
"Pak ..., bayinya sudah lahir," seru perawat yang mendatangi Harun, perawat mengira Harun adalah suami Syaren.
Harun pun masuk kedalam ruangan Syaren. "Boleh aku membantumu meng azani anakmu?" Tanya Harun.
"Saya sangat senang jika anda bersedia," sahut Syaren.
Si kembar yang berjenis kelamamin perempuan itupun di adzani Harun. Setelah meng adzani, Harun izin pulang, karena Mutia nampak lelah.
Di rumah Syaren, Atun dan Fu'ah panik tak menemukan majikannya, sebelumnya mereka keasyikan membantu di panti, membuat mereka lama meninggalkan rumah. Segera Atun berlari kerumah Nami, menanyakan Syaren. Nami langsung menjelaskan kalau Syaren di antar Harun kerumah sakit, dan menjelaskan keadaan Syaren. Atun merasa lega, mengetahui majikannya baik-baik saja, dan sudah melahirkan dengan selamat.
Tak lama Galang datang, mengajak kedua pembantu Syaren menjenguk Syaren kerumah Sakit, merka pun berangkat bersama ke Rumah sakit.
Di Rumah Sakit.
"Ya ampun ..., kembar," lirih Nami.
"Cantik lagi," seru Galang.
Syaren hanya tersenyum, ia sangat beruntung berada di tengah-tengah orang orang yang menyayanginya.
"Ren, bagaimana ceritanya hingga Harun mengantarmu kemari?" Tanya Galang.
"Tadi aku berdiri di pinggir jalan menanti bantuan, eh, yang lewat Harun, ya aku minta tolong padanya." lirih Syaren.
"Siapa yang adzani si kembar non?" Tanya Atun
"Harun," sahut Syaren
"Ciyeee harun ...," Fu'ah menyenggol Nami.
"Siapa nama si kembar?" Tanya Nami, sengaja mengalihkan pembicaraan.
"Aku belum memikirkannya," sahut Syaren.
__ADS_1
"Sepertinya ada ponsel bunyi," lirih Atun mencari-cari sumber bunyinya.
"Nah dari dalam tas ini," lirih Atun sambil mengangkat tas itu.
"Ambilin mba ..., itu ponsel saya," pinta Syaren. Setelah dibuka ternyata Reyhan yang melakukan panggilan video keponsel Syaren.
Syaren langsung menggeser icon bewarna hijau. Mereka pun berbicara banyak hal, betapa bahagianya Reyhan melihat anak Syaren yang kembar. Syaren dan Reyhan pun berunding untuk memberi nama buat si kembar, hingga mereka memutuskan memberi nama si kembar, Madona Aziya Wisma dan Madina Aziya Wisma.
***
Beberapa minggu kemudian ....
Sedang di Rumah Sakit Wisma. Dimas begitu cemas, menantikan oprasi ceasar anaknya dan Mey. Anak Mey lahir dengan berat 2,4 kg terlihat lemah, bayinya pun di masukan dokter ke inkubator.
Karena Mey yang tidak terlalu sehat, hampir saja ia kehilangan banyinya, namun nasib baik datang padanya, bayinya lahir dengan selamat, walau berat badan bayinya di bawah normal, bayi Mey dan Dimas berjenis kelamin laki-laki, mereka beri nama Akhmad Kareem Wisma Dharma.
Dimas meng adzani anak laki-lakinya, hatinya begitu perih, ia rindu sosok wanita yang sangat ia cintai, namun wanita itu pergi membawa buah cinta mereka, Dimas sangat yakin Syaren juga pasti sudah melahirkan.
Mey terharu melihat Dimas menangis saat Meng Adzani dan meng iqamahkan bayi mereka, tanpa Mey ketahui, hal apa yang membuat Dimas menangis saat itu.
***
Bayi Syaren dan bayi Mey hanya selisih satu bulan, Syaren berjuang sendirian dalam membesarkan bayi kembarnya. Untung saja Reyhan dan Yumna selalu mentransfer uang buat Syaren, hingga Syaren tak kesulitan dalam membiayai dirinya dan anak-anaknya.
Tidak mudah menjadi orang tua tunggal bagi dua anak sekaligus. Namun Syaren menikmati setiap prosesnya. Syaren mulai berpikir untuk bekerja, tak nyaman, jika selamanya hidup di tanggung oleh kedua kakak-kakaknya.
Syaren putuskan untuk bekerja saat usia Dina dan Dona satu tahun nanti. Reyhan sangat keberatan dengan keputusan Syaren, ia ingin Syaren fokus pada anak kembarnya saja. Namun Syaren kekeh untuk bekerja. Akhirnya Reyhan meminta pihak Panti Asuhan mengurus keponakan kembarnya, selama Syaren bekerja.
Beruntung Syaren hidup dekat panti asuhan, sehingga ia bisa mengajarkan kehidupan yang sederhana, rasa berbagi dan persaudaraan yang tinggi. Ada dua orang yang khusus menjaga Dina dan Dona. Pekerja yang disewa Reyhan untuk mengurus keponakannya itu.
***
Satu tahun kemudian.
__ADS_1
Syaren bekerja disebuah perusahaan yang berkembang di kota ia tinggal, ia tak pernah tahu siapa Direktur utama tempat dia bekerja. Waktu terus berjalan, suka duka Syaren lalui bersama putri kembarnya. Berusaha keras melupakan Dimas yang telah membuangnya dan memilih Mey.
Kini, dua tahun sudah ia menjadi karyawati di perusahaan itu. Hari ini perayaan tempat kantor Syaren bekerja, Namun ia dapat tugas keluar kota, hingga ia tak ikut dalam acara besar kantor yang menaunginya.
Kantor Syaren mengundang semua anak-anak panti Asuhan. Acara pun berlangsung khidmat, Anak-anak panti Asuha pun berbaris mengantri bersalaman dengan Direktur utama perusahaan Abadi Karya Sejahtera ini, sang Direktur memang terkenal Dermawan.
"Joan, aku tak menyangka kau bisa membangun usaha sebesar dan sesukses ini, tak rugi aku jauh jauh kemari," lirih Dimas.
"Semua ini karena pengalaman ku bekerja di perusahaanmu Dimas," lirih Joan.
Mata Mey terfokus memandang anak kembar yang seumuran dengan Kareem, putranya. Mey sangat jatuh cinta pada sikembar yang sangat cantik di depan matanya itu.
"Pah, lihat, cantik banget pah si kembar itu," lirih Mey. Sambil menujuk kearah si kembar.
Dimas pun memandang kearah yang dimaksud istrinya, setelah melihat si kembar entah kenapa hatinya merasakan sesuatu yang aneh. Dimas pun tanpa ia sadari berjalan ke arah si kembar. Dia langsung berjongkok dekat di kembar. Mey juga mengikuti langkah Dimas.
"Hei cantik, siapa nama kalian?" Tanya Dimas.
"Aku Dona, dan ini adik aku Dina." Dina yang menjawab pertanyaan Dimas.
Dimas membelai pipi si kembar.
"Pah ... kita adopsi mereka ya ...." pinta Mey.
"Oh tidak bisa ... aku juga akan mengadopsi mereka," potong Joan, yang juga mendekati si kembar.
"Hei Joan! Cari istri dulu baru cari anak," bentak Dimas kesal.
"Maaf bapak-bapak dan ibu, si kembar bukan anak panti, Dia keponakan yang punya panti," Seru Galang yang baru mendekat.
Mey dan Dimas pun kecewa.
"Tolong foto kami sama si kembar," pinta Dimas.
__ADS_1
Dimas, Mey, Kareem, si kembar Dona Dina berfoto bersama.