempat tidur' serta merta membuat Khayru ingin melakukan sesuatu. Dia tarik tangan Maula hingga wajah mereka saling berdekatan.


Beberapa menit kemudian, Khayru melambaikan tangannya sambil terkekeh, memandangi Maula yang sudah berdiri seraya meraba bibir ranumnya dengan dahi berkerut.


“Ish... dasar suami brutal. Dia lupa kalau istrinya bisa lebih ganas dari itu,” seringainya sambil mengernyit.


Sekitar pukul 21.00, Khayru baru kembali ke rumahnya. Meleset cukup jauh dari perkiraan. Padahal, dia sudah janji untuk pulang sebelum malam. Untunglah, saat ia tengok dari celah pintu, Maula masih berkutat di depan laptop. Ia benar-benar menunggu suaminya pulang, sambil belajar.


Namun, Sebelum masuk ke kamar Maula, terlebih dahulu ia membersihkan diri dan salat sunah di kamarnya. Setelah itu, barulah dia datang membawa sebuah bantal kecil. Melangkahkan kaki kanan, tak lupa mengucap Bismillah.


Assalamu ‘alaikum ahlal bait wa rohmatullahi wa barokatuhu.


(Keselamatan atasmu wahai keluargaku, juga rahmat Allah)


Maula menoleh. Dengan terbata, ia menjawab salam yang diucapkan suaminya.


Wa ‘alaikas salam wa rohamtullahi. Kaifa wajadta ahlaka? Barokallahu laka.


(Keselamatan atasmu, juga rahmat Allah. Bagaimana engkau mendapati isterimu? Semoga Allah memberkahimu)


“Abang baru pulang? Kenapa malam sekali.”


“Iya. Maaf,” ucapnya sambil duduk menatap layar laptop. Ia save semua tampilan yang muncul di layar tanpa bertanya dahulu.


“Udah salat sunah?” tanyanya sambil menunduk ke laptop. Namun, mata melirik ke arah Maula.


Maula hanya mengangguk.

__ADS_1


“Udah bersih-bersih?” tanyanya lagi.


“Emang gak kecium, ya, aku seger dan wangi?


“Bersih-bersih hati dan pikiran juga maksudnya. Siapa tahu kamu jengkel karena Abang pulang telat?” Sambil menatap penuh selidik.


Maula sempat marah, selain pulang telat juga karena handphone suaminya tak bisa dihubungi sejak tadi sore, tetapi akhirnya, dia memilih untuk tersenyum. Artinya, tak ada lagi kemarahan sedikit pun dalam hatinya.


Khayru semakin mendekatkan dirinya seraya menutup layar laptop dan meletakkannya di lantai. “Tak ada yang terlewat. Bisa kita lanjutkan misi kita?” Dia ucapkan dengan suara pelan. Kedua tangannya menyibak anak rambut Maula dan menyisirnya dengan telapak tangan. Menahan tangannya di atas ubun-ubun sambil mengucap kembali doa untuk sang istri.


Seraya merebahkan tubuh Maula, tangannya meraih bantal kecil yang dia bawa, lalu meletakkan benda itu di bawah panggul istrinya.


Entah butuh berapa lama, hingga tubuh Khayru sudah berada di atasnya. Menempel begitu rapat. Menatap begitu lekat seakan menunggu keduanya untuk sepakat. Sentuhan dan belaian lembut, menggelenyar hebat di setiap aliran darahnya. Hingga akhirnya Maula mengangguk sambil memeluk suaminya begitu erat.


...بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا...


..."Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang hendak Engkau kurniakan kepada kami"...


Sebuah doa mengawali penjelajahan ksatria dalam pencariannya. Jauh sebelum meraup segala keindahan malam pertama, sedikit kesulitan harus mereka lewati. Tentunya karena ini pengalaman pertama untuk keduanya. Laksana mendaki tanpa sebuah peta, mencari arah menuju goa yang menganga. Tak sampai di situ, karena masih ada Misteri dinding kokoh yang harus diterjang untuk kemudian dijadikan sebuah pintu menuju lautan madu yang memabukkan. Harus ada bagian yang terkoyak. Namun, bagaimana pun caranya gairah yang membuncah harus segera dilepaskan. Bom waktu harus segera diledakkan.


Khayru sempat membisikkan kata maaf, sambil menciumi ceruk leher Maula. Dia berikan sentuhan lembut, berharap bisa mengimbangi rasa sakit yang dialaminya.


“Abang akan tunggu sampai rasa sakitnya hilang.” Sambil menciumi kening yang terasa dingin, Ia juga mengusap anak rambut yang dibasahi keringat.


Maula menggeleng sambil menarik ujung selimut. “Abang bisa lanjutkan sekarang,” lirihnya sebelum dia gigit ujung selimut dengan bibir yang mengigil.


“Oke... pelan-pelan.”


Dengan ritme yang teratur, akan tetapi setiap sentuhan dan buruan napas selalu menuntut untuk dipercepat dan semakin dipercepat lagi hingga keduanya tiba di atas puncak. Bak terbang bersama-sama melambung di atas awan. Ada suara lirih mengucap doa, mengiringi jutaan bahkan milyaran benih yang ia tanamkan.


...اَللّهُـــمَّ اجْعَــلْ نُطْفَتَــنَا ذُرّ ِيَّةً طَيِّــبَةً...


..."Ya Allah, semoga air mani yang kami keluarkan bisa menghasilkan keturunan yang baik"...


Khayru mendekap erat tubuh Maula sambil kembali menciumi keningnya. Berdzikir dalam hati lalu merebahkan diri di samping sang istri yang masih kesulitan mengatur napasnya. Lalu menengadahkan dua tangan, mengucap doa penutup.


...اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ خَلَقَ مِنَ المْـَــاءِ بَشَـــرًا...


..."Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air mani ini menjadi manusia (keturunan)"...


Ia menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan. Malam pertama sesi pertama yang berkesan, baru saja mereka lewati, dengan berbagai hambatan. Namun, bagi pasangan pengantin baru, akan selalu ada injury time di setiap kesempatan. Malam panjang akan selalu menjadi milik mereka berdua.


“Masih sakit, Sayang?”


Maula hanya meringis. Antara sakit dan sejumput rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


“Abang, minta maaf.” Tak ada kata lain yang bisa dia ucapkan untuk istri kecilnya.


To Be Continued....


__________


Segini dulu up-nya, Othor gak kuat. (melambaikan tangan ke kamera)

__ADS_1


Minta doanya, semoga Khayru dan Maula cepat diberikan keturunan. Usaha mereka udah maksimal banget ye kan? Bisa menghafal doa-doa, tata cara, tata krama dan lain-lainnya dalam satu malam. 😍🙈


__ADS_2