
Dina pergi ke ruang istirahatnya yang disediakan khusus buat nya, dia meraih poselnya, langsung menelpon Dina.
"Dina, tolong aku," pekik suara Dona.
"Kenapa kak?" Dina panik.
"Tolong datang dulu ke cafe tempat kakak manggung, jangan beritahu ayah kalau aku seperti ini, kamu dandan yang cantik, pamit sama ayah bunda kalau kamu janjian sama kakak," seru Dona.
"Baik kak, 30 menit aku sampai, sabar ya kak," lirih Dina.
"Iya, nanti di depan Cafe kamu di tunggu sama teman kakak," seru Dona.
"Iya kak, kaka tenang aku siap-siap sekarang!" Seru Dina.
Telepon berakhir.
Setelah meminta temannya menunggu Dina di depan, dan nanti diantar kemeja tempat acara berlangsung, Dona segera kembali ke tempat acara itu dan stay di belakang panggung menunggu kedatangan Dina.
Lumayan lama menunggu, Akhirnya Dina nampak di sambut dua laki-laki yang menemui dirinya sebelumnya tadi. Dina terlihat risih berada di tengah tengah teman teman Jamal dan Tama.
Dona segera keluar dari tempat persembunyiannya. "Selamat ulang tahun," sapa Dona, membuat semua orang kaget, melihat ada dua wanita yang sama.
"Dia Dona saudara kembarku," seru Dina.
Semua orang masih bingung.
"Hai Jamal," sapa Dona.
Jamal mengangguk,
"Aku tidak tahu siapa kamu," seru Dona memandang Tama.
"Aku Tama, senang bisa bertemu denganmu," seru Tama. Dia berkenalan dengan Dona.
__ADS_1
"Maaf adiku sayang, aku terpaksa berbohong agar kamu kesini, aku perlu dirimu untuk menjelaskan kalau Dina dan Dona itu bukan orang yang sama, seru Dona.
"Sekarang sudah jelas?" Tanya Dina.
"Sudah sepertinya," jawab Dona.
"Kalau begitu aku pamit ya, selamat malam semuanya," seru Dina.
"Hati-hati di jalan sayang," seru Dona.
Karena Dina pulang, Jamal juga pamit pulang, tadinya ingin mengejar Dina, namun Dina sudah menghilang.
Sedang di dalam Cafe, Tama berusaha mendekati Dona, dan dia berhasil mendapatkab nomer telepon Dona.
"Aku juga bekerja di rumah sakit yang sama dengan saudara kembarmu, nanti kapan-kapan kita ketemuan lagi ya," pinta Tama.
"Boleh, tapi seminggu sekali aku manggung di sini, seru dona,
"Aku usahakan untuk hadir di setiap waktu kamu manggung," seru Tama.
Tok tok tok!!!
"Masuk!" Seru Dona.
Dina membuka pintu kamar Dona, lalu dia berjalan ke arah Dona.
"Kamu? Aku kira siapa," seru Dona.
"Kenapa kaka meminta aku kesana?" Tanya Dina
"Menjelaskan pada dua dokter itu, harus dengan fakta, kalau tadi aku mengaku bukan kamu, mana percaya mereka, lebih baik aku minta kamu datang, biar mereka melihat langsung Dina bukan Dona, juga sebaliknya" seru Dona.
"Dokter jamal anak sahabat ayah malam itu kak,"
__ADS_1
"Yang acara?"
"Iya, aku juga kaget," jawab Dina.
"Eeh tapi cuma si Jamal yang mengenali perbedaan kita, kamu tahu dia bilang apa?"
"Apa kak?"
"Dia bilang gini, Eh Dina, ternyata bukan cuma suara kamu yang beda, ini pertama kalinya kamu manggil nama aku, biasanya kamu manggil aku pak dokter! Oh ya Dina, aku lebih suka kamu yang sebelumnya," seru Dona.
"Lha, kok bengong Din? Sudah nikah saja sama dokter itu, kasian Dina, sedekah dikit napa!"
"Sedekah apaan kak?" Tanya Dina.
"Kamu belum yakin tuh sama itu dokter kan, anggap cinta yang kamu berikan padanya itu sedekah buat dia," seru Dona.
"Ih kaka ngaco, udah ah aku mau tidur,"
"Bye adikku yang pemalu dan pendiam," seru Dona.
Tidak lama Dina pergi, ponsel Dona berdering, terlihat pada layar Tama yang menelponnya.
"Halo Tama, pas banget nih kamu nelpon, soalnya aku ada cerita," seru Dona.
"Cerita apa?" Tanya Tama.
"Ternyata Dina dan Jamal itu di jodohkan sama kedua orang tua kami, tapi enggak tahu deh kedepan jya, Dina nya cuek gitu," Seru Dona.
"Oh ... pantas Dina sangat jaga jarak dengan Tama, risih toh, heem ... gimana kalau kamu sama aku nikah?" Tanya Tama.
"What?"
"Itu saja yang mau aku tanyakan, bye Dona, aku tunggu jawabanmu nanti," seru Tama.
__ADS_1
Dona masih bingung dengan pertanyaan Tama barusan.
"Lupakan Dona!!! Pejamkan matamu sayang" serunya, dia bicara pada dirinya sendiri.