Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 49


__ADS_3

“Loh, Rere belum dateng, Nik? biasanya paling rajin tuh anak.” Maula mengernyit mendapati bangku Rere yang masih kosong.


“Kayaknya hari ini dia gak masuk sekolah deh,” jawab Nikita ragu-ragu.


“Dia sakit apa gimana? Bakalan gak seru dong kalau duo ubur-ubur, kurang satu,” ujarnya sambil duduk dan meletakkan tas di atas meja.


Nikita nampak sedang memainkan bibirnya ke atas, ke bawah dan ke samping. Nampak seperti orang kebingungan.


“Rere sakit?” tanya Maula sekali lagi.


Nikita menggelengkan kepala.


“Terus kenapa dia gak masuk?”


“Tadi subuh ... dia telepon gue sambil nangis.”


Maula kembali mengernyit. “Anak model kek dia bisa nangis juga, emangnya? Dia bilang apa? Kenapa dia nangis.”


“Dia cuma bilang, hari ini gak masuk sekolah. Waktu gue tanya kenapa dia nangis, dia tutup teleponnya.”


“Serius, Lo?” Maula yang awalnya tak begitu menanggapi, tiba-tiba peduli dan merasa khawatir. “Pulang sekolah, kita langsung ke rumahnya. Gue jadi gak enak ati, nih.”


Nikita mengangguk. “Gue juga sampe gak bisa sarapan, mikirin Rere.”



“Assalamualaikum ... Re, Lo di rumah?! Buka pintunya, please!” Maula menekan bel berkali-kali. Dia juga mengetuk pintu berulang-ulang. Ucapan salamnya tak kunjung mendapat sahutan.



Nikita coba telepon nomor handphonenya. Meski lama, akhirnnya Rere mengangkat telepon di panggilan ke sepuluh.



“Re, Lo di mana? Kita dah di depan rumah Lo, nih.”



“Kita ketemu besok aja di sekolah. Gue lagi tidur.” Suara seraknya bisa jadi karena dia memang baru bangun tidur, tapi bisa juga karena dia habis nangis.



“Lo sakit? Kita mau jenguk Lo. Dah nyampe sini, masa mesti balik lagi, sih?” Maula mengambil alih handphone Nikita dari tangannya.



Rere bersikeras mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, akan tetapi semakin dia memaksa teman-temannya untuk pulang, semakin yakin Maula dan Nikita untuk tidak beranjak dari teras rumahnya. Akhirnya, Nikita membuka pintu dan mempersilakan teman-temannya masuk ke kamar.



“Re, Lo kenapa, sih?!” tanya Maula tak sabaran.



“Shuttt ... kita ngobrol di kamar saja. Mamaku sedang istirahat di kamarnya.” Rere juga memberi isyarat supaya mereka bicara dengan suara pelan.



Maula duduk di tepi tempat tidur Rere. Sementara Nikita menduduki kursi belajar yang dia putar menghadap Rere--yang kembali merebahkan dirinya di atas tempat tidur.



“Jadi kita mau diem-dieman aja, nih?” Nikita mulai membuka percakapan di tengah keheningan sambil menggoyang-goyangkan kakinya.



Maula memutar badannya lalu menyentuh kening Rere yang berwajah sembab karena terlalu lama menangis. “Sakit apa, Re? Bilang dong ke gue.”


__ADS_1


“Panjang ceritanya.” Rere mulai menarik napas panjang. “Bukan gue yang sakit, tapi Mama.”



“Kalau gitu, gue mau jenguk Mama, anterin gue ke kamarnya.” Maula menarik Rere, tapi Rere menarik tangan Maula dan memintanya duduk kembali.



“Jangan sekarang. Mama gak mau diganggu.”



“Mama sakit apa, Re?” tanya Nikita sambil mendekat.



“Mama ... sakit lahir dan batin. Sudah lama Mama memendam rasa sakitnya hingga tadi malam, dia coba bunuh diri.”



“Whatt?! Bundir?!” teriak Maula dan Nikita bersamaan.



“Shuutt ....” Rere kembali meminta mereka untuk tenang.



“Gimana ceritanya, Mama sampe berpikir untuk bunuh diri?” bisik Maula penasaran.



“Setelah sekian lama Mama menutupi perselingkuhan Papa, tiba-tiba Papa bilang mau menceraikan Mama demi selingkuhannya ....”




“Itu Papa yang dulu. Sebelum dia mengenal asistennya yang baru,”



“Dia selingkuh sama asistennya?” tanya Nikita lagi?



“Itu sudah lama sekali. Aku pernah minta Papa mengakhiri hubungannya, dan dia menurut karena wanita selingkuhannya memilih pindah ke luar negeri bersama anak dan suaminya.”



“Jika hubungan mereka sudah berakhir, harusnya masalah sudah selesai saat itu juga, kan, Re?” tanya Maula yang penasaran tentang apa yang membuat ibunya mencoba bunuh diri.



“Hubungan Papa dan selingkuhannya terlalu kuat karena mereka sudah menjalin cinta sebelum mereka sama-sama menikah dengan pasangan masing-masing.”



“Wanita ja\*ang itu kembali menggoda Papamu?!” Maula seakan merasakan apa yang tengah di rasakan ibunya Rere saat ini.



“Gue juga tak habis pikir, Papa lelaki terbaik yang menjadi panutan selama ini, tiba-tiba rela mengorbankan keluarganya demi wanita lain. Sehebat itukah pesona orang ketiga? Gue benci ja\*lang yang sudah merebut hati Papa dan hampir merenggut nyawa Mama” Rere kembali menangis meratapi kehancuran keluarganya.



Maula dan Nikita memeluknya bersamaan. “Re, Lo sama Mama pasti kuat menghadapi ujian ini.”


__ADS_1


“Coba Lo berdua bayangin. Lo liat mama Lo tergeletak di kamar mandi dengan darah yang terus mengalir dari pergelangan tangannya. Mama udah gak mau hidup lagi saat ini.”



“Gue tau, gue tau ....” Maula mengusap pundak Rere, berusaha menenangkannya. “Gue tau bagaimana hancurnya melihat tubuh Mama terbujur kaku sudah tak bernyawa. Gue juga tau bagaimana rasanya menyaksikan sendiri Papa meregang nyawa lalu pergi meninggalkan gue seorang diri.” Maula menyeka air mata yang lolos begitu saja dari sudut matanya.



“**Teresia Putri Aulia**, selain cerdas, Lo juga temen gue yang paling mandiri dan kuat. Gue belajar banyak dari Lo. Jangan pernah menjadi lemah. Demi Mama.” Maula terus menyemangati temannya karena bagaimana pun dia harus bangkit.



“Dan Lo tau siapa perempuan ja\*lang itu?” tanya Rere sambil terus menangis.



Maula melepaskan pelukannya sambil menatap mata Rere. “Siapa dia?”



“Dia Mamanya Ariel. Dia meninggalkan Ariel dan ayahnya Ariel, demi merebut kembali Papa gue.”



“Apa?! Jadi selama ini ... Astagfirullah!” Maula benar-benar tak tahu harus berkata apa. Hanya bisa mengusap dada karena dia tak sanggup membayangkannya, apalagi jika harus mengalaminya. *Laki-laki yang selalu bersama Mamanya Ariel dengan alasan pekerjaan, yang juga menjadi selingkuhannya ternyata Papanya Rere*.



Hari sudah semakin sore, Maula menawarkan diri jika Rere butuh teman untuk malam ini. Namun, karena Rere menolak, Maula pun menelepon Mang Sodik supaya datang menjemputnya.



“Re, jagain Mama baik-baik. Jangan segan telepon gue kalau butuh bantuan. Gue bakalan siap 24 jam, nonstop buat Lo.”



“Gue juga, ya, Re,” timpal Nikita yang dijawab anggukan dan pelukan dari Rere untuk mereka berdua.



Sepanjang malam, Maula tak berhenti memikirkan masalah keluarga Rere dan juga Ariel.


Wanita dewasa, sabar dan sudah mengenyam begitu banyak asam garam kehidupan seperti mamanya Rere, pada akhirnya mencoba untuk mengakhiri hidupnya karena merasa tak sanggup menanggung beban.


Pria baik, setia, bertanggung jawab dan cinta keluarga seperti ayahnya Rere, akhirnya memilih wanita lain atas dasar cinta pertama yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.


Begitu pun dengan Mamanya Ariel yang rela mengkhianati keluarga tanpa memikirkan lagi perasaan seorang anak yang membutuhkannya.


Serumit itukah masalah rumah tangga? Sesulit itukah untuk saling setia selamanya?


Belum selesai Maula merenungkan kisah Rere dan Ariel. Tiba-tiba harus dipusingkan dengan kiriman gambar dari Risa. Sedikit demi sedikit, Maula kehilangan rasa hormat terhadap wanita yang lebih dewasa usianya ini. Hampir setiap kegiatan dia laporkan pada Maula. Lebih tepatnya, ini seperti dalam rangka memprovokasi.


Ingin rasanya dia meminta Aldi untuk mendidik calon istrinya itu, akan tetapi Maula khawatir akan merusak persahabat Aldi dan suaminya karena selama ini, Aldi tidak pernah tahu menahu rahasia masa lalu mereka. Dia bahkan tak pernah mencurigainya.


Maula menatap jam dinding yang sudah menunjuk angka 12, lalu dia menghitung perbedaan waktu guna memastikan waktu yang tepat untuk menelepon suaminya.


“Di sana baru menjelang isya,” gumamnya sambil menekan nomor Khayru lalu menekan tombol panggil di layarnya.


“Hallo, sayang. Kamu, kok, belum tidur?” panggilan sayang terdengar seperti candaan di telingan Maula.


“Aku sedang tidak ingin bercanda, Bang. Abang ngapain berdua-duaan sama Tante Risa?” tanyanya to the point.


“Berdua-duaan gimana? Ada Ayah, kok, di sini,” jawabnya sambil terkekeh.


“Ada ayah karena ini malam hari. Gimana dengan pagi, siang, sore? Udahlah! Abang terlalu banyak alasan!” Maula menutup telepon karena menganggap suaminya telah membuka celah buat Risa.


Bisa-bisanya wanita penggoda itu mengatakan dengan bangga bahwa dia merawat suami orang seharian. Di mana dia simpan otaknya?


To Be Continue ....

__ADS_1


__ADS_2