Menikah Karena Ijbar

Menikah Karena Ijbar
Bab 80


__ADS_3

“Ayah, ke mana lagi anak itu?” bisik Khayru pada Tuan Omar, setelah lagi-lagi Maula tidak terlihat di samping Umi Khadijah.


“Mungkin ke kamar kecil lagi,” jawabnya sama-sama berbisik. “Mungkin dia sedikit gugup. Biar ayah saja yang selesaikan obrolan ini. Tidak perlu menunggu Maula.”


Khayru mengangguk setuju. Dan setelah mereka sama-sama menghentikan obrolan basa-basinya, saat itu juga Tuan Omar mulai menyampaikan maksud kedatangan hari ini. Perlahan tapi pasti, setiap ucapannya begitu tertata rapi dan langsung dapat dimengerti oleh pak Kiai.


“Ayah, langsung tentukan saja tanggal pernikahannya supaya tidak membuang banyak waktu lagi.” Khayru kembali berbisik pada ayahnya.


“Tunggu Maula dulu. Biar dia yang pilih waktunya.”


Khayru mengangguk dan kembali dengan posisi duduknya yang semula, tapi tiba-tiba dia kembali berbisik. “Ayah, tapi Maula lama. Paling nanti dia duduk sebentar, terus pergi lagi ke kamar kecil. Kapan dia ngomongnya?”


“Jangan-jangan Jamilah berubah pikiran, Ru? Dia beneran mau nikah sama kamu atau enggak, sih? Coba dilihat mungkin dia melarikan diri,” canda tuan Omar sambil melongokkan kepalanya ke dalam, hanya untuk membuat wajah anaknya berubah ciut.


“Ayaaahhh ....” Khayru mendengus pelan. Tak sadar, tuan Omar tertawa hingga membuat perhatian Kiai dan Umi, tertuju pada mereka lalu bertanya apa yang sudah membuat mereka tertawa.


“Tidak apa-apa pak Kiai, ini anak saya bilang, pernikahannya mau dilaksanakan di bulan ini juga. Bagaimana menurut pak Kiai?” Dia masih sedikit terkekeh melihat anaknya yang salah tingkah. “Tapi, saya setuju pernikahan dipercepat, karena waktu saya di Jakarta ini tidak banyak.”


Tak lama, Maula kembali duduk di ruang tamu. Dia belum mengatakan apa pun sejak datang ke rumah ini, karena waktunya habis untuk bolak-balik ke kamar kecil.


“Kamu kenapa, sayang? Sakit perut?” tanya Umi Khadijah seraya mengusap lengannya. Maula hanya meringis sambil menggeleng, tetapi Umi Khadijah masih menatapnya karena khawatir.


“Beneran gapapa, Umi.” Dia lanjut berbisik di telinga Umi Khadijah untuk memberitahu bahwa dirinya hanya sedang datang bulan saja, dan itu membuatnya kurang nyaman saat ini. Umi Khadijah pun mengangguk paham.


“Gimana, Nak. Kamu punya rencana lain atau mau ikut rencana yang kita sepakati?” tanya pak Kiai tiba-tiba. “Paling tidak, kamu sudah mantap memutuskan untuk menikah lagi dengan Nak Iru?”


“Saya ikut aja.” Sambil manggut. “Apa pun rencana Abang, Ayah sama pak Kiai.” Dia memilih manut daripada harus mikir lagi, toh pada akhirnya, tujuan tetap sama yaitu menikah dengan Khayru.


Tak lama setelah itu, obrolan tentang pernikahan dianggap cukup dan berlanjut membahas hal lain hingga tak terasa waktu terus berangsur, mereka memutuskan untuk pulang karena banyak hal yang harus dipersiapkan mulai dari sekarang.


“Dari tadi kan cuma iya, iya, aja. Ngangguk-ngangguk setuju aja. Ngomong-ngomong... udah tau belum? Berapa lama waktu yang kita punya?” tanya Khayru sambil melirik ke arah Maula saat mengemudi.


“Bukannya tadi belum dibahas tanggal pastinya, Bang?”


“Udah dibahas tuntas, kok. Makanya kita bisa pulang. Tinggal cari orang yang tepat buat urus semua. Besok kita serahkan dokumen ke KUA, jangan bilang belum siap karena dua Minggu lagi kita akad nikah, duduk di pelaminan, langsung Honeymoon. Iya, gak, Ayah?” Matanya mengerling pada Tuan Omar yang duduk di sampingnya.


“Apa? Secepat itu?!” Mata Maula terbelalak.


Tuan Omar mengangguk setuju seraya menaikkan kacamatanya yang melorot. “Maaf, karena Ayah cuma punya waktu tiga Minggu saja di Jakarta. Jadi harus gerak cepat.”


“Masih bisa protes ke Ayah kalau gak setuju,” tawar Khayru sambil melirik ayahnya untuk menghindari tatapan Maula.


“B-bukannya gak setuju. Hanya saja... kali ini aku ingin memiliki pernikahan impian seperti orang-orang. Bukan pernikahan yang dirahasiakan lagi kaya dulu,” ucapnya malu-malu dan sedikit memelas.


“Buat saja sesempurna mungkin. Sesuai keinginan kamu. Undang semua orang supaya tak ada seorang pun yang tidak tahu hari bersejarah it--”


Sebelum Tuan Omar menyelesaikan ucapannya, Maula sudah sibuk menggeser layar ponsel. Dia menghubungi beberapa kenalan dan teman-temannya untuk membantu acara yang ingin dia buat sempurna dalam waktu yang singkat.


“Nik! Masih inget, gak, waktu kita dateng ke resepsi nikahannya Kak Raline?” tanyanya buru-buru.


“Inget, dong. Kakak sepupuku yang dinikahi Joshua Andrew Ng, taipan muda asal Singapura, memiliki usaha di bidang properti. Tuan tanah yang memiliki harta kekayaan pribadi hampir mencapai U$S 10 Miliar. Kenapa emang?”


Maula hanya teringat waktu itu mereka bertiga dibuat kagum dengan kemeriahan pesta pernikahan sepupu Nikita. Benar-benar definisi pernikahan sempurna yang di impikan semua gadis di tahun ini, termasuk Maula.


Dengan sedikit tidak sabaran, Maula menanyakan beberapa informasi yang bisa dihubungi mengenai jasa WO terbaik yang berperan dalam pernikahan Raline . Nikita pikir, ini untuk kepentingan pernikahan Katia dan Aldi yang memang sudah direncanakan sejak malam lamaran itu.


“Kapan acaranya, La? Aku bantu tanya-tanya nanti”


“Dua Minggu lagi, Nik, bantu, ya.”


“What! Dua Minggu? No no no. Sebaiknya cari EO lain aja, La,” saran Nikita sambil menggeleng.


“Kenapa, sih? Gitu amat. Ditanyain juga belum.”


“Maklum, untuk EO sebonafide itu, planing 10 bulan ke depan udah padet. Jadi, ya, waktu satu tahun itu ukuran yang pas jika mau pake jasa tuh EO.”


Akhirnya, Maula menutup telepon dengan kecewa, setelah Nikita menjelaskan bahwa untuk menggelar pernikahan impiannya, Raline saja membutuhkan waktu 12 bulan dalam mempersiapkan semuanya.


“Gila aja, satu tahun! Mending cari yang lain, masih banyak, kok,” gumamnya sambil menscroll daftar kontak di layar hand phone, masih dalam rangka mencari informasi EO terbaik.

__ADS_1


“Mau cari WO yang gimana, sih, Dek? Biar nanti Abang yang cari.”


Saking sibuknya, Maula menghiraukan pertanyaan Khayru. Dia menghubungi satu per satu teman dan kenalan yang bisa membantunya, demi sebuah pernikahan yang akan membuatnya menjadi seorang putri dalam sehari.


Khayru dan ayahnya hanya mengendikkan bahu setelah saling memandang. Tuan Omar berpesan pada anaknya sambil berbisik untuk tidak menghalangi keinginan Maula supaya gadis itu tidak menyesal dengan pernikahannya nanti.




Beberapa hari mengurus persiapan sendiri secara langsung, demi mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginannya, membuat kesehatan Maula tiba-tiba drop. Khayru sempat menyesal karena telah mempercepat waktu, membuat Maula bekerja terlalu keras. Dia kaget saat dia menyaksikan Maula pingsan di depannya, sesaat setelah turun dari mobil, sepulang fitting baju di butik langganannya.



Sampai Maula tersadar kembali, Khayru masih mendampinginya. Ingin memarahi gadis itu, akan tetapi hatinya luluh saat melihat dia bangun dengan berlinang air mata.



“Kamu berhasil membuat abang menjadi calon suami terburuk di dunia,” sungutnya, saat Maula membuka mata.



“Apa aku baru saja tertidur?” tanyanya seraya bangun pelan-pelan.



“Kamu gak usah ikut campur lagi. Biar abang yang urus semuanya.” Sambil menyodorkan teh manis hangat ke mulutnya.



“Abang akan mewujudkan pernikahan sempurna seperti impianmu. Bahkan akan ada Aldi, Katia, Rere, Nikita, Dandi dan banyak lagi orang-orang yang membantu. Abang yakin hasilnya akan sempurna.”



“Sepertinya, aku terlalu banyak menuntut, dan ternyata, aku tak butuh lagi pernikahan yang sempurna itu, Bang.” Sambil menjatuhkan beberapa butiran bening dari sudut matanya.




“Kini... aku hanya ingin pernikahan yang dihadiri Mama sama Papa. Tak perlu meriah, yang penting aku merasakan kehadiran mereka, seperti beberapa menit yang lalu, mereka muncul dalam mimpiku.” Isak tangis membuat pundaknya bergetar.



“Tangan hangat Papa, menyentuh pipiku dan kecupan Mama mendarat di keningku. Mereka tersenyum,” ucapnya seraya menatap Khayru. Ingin menunjukkan bahwa mimpinya benar-benar seperti nyata. “Aku menangkap banyak pesan yang hanya mereka ungkapkan dengan senyuman dan tatapan lembut.”



Khayru meraih dua lembar tissue untuk menyeka air mata Maula, lalu mengusap bahunya hingga ia tenang. “Bukannya, Mama sama Papa selalu hidup di hati kita? Mereka pasti hadir memberikan doa restunya. Kita hanya perlu menyebut nama mereka dalam doa.”



“Istirahat yang cukup, jika tidak, pernikahan impian kita tidak akan sempurna,” ujarnya sambil memaksa Maula untuk berbaring lalu menutup setengah tubuhnya dengan selimut. “Nanti abang bawakan makanan dan obat.”



Saat bergegas untuk bangkit, Khayru baru menyadari di belakangnya sudah berdiri Katia dan Aldi yang masuk diam-diam karena pintu terbuka.



“Nekad banget ngurus pernikahan tanpa minta bantuan kita,” gumam Aldi sambil berpangku tangan.



“Shuutt ... kita bicara di bawah saja.” Khayru mendorong tubuh Aldi dari kamar Maula supaya tidak mengganggu waktu istirahatnya. Setelah menutup pintu kamar, mereka kembali membahas pernikahan.



“Gue juga cuma nganter-nganter dia doang. Gak nyangka kalau tuh anak sampe kecapean begini.”

__ADS_1



“Kita seperti mau lomba nikah aja. Kalau enggak, ini kaya mau nikah masal.” Aldi terkekeh.



“Ya, mau gimana lagi? Karena cuma ada dua pilihan yaitu, nikah cepat atau nikah di Maroko biar ayah bisa hadir.”



Akhirnya, Katia meminta Aldi untuk mengundurkan rencana pernikahannya karena dia ingin mengurus pernikahan Maula terlebih dahulu. Bagi Katia, moment kembalinya Maula dan Khayru adalah hal yang ia tunggu-tunggu sejak dulu. Tak mungkin jika ia tidak turun tangan untuk membantu. Dia juga yakin kalau Rere dan Nikita akan melakukan hal yang sama.



Dan benar saja, setelah Rere dan Nikita mengetahui kabar itu, mereka langsung datang menawarkan bantuan terbaik dengan gaya bercandanya yang nyeleneh.



“Gak lucu. Ini gak lucu.” Rere datang ke kamar Maula bersama Nikita sambil menggelengkan kepala lalu duduk di tempat tidurnya. “Jangan kek orang susah, gini dong, La. Masa mau ngurus pernikahan sendiri ampe sakit, sih? Jangan pelit, deh. Keluarkan uangmu untuk bayar aku, dan semuaaaanya akan beres,” canda Rere sambil mengerling.



“Sakit? Memangnya siapa yang sakit? Aku cuma sedikit kelelahan. Kalau lagi datang bulan emang badan suka lemes gini.” Sambil berusaha bangun, duduk berhadapan.



“Udah Sampe mana persiapan? Kenapa gak minta bantuanku?” timpal Nikita. “Aku gak tau ya, kalau kamu tanya-tanya EO itu ternyata buat nikahan kamu sendiri.”



Maula hanya menggeleng sambil nyengir karena selama beberapa hari ini dia belum mendapat apa yang diinginkan. Beberapa yang dia hubungi, masih dalam tahap negosiasi, belum mencapai kesepakatan.



“Belum ngurus apa-apa sih, cuma pergi ke KUA, fitting baju, list daftar undangan, Itu aja, kok. Lagian... aku udah berubah pikiran, kalian jangan berlebihan.”



“Belum ngurus apa-apa aja, udah ngedrop, gimana kalau berhasil meng-*handle* semuanya? Belum lagi setelah nikah nanti, harus siap dikerjain suami abis-abisan,” celoteh Rere sambil memetakan tangannya lalu bergidik.



“Udahlah. Istirahat aja pokoknya. Santai-santai biar rileks. Calon pengantin kan cuma perlu menjaga stamina biar tetap fit. Pergi ke salon buat perawatan, pokonya yang *happy-happy*,” timpal Nikita sambil melingkarkan jari telunjuknya.



“Kalian harus cepet nikah, biar tau rasanya gimana. Yakin, pasti panik juga, sama kek aku.”



“Aku?” Nikita menunjuk wajahnya sendiri.



“Nikah ama siapa?” Rere tergelak mengingat dirinya selama ini hanya sibuk dengan kuliah, mengolah kafe, mengurus keperluan Atthar, adik semata wayangnya. Pernikahan menjadi prioritas terakhir baginya.



“Keknya cuma aku deh, pengantin termuda di dunia ini. Usia 9 tahun udah jadi istri orang. Dan menginjak usia 21, udah mau nikah dua kali, Ya Allah, tutuplah aibku.”



“Dapet rekor MURI, La. Keren.”



Mereka kembali tergelak, sebelum obrolan berlanjut dengan bahasan tentang pria-pria misterius yang mungkin menjadi jodoh mereka. Tentang Pram yang diam-diam telah mengurus kepemilikkan kafe atas nama Rere dan mengembalikan sejumlah modal pada perusahaan, melalui Aldi. Atau tentang Dandi dan Nikita yang belakangan ini menjadi sedikit renggang karena Nikita mulai berubah pandangan terhadap laki-laki itu dan tiba-tiba ingin menghindarinya.


__ADS_1


To Be Continued....


__ADS_2