Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 100. Rencana Dona.


__ADS_3

"Maaf adikku sayang, semua ini rencanaku, aku kasian sama Jamal, juga kasian sama kamu, tadi malam kami sudah sampai di sini, papa serta dokter teman Tama dan Jamal mendukung rencana ini," seru Yumna.


"Selamat siang," sapa seseorang yang baru masuk.


"Selamat pak, nah ini penghulu kita sudah datang, ayo Jamal persiapkan dirimu," seru Dimas.


"Siapa nih yang bertindak sebagi wali nikahnya?" Tanya Penghulu.


"Kami wakilkan saja kepada anda," jawab Dimas.


"Ayo adikku sayang, ganti bajumu, aku sudah persiapkan kebaya putih buatmu," seru Dona.


"Janji yang di ucapkan tidak boleh di tarik lagi," seru Jamal.


Dina mengalah, karena dia kalah jumlah. Setelah Dina selesai bersiap, akad nikah pun dilangsungkan di kamar Mey, istri Dimas. Mey sangat bahagia menyaksikan akad nikah Dina dan Jamal. Walau dilangsungkan secara kekeluargaan saja.

__ADS_1


"Akhirnya ... kita bisa melihat anak-anak kita menikah bunda," seru Joan sambil menatap Syaren.


"Hem ... sepertinya ini saatnya kita menagih Mentari yang batal rilis waktu itu," seru Syaren.


"Mentari?" Lirih semua orang bingung.


"Mentari itu adik kami yang batal rilis, kata bunda Mentari batal rilis, karena bunda merasa sudah kerepotan punya empat anak," seru Dona.


Mey sangat iri pada Syaren, walau sudah ber umur, Dimas masih saja memandangi Syaren seperti 25 tahun yang lalu. Kebahagiaan Syaren lebih besar menurutnya, bisa memiliki empat anak, sedang dia hanya mampu punya satu anak saja, Kareem.


"Kita akan adakan resepsi di sini setelah Jamal sehat, aku yang tanggung semuanya, ku harap kalian masih bisa tinggal beberapa hari lagi di sini," seru Dimas.


"Jamal, kata Dina kamu itu dokter umum, aku mempunyai tawaran buatmu, maukah kamu menjadi direktur utama rumah sakit ini? Aku sudah lelah, aku ingin menyerahkan rumah sakit ini padamu. Oh ya Tama, kamu dokter specialis anak bukan, aku juga ingin menyerahkan rumah sakit anak buatmu, Kareem anaku tidak menginginkan kedua rumah sakit milikku, dia sudah repot dengan urusan perusahaan," seru Dimas.


"Kalau kami terima artinya kami harus menetap di sini, kami harus rundingkan dulu om," jawab Tama.

__ADS_1


"Kok om sih, kalian sudah jadi anakku," seru Dimas.


"Jika kalian mau melanjutkan kareir kalian, menetaplah di sini, walau kita terpisah jarak bukan berarti kita menjauh," seru Joan.


"Tapi ini berat yah," seru Tama dan Jamal bersamaan.


" Tanggung jawab yang berat tidak akan berat jika di emban oleh orang yang tepat," seru Dimas.


"Jika istri-istri kami bersedia, maka kami akan menetap di sini," seru Tama.


"Baguslah, papa kalian memberikan usaha, ayah kalian ini hanya mampu memberikan kalian rumah untuk tinggal di sini," seru Joan.


Hari ini berlalu dengan keceriaan, akhirnya semua anak-anak Syaren menemukan jodoh mereka masing-masing. Syaren dan Joan memilih kembali tinggal di rumah orang tua Syaren, rumah Rendra dan Syahila. Sedang rumah di kota yang selama ini mereka tinggali, diberikan kepada Nathan dan Nara, perusahaan Joan juga dibagi untuk Nathan dan Zay.


****

__ADS_1


Setelah Jamal sehat, Dimas menepati janjinya mengadakan resepsi pernikahan di kotanya. Semua orang di buat terkejut, mereka lupa kalau Dimas punya sepasang anak Kembar. Resepsi pernikahan Jamal dan Dina berjalan lancar tanpa hambatan.


"Terima kasih karena bertahan hingga hari tua bersama ku," lirih Joan menepuk tangan Syaren yang melingkar di pergelangannya.


__ADS_2