
Maula bernapas lega sambil mengusap dadanya. Ia menghempaskan tubuh di atas tempat tidur setelah melempar tas dan spatu. Semasa kemudian tangannya meraih hanphone yang berbunyi.
“Iya, Riel.” Setengah berbisik. “Kamu dah nyampe rumah?”
“Belum, aku masih di depan gerbang rumahmu.”
“Ngapain masih di situ? Pulang gih, dah malam, ini.” Dengan nada sedikit memaksa.
“Mau mastiin dulu kamu sampai di kamar dengan selamat.”
“Aman, kok. Abangku gak curiga. Kamu pulang, ya.”
“Gak kena marah, Kan?”
“Enggaklah.”
“Oke... Good night.”
Maula bangkit membuka tirai jendela kamar. Memandang jauh ke depan meski mungkin Ariel tidak akan terlihat dari sana.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Maula terperanjat langsung menutup kembali tirai jendela. Khayru berdiri dengan kemeja setengah terbuka membawa sebuah handuk di pundaknya.
“Abang ngapain diam-diam masuk kamar aku?”
“Kamu ngapain malam-malam berdiri di situ?” balasnya. “Abang kira sudah tidur.”
“Iya, ini aku mau tidur.” Dia segera naik ke ranjang lalu menarik selimutnya. “Abang keluar, gih.”
“Iya nanti abis mandi, Abang keluar.” Khayru melanjutkan langkahnya. Dia tak menghiraukan Maura yang tengah keberatan dengan kehadirannya.
“Kenapa harus mandi di sini sih, Bang?!”
“Water Heater di kamar Abang rusak!” teriaknya sambil menutup pintu kamar mandi.
Maula mengenduskan napas lalu menarik handphone dari atas nakas. Dia masih ingin memastikan Ariel pulang ke rumahnya dengan selamat. Matanya masih memandangi layar ponsel karena pesan WhatsApp yang ia kirim belum mendapat balasan. Mungkin Ariel masih di jalan.
Ceklek!
Terdengar pintu kamar mandi yang tengah dibuka. Maula segera bersembunyi di balik selimut demi menghindari omelan Kakaknya.
“Matikan handphone-nya. Kalau enggak, terpaksa Abang rampas.” Khayru yang baru selesai mandi sudah berdiri di samping tempat tidur.
“Haaiiiss ....” Akhirnya, Maula meradang. Dia mulai naik pitam.
“Baaaang! Please deh!” Dengan menyingkap selimut. Setelah mengumpulkan kekuatan guna mengeluarkan jurus macan betina yang siap menggila. Namun, nyalinya mendadak ciut saat melihat tubuh putih yang masih basah, bertelanjang dada di depannya. Bahkan dia telat menyadari, dalam sepersekian detik handphone-nya sudah berpindah tangan.
“Gak mungkin bisa tidur, kalau ini nyala terus,” gumamnya sambil mematikan handphone Maula.
“Balikin gak, Bang?!”
Maula bangkit untuk mengejar Khayru. Dia berusaha keras merebut kembali benda kecil dengan sejuta cerita di dalamnya.
“Please, Bang. Balikin sekarang juga. Itu milikku, Bang. Balikin, balikin, balikin pokoknya!”
Karena Khayru mengangkat ponsel tinggi-tinggi dengan tangannya yang panjang. Maula coba mengimbangi dengan menginjak punggung kaki Khayru serta melingkarkan tangan kirinya demi mendapat keseimbangan.
“Bisa diem, gak, Dek? Kalau handuk Abang lepas, kamu tanggung akibatnya.”
Maula lekas menjauh dan menutup wajah dengan sepasang telapak tangan lalu memutarkan badan.
Khayru tertawa puas sekali. Tebersit begitu saja, saat ini dia ingin mengganggu Maula. “Ini handphone-nya. Ambillah.”
“Sana, Abang pake baju dulu. Kalau ada yang lihat Abang keluar dari kamarku dalam keadaan telanjang dada, apa kata mereka?” lirihnya sedikit merengek.
“Cuma kamu, kok yang lihat, Abang ikhlas.” Dia mengangkat alis sambil melengkungkan bibirnya.
“Aku gak mau lihat! Gak mau, gak mauuuu!”
“Kamu nervous, ya? Abang lihat kamu telanjang gak pernah nervous.”
“Aku gak nervous!! “Siapa bilang aku nervous?! Maula memaksa matanya untuk menatap tubuh Khayru meski itu membuatnya sedikit malu. "Cuma lihat dada terbuka aja, kok."
“Mari kita buktikan. Aku atau Abang yang nervous?” Entah mendapat keberanian dari mana Maula membuat sebuah tantangan. Tiba-tiba dia membuka kancing piyama bagian atas demi melihat Khayru menjadi salah tingkah dan menyerah.
Tak biasanya jantung Khayru menjadi sangat berdegup kencang seperti genderang sebelum berperang.
“Apa yang dilakukan gadis ini? Dia bukan anak kecil lagi.”Dia segera mendekat.
“Abang ingatkan sekali lagi! Jangan pernah memperlihatkan bagian tubuh mana pun di depan laki-laki lain. Ini bisa memancing pikiran liar mereka.”
"Aku bercanda, Bang. Gak mungkinlah aku melakukannya." Maula kembali merapatkan satu kancing bajunya yang terbuka. Dia tidak menyangka aksi jahil itu telah membuat Khayru menjadi marah.
"Ini tidak lucu." Khayru melemparkan handphone ke atas kasur lalu pergi dari kamar itu membawa perasaan aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ada perasaan tak rela ketika dia membayangkan Maula melakukan hal yang sama di depan Ariel.
Dia berdiri cukup lama guna menetralkan detak jantung sambil menyandarkan dirinya di balik pintu kamar. Sementara kekhawatiran semakin mengisi pikiran. Tiba-tiba saja teringat ucapan Aldi beberapa hari yang lalu.
"Dia hampir membuka bajunya di depanku? Itu artinya, dia bisa melakukan hal yang sama di depan lelaki lain."
"Tidak! Tidak!"
“Aku harus melakukan sesuatu."
__ADS_1
Dia mengguncang kepalanya sambil mengacak rambut yang masih basah. Menatap tubuhnya yang berkeringat lalu memutuskan untuk mandi (lagi) dengan air dingin demi bisa tidur dengan nyenyak.
Sarapan pagi ....
Khayru mengusap kepala Maula dari belakang lalu duduk di sebelahnya.
“Pagi ....”
“Pagi, Bang.” Maula masih menunduk karena dia merasa seperti ada batu besar di atas kepalanya. Berat.
“Beberapa hari lagi ada yang ulang tahun, kalau gak salah.” Khayru coba mencairkan suasana.
“M-Makasih, ya. Abang selalu ingat ulang tahunku.” Maula tersenyum di sela mengunyah makanan.
“Mana bisa lupa? Sekalinya lupa, pasti ada yang membabi buta,” sanggahnya sambil mengangkat alis.
Maula melirik sambil mengulum senyum. Dia memukul-mukul lengan Khayru karena malu.
“Abang sudah beli hadiah untukku?”
“Belum.” Khayru menggeleng.
“Katakan saja.”
“Aku ... Boleh pacaran?”
“Apa?!”
Khayru menelan makanan yang belum sempat dikunyah hingga ia tersedak.
Uhuk! Uhuk!
Maula mengambil segelas air di hadapannya sambil menepuk pundak Khayru sampai ia bernapas normal lagi.
“Ck, sudah kuduga reaksi Abang akan seperti ini.” Maula menggelengkan kepalanya. “Aku bercanda, Bang.”
Khayru menatap wajah Maula hingga larut. Hatinya terus berpikir apakah permintaan Maula itu benar-benar hal yang dia inginkan atau hanya bercanda seperti yang dia katakan.
Sesungguhnya, dia bukannya tidak tahu. Dia bukan tidak melihat. Bukan pula tidak merasakan kedekatan Maula dengan Ariel selama ini. Namun, Khayru tidak pernah berpikir seburuk yang dikatakan Aldi tempo hari. Dia tetap percaya seburuk-buruk Maula. Dia tidak akan melewati batasannya.
Suasana sedikit hening, hanya terdengar dentingan sendok garpu saat menyentuh piring.
__ADS_1
“Dek ... Abang pikir SMA CENDEKIA 3 lebih bagus, lebih menjanjikan lulusan terbaik setiap tahunnya, dibanding CENDEKIA 1.”
“Terus ....”
“Abang mau pindahin kamu ke sana.”
“Apa?! Maksud Abang pindah sekolah? Abang bercanda?”
Saat itu juga Maula meletakkan sendok dan garpu di atas piring. Perutnya mendadak kenyang.
“Abang Cuma mau kamu lulus dengan nilai yang sempurna.”
Maula mulai merasa jika Khayru selalu berusaha memisahkannya dari Ariel. Seperti yang dia lakukan setiap pergantian kelas. Tiba-tiba, Maula harus pindah kelas tanpa alasan yang jelas. Dan sekarang, dia harus pindah sekolah padahal hanya tinggal beberapa bulan menuju ujian kelulusan. Nanti, saat masuk perguruan tinggi, entah apa lagi upayanya.
“Gak bisa, Bang. Kali ini Maula gak bisa ikutin kemauan Abang. Tolong jangan paksa lagi.”
Maula berdiri sambil menarik tasnya dari sandaran kursi.
“Aku gak usah dianter, ya Bang. Mau berangkat sendiri.” Maula pergi untuk menghindari perdebatan yang lebih panjang lagi. Dia juga tak minta sopir untuk mengantar, karena ada Ariel yang akan menjemputnya.
Tiiiinnn!
Motor berhenti tepat di depannya.
“Gak lagi berantem sama Abang kamu, ‘kan?” tanya Ariel sambil memakaikan helm di kepala Maula.
“Gak penting. Ayo berangkat.”
“Tunggu! Tunggu!” Ariel masih penasaran dengan sikap Maula. “Aku lebih suka liat kamu rukun sama Kakakmu, La. Kalau kamu salah, minta maaflah karena kamu lebih muda.”
“Iya, iya, nanti.”
“Perlu aku temenin?”
“Gak usah. Aku bisa datang ke kantornya untuk minta maaf sendiri.”
“Oke.” Ariel mengacungkan jempolnya.
To be continue ....
__ADS_1