
Syaren sudah sampai rumah, di antar Malik, keadaan rumah nampak sepi, tak ada terlihat orang, Syaren ke dapur juga tidak ada orang.
"Kenapa?" Tanya Malik.
"Entah di mana semua orang?" ucap Syaren.
"Tak ada satu pun?" Tanya Malik, sambil memeluk Syaren dari belakang. Syaren pun membalikan tubuhnya menghadap Malik. Syaren tersenyum dan menggeleng. Malik tersenyum jahat. Dia langsung menyambar bibir mungil calon istrinya.
Namun suara klakson mobil mengejutkan keduanya. Syaren menyuruh Malik duduk, sedang ia berlari kedapur dengan, alasan membuatkan Malik minum. Beberapa menit Reyhan masuk bersama tiga pembantu dan Athaz calon istri Reyhan.
"Hei! Malik kapan datang?" seru Reyhan
Malik ingin berdiri namun di larang Reyhan, dengan isyarat tangannya, karena Reyhan juga langsung duduk.
"Baru aja kak Rey, saya nunggu kakak, karena kak Dimas bilang---"
"Oh aku sudah tahu, makanya aku kepasar sama bibi." potong Reyhan.
Syaren keluar membawa segelas minuman.
"Yah, maaf ... aku cuma bawa segelas, karena tadi cuma ada mas Malik." lirih Syaren.
"Ngga apa-apa non, biar bibi yang buatkan, buat yang lainnya," sahut Neneng yang baru masuk, diikuti Asri dan Nana, Pembantu baru mereka.
Syaren duduk bergabung dengan mereka. Pembicaraan santai mengisi waktu ini. Sekitar satu jam Malik izin pamit.
Sore hari di dapur nampak kalang kabut para pembantu memasak untuk makan malam ini.
Sedang Syaren tengah bersiap menyambut calon suaminya.
Sekitar jam 9 malam Malik Citra dan Joan datang. Mereka mulai bicara santai lalu menyampaikan maksud kedatangannya.
Setelah bicara panjang lebar akhirnya mereka memutuskan waktu pernikahan Syaren dan Malik 5 hari lagi.
Dan pernikahan hanya di laksanakan di KUA, sedang resepsi 1 bulan setelah akad
"Yah 5 hari lama banget." gumam hati Malik.
begitu juga Syaren, mereka sudah tidak sabar untuk bisa bersama sama. Pembicaraan selesai, mereka mulai makan malam. Setelah selesai makan malam Citra Malik dan Joan pun pamit
Malik dalam mobil asyik chat bersama Syaren.
"Ma menurut mama, aku sombong ga?" Tanya Malik.
"Kenapa sayang?" Sahut Citra.
"Aku tidak pernah melihat Syaren selepas ini, dulu waktu dia nikah sama kak Dimas, wajah Syaren itu, seperti aneh dan di buat-buat." seru Malik
"Karena Syaren tak mencintai Dimas, sedang sekarang Syaren akan menikah dengan Cinta, sedang kemaren ia menikah karena terpaksa, aku yang maksa." sahut Joan.
__ADS_1
"Oh ... jadi karena mereka sama-sama tak cinta, itu sebabnya kak Dimas dan Syren tak pernah bersama?" tanya Malik.
"Itu masa lalu tuan, ukir masa depan anda, dengan kebahagiaan." seru Joan.
*****
Hari ini jadwal malik cek up rutin. Malik kerumah sakit untuk cek up dirinya, di temani Syaren.
"Anda jangan terlalu lelah." seru Dokter yang selesai memeriksa Malik, lalu memberikan sebuah resep ke Malik.
Mereka pun pulang sebelumnya, mereka mampir di apotek.
Tak terasa 5 hari berlalu.
Semua anggota sudah berada di KUA. Prosesi akad nikah pun dimulai.
Kata "sah!!" dari para saksi bagaikan angin sejuk bagi semua. Setelah acara makan-makan, semua anggota pulang dan bersiap. Anggota keluarga pun menuju restoran untuk makan malam bersama
Malik tak tahan lagi menunggu semuanya, Malik membawa Syaren pulang kerumah Dimas. Kamarnya yang terletak di lantai dasar akan menjadi kamar pengantinnya. Menjadi saksi bisu malam pertamanya dengan Syaren.
"Sayang, kau sudah siapkan kopermu?" Tanya Malik. Syaren hanya mengangguk.
Sekitar jam 9 malam Syaren dan Malik sampai di rumah Dimas. Rumah nampak sepi karena semua belum pulang. Tak buang buang waktu Malik menarik Syaren ke kamarnya.
"Kata orang permulaan ini sakit, apa kamu mau menahannya?" Tanya Malik.
Syaren membuka bajunya, dan melangkah perlahan menuju Malik,
"Benarkah??" Malik langsung menyambar bibir istrinya. Hingga mereka melakukan malam pertama mereka.
Ditengah aktivitas mereka, Malik berhenti.
"Maaf sayang ... aku lemah ...." lirih Malik, dia merasa tidak kuat meneruskan pergulatan mereka.
"Kamu tidak lemah sayang," lirih syaren
Syaren pun mengambil alih kendali pertempuran mereka. Malik di buat tak berdaya oleh Syaren.
Sekitar jam setengah 5 pagi Syaren bangun dan mandi. Selesai mandi Malik masih saja nyenyak tidurnya. Syaren membangunkannya. Setelah Malik mandi, mereka sholat subuh berjamaah.
Sekitar jam 7 pagi Syaren dan Malik berjalan bergandengan menuju meja makan. Wajah Malik pun jauh lebih berseri dari pada biasanya. Sebenarnya si Kembar dan Aleeta ingin sekali menggoda pengantin baru ini. Namun mereka urungkan. Takut Dimas cemburu. Mereka pun saling membisu, sambil menunggu kehadiran Dimas di meja makan.
Dimas yang baru turun tak sengaja menabrak pembantu yang membawa cucian kotor dari kamar malik. Isi keranjang pun tumpah berserakan di lantai. Terlihat sprei yang bebercak noda merah, yang menyita perhatian Dimas.
Pembantu langsung memungut semuanya dan pamit dari hadapan Dimas. Hati Dimas sangat hancur melihat ini. Ia baru sadar kalau ia mencintai Syaren sejak ia meng ikrarkan Akad nikah dulu. Dia menyadari Syaren wanita istimewa, hingga Syaren terlepas dari cengkraman tangannya yang sangat hina.
Dimas berusaha membuang semua kesedihan barusan. Dia lanjut menuju meja makan. Setelah Dimas datang, semua orang memulai sarapannya.
"Mah ... ini kan rumah kak Dimas, sekarang Malik sudah punya istri, sebaik nya Malik---" lirih Malik
__ADS_1
"Kalau kau dan istrimu tidak keberatan, tinggallah di sini selamanya. Selama ini kau tinggal jauh dari mama, setidaknya sekarang temanilah mama di masa tuanya." seru Dimas memotong langsung kata-kata Malik. Ia tahu kalau Malik ingin pergi dari rumah ini.
Dengan Melihat Syaren setiap hari, Dimas merasa bahagia, bagi Dimas itu lebih dari cukup. Walaupun Syaren bukan istrinya, namun memastikan orang yang ia cinta bahagia itu lebih dari cukup.
"Apa kak Dimas tak keberatan? Secara ...." lirih Malik meng isyaratkan pandangan matanya kearah Syaren yang asyik mengunyah makanannya.
Dimas hanya senyum dan menggeleng.
"Tinggallah di sini demi mama." pinta Dimas.
Citra hanya diam. Ia bingung harus apa.
Kedua anaknya mencintai wanita yang sama.
Setelah selesai sarapan Syaren membantu Malik minum obatnya, dia sangat telaten merawat Malik, Citra sungguh terharu melihat cinta yang besar dari Syaren dan Malik.
Seminggu sudah Syaren tinggal di rumah Dimas sebagai istri Malik.
***
Malam-malam Malik merengek lapar, Akhirnya mereka kedapur mencari makanan. Syaren dan Malik di dapur untuk menyediakan roti buat Malik yang kelaparan, tak mungkin dia membangunkan pembantu lewat tengah malam begini.
Dimas baru pulang kerja jam setengah dua dini hari, ia masuk perlahan kerumah, namun saat menaiki tangga langkahnya terhenti mendengar suara dari arah dapur.
Ia berjalan perlahan mendekat ke dapur yang hanya di terangi lampu samar.
"Sayang ... sudah! Aku kenyang." seru malik .
"Ayo tidur lagi sayang, kalau kamu sudah kenyang." sahut Syaren.
"Aku tak ingin tidur sekarang, aku mau kita olah raga di sini sekarang." Seru Malik
"Sekarang? Di sini? Bagaimana jika ada orang?" seru Syaren
"Tidak mungkin, ini hampir jam dua." seru Malik. Mereka memulai kegiatan olah raga malam, di dapur itu.
Dimas melihat itu di kejauhan, namun ia sembunyi. Ia sungguh menyesal menyakiti Syaren. Andai kecelakaan itu tak terjadi maka ia lah yang di posisi Malik.
"Sayang, jangan terlalu capek! Ini sudah yang ketiga." lirih Syaren.
"Aku tak capek sayang, justru menahannya membuatku tersiksa." seru Malik. Mereka pun Selesai dan kembali kekamar mereka.
Dimas sembunyi saat Malik dan Syaren mulai berjalan ke arahnya.
"Sayang, aku tak bisa selamanya di sini sebelum resepsi, besok antar aku pulang ya," pinta Syaren
"Bagaimana aku, jika aku ingin bercinta denganmu?" Tanya Malik.
"Datanglah kerumah sepulang kamu kerja. Tak ada yang marah dan melarang, secara kita sudah Sah! Selesai denganku kamu boleh kembali." seru Syaren.
__ADS_1
"Baiklah, itung itung irit tenaga sebelum resepsi." lirih Malik.
Setelah Syaren dan Malik, masuk kamar mereka, di iringai canda dan tawa mereka, Dimas segera keluar dari tempat persembunyiannya, dia naik keatas, menuju kamarnya.