Menua Bersama

Menua Bersama
BAB 24. Yang ke Tiga Syetan !!!


__ADS_3

Sejak ia menyetujui menikah dengan Dimas, entah kenapa hari hari yang di lalui serasa sangat berat bagi Syaren.


Hari ini ia di rumah bersama Reyhan. Syaren dan Reyhan nampak santai di ruang keluarga menonton tv, bukan nonton tv, tv nya menyala tapi yang menonton sibuk melihat layar ponsel mereka masing-masing.


****


Di gedung Wisma Corporation Group mendadak heboh, karena pengumuman undangan pernikahan pemimpin tertinggi gedung itu.


Joan mengatur undangan seluruh para karyawan hanya bisa hadir di halaman hotel saja, kalau masuk semua pasti tak muat. Karena undangan khusus juga banyak. Tapi, para karyawan sangat senang walau hanya undangan umum.


Di tengah hiruk pikuk kantor, datang seorang kurier, dia masuk kantor itu untuk mengantar beberapa undangan khusus. Setelah kurier itu menitipkan undangan di Receptionis, salah satu petugas Receptionis segera naik ke lantai 11, karena undangan itu tertuju untuk orang yang bekerja di lantai 11.


Ada empat udangan yang di bawa, jndangan itu untuk : Andrey, Yumna, Aleta, dan Sonya, teman Syaren. Setelah menyerahkan undangannya, Receptionis segera kembali ketempat kerjanya.


Aleta dan Yumna saling lempar senyum, sambil mengibaskan undangan yang mereka terima. Rasanya sangat lucu, mereka saling mengundang untuk acara yang sama.


Sonya membuka undangannya, saat membaca nama mempelai, rasanya ia ingin pingsan, temannya interview dulu akan menjadi istri pemimpin tertinggi perusahaan tempatnya bekerja.


Sedang Andrey nampak lemas, mengetahui siapa calon suami Syaren. Hatinya sangat sakit. Namun mau tak mau ia harus melepaskan Syaren, mengingat calon suami Syaren bukan orang sembarangan.


"Kamu memang istimewa Syaren, wajar kamu mendapat laki-laki yang istimewa, aku akan berusaha sabar dan tabah Syaren," batin Andrey.


"Joan, berapa hari lagi?" Dimas sungguh tidak sabar ingin bermain dengan mainan barunya.


"Tiga hari lagi tuan," sahut Joan.


"kenapa sangat lama Joan?"


"Inikan keputusan anda tuan."


"Dasar tak berpendirian!" Bentak Dimas.


"Apa salahku?" Tanya Joan.


"Kadang kau memanggilku Pak, kadang Bos, kadang Tuan!" Dimas menggeleng.


"Sebentar lagi mungkin aku akan memanggil anda bro, tapi tenang aku tidak akan memanging anda honey atau sejenis itu."

__ADS_1


Dimas kesal dia melempar pulpennya ke arah Joan. "Ih Nakal!" Dengan gaya kemayu.


Membuat Joan tertawa mengakak.


"Panggil saja apa sesukamu!" Dimas mendengus.


"Aku merindukannya Joan."


"Panggil saja dia, atau jemput paksa dia, dia sudah terikat dengan anda."


"Hemmm, tidak Jo, aku ingin bermain manis dulu dengannya, sebelum aku mempermainkan hatinya, sekarang aku akan kerumahnya, yah ... siapa tahu jiwa alay ku bangkit," seru Dimas.


Joan menggeleng melihat kelakuan bos nya itu.


"Oh ya Joan, kau kembali kerumahku, pastikan semua persiapan buat wanita itu sudah siap, sekarang aku akan mengunjungi calon istriku, mainan baruku, joan," lirih Dimas.


"Baik tuan," sahut Joan


Dimas sudah sampai di rumah Syaren. Dimas langsung memencet bel.


Di dalam rumah Neneng mendengar suara bel, dia langsung menuju pintu, dan membikakan pintu Melihat siapa yang datang, Neneng langsung mempersilahkan tamu nya masuk.


"Yang lain mana bi?"


"Non Yumna, masih kerja, kalau tuan Reyhan katanya ke KUA, melengkapi berkas pernikahan, katanya."


Setelah sampai di ruang keluarga, Neneng pamit undur diri. Dimas hanya mengangguk, menjawab perkataan Neneng. Dimas memandang ke arah lain, terlihat seorang gadis berbaring di karpet.


"Apa cuma seperti ini kerjaanmu di rumah?" Bentak Dimas.


Syaren sangat terkejut mendengar suara itu, dia langsung bangun. Hatinya merasa dongkol melihat mahluk yang akan menikahinya itu. "Kenapa anda kemari?" Tanya Syaren.


"Apa aku salah, jika aku ingin bertemu calon istriku?"


"Apa anda tak bisa memberi ku sedikit kemerdekaan, sebelum anda mengikatku?"


Dimas mendekati Syaren, lalu menarik Syaren kepelukannya.

__ADS_1


"Aku lapar sayang." lirih Dimas "


"Apa tidak ada restoran yang kau lewati sehingga kau harus makan di tempat kecil ini tuan?" Ejek Syaren.


"Aku lapar sayang, aku ingin makan masakanmu atau kau yang ku makan!"


Dimas mulai mengigit dengan lembut daun telinga Syaren.


"Baik aku akan masak!" Syaren langsung melepaskan diri dari pelukan Dimas.


Syaren meraih ikat rambutnya, lalu berjalan menuju dapur. Dimas mengikuti Syaren dari belakang. Syaren berjalan sambil menggulung rambutnya ke atas, terlihat juntaian anak rambut yang tergerai di lehernya. Dia meraih celemek, sambil membuka lemari es.


"Kita belum belanja nona," seru Ainah.


Syaren kembali menegakkan badannya, dia memandang ke arah Dimas. "Maaf tuan ... sepertinya kita harus makan di luar, karena kami belum belanja," lirih Syaren.


Masak saja apa yang ada," seru Dimas"


"Baik ... aku akan masak apa yang ada," sahut Syaren, dia membuka lemari es kembali dan mengambil sisa bahan makanan yang ada.


"Apa anda akan berdiri di dapur ini selama saya memasak? Anda bisa duduk manis di tempat yang lain tuan."


"Oh ... aku hanya memastikan kau tidak memasukan racun ke makananku sayang ...."


"Ah hahahaa, kalau aku ingin membunuhmu aku tak mau melakukannya di rumahku."


Dimas meminta pembantu Syaren agar pergi dari area dapur, dengan isyarat tangannya. Para pembantu Syaren mengerti, mereka mulai meninggalkan area dapur


"Hei tuan! Ini rumahku, di rumahku aturanku yang berlaku, kalau di rumahmu, maka aturanmu yang berlaku tuan!!" seru Syaren.


Anik dan Ainah tetap pergi meninggalkan dapur, mereka sungguh tak tahan menahan tawa, melihat kelakuan Syaren dan calon suaminya itu.


"Bi Anik, bi Ainah! Tetap di sini," pinta Syaren.


"Maaf nona, kami ada tugas lain," sahut Anik, mereka tetap meninggalkan Syaren dan Dimas.


"Sepertinya pembantumu lebih sayang padaku, sayang."

__ADS_1


Syaren nampak marah.


"Bi Anik! Bi Ainah! Jangan pergi! Kalau bi Anik dan bi Ainah pergi, kami aku tinggal berdua dengan pria ini, wanita dan pria berduaan dalam suatu ruangan, yang ketiga syetan bi!!" Teriak Syaren.


__ADS_2