
“Bik, bisa tolong panggilkan tamu kita? Minta dia untuk sarapan bersama.”
“Bibik udah panggil dia tadi. Katanya, duluan saja soalnya dia masih ngantuk. Semalam gak bisa tidur. Begitu katanya, Tuan.”
“Ya sudah kalau gitu. Nanti mejanya jangan dibereskan dulu sebelum Katia sarapan.”
“Baik, Tuan. Bibik ke dapur dulu,” ucapnya sambil nunjuk ke belakang dengan jempolnya. “Kalau butuh sesuatu, panggil saja ya, Tuan.” Dia berangsur ke arah dapur setelah Khayru mengangguk. Namun, tak lama Katia datang ke ruang makan. Khayru mempersilakannya duduk lalu memanggil kembali Bik Sulis.
“Bik! Tolong siapkan dulu piring buat Katia.”
“Gak papa, saya bisa sendiri,” ucapnya sungkan. “Duh, gak enak banget, udah bikin nunggu, ngerepotin lagi,” lanjutnya saat Bik Sulis mulai melayaninya seperti yang dia lakukan pada Khayru dan Maula.
“Gak papa Bu Katia, ini rumahmu juga. Gak usah sungkan begitu.”
“Panggil Katia aja.” Sambil duduk di sebrang Maula.
“Aku panggil Kakak aja deh, ya.”
“Ya udah, terserah,” jawabnya sambil tersenyum.
Sedari tadi Khayru sudah mengambil dua butir telur rebus ke atas piring lalu memisahkan kulitnya. Setelah itu dia sodorkan ke hadapan Maula.
“Dari sekian banyak makanan di meja, Abang cuma ngasih aku dua butir telur buat sarapan?” protes Maula
“Biar gak ngantuk di kelas,” kilahnya. “Kalau bosan dengan menunya, bisa ganti pake oatmeal atau roti isi, tapi pilih sala satu saja, jangan semuanya.”
“Segitu mana kenyang, Bang! Aku gak puas makannya.”
“Karena terlalu kenyang itulah kamu jadi tukang tidur di sekolah. Lagian, badan sekecil ini makannya, kok, rakus banget,” ucapnya sambil melirik.
“Aku ngantuk bukan karena kenyang, Bang, tapi karena kurang tidur.” Maula beralasan.
“Kurang tidur gimana? Tiap malam, Abang lihat kamu tidur kaya orang pingsan, kok.”
“Enggak, kok, Bang. Aku sering bangun tengah malam.” Sambil memotong telur yang sudah dikupas lalu menyisihkan kuningnya. Maula tidak suka makan kuning telur, hanya memakan putihnya saja.
“Kalau bangun tengah malam, kamu ngapain aja?” tanya Khayru sambil menatap penasaran.
“Hmm ... gak ngapa-ngapain. Cuma ... nangkepin nyamuk doang.”
“Bohong! Mana ada nyamuk di kamar kita. Orang di sana sudah ada perangkap nyamuk, kok.” Khayru tergelak menanggapi jawaban Maula yang tidak masuk akal.
“Ada!” tegas Maula. “Itu nyamuk kadang menclok di bibir Abang, masa gak ngerasa? Bengkak loh itu.” Maula mengamati bibir suaminya.
Khayru semakin terpingkal-pingkal. “Terus kamu apakan itu nyamuk kalau sudah menclok di bibir Abang?”
“Aku diemin aja,” ucapnya sambil fokus pada makanan di piring.
Khayru meraba bibirnya sambil mengerutkan kening. “Hmm ... pantesan bibir Abang sedikit bengkak ternyata digigit nyamuk? Bener, gak, sih? Gigitan nyamuk kan, gatal? Ini enggak.”
“Kalau gak percaya, nanti tanya saja sama nyamuk. Jangan tanya aku.” Maula semakin menyembunyikan wajahnya karena menahan tawa.
“Ya udah. Nanti kalau kamu bangun tengah malem lagi, sampein makasih Abang buat nyamuk, ya.”
“Makasih?” Maula memicingkan matanya.
“Udah, ah. Ayo berangkat, nanti kesiangan.” Khayru berdiri sambil menunggu Maula yang masih sibuk mengelap mulutnya dengan serbet makan.
“Kalian berangkat sekarang?”
“Iya. Kamu bisa istirahat di rumah saja, karena nanti malam saya akan minta pengacara datang ke sini. Oh ya, kamu bawa dokumen-dokumen identitas pribadi, kan?”
Katia mengangguk. “Ada. Punya Inak pun saya bawa semua. Karena di Lombok saya sudah tidak ada rumah.”
“Oke. Kita ketemu lagi nanti sore,” ucapnya saat berlalu dari hadapan Katia sambil mengayun tangan Maula.
“Berangkat dulu, ya, kak!” suara Maula yang mulai melangkah jauh dari ruang makan.
Katia masih memandangi mereka berdua sambil tersenyum, hingga ia menyadari Bik Sulis yang tengah memperhatikannya dari tadi.
“Kenapa senyum-senyum, Non?”
“Gak tau kenapa, seneng aja liat mereka berdua.”
“Pasangan suami istri yang lucu, kan, Non?” tanya Bik Sulis. Membuat Katia membelalakkan matanya.
“Mereka suami istri?”
Bik Sulis mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
“Ya ampun. Pantas saja saya merasa ganjil saat tadi mendengar mereka tidur se kamar.” Katia mengusap wajahnya. “Kalau Bik Sulis gak ngasih tau, saya bisa salah paham, tadi itu.”
“Bibik sama semua pelayan di rumah ini juga pernah salah paham, kok.” Bik Sulis tertawa kecil. “Sampai beberapa waktu yang lalu, Tuan dan pengacara memberi tahu bahwa dia sudah menikahi Non Maula sejak usian Enon sepuluh tahun. Non Maula juga baru tahu.”
“Waaw, kejutan banget, dong.” Mata Katia semakin terbelalak. “Tapi mereka sweet banget. Pasangan suami istri beda usia yang sangat manis,” ucapnya sambil menatap Bik Sulis.
“Bibik kasih tau ini sama Non Katia supaya tidak ada salah paham seperti Bibik dulu saat melihat kedekatan mereka. Kalau di luar sana, ini masih menjadi rahasia karena Non Maula masih sekolah.”
“Saya mengerti, Bik. Saya doakan semoga mereka selalu bahagia.”
“Makasih, Non.”
“Sekolah dulu, ya, Bang. Assalamualaikum,” mencium punggung tangan suaminya.
“Belajar yang bener, jangan tidur mulu di kelas. Malu-maluin.”
Khayru langsung menunjuk dengan bibirnya ke arah luar, ke arah dua orang siswi yang tengah berdiri menunggu Maula.
“Apa, Bang?” Maula menoleh. “Duo landak?”
“Mereka baik, gak, sama kamu?”
“Mana bisa aku bedain yang baik dan jahat. Mereka lebay, bisa aja pura-pura baik.”
“Udah sana turun. Mereka nungguin kamu.”
“Maulaa ...!!” teriak keduanya
“Sini, buruan!!”
“Gue kenalin, Lo sama anaknya kepala sekolah, dia ganteng banget. Cepetan jalannya!” Rere menarik tangan Maula yang masih berada dekat dengan mobil Khayru. Spontan Maula membulatkan matanya sambil meletakkan telunjuk di bibirnya. Pantangan baginya untuk membahas laki-laki lain apa lagi di depan suaminya.
“Diem, gak, Lo!” ancamnya dengan suara pelan tapi tegas. “Lo mau gue disleding Abang gue, ya?”
Tak lama, terdengar pintu mobil terbuka. Maula yakin suaminya datang mendekat karena mendengar percakapan mereka.
“Abang, maaf, Bang,” ucapnya ketakutan sambil memutar badan. “Mereka tadi ....” Mendapat tatapan tajam dari suaminya, Maula segera berniat menjelaskan. Namun, ucapannya terpotong saat Khayru mengangsurkan handphone baru ke arahnya.
“Abang lupa ngasih ini, tadi. Sudah ada kartu di dalamnya.” Tidak menunggu lama, dia langsung berbalik ke arah mobil.
“Makasih, Bang!” serunya sambil menggoyang handphone baru yang ia terima. Mobil itu berlalu dari hadapannya. Membuat Maula bernapas lega sambil mengusap dadanya.
“Wuihh ... handphone baru! Canggih gak tuh, keluaran baru?” cetus Nikita.
__ADS_1
“Coba dong, coba dong!” Rere menimpali.
Maula masih berdiri sambil memicingkan matanya. “Kalau sekali lagi kalian ngomongin cowok ganteng di depan Abang gue, maka pertemanan ini gue cancel.”
“Itu berarti, pertemanan kita sudah di acc, dong?”
Maula melangkah menuju ruang kelas, mengabaikan ucapan Rere dan Nikita yang tidak bisa berhenti dengan kicauannya.
Seperti kata Rere dan Nikita, hari ini sekolah mendatangkan beberapa siswa dari SMA Cendekia 3 yang terkenal sangat berprestasi. Salah satunya adalah putra dari kepala sekolah yang selain dikenal pintar juga memiliki ketampanan yang menjadi buah bibir.
“Duh, sayang banget ya kita dah pada punya gebetan. Jadinya si Dafiin kita anggurin aja, gitu,” bisik Nikita di antara kerumunan siswa siswi yang tengah mendengarkan pidato berbahasa Inggris yang dibawakan Daffin--sang anak kepala sekolah.
“Cuma Lo kali yang punya gebetan. Gue enggak. Si Rere juga gue gak tau siapa gebetannya. Nyosor-nyosor doang sih iya dia mah.”
“Gebetan si Rere kan, Abang, Lo. Masa gak pernah nyadar?”
Maula mendelik ke arah Rere. “Jauhin Abang gue! Kalau enggak, gue teriakin pelakor di depan semua orang!”
“Lo bukannya dukung gue jadi kakak ipar, malah malu-maluin gue, sih, La?”
“Abisnya Lo sukanya sama laki orang sih. Itu kan pelakor namanya.”
“Abang Lo nikah ama siapa? Kapan?”
“Bukannya dia masih lajang?”
“Ada deh pokoknya. Bini Abang gue tuh ... Cantik, baik, pinter. Pokoknya, sempurna kek gue. Coba lihat gue!” Dengan percaya dirinya Maula menunjuk wajahnya sendiri.
“Yaelah ... Lo sama gue emangnya pinteran siapa, hayoo? Gue kan juara kelas. Nah, Lo kebalikannya.”
Nikita yang cuma bisa nyimak, dia geleng-geleng kepala sambil sesekali menepuk jidatnya.
“Lah terus, Lo berdua kenapa mau temenan sama gue? Temenan aja sono sama William James Sidis dia IQ-nya nyampe 300. Cocok sama Lo.”
“He he ... gue kan gak nyari temen yang pinter-pinter banget. Gue ikhlas temenan sama Lo. Syukur-syukur, Lo mau comblangin gue sama Abang Lo.” Rere melingkarkan tangannya di bahu Maula sambil senyum-senyum dan mengedipkan mata.
*Dasar Zubaedah! Gue tampol baru tau rasa*!
To Be Continued ....
__ADS_1