
Dina berjalan santai di area Rumah Sakit, di depannya nampak orang orang panik sambil mendorong brankar yang baru di turunkan dari ambulan. Kain penutup pasien itu terbuka karena terhembus angin, dengan Jelas Dina melihat wajah Jamal yang tidak sadarkan diri terbaring di brankar.
Dina langsung mengejar orang orang yang mendorong brankar yang ditempati Jamal.
"Pasien kenapa pak?" Dina mencegat salah satu orang yang ikut mendorong.
"Pasien korban kecelakaan," seru orang yang dicegat Dina.
Dina meraih ponselnya, langsung menelpon Dona.
"Ada apa Din?" Tanya Dona,
"Kak, Jamal di mana kak?" Tanya Dina.
"Kemaren malam dia pamit kekita semua, katanya, dia mau berobat ke Rumah Sakit Wisma, tapi aku gak kasih tau dia kalau Rumah Sakit tujuan Jamal itu punya papa," jawab Dona.
"Kak, Jamal sepertinya kristis, dia kecelakaan kak," ringis Dina.
"Di mana?" Dona panik.
"Dia sekarang di rumah sakit Wisma," seru Dina.
"Kabari kami di mana Jamal, kami semua akan ke sana," seru Dona.
Dona langsung mematikan sambungan teleponnya. Sedang Dina langsung ke pusat informasi, untuk mengurus pengobatan Jamal.
__ADS_1
Jamal di bawa team dokter ke ruangan operasi, Dina sangat panik melihat hal itu, Dina langsung pergi ke ruangan Mey, minta izin ke Dimas untuk menunggui Jamal. Dina kembali ke depan ruangan operasi Jamal. Sekitar 3 jam menunggu, akhirnya team dokter keluar dari ruangan operasi.
"Bagaimana keadaan pasien dok?" Tanya Dina yang masih panik.
"Operasi berjalan lancar, hanya saja pasien tidak da semangat untuk bangun, kamu tahu apa yang membuat orang cepat sehat?" Tanya dokter.
"Semangat," jawab Dina.
"Nah itu dia, panggil semangat untuk pasien, jika dia menemukan semangatnya, maka dia akan sadar, sebentar lagi dia akan kami pindahkan ke ruang perawatan," seru dokter.
Tidak berselang lama Jamal di bawa ke ruang perawatan, kini Dina berada di ruangan itu menunggui Jamal seorang diri.
"Maafin aku Jamal," ringis Dina.
Melihat layar monitor yang tidak menunjukan perkembangan membuat hati Dina semakin sakit.
"Jamal, jika kamu mau bangun sekarang, aku janji ... aku mau melanjutkan pernikahan kita yang tertunda," lirih Dina.
Tiba-tiba layar monitor menunjukan tanda perkembangan Jamal. Dina tersenyum melihat perubahan itu.
"Jamal ... kalau kamu bisa sehat sekarang, kita bisa menikah sekarang di sini!" seru Dina.
Bunyi dari layar semakin nyaring dan semakin cepat. Dina semakin bahagia, karena dia faham tanda perkembangan itu.
"Jamal ... maafin aku, aku seperti itu karena aku sangat cinta sama kamu, aku kira kamu gak mau nikah sama aku," rengek Dina.
__ADS_1
Dina menyentuh lengan Jamal, Namun dia merasa aneh, karena lengan Jamal terasa hangat, Dina curiga, dia raih kabel kabel yang terhubung di badan Jamal, lalu dia cabut semuanya, monitor masih saja menyala.
"Hei tuan pembohong bangun!!!" Bentak Dina.
Tiba-tiba semua orang keluar dari bilik kamar mandi ruangan Jamal.
"Kalian semua ...." rengek Dina.
Jamal bangun dan langsung memeluk Dina.
"Aku senang kamu mau melanjutkan pernikahan kita, sekarang kita akan menikah di sini," seru Jamal.
Bughh!!!
Pukulan dari tangan Dina mendarat di bahu Jamal.
"Awwhh!" Pekik Jamal.
"Lepaskan anak gadisku, dia belum sah kamu peluk begitu," bentak Dimas.
"Maaf om," jawab Jamal.
"Kenapa kalian semua ada di sini?" Dina masih heran melihat kedua orang tuanya, kedua orang tua Jamal, Nathan dan Nara, juga Dona dan Tama.
"Ini semua rencananya Dona sayang," seru Syaren langsung memeluk Dina.
__ADS_1
"Kenapa kalia jahat? Aku ketakutan lihat Jamal seperti tadi," rengek Dina.
"Cup cup cup, kasian anak bunda," seru Syaren.