Menua Bersama

Menua Bersama
Bab 37. Ikhlas


__ADS_3

"Entah, apa yang harus aku rasakan,


aku bahagia Syaren tinggal di rumahku.


Namun hatiku sedih, karena dia istri adik sepupuku bukan istriku. Aku sangat bahagia melihat keceriaan dan kebahagiaan di wajahnya, Namun aku sangat sakit menyadari dia bukan milikku. Ikuti kata pepatah. Dimas, bila kau mencintai dan benar-benar cinta padanya, maka ikutlah bahagia jika dia bahagia. Ikhlaskan dia, biarkan dia bahagia bersama Malik Dimas ...." batin Dimas.


Akhirnya Dimas bisa hanyut dalam tidurnya.


*****


Saat sarapan pagi ia pasti bertemu dengan Syaren wanita yang sangat ia cinta. Rasa bahagianya pun menyeruat, jika melihat rona bahagia dari wajah Syaren. Walaupun kebahagiaan itu bukan dari dirinya. Hingga semuanya tak menyadari luka hatinya.


Setelah mengantar Syaren pulang Malik segera berangkat kekantor. Baru 2 jam berpisah Malik menelpon Syaren menanyakan kabarnya.


"Sayang, jaga kesehatanmu, ingat minum obatmu, ingat ada istri yang selalu menanti kedatanganmu." sahut Syaren.


Setelah bermacam rayuan oh bulan oh bintang menghiasi kata-kata mereka telepon pun berakhir.


Seminggu lagi Reyhan menikah dengan Atha.


Syaren ingin mengejutkan Reyhan, Namun ia yang terkejut melihat kakaknya menangis, di meja makan.


"kakak?" Sapa Syaren.


Reyhan menoleh kearahnya. "Sepertinya kakak akan malu syaren." ringis Reyhan.


"Kenapa?"


"Samantha pergi, dia kabur keluar negri bersama laki-laki bule. Sedang di sini, semua pernikahan sudah siap." lirih Reyhan.


"Akadnya mudah di batalkan, tapi tidak resepsinya, undangan juga sudah tersebar." ringis Reyhan.


"Resepsinya buat aku dan Malik, jadi kita tak perlu malu." seru Syaren


"Kenapa kau sangat cerdas syaren?"


Reyhan merasa lega, dia tidak perlu menahan malu, karena pernikahan yang batal, karena akan di gantikan Syaren dan Malik. Reyhan segera mengabari keluarga Malik, sedang Syaren, langsung menelpon Malik.


"Minggu ini kita akan menikah, kita menggantikan Reyhan dan Samantha." seru Syaren.


Malik sangat bahagia, dia tidak menyangka akan secepat ini mengadakan resepsi pernikahan dengan Syaren.


_________


Acara resepsi pun tiba.


Di acara resepsi nampak hadir semua undangan dan semua keluarga besar.


Namun kesedihan Reyhan tak bisa ia tutupi.


Ia mulai mencintai Samantha, namun Samantha malah pergi meninggalkannya, tepat seminggu sebelum pernikahan mereka.


Mata Aira dan Aleta tertuju pada dua orang yang berjalan kearah mereka, terlihat Andrey menggandeng Amel, adik Dimas. Amel merasa malu, dilirik Aleta dan Aira.


Aira terus terusan menggoda Amel. Amel kesal, karena di goda Aira terus. Dia mendorong Aira, Aira hampir jatuh.


"Ugghhh! Amel!! " Jerit Aira yang di dorong Amel. Aira jatuh kepelukan seseorang.


"Kak Rey? Maaf!" lirih Aira. Dia langsung menegakkan badannya, di bantu oleh Reyhan.


"Iya nggak apa-apa ... lain kali hati-hati, miss." sahut Reyhan


"Kak Rey, coba lihat itu!" seru Aira. Dia mengisarat kearah Amel dan Andrey.


Reyhan pun memandang kearah yang di maksud Aira. "Andrey? Amel? Kalian?" Reyhan sungguh kaget dengan yang dia lihat.


Sedang Andrey dan Amel, masih tampak malu-malu.


"Selamat ya ...." seru Reyhan, sambil mengulurkan tangannya.


Andrey hanya tersenyum dan menyambut jabatan tangan Reyhan.


Mereka terus bersama, bicara santai tentang banyak hal, karena lama tidak pernah bertemu.


Semua orang menikmati acara ini, ikut bahagia dalam kebahagiaan pasangan pengantin yang tengah bersanding di pelaminan sana. Setelah selesai resepsi Syaren dan Malik bermalam di hotel, sedang Amel sudah lebih dulu pergi di antar Andrey.

__ADS_1


Citra mengira Aira dan Amel bawa mobil sendiri. Ia dan Aleeta pun pulang tanpa menunggu Aira.


Aira kebingungan, dia tertinggal sendirian. Aira marah-marah di parkiran. Sungguh sial nasibnya. Ponselnya habis Batrai, tas nya pun tertinggal di dalam mobil Aleeta.


Reyhan ingin pulang, dia terkejut melihat Aira sendirian di sana. Reyhan berjalan mendekati Aira.


"Kenapa sendirian miss?" Tanya Reyhan menghampiri Aira.


"Kak Rey, tolong aku, aku di tinggal," Ringis Aira.


"Baik miss, mari saya antar," jawab Reyhan.


Reyhan pun mengantar Aira pulang.


******


Seminggu setelah resepsi, Syaren menetap di rumah Dimas. Sedang Joan tak lagi di rumah Dimas. Karena Dimas melepaskan Joan dari perjanjian mereka dulu. Joan pun hanya sesekali datang kerumah Dimas. Karena ia tinggal di rumah ibunya.


Kebahagiaan di rumah Dimas sangat kental terasa, oleh penghuninya, Citra merasa bahagia punya teman ngobrol di rumah.


juga teman yang siap sedia mengantarnya kemana mana. Yaitu menantu tersayangnya, Syaren.


***


Satu Tahun sudah pernikahan Malik dan Syaren. Dalam satu tahun ini pun kebahagiaan lainnnya, menghampiri anggota keluarga lain.


Amel yang menikah dengan Andrey. Juga Aleeta yang menikah dengan pacarnya Mark. Aira juga menikah dengan Reyhan. Kini penghuni rumah Dimas berkurang . Karena Aleeta pindah keluar negri ikut suaminya.


Amel tinggal di rumah Andrey, hanya sesekali datang kerumah menengok Citra. Begitu juga Aira, dia sekarang tinggal di rumah Reyhan.


*


Di rumah Dimas.


Keadaan nampak sepi karena hanya Syaren, Malik, Dimas, dan Citra. Walau banyak pembantu tetap saja beda.


"Sayang ... mas berangkat kerja ya," seru Malik.


"Eemmmhhhh ...." sahut Syaren yang masih sembunyi dibalik selimutnya.


"Enggak ... lemes aja, mas sih ngga pernah cuti olah raganya," lirih Syaren.


"Maaf ...."


"Tapi kamu suka kan?" lirih Malik lagi sambil menyerbu Syaren yang masih berbalut selimut.


"Sudah ... sana kerja!!" ringis Syaren.


"Ayo bangun, kita sarapan dulu sayang." lirih Malik.


"Aku ngga nafsu ... mas aja,"


Malik pun keluar kamar sendirian.


Citra melempar senyuman kearah Malik yang berjalan menuju meja makan. "Loh Syaren mana?" Tanya Citra.


"Dia di kamar, nggak enak badan katanya. Nanti pinta bu Maria antar sarapan buat Syaren, ya mah." pinta Malik.


"Iya sayang, mari kita sarapan." seru Citra.


Dimas nampak cemas mendengar Syaren sakit, namun ia harus menjaga perasaan Malik dan Citra. Setelah selesai sarapan Malik berangkat lebih dulu, sedang Dimas, sengaja menyelesaikan beberapa pekerjaan di rumah. Dia tidak tenang, saat mendengar Syaren sakit.


Maria masuk kekamar Syaren mengantar sarapan. "Pagi nona, ini sarapannya." seru Maria


Namun Syaren tak bergeming, Maria mendekati lalu menggoyang goyang tubuh Syaren, namun Syaren tak bereaksi, Maria langsung berlari melapor pada Citra.


"Maria, tolong kamu panggil Dimas." Pinta Citra.


Maria langsung berlari keruang kerja Dimas.


"Tuan ...." Suara Maria terdengar panik.


Dimas membuka pintu ruang kerjanya. "Iya bu?"


"Tuan, non Syaren tidak sadarkan diri, di kamarnya." seru Maria.

__ADS_1


Dimas segera berlari kebawah, mendengar laporan Maria. Ia segera masuk kamar Malik, benar saja, terlihat Syaren berbaring berbalut selimut.


"Angkat dia Dimas!" pinta Citra.


"Tapi mah?" Dimas, ragu mendekati Syaren, apalagi menggendongnya.


"Angkat dia! Kita bawa dia kerumah sakit!" ringis Citra, dia tak kuasa menahan tangisnya.


Dimas memasukan tangannya ke balik tubuh Syaren.


"Maaf maah, dia belum berpakaian." ringis Dimas.


Dimas langsung keluar dari kamar Malik, Sedang Maria dan Citra memakaikan pakaain pada Syaren.


Di luar kamar, Dimas menelpon Malik.


"Iya kak Dimas?" sahutan dari ujung telepon sana.


"Malik, istrimu sakit, saat ini dia tidak sadarkan diri, kami akan membawanya kerumah sakit kita, kamu tunggu di sana ya." pinta Dimas.


Setelah menutup teleponnya, Dimas segera kembali ke kamar Malik.


"Bagaimana mah?" Tanya Dimas.


"Sudah sayang, mari kita bawa dia." pinta Citra.


Dimas segera mengangkat tubuh Syaren menuju mobil. Jantungnya seakan meledak karena berdegup tidak karuan. Dimas berusaha mengontrol perasaannya. Terus berjalan menggendong Syaren menuju mobil


Setelah masuk mobil Dimas dan Citra segera menuju rumah sakit Wisma.


****


Malik memang sudah berada di rumah sakit, ia tengah menjalani pengobatannya, karena ia merasa lemah. Ia izin bekerja, padahal dia menjalani perawatan di rumah sakit, tanpa di ketahui oleh siapapun. Mengetahui keluarganya akan datang, Malik meminta perawatannya, di hentikan, karena dia harus menemui keluarganya yang akan membawa Syaren kerumah sakit yang sama. Tempat dia menjalani pengobatan.


*****


Dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Malik?" Tanya Citra


"Sudah aku kabari, aku meminta dia menunggu di sana." seru Dimas.


Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Terlihat Malik menyambut mereka. Syaren langsung di bawa ke UGD.


Malik duduk di samping Citra, yang menunggu, karena dokter masih memeriksa Syaren. Terlihat dokter sudah selesai memeriksa Syaren. Malik langsung mendekati dokter yang memeriksa Syaren.


"Bagaimana keadaan istri saya Ann?" Tanya Malik.


"Dia baik-baik saja, dia cuma menyesuaikan diri dengan hormon yang drastis berubah dari biasanya." seru dokter Anana.


"Apa yang terjadi pada menantu saya?" Tanya Citra,


"Dia hamil." sahut dokter Anana


"Alhamdulillah ya Allah ...." teriak Malik.


Dimas pun berlari kedalam ruangan, saat mendengar Malik berteriak.


"Ada apa Malik, kenapa kamu teriak innalillah!" Tanya Dimas.


"Kayaknya kamu harus pergi ke dokter THT deh, aku bilang Alhamdulillah' Syaren hamil!!! " Seru Malik,


"Oh selamat ya ...." seru Dimas, dia langsung memeluk Malik.


*S*epertinya, aku harus benar-benar harus ihlas,melepasmu Syaren ..., Syaren, aku rela melepasmu dari hatiku." lirih hati Dimas.


"Dok pasien sudah sadar." seru perawat.


Dokter segera melakukan USG. Senyuman terukir di wajah semu orang yang hadir. Syaren terharu melihat calon bayi, yang ada di perutnya dari layar monitor yang ada di depannya.


"Makasih sayang," seru Malik mencium alis Syaren.


"Terima kasih sayang, kamu membuat aku sangat ... bahagia." lirih Malik.


"Mama juga, mama sangat berterima kasih, akhirnya mama dapat cucu." seru Citra.

__ADS_1


__ADS_2