
Pagi-pagi Celia datang lagi ke rumah sakit, saat itu Dina sedang piket di ruangan dokter Tama. Celia nyelonong masuk begitu saja keruangan dokter Jamal.
"Pagi Jamal," sapa Celia, wajahnya sangat ceria.
"Pagi juga Celia, kemarin kamu kerumah, ya?, mama ada cerita," seru Jamal.
"Iya, aku kangen tante Gita makanya aku mampir,"
"Ngomong-ngomong ada apa nih? Tumben kamu sepagi ini kesini?" Tanya Jamal.
"Calon istri kamu mana Mal?" Tanya Celia.
"Dia tugas di ruangan Tama," jawab Jamal.
"Kamu yakin Dina setia?"
"Maksud kamu apa Cel?" Tanya Jamal.
Celia meraih ponselnya, membuka file foto, dan memberikan foto itu pada Jamal. Melihat foto-foto itu Jamal ingin tertawa, namun dia tahan, karena Celia tidak tahu kalau Dina punya kembaran.
"Terima kasih Celia, aku akan memberi pelajaran buat mereka," seru Jamal.
"Aku ingin imbalan Jamal," kata Celia dengan santainya.
"Aku akan beri apapun yang kamu mau, asalkan bukan jadi pasanganku, karena aku tidak bisa," jawab Jamal santai.
"Jika Tama menikahi wanita itu, aku ingin kau mengundangku di acara pernikahan mereka nanti," seru Celia.
__ADS_1
"Oh itu hal mudah, aku akan meminta undangan Khusus buatmu," jawab Jamal memasang raut wajah kecewa.
"Jangan kecewa Jamal, masih banyak wanita di luar sana," seru Celia.
"Aku tidak kecewa akan hal itu, tapi aku kecewa, karena harus memintamu keluar, karena aku harus memeriksa semua pasienku di ruangan mereka," kata Jamal.
"Baiklah, selamat bertugas," seru Celia.
Dengan bangga dan cerianya Celia meninggalkan rumah sakit itu. Merasa menang membuka perselingkuhan Dina dan Tama.
***
Di ruangan Tama.
"Dina ... aku dan Dona sepakat akan menikah dalam bulan ini," kata Tama.
"Kamu dan Jamal bagaimana? Kasian Jamal, kalau kamu gantung tidak bertali seperti ini," seru Tama.
"Lihat nanti," jawab Dina santai.
*****
Undangan pernikahan Dona dan Tama mulai tersebar, para perawat yang meng idolakan Tama patah hati melihat undangan pernikahan dokter tampan mereka. Keadaan ruang perawat hening, karena beberapa perawat sedang bersedih. Dina tersenyum melihat wajah-wajah sedih rekan perawat nya.
"Kalian datangkan?" Tanya Dina.
"Aku usahakan," jawab salah satu perawat lain.
__ADS_1
"Bagus, aku tunggu ditempat acara," seru Dina.
***
Jamal menepati janjinya pada Celia, dia sedang menunggu kedatangan Celia di sebuah cafe.
"Terima kasih mau datang," sapa Jamal ketika melihat Celia berjalan kearahnya.
"Ada apa Jamal?" Tanya Celia.
"Aku ingin menepati janjiku waktu itu, ini undangan pernikahan Tama dengan wanita yang kamu lihat waktu itu," kata Jamal lemah.
"Awh ... cepat sekali ... aku pastikan aku akan datang," seru Celia.
"Jamal, apa kita bisa pergi bersama?" Tanya Celia.
"Tidak bisa Celia ... maaf, tapi kita ketemu ditempat acara ya," seru Jamal.
"Okey ... sampai ketemu di tempat acara," jawab Celia.
"Aku pamit duluan, ya, bentar lagi aku masuk dinas lagi," seru Jamal.
"Iya Jamal, hati-hati ...." kata Celia.
Celia tersenyum bahagia melihat foto prewedding yang ada di undangan itu, dia kipas-kipaskan undangan itu, karena sangat bahagia.
"Jamal ... apa kamu sanggup hadir di pernikahan mantan calon istri kamu yang menikah dengan sahabatmu, oh Jamal ...." Ucap Celia lirih.
__ADS_1
Selesai menikmati pesanan di cafe itu, Celia langsung pergi menuju sebuah butik, untuk membeli gaun yang akan dia pakai nanti ke resepsi pernikahan Tama.