Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 63


__ADS_3

Tak lama, Vidiocall tersambung. Muncullah wajah buronan yang begitu penasaran ingin melihat wajah Maula. Diam- diam, kamera mengarah pada Maula.


“Dan, Dan ...? itu ... itu ... siapa, Dan?” suara Khayru terdengar langsung di telinga Dandi melalui earphone.


“Yang lagi duduk sama Maula itu namanya Pram. Dia dosennya Maula. Baru kali ini ya Mas Iru lihat? Padahal dia datang tiap hari, loh, Mas.”


Mendengar nama Khayru, Maula dan Pram disebut, Nikita segera mengambil salah satu TWS (True wireless earphone) dari telinga Dandi karena ingin tahu apa sedang dibicarakan Dandi. Spontan, Dandi meminta Nikita menghadap ke arahnya yang sedang bersandar ke meja. Ini supaya mereka terlihat sedang mengobrol berdua dan tak mengundang kecurigaan orang-orang di sekitarnya. Dandi juga meletakkan telunjukknya di bibir supaya Nikita tidak ribut.


“Namanya Pram? K-kenapa dosen itu bisa datang ke sana? Apa ... dia sering datang ke rumah Maula juga? Apa mereka sering duduk- duduk berdua saja?”


“Dan? Apa yang kamu tahu tentang dosen itu? Kenapa gak bilang dari dulu, Dan?” Dari suaranya yang memberondong Dandi dengan banyak pertanyaan, sepertinya Khayru sedang dilanda penasaran. Dandi bilang, laki-laki itu datang tiap hari selama satu semester ini. Hanya saja baru kali ini ada kesempatan Khayru melihat mereka duduk bersama. Padahal tiap hari mereka duduk di meja yang sama. Sebenarnya, mereka tidak duduk berdua saja. Selalu ada Nikita atau yang lainnya, tapi karena Dandi memanggil Nikita, jadilah kali ini Khayru hanya melihat mereka dengan pemandangan seperti sekarang.


Semasa kemudian, Maula beranjak dari tempat duduknya lalu datang menghampiri Dandi dan Nikita yang nampak sedang ngobrol berhadapan. Dandi pun segera menggeser handphone demi menyembunyikannya dari penglihatan Maula.


“Kalian ngobrolin apa? Asik banget kelihatannya.”


“Cuma dengerin musik aja kok, La.” Nikita mengembalikan TWS ke telinga Dandi dengan sikap senatural mungkin. “Kenapa, La?”


“Bikinin makanan buat Mas Cahyono, dong. Nanti kalau dah selesai, panggil aku,” pinta Maula.


“Mau apa, La? Waffle, potatto wedges atau sanwich?” tanya Dandi sambil mematikan handphone.


“Apa ajalah, Mas. Kalau bisa, agak mengenyangkan.”


Dandi pun segera menyalakan kompor setelah mengisi panci kecil dengan dengan air sampai mendidih.


“Perhatian banget sama Mas Cahyo?” goda Nikita iseng.


“Eh! Kita wajib terima kasih loh sama dia. Soalnya dia yang jagain kafe kita tiap malem.”


“Bener, La. Aku juga liat dia di CCTV,” sahut Dandi sambil memasukkan dua bungkus spagheti mentah ke dalam air mendidih lalu menaruh wajan di atas tungku kompor yang lainnya.


“Emangnya dia gak pulang apa?”


“Aku sempet ngobrol sama dia. Katanya dia gak punya rumah. Tuna Wisma,” tegas Maula. “Kasian 'kan? Kalau aku mah kasian banget.”


“Cuma kasian, ya? Yakin gak naksir?” Nikita semakin iseng menanggapinya.


“Naksir?” Kening Maula mengernyit sampai berlipat-lipat.


“Ya kan kamu bilang mau nyari suami yang jauh dari kata sempurna? Biar gak ada pelakor di antara kalian. Inget, gak?”


Dandi yang tengah mengaduk saus di atas wajan, spontan tertawa, akan tetapi tangan lincahnya tetap bekerja. Dia tiriskan spagheti lalu menaruhnya di atas piring. Menyiraminya dengan saus dan menatanya secantik mungkin.


“Hahaha ... kalau itu terjadi, aku yakin gak bakalan ada yang namanya pelakor, tapi gak yakin bisa aman dari pebinor sih, La.”


“Dan yang bakalan jadi pebinor di jajaran paling depan, itu orangnya. Hahaha ....” Nikita menunjuk sang Kakak yang masih duduk di mejanya. “Masa sih, Kak Pram bisa kalah sama Cahyo?”


“Kalian ini ngomong apa? Gak usah deh, banding-bandingin Cahyo sama Pram? Aku cuma kasian sama Mas Cahyo, tapi seandainya aku berjodoh dengannya, aku gak ada masalah,” ucapnya sambil pergi membawa sepiring spagheti yang baru selesai dibuatkan Dandi. “Oh ya, makasih spaggeti-nya.” Dia kembali menoleh sambil mengangkat piring yang dibawanya.


Nikita hanya menggelengkan kepala lalu melirik ke arah Dandi yang tengah memandang sambil menaikkan alisnya.



Di kamar Katia, sebelum ia tidur. Terdengar suara handphone yang terus berbunyi. Katia sedikit ketakutan setiap kali itu terjadi. Khawatir jiga Nursyam menghubunginya lagi. Namun, banyak relasi bisnis juga yang menghubunginya ke nomor itu. Terpaksa dia harus melihat layar handphone untuk memastikan siapa yang menelepon.



Dia bernapas lega sambil mengusap dada karena yang menelepon ternyata Khayru. Bukan Nursyam. *Alhamdulillah*.

__ADS_1



“Akhirnya, Pak Iru telepon juga. Jangan bilang cuma mau menanyakan Maula, ya, Pak?”



“Memangnya, aku harus tanya apa selain Maula?” jawabnya santai.



“Masalah kerjaan, misalnya?”



“Aku tidak tertarik dengan masalah kantor, Kat. Aku percayakan pada kalian berdua saja.”



“Kalau cuma rindu sama Maula kan bisa telepon orangnya langsung, Pak?”



“Bukan rindu, Kat. Aku cuma mau tanya siapa laki-laki yang sedang dekat dengan Maula sekarang? Anu ... si Pram itu ... siapa dia?”



“Hm ... Pram itu ....” Katia menghentikan ucapannya sesaat. “Seperti yang Pak Iru katakan dulu, akan ada seorang lelaki baik yang ingin meminang Maula. Nah, Pram ini mungkin orangnya, Pak.”



“Apa?! Pram sudah meminang Maula? Yang benar, Kat? Kamu bercanda 'kan?”




“B-bukan kepo, tapi ... aku masih harus memastikan apa dia itu laki-laki baik buat Maula atau tidak? Meski pun bukan siapa-siapa lagi, aku masih peduli. Aku ... masih punya tanggung jawab sama almarhum Papa,” jawab Khayru sambil terus berpikir apa jawaban spontannya ini terdengar masuk akal atau tidak.



“Ahaha ... sudahlah Pak Iru. Kalau kangen bilang saja. Saya mengerti perasaan Pak Iru juga Maula saat ini. Jangan sampai kalian menyesal karena terlalu sibuk menguji perasaan masing-masing.”



“Perasaan Maula ...? Memangnya apa yang kamu tau tentang perasaan Maula? Bukannya dia sudah menemukan penggantiku? Mau tak mau aku harus merelakannya.”



“Yakin mau merelakan begitu saja?”



“Asalkan dia bahagia. Semua bisa aku lakukan demi kebahagiaannya.”



“Akh ... ya ampun. Saya terharu mendengarnya.” Entah dia harus memuji atau mencaci. Karena kenyataannya, Khayrulah yang telah membawa kebahagiaan Maula jauh dari hidupnya.”


__ADS_1


“Pak Iru melakukan apa pun demi melihat Maula bahagia sampai menutup mata untuk melihat kesedihannya selama satu tahu terakhir.”



“Kesedihan apa, Kat? Aku melihatnya meski hanya dari foto atau Vidio. Dia selalu tersenyum kadang tertawa. Aku tidak pernah melihat wajahnya yang murung.”



“Itu karena dia punya waktu sendiri untuk melampiaskan kesedihannya.”



“Maksud kamu?”



“Saya sering memergokinya di kamar mandi. Dia sering menangis sendiri sambil menyalakan keran air supaya suaranya tidak terdengar oleh siapa pun. Sekuat apa pun saya menghiburnya, tetap tidak bisa. Saya harus bagaimana Pak Iru? Saya tidak ingin melihat Maula seperti itu.”



Sejak mereka mengakhiri obrolan di telepon, Khayru hanya menghabiskan waktu untuk duduk merenung. Dia teringat kebiasaan Maula sejak kecil yang selalu duduk di kamar mandi jika hatinya sedang bersedih. Namun, dulu Maula masih bisa melampiaskan kemarahan sampai hatinya merasa lega. Berbeda dengan Maula saat ini yang cenderung menahan perasaan yang sebenarnya. Hingga Katia bilang jika hatinya nyaris tak pernah bahagia.



Kenapa hati Khayru terasa seperti teriris saat mendengar kenyataan yang sangat jauh dari harapannya selama ini. Katia juga mengatakan jika sehancur-hancurnya hati Maula, dulu masih ada Khayru tempat dia mengadu. Berbeda dengan waktu yang bergulir selama satu tahun terakhir, Maula benar-benar kehilangan separuh dari nyawanya.



“Ya Allah. Bagaimana caraku mengembalikan waktu yang sudah berlalu? Mengembalikan kebahagiaan Maula yang telah hilang. Kalaupun aku datang padanya, mungkin hatinya sudah tertutup. Dia akan melihatku bagai sebuah luka yang menganga. Kedatanganku hanya akan menguar kenangan yang menyedihkan. Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan-kesalahanku itu, ya Allah.” Khayru mengguncang kepalanya kala dia hanya bisa menyalahkan diri sendiri.



Seminggu kemudian, Maula tiba di depan kafe. Hendak memarkir mobilnya di tempat paling ujung, yang berderet dengan mobil milik Dandi, Nikita dan Rere. Tiba-tiba sebuah mobil membentur bagian belakang hingga kedua mobil mereka mengalami sedikit kerusakan. Maula segera keluar dari mobilnya, begitu pun dengan sopir yang mengendarai mobil di belakangnya.


“Ya ampun. Maafkan saya, Pak.” Maula mengamati bagian mobil mereka yang sama-sama rusak.


“Wah, gimana ini, Mbak? Majikan saya bisa marah besar sama saya!” ucap Sopir yang khawatir karena harus menanggung kerusakan mobil milik Tuannya. Sebenarnya bukan salah Maula karena posisi sopir tadilah yang menabrak mobil Maula.


“Iya, gimana ya, Pak? Mobil saya juga rusak, ini.” Sambil menyentuh lampu belakang yang pecah. Mungkin benturan tadi cukup keras.


“Tapi mobil majikan saya lebih parah, Mbak. Yang rusak bagian depan, lagi. Mbak harus ganti biaya kerusakan pokoknya.”


Sopir yang jelas-jelas melakukan kesalahan, malah menyalahkan Maula habis-habisan. Namun, mengingat sopir itu akan mendapat masalah dengan majikannya, Maula memilih untuk mengalah.


“Baik, Pak. Silakan bawa mobil majikan Bapak ini ke bengkel. Setelah selesai, saya yang akan bayar semua biayanya, setuju?”


“Gimana kalau Mbaknya tiba-tiba kabur? Saya bayar pake apa nanti?”


“Ya ampun, gak mungkin saya kabur. Bapak tinggal datang lagi ke tempat ini. Bapak bisa temui saya kapan pun. Saya kuliah di sana.” Maula menunjuk kampus yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari kafe.


“Apa jaminannya kalau Mbak gak akan kabur?”


Maula menghela napas sambil menggeleng kepala, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama. “Saya harus buru-buru masuk kelas, jadi gak bisa mampir ke ATM. Bapak pegang saja kartu nama saya. Telepon saya di nomor itu.” Sambil bersiap untuk meninggalkan halaman kafe.


“Tunggu, Mbak! Gimana kalau kartu nama ini ternyata bukan milik Mbaknya?”


“Astagfirullah! Apa perlu saya kasih KTP saya ke Bapak?” Maula menunjukkan KTP dengan nama yang sama seperti yang ada dalam kartu nama. Tanpa aba-aba, sopir tak ada akhlak itu mengambil KTP dari tangan Maula.


“Saya akan kembalikan KTP ini setelah Mbak melunasi biaya perbaikan mobil ini.”

__ADS_1


Karena tak ingin terlalu membuang waktu untuk berdebat. Maula hanya menyetujui kemauan sopir itu lalu pergi sebelum terlambat.


To Be Continued ....


__ADS_2